
Tok! Tok!
Pintu kamar diketuk oleh seseorang dan otomatis Calista membukanya.
"Kenapa?"
"Itu ada Kevin di ruang tamu," ujar Mamah tiri Calista.
Calista bergegas pergi menghampiri Kevin yang sedang di ruang tamu. Dan ketika sampai di ruang tamu, ternyata Kevin sedang mengobrol bersama Papah.
"Pah, Calista pergi sama Kevin ya."
"Iya boleh, asalkan pulangnya jangan terlalu malam."
"Ya udah ayo!" ajak Calista. Lalu, Calista dan Kevin segera pergi ke rumah Reyhan.
Skip
Sesampainya didekat rumah Reyhan, Calista dan Kevin hanya menunggu sampai Reyhan keluar dari rumahnya.
"Reyhan masih ada didalam rumah, kan?" tanya Kevin memastikan, karena ia takut Reyhan sudah pergi.
"Iya, dia masih ada didalam rumah. Soalnya tadi aku sempat video call sebentar sama dia."
"Ta, pokoknya nanti lo jangan ribut ya. Lo cukup putusin pacar lo aja, jangan sampai lo marah-marah sama selingkuhan. Soalnya pasti selingkuhannya gak tahu kalau ternyata Reyhan udah punya pacar atau juga siapa tahu ternyata lo yang selingkuhannya."
"Hubungan gue sama Reyhan udah lama. Jadi mana mungkin gue yang jadi selingkuhannya."
Pintu gerbang rumah Reyhan terbuka dan terlihatlah Reyhan yang sedang mengeluarkan mobilnya.
Ketika Reyhan melajukan mobilnya, Kevin juga ikut melajukan mobilnya perlahan agar Reyhan tidak curiga.
Tetapi jika Reyhan menyadari ada mobil yang mengikutinya, dia pasti tidak akan sadar juga jika didalam mobil ada Calista yang sedang memantaunya.
"Gue kurang apa ya? kok dia sampai selingkuh," ucap Calista dengan suara bergetar.
Kevin melirik sekilas kearah Calista. "Lo gak ada kurangnya. Cowok lo aja yang gak cukup sama satu cewek."
Kevin memberikan tisu kepada Calista. "Jangan nangis! lagipula ngapain menangisi cowok jamet kayak Reyhan."
Tiba-tiba Calista tertawa meskipun air matanya terus menetes.
Kevin tersenyum saat melihat Calista tertawa. "Nah, gitu dong! jangan nangis. Lagipula cowok banyak kok."
*****
Mobil Reyhan berhenti disebuah rumah dan itu membuat Calista dan Kevin sangat terkejut, sebab rumah itu adalah rumah Rania.
Mata Calista kembali berkaca-kaca. "Jadi selingkuhannya Reyhan itu Rania?" gumamnya tak menyangka.
Tak lama, Calista dan Kevin melihat Rania yang masuk kedalam mobil Reyhan.
Dan pada saat itu, Calista langsung menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka bahwa pacar dan sahabatnya tega mengkhianatinya.
"Vin, gue mau pulang aja."
"Ya udah, sekarang kita pulang." Kevin melajukan mobilnya menuju rumah Calista.
Calista membuka ponselnya dan ia langsung mengirim pesan kepada Reyhan. Calista meminta putus, lalu setelah itu Calista langsung memblokir nomer Reyhan dan Rania. Calista juga mengeluarkan Rania didalam grup chat-nya. Selain itu, Calista juga memblokir Rania dan Reyhan di instagram.
Kevin merasa kasihan kepada Calista. Tetapi disisi lain, ada rasa senang karena sejujurnya Kevin sudah lama menyukai Calista.
"Ta, udah jangan nangis lagi," ujar Kevin.
"Padahal gue udah baik sama Rania, tapi dia tega rebut Reyhan dari gue," lirih Calista.
Trining! Trining!
Calista melihat ke ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Friska. Otomatis Calista menjawab teleponnya karena ia ingin memberitahu bahwa selingkuhan pacarnya adalah Rania.
"Kenapa, Ta? kok lo nangis."
"Reyhan selingkuh sama Rania," ucap Calista sambil menangis sesenggukan.
Friska terdiam, karena ia terkejut mendengar perkataan Calista.
"Ini prank ya?" tanya Friska.
"Gue serius. Tadi gue mengajak Kevin untuk memergoki Reyhan sama selingkuhannya dan ternyata selingkuhannya itu Rania."
"Parah banget sih Rania. Masa menikung sahabat sendiri," murka Friska.
Calista menangis semakin keras karena mendengar perkataan Friska. Lalu, Kevin memberhentikan mobilnya dan menenangkan Calista.
Kevin mengambil ponsel Calista. "Ka, gue tutup ya teleponnya. Soalnya nantinya Calista tambah menangis kalau cerita tentang hal ini." Setelah berkata seperti itu, Kevin langsung mematikan teleponnya dan ia menyimpan ponsel milik Calista.
"Lebih baik lo jangan cerita tentang hal ini, soalnya nanti lo pasti tambah nangis," saran Kevin.
Disaat perjalanan menuju pulang, tiba-tiba perut Calista berbunyi dan spontan Kevin langsung tertawa saat mendengarnya.
"Iya belum."
"Ya udah kalau gitu kita cari makan dulu."
"Gak usah. Soalnya lagi gak nafsu makan."
Kevin tidak menghiraukan perkataan Calista, dia langsung melajukan mobilnya menuju sebuah restoran terdekat.
Skip
Sesampainya di restoran, Kevin menyuruh Calista untuk turun dari mobil.
"Gue udah bilang kalau gue gak nafsu makan."
"Iya, gue tahu."
"Terus kenapa kesini?"
"Karena gue lapar, makanya gue kesini."
Akhirnya Calista menuruti perkataan Kevin. Setelah itu, keduanya masuk kedalam restoran.
Ketika Calista dan Kevin baru saja duduk, tiba-tiba pelayan restoran berjalan menghampiri keduanya.
"Mau pesan apa?" tanya pelayan, lalu Kevin memesan beberapa makanan dan dua minuman.
Sesudah Kevin memesan, pelayan tersebut pergi untuk membuatkan pesanan.
"Vin, gue gak mau!"
"Jangan kepedean. Itu semua pesanan buat gue," ujar Kevin, padahal sebenarnya itu pesanan untuk Kevin dan juga Calista.
Kevin tahu pasti nantinya Calista akan tergiur saat melihat Kevin makan, makanya Kevin membelikan banyak makanan.
Perut Calista kembali berbunyi, ia benar-benar lapar sekarang. Mungkin juga karena ia mencium bau makanan, makanya dia menjadi sangat lapar.
"Vin, kalau misalnya makanan lo gak habis gimana?"
Kevin menahan tawanya. "Kenapa lo tanya kayak gitu?"
"Ya siapa tahu nanti gak habis, terus jadi mubazir gitu."
"Kayaknya kalau porsinya segitu bakal habis sih."
Calista menghela nafasnya, karena Kevin sangat tidak peka.
Beberapa menit kemudian...
Pelayan menghampiri Calista dan Kevin, lalu pelayan itu meletakkan semua pesanan Kevin di meja. Sesudah mengantarkan pesanan, pelayan tersebut pergi.
Kevin menyantap makanan yang ia pesan. "Sumpah ini enak banget."
Calista menelan salivanya, ia sangat tergiur dengan ayam goreng yang dimakan Kevin.
"Mau dong."
Kevin tertawa kecil. "Tadi katanya gak mau."
"Ya udah gak jadi." Calista spontan mengalihkan pandangannya.
Kevin mendekatkan piring yang berisi ayam goreng ke hadapan Calista.
"Makan yang banyak," ujar Kevin dan itu membuat Calista tersenyum bahagia.
"Makasih ya, Vin." Calista memakan ayam goreng tersebut dengan lahap.
Kevin tersenyum saat melihat Calista yang sudah tidak sedih lagi.
"Lo kenapa senyum? oh gue tahu, pasti lo ingin menertawakan gue ya karena tadi gue bilang gak nafsu makan."
"Enggak kok."
"Terus lo kenapa senyum?"
"Karena lo lucu."
Calista tertawa, karena baru kali ini ada orang yang memuji dengan sebutan lucu. Sebab biasanya kebanyakan orang memuji Calista dengan menyebut Calista cantik ataupun keren.
"Vin, lo suka ya sama gue?" canda Calista, lalu ia meminum jus yang ada di meja.
"Iya, gue suka sama lo."
Uhuk! Uhuk!
Calista tersedak saat mendengar ucapan Kevin. Ia tidak mengira bahwa Kevin akan mengatakan hal tersebut.