
Kevin POV
Semenjak kejadian tadi, Calista menjadi pendiam. Bahkan saat Kevin bertanya, Calista tetap diam saja. Kevin sangat kebingungan, entah Calista marah kepada Kevin atau justru dia merasa bersalah kepada Friska.
Agar membuat Calista tak bersedih lagi, Kevin melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang pastinya akan disukai oleh Calista.
Sambil menyetir, Kevin menyanyikan sebuah lagu agar menghibur Calista supaya tidak sedih lagi. Dan benar saja, sekarang Calista tertawa saat mendengar suara Kevin.
Meskipun malu, Kevin tetap melanjutkan nyanyiannya dan tentunya tawa Calista semakin kencang.
"Suara aku bagus gak, Ta?"
Calista tertawa terbahak-bahak. "Bagus banget."
Sesudah sampai ditempat tujuan, Kevin mengajak Calista untuk turun dari mobil. Saat ini keduanya telah berada disebuah cafe yang cukup terkenal dikalangan anak mudah, sebab makanan dan minuman di cafe tersebut sangatlah enak.
Pada saat keduanya masuk kedalam cafe, mereka melihat Friska bersama seorang lelaki yang merupakan gebetan barunya.
Tadinya Kevin ingin menghampiri Friska, namun Calista dengan cepat mencegahnya karena pastinya.
Setelah memesan makanan dan minuman, keduanya duduk ditempat yang agak jauh dari Friska dan gebetan barunya.
Kalau dilihat-lihat, sepertinya gebetan baru Friska sangat pendiam. Makanya dari tadi hanya Friska yang berbicara.
"Ta, kalung kamu mau diambil lagi gak?"
"Gak deh, soalnya takut papah kamu marah."
"Kamu tenang aja, sekarang papah gak akan marah kok."
"Serius?" tanya Calista memastikan, lalu Kevin hanya mengangguk.
Kevin mengatakan bahwa nanti sehabis dari cafe, ia akan pergi ke rumah untuk mengambil kalung Calista. Sesudah dari rumah, barulah Kevin mengantarkan Calista pulang.
"Ta, aku kesana sebentar ya," ujar Kevin, lalu ia segera pergi.
Beberapa menit kemudian, Kevin kembali dan dia membawa kue ulang tahun untuk Calista. Otomatis semua orang menoleh kearah Kevin yang sedang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Calista.
"Happy Birthday. Maaf ya kalau ini agak telat." Kevin duduk sambil menaruh kue ulang tahun diatas meja.
"Makasih, sayang."
Kevin salah tingkah saat Calista memanggilnya dengan sebutan itu. Bukan hanya Kevin saja, tetapi Calista juga salah tingkah karena ucapannya sendiri.
"Calista, Kevin!" panggil Friska sambil melambaikan tangannya. Lalu, Kevin dan Calista hanya tersenyum saat melihat Friska yang melambaikan tangan kearah mereka berdua.
"Kita kesana jangan, Ta?"
"Gak usah. Friska kan lagi sama gebetannya."
Tak lama, Friska dan gebetannya menghampiri Calista dan Kevin.
"Kita boleh gabung gak?" tanya Friska.
"Boleh," jawab Calista. Calista pikir Friska kesal karena kejadian tadi, namun ternyata Friska tidak kesal kepada Calista.
Lelaki yang bersama Friska mengenalkan diri kepada Calista dan Kevin. Begitupun Calista dan Kevin, keduanya juga mengenalkan dirinya masing-masing kepada gebetannya Friska.
"Ulang tahun ya? selamat ulang tahun ya," ujar Fajar.
"Iya, makasih."
"Kalian bertiga ini teman sekelas?" tanya Fajar memastikan.
"Iya, kita teman sekelas. Lebih tepatnya kita bertiga sahabatan," jelas Friska.
Karena disini ada Friska dan Fajar juga, jadi Calista membagikan kue ulang tahun kepada mereka.
"Ta, kadonya nyusul ya," ujar Friska.
"Iya, santai aja."
"Sayang, yang ini enak loh. Kamu mau coba gak?" tanya Calista kepada Kevin. Kevin tersenyum, lalu ia mencoba minuman milik Calista.
"Kalian pacaran?" tanya Fajar dan spontan saja Friska menoleh kearah Fajar.
"Iya, kita pacaran. Kalau kalian berdua gimana?"
"Kita berdua cuma teman kok," ujar Fajar dan itu membuat Friska terdiam.
Friska pikir kalau Fajar mendekatinya karena suka, tapi ternyata Fajar hanya menganggap Friska sebagai temannya.
"Lo jangan main-main sama perasaan orang lain. Lo ngajak Friska ke cafe, berarti lo memberi harapan ke dia," ujar Kevin.
"Gue kan cuma ingin berteman sama dia doang, bukan pingin menjadikan dia pacar," jelas Fajar.
"Udah cukup! lagipula gue gak suka kok sama Fajar," ujar Friska, setelah itu ia segera pergi. Begitupun Fajar, ia juga segera pergi menyusul Friska.
"Perkataan aku emang salah ya, Ta?" tanya Kevin memastikan, namun Calista hanya menggelengkan kepalanya seraya mengatakan bahwa perkataan Kevin tidak salah.
Menurut Calista, tak ada yang salah dengan perkataan Kevin. Hanya saja mungkin Friska yang terlalu cepat terbawa perasaan dengan Fajar atau mungkin juga Fajar yang memang telah memberi harapan palsu kepada Friska.
"Vin, kayaknya cowok tadi emang gak baik deh."
"Tahu dari mana?"
"Feeling aja."
Ting!
Calista mendapatkan pesan dari mamahnya dan katanya ada yang mengirim Calista sebuah kado, tetapi di kado itu tidak tertulis siapa nama pengirimnya.
"Vin, kata mamah ada yang kirim aku kado."
"Kado dari siapa?"
"Aku gak tahu, soalnya gak ada nama pengirimnya."
Baru saja berbicara tentang kado itu, tiba-tiba ada pesan dari nomer yang tidak dikenal dan orang itu mengatakan bahwa kado itu darinya.
"Vin, Ella yang kirim kado itu."
"Oh adik kelas yang marahin aku waktu itu?" tanya Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.
"Baik banget dia. Kayaknya besok aku mau kasih sesuatu deh sama dia."
"Mau kasih apa?" tanya Kevin, namun Calista menolak untuk memberitahunya.
Setelah Calista mengamati foto kado yang dikirim mamah dan Ella, ternyata Ella hanya mengirim satu kado. Sedangkan di foto yang dikirim mamah ada dua kado. Dan sudah jelas bahwa satu kado lagi dari orang lain.
"Kado yang dikasih Ella cuma satu, padahal di foto yang mamah kirim, kadonya ada dua," heran Calista.
"Emang mamah kamu gak ketemu sama yang kasih kadonya?"
"Enggak. Soalnya kadonya tergeletak aja didepan pagar rumah."
...****************...
Calista dan Kevin saat ini sedang berada di kamar Kevin untuk mengambil kalung milik Calista. Jujur Calista sebenarnya malu untuk mengambil kembali kalung itu, tetapi karena kalung itu memang diberikan untuk Calista, jadi Calista akan menerimanya. Lagipula Kevin juga mengatakan bahwa sekarang papahnya menyetujui hubungannya dengan Calista.
"Vin, kok papah kamu bisa setuju sama hubungan kita," heran Calista.
Kevin diam saja, karena sebenarnya ia dan papahnya mempunyai Persyaratan agar hubungan Kevin dan Calista bisa disetujui. Persyaratan yang pertama, Kevin harus menyetujui papahnya menikah lagi dan persyaratan yang kedua adalah Kevin tidak boleh kabur-kaburan lagi dari rumah.
Walaupun Kevin berat menyetujui persyaratan yang pertama, namun demi Calista ia rela membiarkan papahnya menikah lagi.
"Kok diam aja sih. Pasti kamu melakukan sesuatu ya biar hubungan kita disetujui oleh papah kamu?"
"Iya, kamu benar. Papah minta agar aku menyetujui dia buat nikah lagi, maka dari itu papah akan setuju dengan hubungan kita.