
Keesokan harinya, Calista dengan terpaksa harus sekolah. Sebab jika Calista tidak sekolah mungkin Papahnya akan memarahinya.
"Gimana keadaan kamu sekarang? masih pusing gak?" tanya Mamah saat Calista baru saja duduk.
"Calista udah sembuh kok," bohong Calista, padahal sebenarnya ia masih tidak enak badan.
"Kata Papah juga apa, Calista itu anak yang kuat dan pastinya dia akan cepat sembuh."
Calista hanya tersenyum, lalu ia menikmati sarapannya.
Disisi lain, Mamah tirinya merasa khawatir karena sepertinya Calista berbohong tentang keadaannya. Mamah tirinya merasa jika Calista mengatakan itu hanya karena Calista takut dianggap lemah oleh Papahnya.
"Kamu yakin mau sekolah?" tanya Mamah.
"Yakin, Mah."
Tingtong! Tingtong!
Saat Mamah hendak berdiri, tiba-tiba Papah menyuruhnya kembali duduk. "Biar Papah aja," ujar Papah, lalu ia segera pergi.
Tak lama, Papah kembali bersama Kevin. Kevin berkata bahwa ia tadinya ingin menjenguk Calista sebentar sebelum berangkat ke sekolah, tetapi ternyata hari ini Calista akan ke sekolah.
"Kevin, udah makan belum?" tanya Mamah tiri Calista.
"Udah kok, Tante," ujar Kevin.
"Pah, Mah. Calista mau berangkat sekarang aja sama Kevin." Calista menarik Kevin keluar.
Skip
Ketika diperjalanan menuju ke sekolah, Calista hanya tidur supaya ia tidak merasa pusing. Disisi lain, Kevin yang melihat Calista merasa bahwa Calista masih sakit. Dengan demikian, Kevin mematikan AC mobilnya agar Calista tidak kedinginan.
Calista sontak membuka kedua matanya disaat ia merasakan gerah yang luar biasa. "AC nya kenapa dimatikan?"
"Soalnya takut lo kedinginan," kata Kevin.
Trining! Trining!
Ponsel Calista berbunyi dan otomatis Calista melihat ke layar ponselnya. Ia bingung harus menjawab atau tidak panggilan tersebut, karena panggilan telepon tersebut dari Reyhan.
Sebenarnya Calista sudah malas berkomunikasi dengan Reyhan lagi. Tetapi karena Calista ingin membantu Rania, jadi ia harus berhubungan lagi dengan Reyhan.
"Kenapa gak dijawab?" tanya Kevin.
"Teleponnya gak penting." Calista langsung menolak panggilan dari Reyhan.
Kevin tahu bahwa telepon itu dari Reyhan, karena terlihat dari raut wajah Calista yang seperti enggan menerima panggilan tersebut.
"Ta, lo beneran jadian lagi sama Reyhan?"
Calista tersenyum miring. "Enggak kok."
"Terus kenapa lo dekat sama dia lagi?"
Calista menatap lurus kedepan tanpa menjawab perkataan Kevin.
"Ta, jawab dong!"
"Gue gak bisa kasih tahu yang sebenarnya, Vin."
"Apa dia ancam lo ya? makanya lo jadi gak bisa menjauhi dia."
"Enggak kok."
Kevin berpikir sejenak, ia merasa bahwa ini ada hubungannya dengan Rania. Sebab kemarin Kevin melihat Calista dan Rania yang seperti sedang membicarakan hal yang penting.
"Apa ini ada hubungannya sama Rania ya?" tanya Kevin, lalu Calista hanya diam saja. Dengan demikian, Kevin jadi yakin seratus persen bahwa penyebabnya adalah Rania.
...****************...
Saat Calista dan Kevin turun dari mobil, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menghampiri mereka berdua. Yang Calista tahu, lelaki itu adalah anak basket sama seperti Kevin.
"Kok berangkat bareng Calista? bukannya pacar lo itu Haura ya?" sindir teman Kevin.
"Mau gue berangkat sama Calista atau siapapun juga, emang masalah buat lo?" tanya Kevin.
"Gak masalah sih, cuma gue kasihan aja sama Haura," kata teman Kevin.
Karena Calista tidak ingin mendengar perdebatan antara Kevin dan orang itu, jadi ia memilih untuk pergi.
Baru saja Calista berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara pukulan dan otomatis Calista menoleh kebelakang. Kemudian, Calista berlari kecil menghampiri Kevin yang sedang bertengkar dengan temannya.
Calista menarik seragam Kevin dan spontan siku tangan Kevin mengenai wajah Calista.
Aww!
Mendengar suara itu, membuat Kevin menoleh kebelakang. Tadinya Kevin berpikir bahwa orang yang melerainya bukanlah Calista.
Disisi lain, teman Kevin berlari karena ia tidak ingin wajahnya babak belur.
Calista menahan rasa sakitnya, ia tidak mau jika Kevin merasa bersalah.
"Ta, sakit gak?"
"Enggak kok."
Kevin mengelus pelan pipi Calista. "Maaf, gue gak sengaja."
"Iya, gak apa-apa."
...****************...
Pikiran Calista tak karuan, ia tiba-tiba saja memikirkan kejadian saat tadi di parkiran. Entah kenapa ia jadi memikirkan saat Kevin yang mengelus pipinya.
Calista menggelengkan kepalanya. "Gue gak boleh suka sama dia," batinnya.
"Ta, lo kenapa?" tanya Friska.
"Gak kenapa-napa kok."
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Calista dan otomatis Calista menengok kebelakang.
"Kalau sakit, lebih baik ke UKS aja," kata Kevin.
"Perhatian banget, kayak pacarnya aja lo," sindir Erick.
"Gue sahabatnya, jadi wajar kalau khawatir," jelas Kevin.
"Katanya sahabat, tapi kok pernah menyatakan cinta," sindir Friska dan itu membuat Kevin terdiam.
Disaat Calista melihat Rania yang sedang ijin kepada guru untuk pergi ke toilet, Calista juga jadi ikut meminta ijin kepada guru. Bukan karena ia ingin buang air, melainkan ia ingin mengobrol dengan Rania.
"Rania!" panggil Calista sambil berlari menghampiri Rania.
"Kenapa, Ta?" tanya Rania.
"Gue kayaknya gak bisa bantu lo."
Wajah Rania terlihat sedih akibat mendengar perkataan Calista.
"Kemarin gue udah lihat di handphone Reyhan, tapi gak ada foto lo. Dan karena itu pastinya Reyhan gak menyimpan fotonya di handphonenya."
"Enggak kok, Reyhan memang simpan fotonya diponselnya."
"Tapi gue gak lihat ada foto lo di galerinya."
Rania diam saja, lalu ia segera pergi ke toilet karena sepertinya Calista tidak bisa membantunya.
Melihat Rania seperti itu, membuat Calista semakin kasihan kepadanya.
"Dor!" teriak Kevin yang sontak membuat Calista terkejut.
"Apaan sih, Vin!" kesal Calista.
"Lo dekat lagi sama Reyhan gara-gara Rania, kan?" tebak Kevin.
Calista tidak menjawab pertanyaan dari Kevin. Jadi, Calista lebih memilih untuk pergi menuju toilet. Sebab jika sekarang ia kembali menuju kelas, pastinya guru akan mengira bahwa tadi Calista berbohong.
Karena Calista pergi ke toilet perempuan, jadi Kevin tidak mengikuti Calista lagi.
Skip
Calista mendengar suara isak tangis seseorang dan tentu saja orang itu adalah Rania. Calista tahu bahwa Rania menangis dikarenakan dia sangat ketakutan jika nantinya Reyhan menyebarkan foto-fotonya.
Tetapi, Calista juga tidak bisa membantunya dikarenakan ia sulit untuk mencari foto-foto itu di ponsel Reyhan.
Cklek
Pintu salah satu toilet tersebut dan itu membuat Calista buru-buru untuk pergi sebelum Rania keluar dan melihat Calista.
Dalam perjalanan menuju kelas, Calista melihat Haura yang sedang berjalan kearahnya.
"Hai, Kak." Haura tersenyum dan tak lupa Calista menyapanya kembali.
"Kak, kalau kak Kevin sekolah gak?" tanya Haura.
Calista terdiam sejenak karena merasa heran, sebab bagaimana bisa Haura tidak mengetahui pacarnya sekolah atau tidak.
"Kevin sekolah kok."
"Oh syukur deh, aku kira dia gak sekolah. Soalnya chat aku tadi pagi gak dibalas sama dia," jelas Haura.