
Keesokan harinya, tepatnya sepulang sekolah, Calista menelpon papahnya untuk meminta ijin pergi kerja kelompok bersama Bayu, padahal sebenarnya ia ingin menonton pertandingan basket di sekolah lain.
Calista dengan sengaja berbohong, karena jika tidak, ia tidak yakin kalau papahnya akan menyetujui Calista menonton pertandingan basket.
"Ta, gimana? dibolehin gak?" tanya Bayu.
"Dibolehin kok."
"Ya udah ayo berangkat sama gue aja," ajak Erick.
"Gak usah. Gue mau sama Bayu aja. Karena kalau misalnya nanti Bayu pulang, bisa-bisa dia ketemu sama papah."
Tidak ingin berlama-lama, akhirnya Calista pergi dengan Bayu. Sedangkan Erick pergi bersama Friska.
Skip
Sesampainya di sekolah Cempaka, Calista, Bayu, Friska dan Erick segera pergi menuju lapangan basket untuk menyaksikan pertandingan.
Untungnya anak-anak SMA Nusa Indah belum bertanding, jadi Calista dan yang lainnya bisa memberikan semangat untuk Kevin dan anak-anak basket lainnya.
Bahkan saking niatnya, Erick banyak membeli minuman untuk anak-anak basket, karena ia takut pihak sekolah tidak mempersiapkannya.
"SMA Nusa Indah semangat!" teriak seseorang dan Calista tahu persis suara itu.
Dan ketika dilihat, ternyata memang benar bahwa orang itu adalah Rania. Entah sejak kapan dia datang, tapi yang jelas sepertinya dia lebih dulu datang dibandingkan dengan Calista, Bayu, Friska dan Erick.
Dalam hatinya, Calista ingin berteriak didepan Rania supaya Rania tidak lagi merusak hubungan Calista. Meskipun Calista tahu bahwa Rania adalah sahabat Kevin juga, namun ia takut jikalau Rania akan merebut Kevin yang berstatus sebagai pacar Calista.
Ting!
Calista mendapatkan satu pesan dan ketika dilihat ternyata pesan itu dari Kevin. Isi pesan tersebut adalah ungkapan terima kasih Kevin karena Calista sudah datang untuk menyaksikan pertandingan basket.
Lalu, Calista mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Kevin.
Pandangan keduanya saling tertuju, spontan saja Calista melambaikan tangannya. Begitupun Kevin, ia melambaikan tangannya juga sambil tersenyum.
Friska, Erick dan Bayu menatap kearah Calista dengan tatapan aneh. Bayu tentu saja merasa aneh karena ia merasa bahwa akhir-akhir ini Calista dan Kevin sangat mencurigakan. Sedangkan Friska dan Erick, keduanya merasa bahwa Calista yang sekarang bersamanya bukanlah Calista yang mereka kenal. Karena bagaimana bisa Calista yang biasanya bersikap cool, kini tiba-tiba berubah menjadi sangat lucu.
"Lo aneh banget, Ta." Friska menatap Calista dari atas sampai bawah.
"Aneh kenapa?"
"Tadi lo melambaikan tangan gitu ke Kevin," kata Friska.
Calista hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sangat malu karena memang dirinya selalu bersikap seperti itu jika bertemu dengan seseorang yang menjadi pacarnya.
"Lo pacaran ya sama Kevin?" bisik Bayu.
Calista menelan salivanya, ia gugup karena sepertinya Bayu mulai curiga kepadanya.
Bayu menunjuk gelang yang dipakai Calista, lalu Bayu juga menunjuk kearah Kevin. "Gelang couple ya?" bisik nya pada Calista.
Calista mengangguk pelan seraya mengiyakan tuduhan Bayu. "Jangan dikasih tahu ke siapa-siapa."
Bayu diam saja karena sedikit kecewa, karena sejujurnya ia juga menyukai Calista. Selain itu, seharusnya Kevin memberitahunya, agar Bayu sadar bahwa ia harus berhenti menyukai Calista.
Beberapa menit kemudian, pertandingan dimulai. Semua orang mendukung tim basket sekolahnya yang sedang bertanding. Namun adapula beberapa orang yang mendukung tim dari SMA Nusa Indah dikarenakan meraka tertarik dengan wajah anak-anak basket dari SMA Nusa Indah.
Bisa didengar oleh Calista, bahwa ada sekumpulan perempuan yang duduk didepannya sedang membicarakan ketampanan Kevin.
Ya memang benar, Calista akui bahwa Kevin sangat tampan. Dan ketika Kevin bermain basket, aura ketampanannya bertambah dua kali lipat.
"Ta, gue ke toilet dulu ya," ujar Bayu, lalu Calista hanya mengangguk.
"Eh, kalian anak SMA Nusa Indah ya?" tanya seorang perempuan kepada Calista, Friska dan Erick.
"Iya," ujar Calista, Friska dan Erick bersamaan.
"Kalau boleh tahu, yang namanya Kevin itu udah punya pacar belum?" tunjuknya kearah Kevin yang sedang bertanding.
Calista dengan cepat menjawab bahwa Kevin sudah mempunyai pacar. Rasanya Calista sedikit kesal, bisa-bisanya perempuan itu bertanya seperti itu kepadanya yang memang merupakan pacar Kevin.
"Ta, Kevin kan udah putus sama Haura," kata Erick.
"Oh jadi baru putus ya?" tanya perempuan itu.
"Iya, dia baru putus," sahut Friska.
"Kalau gitu, aku boleh gak minta nomernya?" tanya perempuan itu.
Erick berniat memberikan nomer telepon Kevin kepada perempuan itu, karena memang ia ingin berniat membantu supaya Kevin tidak menjomblo lagi.
"Jangan dikasih! itu kan privasi."
"Udah biarin aja, lagipula siapa tahu Kevin juga suka sama dia," kata Erick.
"Kata siapa suka?" gumam Calista dengan nada kesal.
"Dia cantik, Ta. Dan pastinya Kevin akan suka," bisik Friska.
Calista menatap tajam kearah Erick dan Friska. Ia ingin sekali memaki kedua sahabatnya itu.
...****************...
Kevin POV
Setelah pertandingan selesai, Kevin langsung menghampiri sahabat-sahabatnya yang sedang duduk dipinggir lapangan.
Kevin mengambil minuman yang sudah dibawakan oleh Erick, lalu ia berdiri dihadapan Calista.
Friska dan Erick memberikan ucapan selamat kepada Kevin karena timnya menang dalam pertandingan kali ini.
"Vin, nanti traktir ya. Soalnya kan tim lo menang," kata Friska.
"Iya, nanti gue traktir."
"Vin, ada yang mau kenalan sama lo," kata Erick.
"Siapa?"
Tiga orang mendekati Kevin dan mereka hanya tersenyum kepada Kevin.
"Hai Kevin," sapa Ketiga perempuan itu.
"Hai juga."
"Kenalin nama gue Dara," perempuan itu mengulurkan tangannya. Lalu Kevin membalas uluran tangannya dna memperkenalkan dirinya lagi walaupun perempuan itu tahu namanya. Begitupun dengan dua perempuan lainnya, mereka juga berkenalan dengan Kevin.
Bukan berkenalan dengan Kevin saja, tetapi sebelumnya ketiga perempuan tadi sudah berkenalan dengan Calista, Friska, Erick dan Bayu.
"Guys, gue pulang duluan ya," ujar Calista karena ia merasa bete sebab ketiganya perempuan itu sangat genit.
"Mau pulang bareng gak?" tanya Kevin.
"Gak usah! gue pulang bareng Bayu aja," ujar Calista, lalu ia segera pergi. Kemudian Bayu juga berpamitan kepada yang lainnya, setelah itu Bayu segera menyusul Calista.
Kevin merasa bingung dengan perubahan sikap Calista, perasaan tadi ia melihat Calista tampak senang saat menyaksikan pertandingan basket. Namun saat ini, Calista tiba-tiba seperti marah kepada Kevin.
"Calista kenapa?"
"Gak tahu. Mungkin dia kepanasan kali, makanya jadi kesal," ujar Friska. Karena selama pertandingan, Calista memang selalu mengeluh akibat kepanasan.
...****************...
Trining! Trining!
Baru saja sampai di parkiran, tiba-tiba Kevin menelpon Calista. Setelah panggilan telepon tersebut dijawab, tiba-tiba Kevin menyuruh Calista dan Bayu agar jangan dulu pulang dikarenakan Kevin ingin mengajak Calista dan Bayu makan bersama.
Karena katanya Kevin dan yang lainnya sedang menuju ke parkiran, jadi Calista langsung saja mematikan panggilan teleponnya.
"Bayu, katanya Kevin mau traktir kita makan-makan. Lo mau gak?"
"Sama Friska, Erick dan juga anak-anak basket. Cuma kayaknya nanti kita mejanya dipisah sama anak-anak basket, soalnya biar kita nyaman."
"Ya udah boleh, lumayan kan gratisan."
Sekitar 5 menit, akhirnya Kevin dan yang lainnya datang menghampiri Calista dan Bayu.
"Ta, lo bareng gue aja ke restorannya," ujar Kevin, karena ia tahu dari Friska bahwa mood Calista tidak bagus dikarenakan cuacanya sangat panas. Maka dari itu, Kevin mengajak Calista pergi dengan mengendarai mobil.
"Gue sama Bayu aja deh. Soalnya pasti lo bareng anak-anak basket."
"Anak-anak basket pada bawa kendaraan kok. Dan juga Bayu biar sama Friska aja, soalnya Friska pingin naik motor katanya," kata Kevin.
Calista menatap Friska sambil tersenyum penuh arti. "Ya udah deh."
Skip
Tiba di restoran, Calista dan yang lainnya segera duduk ditempat yang telah disediakan. Dan karena Kevin yang akan mentraktir mereka, jadi mereka hanya menerima makanan dan minuman apapun yang telah dipesankan, karena mereka tahu pasti bahwa Kevin akan menyuguhkan makanan dan minuman yang enak.
Calista, Bayu, Friska dan Erick dalam meja yang sama. Sedangkan Kevin, pelatih basket beserta tim basket di meja yang lain karena Kevin tidak ingin sahabat-sahabatnya jadi canggung apalagi disatukan dengan anak-anak basket.
Yang Calista heran, seharusnya yang mentraktir ini semua adalah pelatihnya, bukan malah Kevin yang mentraktir. Tapi entahlah, mungkin juga dihari esok pelatihnya akan mentraktir anak-anak basket.
Kevin menatap kearah Calista dan Bayu secara bergantian. "Dilihat-lihat, lo cocok juga sama Bayu."
"Siapa? gue?" tanya Friska sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan lo, tapi Calista," jelas Erick.
"Kalau menurut gue sih Calista sama Bayu gak cocok," sahut Friska.
Calista dan Bayu hanya tertawa, pasalnya keduanya tahu bahwa Friska menyukai Bayu.
"Terus cocoknya sama siapa?" tanya Bayu sambil tersenyum kearah Friska.
Friska langsung mengalihkan pandangannya sambil menahan agar tidak tersenyum. "Gak tahu."
"Sama lo cocok gak?" tanya Bayu dan tentunya Friska jadi salah tingkah.
"Ketahuan banget salah tingkahnya," sindir Erick.
Tak menunggu lama, makanan pun telah dihidangkan di meja. Lantas mereka segera menikmatinya karena mereka sudah sangat lapar.
"Sambil makan, kita main game yuk," ajak Friska.
"Game apa?"
"Game kejujuran," kata Friska.
"Gak mau!"
Calista menolak ajakan Friska, karena ia takut jika nantinya Friska akan bertanya tentang lelaki yang Calista suka saat ini.
"Gak asik banget sih," keluh Friska.
"Ya udah ayo main sama gue," sahut Bayu.
Akhirnya Friska dan Bayu memainkan game tersebut. Yang Calista dengar, Friska mengatakan bahwa dia ingin tahu tentang siapa yang disukai oleh Bayu saat ini. Dan Bayu mengatakan bahwa saat ini dia tidak menyukai siapapun.
Ting!
Calista mendapatkan satu pesan dari Kevin, dengan cepat Calista membaca pesan tersebut. Setelah itu, Calista bergegas menuju lantai 2 karena Kevin ingin berbicara sesuatu kepada Calista.
Setibanya di lantai 2, Calista langsung menghampiri Kevin. Lalu, Kevin menarik Calista dan membawanya ke tempat yang sepi karena takut sahabat-sahabatnya melihatnya.
"Kenapa?"
"Kamu gak mau mengucapkan selamat gitu ke aku? padahal tim aku kan menang lomba."
"Oh iya lupa, selamat ya."
"Kayak gak tulus banget ucapannya."
Calista menghela nafasnya, karena ia rasa ucapannya benar-benar tulus.
"Oh iya, aku sebenarnya mau bicara sesuatu sama kamu. Tapi kamu jangan marah ya."
"Mau bicara apa?"
"Janji dulu kalau kamu gak akan marah."
"Iya, aku gak akan marah."
Kevin menjelaskan bahwa dirinya, Erick dan Friska diundang ke acara ulang tahun Rania.
"Rania juga sebenarnya mau undang kamu. Cuma dia takut ketika undang kamu, kamu nya gak datang," ujar Kevin.
"Gimana? kamu mau datang gak?" tanya Kevin.
"Gak tahu."
"Aku tahu, sebenarnya kamu juga ingin kumpul-kumpul lagi kayak waktu dulu, kan? cuma yang jadi masalah, kamu itu masih sakit hati karena kejadian waktu itu," ucap Kevin dengan lemah lembut.
Calista terdiam saat mendengar perkataan dari Kevin. Perkataan Kevin memang benar, Calista masih teringat dengan kejadian waktu dulu.
"Kalau kamu gak mau ikut gak apa-apa, lagipula aku ngerti kok. Pasti kamu susah melupakan kejadian itu," ujar Kevin.
"Emang Rania beneran mengundang aku?" tanya Calista memastikan, lalu Kevin mengangguk sambil tersenyum.
Mendengar pertanyaan Calista, membuat Kevin merasa kalau Calista sangat ingin geng Fearless berkumpul kembali seperti sejak dulu.
"Tapi kalau aku datang, aku takut emosi saat ketemu dia dan aku takut itu akan menghancurkan acara ulang tahunnya," jelas Calista.
"Aku jamin, kamu gak akan emosi. Dan kalaupun ada kata-kata Rania yang bikin kamu emosi, aku akan langsung membawa kamu pergi."
"Tapi masalahnya Rania gak chat aku dan gak menyuruh aku untuk datang ke acara ulang tahunnya."
Kevin tertawa kecil sambil mengelus rambut Calista. "Ya udah nanti aku suruh dia buat chat kamu."
Ketika Calista dan Kevin ingin kembali, tiba-tiba mereka berpapasan dengan Bayu. Dan itu membuat Kevin curiga bahwa Bayu berniat mengikuti Calista.
"Ngapain kesini?" tanya Kevin.
"Gue mau ke toilet," jelas Bayu.
"Toilet dibawah, bukan di lantai dua," jelas Kevin.
"Oh gitu. Gue pikir toilet cowok juga ada dilantai dua," ujar Bayu, lalu ia segera menuruni tangga.
Kevin kebingungan karena toilet perempuan maupun laki-laki berada dilantai satu, namun Bayu mengatakan seakan-akan toilet perempuan dan laki-laki berada dilantai yang berbeda.
"Tadi aku bilang ke Bayu kalau aku mau ke toilet. Dan karena dia lihat aku pergi ke lantai dua, jadi dia pikir toilet nya ada di lantai dua. Dan karena kamu tadi bilang kalau toilet ada dibawah, jadi pastinya Bayu berpikir bahwa toilet khusus laki-laki ada dibawah."
"Oh gitu, aku kira dia mau mengikuti kamu."
"Oh iya, Vin. Bayu udah tahu kalau kita pacaran."
"Syukur deh kalau dia udah tahu."
Calista mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti kenapa Kevin sangat bersyukur atas hal itu.
"Ngomong-ngomong soal cewek itu gimana? chat-nya kamu balas gak?"
Kevin mengerutkan keningnya. "Cewek yang mana?"
"Itu loh cewek yang namanya Dara. Tadi kan Erick sempat kasih nomor telepon kamu ke cewek itu."
"Kurang ajar! bisa-bisanya dia sebar nomor telepon gue," gumam Kevin.
Kevin buru-buru menuruni tangga dan tentunya Calista mengikutinya dari belakang. Calista takut jika Kevin dan Erick akan bertengkar karena hal itu.