Fearless

Fearless
Bab 13



Calista terus menatap tajam kearah Rania yang duduk didepannya. Rasanya tangannya ingin sekali menjambak rambut Rania.


"Ta, udah jangan emosi," bisik Friska saat melihat Calista yang menatap tajam kearah Rania.


"Coba bayangkan lo diposisi gue, pastinya lo juga akan emosi sama dia."


"Calista, Friska! kalau mau mengobrol jangan di kelas!" tegas Pak Samsul.


"Maaf, Pak," ujar keduanya bersamaan.


Selanjutnya Pak Samsul memberikan tugas kepada murid-muridnya. Dengan begitu, murid-murid segera mengerjakan tugas masing-masing.


Tiba-tiba Kevin menepuk pundak Calista dan itu membuat Calista menoleh kebelakang.


"Ada apa?"


"Kata Erick, nomer 1 apa?" tanya Kevin.


"Kok jadi bawa-bawa gue sih," sahut Erick.


Calista menatap datar kearah Kevin. Karena sudah jelas semua jawabannya ada di buku.


"Cari aja di buku paket, ada kok jawabannya."


"Gue malas baca." Kevin cengengesan.


Calista langsung menunjukkan jawaban miliknya. Dengan cepat, Kevin langsung memotret jawaban tersebut.


"Makasih," ujar Kevin.


"Iya sama-sama." Calista kembali mengerjakan soal yang lainnya.


...****************...


Calista dan sahabat-sahabatnya sedang berada di rooftop sambil menikmati makan siang.


Calista sengaja mengajak Kevin, Friska dan Erick makan siang di rooftop karena ia tidak ingin melihat wajah Rania.


"Oh iya, malam Minggu kita ke club yuk!"


"Ke club? gue gak mau," ujar Friska.


Calista merasa kecewa karena sepertinya Friska tidak ingin pergi ke klub.


"Gak mau nolak," sambung Friska.


"Jadi lo mau ikut?" tanya Calista, lalu Friska hanya mengangguk.


"Kalau lo, Rick? mau ikut gak?"


"Ya jelas mau lah," kata Erick.


Karena Calista tahu bahwa orang tuanya akan marah jika ia pergi ke club, akhirnya nanti ia berniat untuk mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia akan menginap di rumah Friska.


"Nanti gue menginap di rumah lo ya, soalnya pasti orang tua gue marah kalau tahu gue pergi ke club."


"Oke," kata Friska.


"Oh iya, Ta. Tadi Rania chat gue, katanya dia mau minta maaf sama lo," kata Erick.


Seketika Calista terdiam sebab mendengar ucapan Erick.


"Rick, udah jangan bahas Rania lagi," ujar Kevin, karena ia tahu bahwa Calista masih kesal dengan Rania.


"Sorry," ujar Erick.


"Oh iya, Ta. Pulangnya dijemput gak?" tanya Kevin.


"Enggak."


"Ya udah kalau gitu bareng gue aja," kata Kevin.


Friska dan Erick menatap kearah Kevin karena sepertinya memang benar bahwa Kevin mempunyai perasaan dengan Calista.


"Vin, apa jangan-jangan lo jomblo karena lo naksir sama Calista ya?" tuduh Erick.


"Enggak kok. Lagipula emang salah ya kalau gue antar dia?" tanya Kevin.


"Enggak salah sih," kata Erick.


"Padahal gue lebih sering antar pulang Rania daripada Calista. Tapi kenapa lo menuduhnya gue suka sama Calista?" heran Kevin.


Erick menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Erick juga bingung kenapa dia bisa menuduh Kevin menyukai Calista hanya gara-gara hal tersebut. Padahal mengantarkan pulang itu hal yang wajar karena mereka adalah sahabat.


"Vin, bukannya pulang sekolah lo ada ekskul basket ya?" tanya Friska.


Kevin terdiam sejenak. "Gak kok. Hari ini gak ada ekskul."


...****************...


Selesai membereskan alat-alat tulisnya, Kevin segera menghampiri Calista yang menunggunya didekat pintu.


"Ya udah ayo pulang," ajak Kevin.


"Kevin!" panggil seseorang sambil berjalan kearah Kevin.


Sebelum orang itu mendekat, Kevin lebih dulu menghampirinya.


Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya mereka membicarakan tentang latihan basket.


Tak lama, Kevin kembali menghampiri Calista. "Ayo pulang!"


"Kalau lo latihan ya latihan aja. Lagipula gue bisa naik grab kok."


"Hari ini gak latihan kok."


Tanpa banyak basa-basi, Kevin langsung mengajak Calista pergi menuju parkiran.


Skip


Sejujurnya, Calista merasa tidak enak karena Calista sangat yakin bahwa tadi teman Kevin mengajak untuk latihan basket. Tetapi karena Kevin akan mengantarkan Calista, jadi Kevin membatalkan latihannya.


"Vin, lo bohong ya?"


"Bohong tentang apa?"


"Tadi seharusnya lo latihan, kan?"


"Udah gue bilang kalau hari ini gak latihan."


Meskipun berkali-kali Kevin berkata seperti itu, tetap saja Calista tidak percaya dengan perkataannya.


"Kenapa? lo gak percaya sama ucapan gue?" tanya Kevin saat melihat Calista yang terus menatapnya.


"Vin, jawab jujur deh. Lo suka ya sama gue?"


Kevin mengerem mobilnya karena ia sangat terkejut dengan pertanyaan Calista.


"Gue gak suka," ucap Kevin dengan gugup.


"Tapi perlakuan lo menunjukkan bahwa lo itu suka sama gue."


"Ya gue emang suka. Tapi suka sebagai sahabat."


"Yakin?"


Kevin tidak menjawab pertanyaan Calista. Ia lebih memilih untuk melanjutkan perjalanannya menuju rumah Calista.


"Oke, gue paham. Karena lo kelihatan gugup, jadi gue rasa memang lo suka sama gue."


Kevin menghela nafasnya saat Calista mengetahui bahwa Kevin menyukainya. Lagipula percuma saja jika berbohong. Sebab, jika Kevin berbohong, pastinya Calista akan mengetahuinya.


Calista tertawa kecil. "Dari kapan lo suka sama gue?"


"Dari kelas sepuluh," ujar Kevin yang tetap fokus menyetir.


Calista cukup terkejut karena ternyata Kevin sudah cukup lama mencintai Calista.


"Jangan suka sama gue. Gue bukan orang yang baik."


"Gue juga bukan orang yang baik kok," ujar Kevin.


"Tapi masalah gue gak mau pacaran sama lo, karena lo itu sahabat gue," jelas Calista, karena Calista takut dirinya dan Kevin akan canggung jika hubungannya berakhir.


"Gue gak meminta lo jadi pacar gue kok. Cuma gue ingin lo tahu aja kalau gue suka sama lo."


Calista tersenyum karena perkataan Kevin sangat dewasa. Biasanya jika Calista menolak seorang cowok, cowok itu akan menjauhinya bahkan menjelek-jelekkan Calista.


"Jangan jauhi gue karena hal ini ya. Gue gak mau kalau persahabatan kita hancur hanya karena ini," pinta Calista.


"Gue gak akan menjauh dari lo kok."


"Oh iya, gue janji gak akan kasih tahu tentang hal ini sama Friska dan Erick."


Walaupun Friska dan Erick tidak diberitahu pun sepertinya mereka sudah mengetahui bahwa Kevin menyukai Calista. Hanya saja saat ditanya, Kevin terus menyangkalnya.


Tak lama, keduanya telah sampai. Lalu, Calista segera turun dari mobil. "Hati-hati ya."


Kevin hanya tersenyum. Setelah itu, dia melajukan mobilnya dengan laju yang lumayan cepat.


Calista tahu bahwa saat ini Kevin sangat malu karena telah menyatakan cinta kepada Calista, makanya dia buru-buru melajukan mobilnya.


"Pantas aja dia memperlakukan gue dengan spesial dibandingkan dengan yang lainnya," gumam Calista sambil menatap kepergian Kevin.


Tiba-tiba Mamah tiri Calista datang dengan membawa bahan-bahan makanan.


"Kamu baru pulang?" tanya Mamah tiri Calista. Otomatis Calista masuk kedalam rumah tanpa menjawab pertanyaan Mamah tirinya.