Fearless

Fearless
Episode 52



Bagian yang ditulis Calista sudah selesai, kini waktunya Calista memberikan tugas itu kepada Kevin. Namun saat lembar tugas itu diberikan, Kevin malah sibuk dengan ponselnya.


"Vin, ayo kerjakan! jangan main game terus."


"Iya, bawel." Kevin meletakkan ponselnya, lalu ia mengerjakan tugasnya.


Pada saat Kevin mengerjakan tugas, Calista salah fokus kearah Windy yang dari tadi memperhatikan Kevin. Entah kenapa rasanya Calista merasa bahwa Windy tertarik dengan Kevin, apalagi Kevin itu tampan dan pastinya Windy akan suka dengan lelaki tampan.


"Win, kita ke rumah yuk! lagian gue udah selesai mengerjakan tugasnya."


"Disini aja kali, lagipula bosan kalau di rumah lo," kata Windy.


"Iya, disini aja. Aku kan udah bilang kalau aku gak nyaman kalau ditinggal berduaan sama Bayu," sahut Kevin.


Calista menatap datar kearahnya karena tadi ia melihat bahwa Kevin nyaman-nyaman saja dengan Bayu, bahkan mereka main game bersama.


"Oh iya, Ta. Ngomong-ngomong lo sama lelaki yang tadi ada masalah apa sih?"


"Gak ada masalah apa-apa kok."


"Bohong! sebenarnya tadi itu-"


Calista membekap mulut Kevin, karena ia tak ingin orang lain mengetahui tentang kejadian tadi.


"Kenapa sih?" tanya Bayu penasaran.


Kevin melepaskan tangan Calista yang membekapnya. "Biarkan aja orang-orang tahu, Ta."


"Jangan, itu kan aib orang lain."


"Ya gak apa-apa."


Bukannya Calista sok baik, tetapi Calista sudah berjanji kepada dirinya sendiri agar menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Dulu ia memang tidak peduli jika menyebarkan aib orang lain, tapi sekarang ia takut jika nantinya orang yang aibnya ia sebar akan depresi.


"Aib apa sih?" tanya Bayu tambah penasaran.


"Jadi tadi itu Calista lihat lelaki tadi sama cewek di gudang dan kedua orang itu lagi berbuat mesum," jelas Kevin.


"Gila! berani banget mereka melakukan itu di sekolah," kaget Bayu.


Karena Calista sedikit kesal dengan Bayu karena telah menyebarkan hal itu, akhirnya Calista segera pergi keluar.


"Ta, mau kemana?" teriak Kevin, namun tak dijawab oleh Calista.


Calista hanya memikirkan nasib perempuan itu, pastinya jika hal itu tersebar, dia akan malu ditambah lagi dia merupakan murid berprestasi. Sedangkan lelaki itu, Calista tak peduli dengannya karena Calista tahu pastinya lelaki itulah yang membuat perempuan itu luluh dengan rayuannya hingga keduanya terbawa nafsu.


Mengingat hal itu, Calista jadi teringat dengan Rania. Bahkan Rania dan Reyhan melakukan hal yang lebih dari itu. Calista tak bisa membayangkan jika misalnya ada orang lain yang tahu tentang hal itu, pastinya Rania akan dikeluarkan dari sekolah. Bahkan yang lebih parah, Rania pasti akan dihujat oleh orang-orang.


Hanya dengan membayangkannya saja Calista sudah tak sanggup, apalagi ia yang berada diposisi Rania. Mungkin jika begitu Calista akan langsung bunuh diri karena saking tidak kuat dengan hujatan orang lain.


"Ta, kamu marah ya sama aku?" tanya Kevin sambil menghampiri Calista yang sedang duduk diluar.


"Aku gak marah, cuma kesal dikit."


"Kamu tenang aja, lagipula Bayu gak akan menyebarkan hal itu kok. Dan juga karena aku dan Bayu itu laki-laki, jadi gak semudah itu menyebarkan hal kayak gini."


Dipikir-pikir ucapan Kevin ada benar, karena sepertinya para lelaki lebih dapat dipercaya. Beda lagi dengan perempuan, para perempuan biasanya akan menyebarkan hal itu meskipun ia sudah berjanji bahwa dia tidak akan menyebarkannya.


"Udahan dong kesalnya," kata Kevin sambil mencubit pipi Calista dengan pelan.


Trining! Trining!


Calista melihat ponselnya dan ternyata ada panggilan masuk dari Rania. Entah kenapa perasaan Calista menjadi tidak enak, apalagi tadi ia sempat memikirkan Rania dan Reyhan.


Kevin melihat kearah ponsel Calista. "Kenapa gak dijawab?"


"Ini mau dijawab kok."


Calista menjawab panggilan telepon tersebut dan ketika dijawab, Rania menangis sambil berkata kalau Reyhan saat ini sedang berada didepan rumahnya.


"Ta, cepat kesini! gue takut banget, soalnya orang tua gue gak ada di rumah.


"Iya. Sekarang gue kesana sama Kevin." Calista buru-buru mematikan teleponnya. Lalu ia menarik tangan Kevin menuju mobil Kevin yang terparkir didepan rumah Calista.


"Ayo cepet ke rumah Rania." Calista masuk kedalam mobil, setelah itu Kevin juga masuk kedalam mobil kemudian Kevin segera melajukan mobilnya.


...****************...


Sesampainya di rumah Rania, keduanya buru-buru turun dari mobil. Lalu keduanya menghampiri Reyhan yang terus-menerus membunyikan bel rumah Rania.


"Reyhan!" teriak Calista dan sontak membuat Reyhan menengok kebelakang.


"Bisa gak sih jangan ganggu Rania?"


"Kenapa? lo cemburu?" tanya Reyhan.


"Idih! kepedean banget lo."


Reyhan mendekati Calista, setelah itu Reyhan melirik sekilas kearah Kevin.


"Lo kayaknya cemburu ya sama Rania? apa jangan-jangan lo cemburu karena Rania sering dipake sama gue?" kata Reyhan.


"Maksudnya?" bingung Calista.


"Oh iya, Vin. Gue cuma mau kasih tahu sama lo, kalau Calista dan Rania itu sebenarnya udah dipake sama gue," kata Reyhan.


Plak!


Calista yang baru tersadar dengan perkataan Reyhan spontan saja menamparnya, karena ucapan Reyhan tidaklah benar. Sedangkan disisi lain, Kevin terdiam karena syok dengan perkataan Reyhan.


"Ta, ucapan dia gak benar, kan?" tanya Kevin memastikan.


"Dia bohong, Vin."


Reyhan tertawa terbahak-bahak. "Udah ngaku aja, Ta. Masa kamu lupa sih. Bahkan waktu itu kamu sendiri yang minta."


Kevin sangat murka, ia tak menyangka bahwa Calista seperti itu. Dengan demikian, Kevin segera pergi dengan mengendarai mobilnya.


"Kevin!" teriak Calista sambil melihat Kevin yang pergi dengan mengendarai mobil.


"Kasihan banget," ujar Reyhan.


"Lo keterlaluan tahu gak!"


"Makanya jangan ikut campur masalah gue sama Rania."


Calista segera berlari ke jalan raya, lalu ia segera menunggu taksi dan niatnya ia ingin menyusul Kevin. Ia tahu bahwa Kevin pasti sangat marah sekaligus kecewa dengan perkataan Reyhan.


Sambil menunggu taksi, Calista mengirim pesan kepada Rania agar dia mengunci pintu dan jendela supaya Reyhan tidak masuk kedalam rumah.


Sesudah mengirim pesan ke Rania, Calista mencoba menelpon Kevin untuk menjelaskan bahwa perkataan Reyhan itu bohong.


Reyhan memang gila, padahal waktu itu dia sudah meminta maaf kepada Calista. Tetapi tetap saja kelakuannya tidak berubah.


...****************...


Kevin POV


Kevin melajukan mobilnya dengan cepat, jujur ia sangat marah sekaligus kecewa. Ia tak menyangka bahwa Calista akan melakukan hal yang sangat menjijikkan. Bahkan bukan hanya Calista, tapi sahabatnya juga sama.


Semua kata-kata umpatan keluar dari mulut Kevin, ia tak tahu harus bagaimana lagi selain mengeluarkan kekesalannya.


Skip


Kevin tiba di rumah Erick, Kevin langsung membereskan semua barang-barang karena ia ingin kembali ke rumah.


"Lo udah baikan sama papah?" tanya Erick memastikan, namun Kevin tidak menjawab.


"Lo nangis, Vin?" tanya Erick saat melihat Kevin yang sedang meneteskan air mata.


Kevin menghapus air matanya. "Enggak kok, gue cuma kelilipan."


Sesudah membereskan barang-barangnya, Kevin segera pergi dari rumah Erick.