
Sekitar beberapa menit yang lalu Friska sudah pulang, jadi sekarang hanya ada Calista dan Kevin di kamar. Walaupun sudah sering berduaan, tetapi tetap saja Calista merasa canggung, apalagi di rumah ini ada papahnya Kevin.
"Kamu besok sekolah gak?"
Kevin terdiam sejenak. "Kamu bosan ya di sekolah? makanya terus tanya kapan
aku sekolah."
"Gak bosan kok. Cuma aku pingin tahu aja kalau kamu mau sekolah atau enggak."
"Besok aku kayaknya akan sekolah deh, soalnya bosan juga kalau di rumah."
Kevin menyuruh Calista untuk menunggu sebentar karena dia ingin pergi ke toilet. Tentu saja setelah Kevin pergi, Calista langsung mengambil ponsel Kevin karena ia sangat penasaran dengan siapa orang yang tadi menelpon.
Jantung Calista berdegup kencang, karena ponsel Kevin sangat lama menampilkan layar utamanya. Beberapa detik kemudian, layar utama ponsel muncul dan Calista buru-buru mencari daftar panggilan tak terjawab di ponsel Kevin.
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Calista spontan menyembunyikan ponsel Kevin karena ia belum melihat siapa orang yang tadi menelponnya.
Pada saat keluar, terlihat dari raut wajah Kevin bahwa dia penasaran dengan apa yang disembunyikan Calista.
"Itu yang dibelakang apa?"
"Bukan apa-apa kok."
Kevin mendekati Calista dan dia berusaha melihat apa yang disembunyikan oleh Calista. Sedangkan Calista, ia terus berusaha agar Kevin tidak mengambil ponsel.
Karena posisi Calista tak seimbang, ia spontan menarik baju Kevin. Namun bukannya kembali berdiri, justru keduanya terjatuh ke kasur karena Calista terlalu kuat menarik baju Kevin.
Bruk!
Mata keduanya saling bertatapan bahkan detak jantung mereka berdetak seirama.
Tiba-tiba Kevin mendekatkan wajahnya dan otomatis Calista menutup kedua matanya.
Chup!
Kevin mencium bibir Calista sekilas, lalu ia langsung mengambil ponselnya yang berada digenggaman Calista.
Calista mendorong tubuh Kevin, lalu ia segera berdiri. "Sini handphonenya!"
"Mau lihat apa sih?"
"Aku pingin lihat siapa orang yang tadi telepon kamu."
"Aku kan udah bilang kalau yang tadi telepon itu Erick."
Calista cemberut lantaran ia tahu bahwa itu adalah panggilan telepon dari seorang perempuan. Bahkan saat ini rasanya Calista ingin menangis karena mengetahui bahwa Kevin mulai berbohong kepada Calista.
"Aku pulang dulu," ujar Calista dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya udah ini." Kevin memberikan ponselnya kepada Calista, padahal sebenarnya ia takut jika Calista membuka isi chat-nya dengan Erick. Sebab, didalam chat tersebut Kevin mengatakan kepada Erick bahwa dirinya akan memberikan kejutan kepada Calista karena sebentar lagi Calista berulang tahun.
"Gak jadi. Aku mau pulang aja."
Aww!
Calista yang tadinya ingin berniat pergi, otomatis menoleh saat mendengar suara kesakitan Kevin.
Calista kembali menghampiri Kevin. "Kenapa?"
Kevin tersenyum lebar. "Gak kenapa-napa. Aku cuma pingin kamu balik lagi aja."
Calista menatap datar kearah Kevin, ia pikir luka Kevin kembali sakit lantaran tadi Kevin jatuh menimpa Calista.
Kevin memberikan ponselnya kepada Calista. "Cepat ambil! sebelum aku berubah pikiran."
Dengan wajah yang yang masih kesal, Calista langsung mengambil ponsel milik Kevin. Dan ketika ia melihat catatan panggilan di ponsel Kevin, ternyata memang benar bahwa panggilan telepon tersebut dari Erick.
Calista kembali memberikan ponsel kepada Kevin. "Terus kenapa gak dijawab aja panggilannya?"
"Udah aku bilang dari tadi kalau obrolan Erick itu gak penting, makanya aku tolak teleponnya. Lagian disini ada kamu, makanya aku langsung matikan teleponnya supaya gak mengganggu."
"Oh gitu. Ya udah maaf, aku pikir itu selingkuhan kamu."
Sejujurnya Kevin sangat kesal karena Calista seringkali menuduh Kevin mempunyai perempuan lain. Tapi apa boleh buat, Kevin hanya memakluminya sebab Calista pasti trauma karena pernah diselingkuhi.
Cklek!
Seseorang masuk kedalam kamar dengan kondisi yang begitu kacau. Ya, orang itu adalah Erick. Dia terlihat sedang tidak baik-baik saja, bahkan wajahnya begitu pucat.
"Loh! bukannya lo lagi di luar kota," heran Calista.
"Ta, lo bisa keluar dulu gak? soalnya gue mau bicara sesuatu sama Kevin."
"Oh ya udah, lagian gue juga mau pulang sekarang kok," ujar Calista, lalu ia segera pamit kepada Kevin.
Sesudah menutup pintu kamar, bukannya langsung pulang, Calista justru mendengarkan percakapan Kevin dan Erick dari luar kamar.
Seketika tubuh Calista membeku setelah mendengar pengakuan Erick yang berkata bahwa dia telah menabrak Reyhan. Erick mengaku bahwa dirinya melakukan itu untuk Rania. Erick tidak mau Rania terus merasa sedih karena mendapatkan ancaman-ancaman dari Reyhan.
Ya, Calista juga mengetahui bahwa Erick mencintai Rania, sebab tak mungkin dia berani melakukan itu jika tidak mencintai gadis itu.
Tadinya Calista hendak membuka pintu kamar, namun karena sepertinya Erick sekarang sangat ketakutan dan dia hanya butuh Kevin disaat-saat seperti ini, jadi Calista memutuskan untuk tak ikut campur. Rasanya Calista sangat berdosa karena telah menyembunyikan pelaku pembunuhan. Tetapi apa boleh buat, Erick adalah sahabatnya. Calista tak tega jika harus melaporkannya ke polisi.
"Calista, lagi ngapain?" tanya Papah Kevin dan itu membuat Calista sangat terkejut.
Cklek!
Pintu kamar dibuka oleh Erick dan itu membuat Calista merasa takut karena tadi ia menguping pembicaraan Erick dan Kevin.
"Ta, lo denger pembicaraan gue sama Kevin ya?" tanya Erick.
"Emang pembicaraan tentang apa sih? kok kayaknya tegang banget mukanya," heran Papah Kevin saat melihat anaknya, Erick dan Calista.
"Pah, lebih baik Papah kesana aja. Soalnya ini pembicaraan anak muda," ujar Kevin. Akhirnya Papah Kevin segera pergi.
Erick mendekati Calista. "Lo denger ya, Ta?" tanyanya, lalu Calista hanya mengangguk.
Kevin memohon kepada Calista agar tidak memberitahu tentang hal tersebut kepada orang lain.
"Gue gak akan kasih tahu hal ini ke siapa-siapa kok, Rick."
Erick memeluk Calista. "Makasih ya, Ta."
Kevin menatap datar kearah Erick, karena bisa-bisanya dia memeluk Calista didepan Kevin. Tentunya Kevin menghampiri keduanya dan ia segera menarik Erick.
"Apaan sih lo! main peluk-peluk pacar gue," kesal Kevin.
Memang Erick merupakan sahabat Kevin, namun untuk hal ini Kevin tentunya akan marah.
"Sorry, Vin. Gue peluk Calista karena sebagai tanda terima kasih gue sebab dia udah mau menutupi rahasia gue," kata Erick.
Kevin menghela nafasnya. "Kemarin ada yang lihat kejadiannya gak?"
"Gue gak tahu," kata Erick.
Disaat Kevin dan Erick sedang membahas hal itu, Calista justru hanya diam karena ia bingung harus bagaimana, karena ini pertama kali ia menyimpan rahasia tentang pembunuhan.
Jujur, Calista sangat takut. Meskipun ini bukan ulahnya, tetapi ia juga telah bekerja sama untuk menutupi kejahatan sahabatnya.
"Vin, malam ini gue nginep di rumah lo ya," kata Erick.
"Ya udah boleh," ujar Kevin.
Kevin juga saat ini sangat kebingungan seperti halnya dengan yang dirasakan Calista. Tetapi karena Kevin juga sangat membenci Reyhan, jadi ia terpaksa merahasiakan Erick yang menjadi pelaku utama dalam penabrakan Reyhan.