
Hari ini tiga kelas mengadakan tes renang, yaitu kelas XII IPS 1, XII IPS 2, dan XII IPS 3. Dan yang pertama kali melakukan tes tentunya kelasnya Calista.
Satu persatu murid melakukan tesnya dan semuanya berhasil mendapatkan nilai yang bagus, terutama Kevin. Kevin melakukan tes renang dengan sangat baik sehingga dia mendapatkan nilai yang paling besar.
Calista sangat bangga kepada Kevin, karena Kevin begitu hebat dalam pelajaran olahraga. Bahkan di kamar Kevin, terdapat piala-piala penghargaan karena dari SD sampai SMA dia selalu mengikuti lomba.
"Kenapa belum ganti pakaian?" tanya Kevin sambil duduk disebelah Calista.
"Soalnya di toiletnya penuh, makanya aku lebih baik tunggu disini."
Tak lama kelas XII IPS 2 mulai berdatangan dan otomatis Calista menoleh kearah mereka semua. Ada satu orang yang tidak Calista ketahui dan sepertinya orang itu adalah murid baru.
"Yang pakai baju merah itu murid baru ya?" tunjuk Calista dan sontak Kevin memandang kearah yang ditunjuk Calista.
"Cantik banget ya, pasti dia jadi incaran kelas deh."
"Biasa aja sih menurut aku dan juga belum tentu jadi incaran kelas, karena katanya dia banyak rumornya."
"Rumor apa?" tanya Calista.
Kevin menjelaskan bahwa perempuan itu memiliki rumor yang bermacam-macam, mulai dari mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dia juga katanya pernah merebut pacar orang dan juga dia pernah digosipkan berpacaran dengan om-om.
Calista speechless mendengarnya. Dengan Kevin tahu tentang ini, sudah dipastikan dia juga awalnya tertarik dengan perempuan ini. Karena jika tidak, pasti Kevin tidak akan tahu rumor tentang ini.
"Kok kamu bisa tahu, Vin. Apa jangan-jangan kamu juga tertarik ya sama dia? makanya kamu cari tahu tentang dia."
"Enggak sama sekali. Waktu itu aku ikut nimbrung aja saat teman-teman kelas yang cowok bergosip tentang dia.
"Bohong. Bilang aja kamu dan yang lainnya awalnya tertarik. Tapi setelah tahu rumornya, kalian malah menjelekkan dia."
Kevin hanya menghela nafasnya, padahal sebenarnya ia sama sekali tak tertarik dengan perempuan itu. Hanya saja kemarin-kemarin Kevin sangat penasaran dengan pembicaraan anak laki-laki, maka dari itu ia tahu rumor perempuan tersebut.
"Ta, lo kenapa gak ganti pakaian?" tanya Friska sambil menyisir rambutnya.
"Toiletnya penuh."
"Kalau lo masih disini, pastinya antriannya tambah panjang. Dan bisa-bisa nanti makin panjang antriannya kalau kelas XII IPS 2 selesai tesnya."
"Ya udah kalau gitu gue ke toilet dulu," ujar Calista sambil pergi.
...****************...
Selesai mandi, Calista kembali menghampiri Kevin yang sedang melihat kelas XII IPS 2 melakukan tes renang. Kini pandangan Kevin beralih melihat Calista yang sedang menyisir rambutnya.
"Mau aku bantu sisir rambut kamu gak?"
"Gak! aku juga bisa sisir rambut aku sendiri."
" Padahal aku mau bersikap romantis, tapi kamu malah gak mau."
Sebenarnya Calista bukan tak mau, hanya saja ia malu jika Kevin melakukannya ditempat umum, apalagi disini ada guru, anak kelas XII IPS 1 dan XII IPS 2.
"Pulang yuk! sebagian anak kelas udah pulang loh," kata Kevin.
"Sebentar, aku mau dandan dulu."
"Ribet banget jadi cewek. Padahal mau pulang, tapi malah dandan."
"Ya udah ayo pulang!" kesal Calista sambil pergi meninggalkan Kevin. Akhirnya Kevin juga segera menyusul Calista.
Skip
Setiap Kevin bertanya, Calista malah mengacuhkannya lantaran ia masih kesal dengan Kevin karena tadi Kevin melarangnya untuk berdandan.
"Ih keren banget," gumam Calista saat melihat seseorang yang sedang melakukan ice skating.
"Siapa yang keren?"
Lagi-lagi Calista tidak menjawab pertanyaan Kevin. Ia sengaja membuat Kevin marah, sebab Kevin juga tadi telah membuat Calista marah.
"Udahan dong marahnya. Nanti cepat tua kalau marah-marah terus."
"Habisnya kamu sih, ngapain tadi melarang aku dandan."
"Kalau kamu dandan, nanti banyak yang suka sama kamu."
"Bagus dong kalau banyak yang suka."
Kevin menatap datar kearah Calista karena sepertinya Calista senang sekali jika banyak lelaki yang naksir padanya.
Tiba-tiba mobil Kevin berhenti dan ia baru baru sadar jika bensinnya habis.
"Kenapa, Vin?"
"Bensinnya habis."
"Yah! terus gimana dong?"
"Sebentar, aku telepon Erick dulu." Kevin segera keluar mobil untuk menelpon Erick.
Suasana ditempat ini sangat sepi dan itu membuat Calista sedikit takut. Entah kenapa saat ini tidak ada satupun pengendara motor ataupun mobil.
"Vin, tunggunya didalam mobil aja," suruh Calista, karena ia takut jika ada orang yang berniat jahat.
Setelah selesai menelpon Erick, akhirnya Kevin masuk kedalam mobil. Dengan begitu, Calista buru-buru mengunci pintu mobil karena ketakutannya begitu besar.
"Kenapa dikunci?" bingung Kevin.
"Takut ada penjahat, soalnya disini sepi banget."
Kevin hanya tertawa melihat tingkah laku pacarnya. Padahal disini sepi karena memang tidak ada rumah warga, maka dari itu disini hanya terdengar suara binatang-binatang kecil saja.
"Erick mau kesini, kan?"
"Iya, nanti dia kesini kok."
Sambil menunggu, Calista melakukan live di instagram-nya supaya berjaga-jaga siapa tahu ada orang yang berniat jahat.
"Hai semuanya!" sapa Calista kepada yang menonton live instagramnya.
"Aku ada di jalan dan lagi sama pacarku. Sekarang kita berdua bingung harus gimana, karena bensin mobilnya habis."
Kevin senyum-senyum sendiri saat menyaksikan Calista yang sedang live di instagram-nya. Karena pada dasarnya Kevin sangat usil, jadi ia memainkan rambut Calista agar membuatnya marah.
"Diam, sayang."
Kevin tertawa lantaran sifat Calista berubah 180 derajat. Saat live, Calista sepenuhnya berbicara lemah lembut. Tetapi jika tidak live, mungkin saat ini Kevin akan dimarahinya karena telah mengganggu.
"Pacar kita mana?" gumam Calista saat membaca komentar dari beberapa pengikutnya.
"Dia pacarku, bukan pacar kalian," ujar Calista dengan lemah lembut, padahal sebenarnya ia sangat kesal.
"Pencitraan banget," sindir Kevin dan tentunya Calista menatap tajam kearahnya.
Disalah satu komentar, ada yang mengatakan Calista jelek dan itu membuat Calista geram.
"Kalau aku jelek, berarti kamu lebih jelek dong."
"Siapa yang ngatain kamu jelek?"
"Andriani," ucap Calista saat membaca username orang yang mengejeknya.
"Buat kamu yang namanya Andriani, lebih baik kamu ngaca dulu," kata Kevin.
Calista hanya tersenyum saat dibela pacarnya. Meskipun Kevin hanya membela dengan kalimat seperti itu, entah kenapa rasanya Calista merasa terlindungi.
"Guys, aku matikan ya live-nya. Sampai jumpa lagi," ujar Calista, lalu ia segera mematikan live-nya.
"Erick mana sih? kok lama banget," kesal Calista karena sekarang ia sedang sakit perut.
"Nah! sifat aslinya keluar lagi," kata Kevin.
"Vin, aku sakit perut. Gimana dong?"
Kevin menyuruh Calista untuk buang air di semak-semak dan itu tentu membuat Calista menjadi tambah kesal.
"Sabar, sebentar lagi Erick datang kok."
10 menit kemudian...
Erick datang dengan membawa jerigen yang bensin. Setelah itu, Kevin langsung saja mengisi mobilnya dengan bensin.
"Ta, lo kenapa? kok pucat banget mukanya," kata Erick.
"Dia lagi sakit perut," sahut Kevin.
Setelah mengisi bensin, Kevin berterima kasih dan ia segera mengembalikan jerigen itu kepada Erick.
"Vin, ayo cepetan! aku sakit perut," teriak Calista, lalu Kevin pamit kepada Erick untuk pergi duluan, sebab ia sangat kasihan melihat pacarnya.
...****************...
Setelah dari toilet, Calista kembali menghampiri Kevin. Ya, keduanya memang berhenti di pom bensin. Karena jika tidak, mungkin Calista akan kebablasan buang air didalam mobil.
Saat masuk kedalam mobil, Calista langsung menyemprotkan parfum ke tubuhnya agar tidak ada bau.
"Banyak banget sih pakai parfumnya," heran Kevin.
"Biar gak bau."
"Ngomong-ngomong ini kita mau langsung pulang atau mau main dulu?"
"Aku pingin main dulu."
Calista dan Kevin memang jarang berfoto bersama, makanya Calista ingin sesekali pergi ke tempat foto bersama Kevin.
"Nanti sewa studionya pakai uang aku ya."
"Patungan aja bayarnya."
"Gak usah, biar aku yang bayar aja." Calista memang merasa berhutang banyak kepada Kevin, maka dari itu ia ingin membayar untuk menyewa studio foto.
Skip
Sampai di studio, keduanya memilih aksesoris seperti bando. Meskipun awalnya Kevin menolaknya, tetapi akhirnya dia memakainya juga.
Calista tahu bahwa Kevin malu jika memakai bando, karena pada dasarnya Kevin sosok lelaki yang sangat manly. Tetapi karena Calista tadi sempat merajuk akhirnya dengan terpaksa Kevin memakainya.
"Nanti fotonya aku posting di instagram ya."
"Jangan! aku malu kalau fotonya di-posting."
"Kenapa mesti malu?"
"Soalnya pasti orang-orang akan mengejek aku dan nantinya aku disebut banci gara-gara pakai bando."
Calista tertawa terbahak-bahak karena sepertinya Kevin memang sangat ketakutan jika foto-foto itu di-posting di instagram.
"Udah aku posting," bohong Calista.
"Aku kan udah bilang kalau fotonya jangan di-posting," kesal Kevin.
"Bercanda, Vin. Aku gak posting fotonya kok."
Kevin membuka instagram Calista dan ternyata memang benar bahwa Calista tidak memposting foto-foto tersebut.
"Gak percayaan banget jadi orang.
"Bukan gak percayaan, tapi aku cuma ingin memastikan aja."
Sesudah dari studio foto, Kevin segera mengantarkan Calista pulang.
...****************...
Sesampainya di rumah, Calista tetap tidak mau turun dari mobil karena sejujurnya ia masih ingin bersama Kevin. Karena jika berada di rumah, Calista akan merasa kesepian. Meski sudah lama berdamai dengan mamah tirinya, tetap saja Calista tidak bisa mengobrol lebih lama dengannya.
"Vin, main aja disini."
"Aku gak enak sama orang tua kamu."
"Gak enak kenapa?"
Kevin mengatakan bahwa ia malu karena sering bermain di rumah Calista tanpa membawa apa-apa. Sebenarnya Kevin mampu membeli makanan untuk orang tua Calista. Tetapi setiap kali ke rumah Calista, ia selalu lupa untuk membeli makanan.
"Jangan malu, lagipula orang tua aku juga gak peduli kalau kamu bawa makanan atau enggak."
"Ya udah kalau gitu aku beli makanan dulu ya, nanti habis itu aku kesini lagi."
Calista keluar dari mobil dan ia berjalan menuju pintu sebelah kanan. Ia membuka pintu itu dan menarik Kevin agar keluar dari mobil.
"Ayo keluar!"
Akhirnya Kevin keluar karena jika tidak kemungkinan Calista akan kesal kepadanya.
Saat masuk, Calista melihat mobil yang terparkir di garasi rumahnya dan ia tahu bahwa mobil itu adalah mobil saudaranya.
"Vin, kayaknya ada saudara aku deh."
"Ya udah kalau gitu aku pulang."
"Jangan dong! aku kan pingin memperkenalkan kamu ke saudara aku.
"Tapi aku malu, Ta."
Karena tak ingin berlama-lama, Calista akhirnya menggenggam pergelangan tangan Kevin dan ia mengajak Kevin untuk masuk kedalam rumah.
Ketika Calista dan Kevin masuk, tiba-tiba seorang anak kecil yang berumur 4 tahun berlari menghampiri Calista. Ya, anak kecil itu adalah keponakannya Calista. Dan yang datang ke rumah adalah saudara dari mendiang mamah Calista.
"Ta, apa kabar?" tanya tante.
"Kabar Calista baik-baik aja kok."
"Syukur deh kalau kamu baik-baik aja. Oh iya, ini siapa?" tunjuk tante kepada Kevin.
"Ini pacarnya Calista, Tante."
Tante menyuruh Kevin untuk memperlakukan Calista dengan baik, karena yang sudah diketahui bahwa Calista telah ditinggalkan oleh mamahnya, jadi Tante Calista mengharapkan agar Kevin menjaga Calista dengan sangat baik.
"Kevin akan jaga Calista kok, Tante."
Lalu, Calista berpamitan kepada Tante dan Papahnya karena ia dan Kevin ingin pergi ke ruang tengah. Sebelum keduanya pergi, Tante menyuruh Calista untuk menjaga anaknya sebab Tante ingin mengobrol sesuatu dengan Papah.
"Namanya siapa, Ta?" tanya Kevin.
"Nama dia Acha."
"Hallo Acha," sapa Kevin.
Bukannya membalas sapaan dari Kevin, Acha justru ketakutan dan menggenggam erat tangan Calista. Dengan begitu, Calista terus menakut-nakuti Acha dan berkata bahwa Kevin adalah orang jahat.
"Jangan kayak gitu dong, dia kan jadi takut sama aku."
"Itu kan emang tujuan aku," ujar Calista sambil tertawa.
Kevin mendownload game yang biasanya dimainkan oleh anak kecil, setelah itu ia menunjukkan game itu kepada Acha.
"Lihat deh! om punya game yang seru."
Tiba-tiba Acha melepaskan genggamannya dan ia berjalan menghampiri Kevin. Dan itu membuat Calista kecewa karena tadinya ia ingin agar Acha menjauhi Kevin.
Tapi setelah melihat Acha dan Kevin, entah kenapa Calista jadi senyum-senyum sendiri. Bukan karena lucu melihat Acha, melainkan Calista tersenyum karena lucu melihat Kevin yang sedang mengajarkan Acha cara bermain game. Rasanya keduanya seperti ayah dan anak, apalagi saat ini Acha sedang duduk dipangkuan Kevin dan itu membuat aura kebapakan Kevin terpancar, padahal sebenarnya ia belum menjadi seorang bapak.
"Ta, minta minum dong. Aku haus banget."
"Tunggu sebentar." Calista segera pergi menuju dapur untuk mengambil minuman untuk dirinya dan juga untuk Kevin.
Sesudah mengambil minuman, Calista kembali lagi menghampiri Kevin yang sedang berduaan dengan Acha. Ia melihat bahwa posisi Acha sekarang sedang tiduran di paha Kevin.
"Aneh banget. Padahal tadi dia ketakutan, tapi sekarang dia udah mulai nyaman," ujar Calista sambil memberikan jus kepada Kevin.
"Makasih," ujar Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.
"Kamu mau tiduran gak?" tanya Kevin sambil menepuk paha sebelah kirinya.
"Gak, terima kasih," ujar Calista dan itu membuat Kevin tertawa.
10 menit kemudian, Acha tertidur di paha Kevin. Lalu Kevin mengambil ponselnya yang digenggam Acha. Setelah itu, Kevin mengambil bantal sofa dan memindahkan Acha agar tidur menggunakan bantal.
"Loh! Acha tidur ya?" tanya mamahnya Acha.
"Iya, Tante. Tadi ketiduran gara-gara main game," jelas Kevin.
"Tante, Acha menginap disini aja. Nanti besok sebelum berangkat sekolah, Calista janji deh akan antar dia pulang."
"Nanti merepotkan kamu dong," ujar Tante, namun Calista berkata bahwa ia tidak keberatan jika direpotkan oleh Acha.
Calista terus memohon-mohon supaya Tantenya mengijinkan anaknya untuk menginap di rumah Calista. Dengan begitu, Tante Calista mengiyakannya.
"Ya udah besok pagi Tante kesini, soalnya kalau kamu yang ke rumah takutnya kamu telat datang ke sekolah," ujar Tante.
"Makasih, Tante."
"Iya, sama-sama."
Sebelum Tantenya pulang, dia menitipkan beberapa keperluan Acha kepada Calista, sebab jika tidak mungkin Calista akan kerepotan.
"Ya udah kalau gitu Tante pulang dulu ya," ujar Tante.
"Iya, Tante."
Sesudah Tantenya pulang, Calista segera memindahkan Acha agar tidur di kamarnya.
"Kalau gitu aku pulang dulu ya," kata Kevin.
Calista tidak menjawab dan ia hanya fokus melihat Acha yang sedang tidur.
"Aku pulang," ujar Kevin lagi dengan suara yang agak keras, tetapi tetap saja Calista masih melihat kearah Acha.
Kevin menghela nafasnya, lalu ia menepuk-nepuk pundak Calista agar pacarnya itu menoleh kearahnya.
"Ta, aku mau pulang ya."
"Jangan dulu, baru juga sebentar disini."
"Kalau kamu masih mau aku ada disini, kamu jangan cuekin aku."
"Perasaan aku gak cuekin kamu deh."
Kevin menatap datar pacarnya itu, sudah jelas-jelas tadi dia tidak menghiraukan perkataan Kevin dan lebih fokus kepada Acha.
"Lucu banget Acha," gumam Calista.
"Bukannya kamu gak suka ya sama anak kecil."
"Kalau anak kecilnya berusia segini, aku suka kok. Tapi kalau yang udah masuk SD, aku kurang suka. Soalnya diumur segitu mereka kebanyakan suka ngeselin," jelas Calista.