Fearless

Fearless
Bab 14



Tok! Tok!


Pintu kamar diketuk dan itu membuat Calista beranjak bangun dari tidurnya. Ia berjalan kearah pintu dan membukanya.


"Ada apa?"


"Ini Mamah buatkan mie goreng buat kamu."


Karena kebetulan Calista sedang lapar, akhirnya ia mengambil mie goreng tersebut.


"Nanti kalau mau lagi tinggal ke dapur aja ya," ujar Mamah tiri Calista.


Calista tidak menjawabnya dan ia kembali menutup pintu kamarnya.


Sambil menikmati makanan, Calista memutuskan untuk menelpon Friska untuk memberitahu bahwa nanti sore Calista akan pergi ke rumah Friska.


Tak butuh waktu lama, Friska menjawab panggilan telepon dari Calista.


"Hallo, Ta," ujar Friska.


"Ka, nanti jam 4 gue ke rumah lo ya."


"Mau ngapain ke rumah gue?"


"Gue mau main."


Friska berkata bahwa nanti sore dirinya akan pergi bersama seseorang. Ketika ditanya pergi dengan siapa, Friska tidak menjawabnya karena katanya itu rahasia.


Dengan begitu, Calista menduga bahwa Friska pergi dengan pacar barunya.


"Lo punya pacar ya?" tebak Calista.


"Enggak kok."


"Udah jangan bohong."


Friska tidak menjawab ucapan Calista, setelah itu dia mematikan teleponnya.


Sudah tertebak bahwa dia memiliki kekasih. Namun entah kenapa dia menyembunyikannya dari Calista.


Tok! Tok!


Calista menghela nafasnya saat Mamah tirinya kembali mengetuk pintu kamarnya.


"Kenapa lagi sih," kesal Calista sambil berjalan menuju kearah pintu.


Ketika dibuka, Calista sangat terkejut karena orang yang mengetuk pintu adalah Rania.


"Ngapain lo kesini?" kesal Calista.


"Ta, gue minta maaf." Rania menundukkan kepalanya.


"Gue gak mau terima permintaan maaf dari lo."


Rania duduk dan memohon dihadapan Calista supaya dimaafkan.


"Maaf, Ta." Rania menangis.


Calista membuang mukanya. "Lebih baik lo pergi dari sini! gue muak lihat wajah lo."


"Ada apa ini?" tanya Mamah.


Calista terdiam saat Mamah tirinya tiba-tiba datang.


Mamah membangunkan Rania yang duduk dihadapan Calista. "Kamu kenapa menangis?"


Rania hanya diam saja saat ditanya oleh Mamah Calista. Karena jika ia menjawab, pastinya Mamah Calista juga akan marah jika tahu bahwa Rania merebut pacar Calista.


"Dia selingkuh sama pacar Calista. Makanya dia menangis supaya Calista memaafkan dia," sahut Calista.


"Lebih baik kamu maafkan dia. Lagipula dia kan udah minta maaf sama kamu. Katanya sahabat, tapi masa cuma gara-gara satu cowok, kalian jadi berantem kayak gini," ujar Mamah. Kemudian, Calista menutup pintunya dengan keras lalu menguncinya.


...****************...


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Calista masih saja tidak keluar kamarnya.


Tok! Tok!


"Calista, ayo makan malam!" teriak Papah.


Karena merasa lapar, akhirnya Calista membuka pintu kamarnya.


"Ayo makan!" perintah Papah.


Akhirnya Calista dan Papahnya berjalan menuju ruang makan.


"Kita makannya berdua, soalnya mamah lagi pergi ke rumah temannya," ujar Papah.


"Yakin cuma teman?"


Papah menghela nafasnya. "Calista, Papah tahu kalau kamu itu gak suka sama mamah tiri kamu. Tapi Papah mohon agar kamu jangan bersikap kasar."


Papah memberitahu bahwa istrinya sering menangis karena perkataan Calista. Meskipun memang dia tidak secara langsung memberitahu, tapi Papah Calista menyadari bahwa istrinya menangis karena Calista.


"Jujur aja Calista benci dia karena perhatian Papah jadi berkurang semenjak Papah menikahi dia."


Saat Calista berkata seperti itu, tiba-tiba mamah tirinya muncul langsung menghampiri keduanya.


"Kalau misalnya kamu gak suka atas kehadiran saya, saya akan bercerai sama Papah kamu," ujar Mamah.


Mamah meneteskan air matanya. "Aku capek, Mas. Aku udah berusaha bersikap layaknya seorang ibu, tapi Calista masih aja bersikap seperti itu."


"Maafkan Calista. Dia belum dewasa saat ini, tapi suatu saat aku yakin bahwa dia akan terima kamu kok."


Calista mengambil makan malamnya dan ia bergegas pergi menuju kamarnya karena ia tidak ingin menyaksikan perdebatan tersebut.


...****************...


Keesokan paginya, Calista buru-buru pergi ke sekolah tanpa berpamitan kepada orang tuanya. Karena jika berpamitan, ia pasti akan disuruh Papahnya untuk meminta maaf kepada Mamah.


Selama diperjalanan menuju sekolah, tiba-tiba Calista mengingat kejadian kemarin saat Kevin mengatakan bahwa dia menyukai Calista.


Entah kenapa pikiran tersebut terlintas begitu saja, padahal Calista yakin bahwa dirinya tidak menyukai Kevin.


Trining! Trining!


Suara telepon membuyarkan lamunan Calista. Pada saat melihat teleponnya, ia sedikit terkejut karena ternyata orang yang menelponnya adalah Kevin.


Ini sangat aneh. Bagaimana bisa Kevin menelpon Calista disaat Calista sedang memikirkannya.


Karena takut ada hal yang penting, jadi Calista buru-buru menjawab panggilan telepon tersebut.


"Ta, gue mau bisa sesuatu sama lo," ujar Kevin.


"Mau bicara apa?"


"Tentang Friska."


Dari cara Kevin berbicara, sepertinya ini bukanlah kabar baik.


"Friska kenapa?"


"Kemarin gue lihat dia sama seorang lelaki yang lebih tua umurnya dari dia."


"Maksudnya dia pacaran sama om-om?"


"Kalau menurut gue sih iya. Karena gue lihat mereka berpegangan tangan."


Sebenarnya ini hak Friska untuk dekat dengan siapapun. Tetapi, Calista akan sangat kecewa jikalau Friska mengencani lelaki seperti itu. Bagaimanapun Friska sangat muda dan dia juga cantik, jadi pastinya banyak lelaki lain yang lebih baik daripada lelaki tua itu.


"Lelaki itu udah punya istri atau belum?"


"Gue gak tahu. Tapi gue kecewa sih kalau misalnya Friska pacaran sama lelaki yang udah punya istri," kata Kevin.


"Ya udah nanti kalau gue udah sampai sekolah, gue akan tanya dia." Lalu, Calista mematikan teleponnya.


Skip


Sesampainya di kelas, ia berjalan kearah tempat duduknya. Kebetulan sekali Friska sudah datang, jadi ini kesempatan untuk bertanya tentang hal tadi dibicarakan oleh Kevin.


"Lo kemarin pergi sama lelaki ya?"


"Iya. Emang kenapa?"


"Sama pacar lo?"


Friska hanya tertawa mendengar perkataan Calista.


"Bukan pacar," jelas Friska.


"Terus pergi sama siapa?"


"Kepo banget sih lo."


"Haruslah, gue kan sahabat lo."


Friska mengatakan bahwa dia tidak ingin memberitahu Calista, karena menurutnya ini sangat privasi.


"Lo gak jadi simpanan om-om, kan?" tanya Calista memastikan.


Friska kembali tertawa, karena sepertinya Calista kemarin melihatnya bersama seorang pria. "Gila kali ya, mana mungkin gue jadi simpanan om-om."


"Terus yang kemarin itu siapa?"


"Lo kemarin lihat gue ya?"


Calista mengatakan jika bukan dirinya yang melihat, melainkan yang melihat adalah Kevin.


"Sebenarnya lelaki itu adalah papah kandung gue," jelas Friska.


"Jadi yang di rumah itu papah tiri lo?"


Friska mengangguk mengiyakan ucapan Calista.


"Kenapa lo gak cerita?"


Friska hanya tersenyum. "Lo juga gak pernah cerita kan tentang orang tua lo."


Seketika Calista terdiam karena ucapan Friska ada benarnya juga.


"Ta, sebenarnya gue udah tahu kalau mamah kandung lo udah meninggal."


"Lo tahu dari Kevin ya?"


"Bukan. Tapi waktu itu gue lihat album foto lo dan pada saat itu gue tahu bahwa mamah lo yang sekarang itu bukanlah mamah kandung lo."