Fearless

Fearless
Episode 59



Paginya, Calista berangkat sekolah bersama Bayu karena papah sedang sakit. Calista juga telah memberitahu soal ini kepada Kevin dan dia memperbolehkan Calista untuk pergi ke sekolah bersama Bayu.


Meskipun Calista tahu bahwa Kevin pasti cemburu, tetapi apa boleh buat, kalau berangkat dengan kendaraan umum pastinya akan sangat lama menunggunya.


Tadinya mamah juga ingin mengantarkan Calista, namun Calista tolak karena ia ingin mamahnya tetap di rumah dan menjaga papah yang sedang sakit.


"Kevin marah gak kalau lo berangkat sama gue?" tanya Bayu memastikan.


"Enggak kok."


"Oh iya, Kevin sakit apa?"


"Dia kemarin habis kecelakaan."


Skip


Tiba di sekolah, Calista merasa kesepian karena tidak ada Kevin. Meskipun ada Bayu, Rania dan Friska, tetap saja Calista merasa bosan karena tidak ada Kevin.


"Erick juga gak sekolah ya?"


"Iya, soalnya dia lagi ke luar kota katanya," kata Friska.


"Kalian pulang sekolah mau jenguk Kevin gak?"


"Kalau lo mau, gue juga mau," ujar Friska.


Calista menoleh kearah Rania untuk mengetahui jawabannya, karena dilihat dari raut wajahnya sepertinya sepulang sekolah dia sedang sibuk.


"Kalau gak bisa gak apa-apa kok, Ran."


"Maaf ya, soalnya gue udah ada janji," kata Rania.


"Iya, gak apa-apa kok."


Rasanya Calista ingin sekali bertanya apakah Rania mengetahui bahwa Reyhan meninggal atau tidak. Tetapi karena sepertinya Rania sangat membenci Reyhan, jadi sebaiknya Calista tidak perlu bertanya kepadanya.


"Guys, gue ke toilet dulu ya," ujar Rania, lalu ia buru-buru pergi.


"Ka, gue mau bicara sesuatu."


"Bicara tentang apa?"


"Semalam gue dapat kabar, katanya Reyhan meninggal."


Friska sangat terkejut setelah mendengar bahwa Reyhan meninggal, padahal kemarin Friska baru saja melihat postingan Reyhan di instagram.


"Dia meninggal karena sakit?"


"Bukan. Tapi dia meninggal karena ditabrak sama orang."


"Ta, katanya Kevin kan kemarin kecelakaan. Apa jangan-jangan Kevin yang nabrak Reyhan."


Calista terdiam sejenak, karena ia juga takut jika itu benar. "Gak mungkin! Kevin kan kemarin naik motor, sedangkan yang menabrak Reyhan itu pakai mobil."


...****************...


Sehabis pulang sekolah, Calista pergi ke rumah Kevin bersama Friska. Sebelum pergi menuju rumah Kevin, Calista dan Friska terlebih dahulu membeli buah-buahan untuk Kevin.


Namun ketika membeli buah-buahan di supermarket, keduanya bertemu dengan Rania. Calista dan Friska terheran-heran, lantaran Rania berkata bahwa dia ada janji dengan seseorang, namun saat ini Calista dan Friska tidak melihat satupun orang yang bersama Rania.


Tadinya Friska ingin menghampiri Rania, namun Calista cegah karena siapa tahu Rania akan bertemu seseorang setelah dari supermarket.


"Rania tahu gak kalau Reyhan meninggal?"


"Kayaknya sih dia gak tahu."


"Oh iya, Ta. Lo gak melayat ke rumahnya?"


"Enggak deh."


Friska menasehati Calista agar memaafkan Reyhan, karena bagaimanapun manusia tak luput dari kesalahan.


Calista hanya bisa diam saja, karena jujur ia masih sakit hati karena telah diselingkuhi bahkan difitnah oleh Reyhan.


"Gue akan berusaha memaafkan dia kok."


"Bagus deh kalau gitu."


Dibandingkan dengan sahabat Calista yang lain, Friska memang yang sering memberikan nasehat kepada Calista. Bahkan Friska jugalah yang membuat Calista dapat menerima Mamah tirinya. Jujur, Calista sangat merasa beruntung memiliki sahabat seperti dirinya.


"Ka, ajarkan gue bersikap dewasa kayak lo dong."


Friska hanya tersenyum. "Emang sikap gue dewasa ya?"


"Kalau dibandingkan sama gue sih iya."


Skip


"Lo aja deh yang masuk."


"Gue gak berani kalau sendirian," kata Friska.


Tiba-tiba pagar dibuka oleh Papahnya Kevin. Seketika Calista dan Friska mematung karena keduanya tahu bahwa Papahnya Kevin sangat galak.


"Mau jenguk Kevin?" tanya Papah Kevin memastikan.


"Iya, Om."


"Ya udah masuk!" perintah Papah Kevin.


Calista dan Friska masuk kedalam rumah diantar oleh Papah Kevin.


"Kamu langsung ke kamar Kevin aja. Soalnya saya mau bicara sesuatu sama Calista," ujar Papah Kevin kepada Friska. Lalu, Friska segera pergi menuju kamar Kevin.


Jantung Calista seketika berdegup kencang, ia sangat takut jika dimarahi seperti waktu itu. Bahkan sekarang, Calista tidak berani menatap mata Papah Kevin karena ia sangat ketakutan.


"Maafkan saya tentang kejadian waktu itu ya. Saya kira kamu hanya memanfaatkan anak saya, tapi kenyataannya kamu gak seperti yang saya pikir," ujar Papah Kevin.


"Iya, Om. Calista udah memaafkan Om kok."


Papah Kevin tersenyum, lalu dia memerintah Calista untuk pergi menuju kamar Kevin. Dengan begitu, Calista segera menuruti perintahnya.


"Hai," sapa Calista sambil tersenyum.


"Canggung banget lo berdua," ujar Friska.


Kevin menyuruh Calista untuk duduk disebelahnya, lalu Calista menuruti perkataannya.


"Bawa apa?" tanya Kevin.


"Oh iya, ini aku sama Friska bawa buah-buahan buat kamu." Calista memberikan kantong plastik yang berisi buah kepada Kevin.


Kevin mengambil buah jeruk, lalu ia menyuruh Calista untuk menyuapinya.


"Lo manja banget sih," ujar Friska.


"Terserah gue dong. Lagipula gue kan lagi sakit, jadi harus dimanjakan."


Calista mengupas kulit jeruk, setelah itu ia menyuapi jeruk itu kepada Kevin. Terlihat sekali wajah bahagia Kevin saat Calista menyuapinya, karena menurut Kevin ini adalah momen langka.


Calista menatap kearah luka ditangan Kevin. "Kamu kayak gini pasti gara-gara aku ya?"


"Ini salah aku, bukan salah kamu. Lagipula aku kecelakaan saat mau pulang ke rumah."


"Vin, lo tabrakan sama motor lagi atau sama mobil?" tanya Friska.


"Gak dua-duanya. Gue jatuh dari motor karena kemarin jalannya licin," jelas Kevin.


Sesudah menyuapi Kevin, Calista bercerita bahwa tadi Papah Kevin sudah meminta maaf bahkan sepertinya Papah Kevin sudah menyetujui hubungan Calista dengan Kevin.


"Emang Papah Kevin kenapa minta maaf sama lo?" tanya Friska.


Calista melirik kearah Kevin sekilas,.ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepada Friska.


"Waktu itu Papah mengira bahwa Calista itu cewek matre, makanya dia gak setuju," sahut Kevin.


"Bukannya Calista emang matre ya?" canda Friska.


"Enggak kok, gue gak matre."


"Bercanda kok," kata Friska.


Trining! Trining!


Serentak semuanya menoleh kearah Kevin. Dengan demikian, Kevin buru-buru menolak panggilan teleponnya dan dia juga langsung mematikan teleponnya.


Dengan Kevin bersikap seperti itu membuat Calista bertanya-tanya tentang siapa orang yang menelpon Kevin.


"Yang telepon selingkuhan ya?" tuduh Calista, karena gerak-gerik Kevin menunjukkan bahwa yang menelpon adalah seorang perempuan.


"Jangan fitnah," kata Kevin.


"Terus kenapa langsung dimatikan ponselnya?"


"Telepon itu dari Erick, makanya aku langsung tolak karena dia bicara hal-hal yang gak penting."


Calista kurang percaya dengan ucapan Kevin. Karena penting atau tidaknya, seharusnya Kevin menjawab saja panggilan dari Erick.