
Saat hendak pulang, tiba-tiba Erick menghampiri Calista. Dia meminta maaf kepada Calista tentang perkataannya saat di kantin.
Karena ini hanya masalah sepele, akhirnya Calista memaafkannya. Lagipula sekarang mood Calista sudah kembali membaik.
"Mau pulang bareng gue gak?" tanya Erick.
"Calista mau pulangnya bareng gue," sahut Kevin.
"Enggak kok. Gue maunya pulang bareng Erick," ujar Calista, karena ia masih merasa canggung akibat kejadian di rooftop.
"Ya udah ayo pulang," ajak Erick.
Calista melirik sekilas kearah Kevin. Terlihat dari wajahnya bahwa dia sedang kesal karena Calista telah menolak ajakannya.
"Sebelum pulang, kita ke cafe dulu yuk," ajak Calista.
"Ayo," kata Erick.
"Gue ikut ya," sahut Kevin.
Calista merangkul pundak Erick. "Ya udah ayo berangkat."
Karena merasa cemburu, akhirnya Kevin merangkul Calista.
"Apaan sih, Vin." Calista menatap datar kearah Kevin.
"Gak boleh ya? ya udah sih," kesal Kevin.
Erick kebingungan karena tingkah laku Kevin dan Calista. Erick merasa bahwa keduanya sedang bertengkar, maka dari itu Kevin berusaha mendekati Calista agar Calista tidak marah lagi.
Skip
Tiba di cafe, ketiganya langsung memesan makanan dan minuman. Setelah itu, ketiganya duduk ditempat yang telah disediakan.
"Kalian berantem ya?" tanya Erick.
"Enggak kok," ujar Calista dan Kevin bersamaan.
"Rick, tadi gue sempat syok lo," ujar Kevin.
"Syok kenapa?" tanya Erick.
Kevin menjelaskan bahwa tadi dirinya bertemu dengan perempuan dan tiba-tiba perempuan itu mengalungkan tangannya dileher Kevin.
Ya, benar. Kevin saat ini sedang menyindir Calista. Dan itu membuat Calista sangat malu.
"Siapa ceweknya?" tanya Erick penasaran.
Calista menatap tajam kearah Kevin. Ia tidak mengira bahwa Kevin akan memberitahu tentang hal ini kepada Erick.
"Rick, gimana? lo udah jadian belum sama yang kemarin?" tanya Calista agar mengalihkan pembicaraan.
"Belum jadian, soalnya kayaknya dia gak tertarik sama gue. Makanya lebih baik gue cari cewek lain aja," jelas Erick.
"Rick, mau tahu gak siapa ceweknya?" tanya Kevin.
"Oh iya, siapa ceweknya?" tanya Erick.
Kevin mengatakan bahwa perempuan tadi itu sekelas dengan dirinya, tetapi ia tidak ingin memberitahu namanya karena takut membuat orang itu marah.
"Siapa sih? gue jadi penasaran," ujar Erick, padahal sebenarnya ia tahu bahwa orang itu adalah Calista. Terlihat dari cara Kevin yang terus melirik kearah Calista. Begitupun dengan Calista, dia juga tapi sempat mengalihkan pembicaraan. Jadi, Erick merasa bahwa Kevin sedang menyindir Calista.
"Udah jangan dibahas."
"Ta, lo kenapa kayak marah gitu? apa jangan-jangan lo ya orangnya?" tanya Erick.
"Iya, itu gue. Kenapa?" sewot Calista.
Kevin dan Erick tertawa karena telah berhasil membuat Calista marah.
"Lo suka sama Kevin ya, Ta?" tanya Erick.
"Enggak kok. Yang ada Kevin yang suka sama gue. Bahkan waktu itu dia mengakui bahwa dia suka sama gue dari lama."
"Tapi lo juga udah mulai suka sama gue. Terbukti dari tingkah lo saat tadi di rooftop, pake goda gue segala lagi," kata Kevin.
"Itu kan cuma bercanda."
Erick menatap Kevin dan Calista secara bergiliran. Erick merasa bahwa keduanya saling menyukai satu sama lain.
"Udah jadian aja," kata Erick.
"Jangan bicara kayak gitu. Nanti bisa-bisa lo jadi suka sama gue," kata Kevin.
Pelayan datang menghampiri mereka, lalu pelayan tersebut meletakkan makanan dan minuman yang dipesan oleh Calista, Kevin dan Erick.
"Kak, bisa di take away gak?"
"Bisa kok," ucap pelayan.
"Udah makan disini aja. Masa cuma gitu doang langsung marah," kata Kevin.
Karena Calista hanya diam saja, jadi pelayan tersebut pergi.
"Sorry. Gue gak akan bahas itu lagi kok," kata Kevin.
Calista tidak menghiraukan perkataan Kevin. Ia lebih memilih untuk cepat-cepat menghabiskan makanannya.
Tiba-tiba seorang perempuan datang menghampiri Calista, Kevin dan Eric.
"Kevin apa kabar?" tanya perempuan itu, sontak membuat Kevin, Calista dan Erick menoleh kearahnya.
"Aku baik kok. Kalau kamu gimana kabarnya?" tanya Kevin.
"Aku juga baik kok. Oh iya, udah lama banget ya kita gak kumpul bareng," kata perempuan itu.
"Iya, benar," kata Kevin.
Uhuk! Uhuk!
Erick memberi kode kepada Kevin dan sontak Kevin menoleh kearah Calista yang terlihat seperti sedang kesal.
Ya, Calista memang sedang kesal saat ini. Karena Kevin berkata bahwa dia menyukai Calista, tetapi saat ini Kevin justru asik berbicara dengan perempuan dihadapan Calista. Selain itu, biasanya Kevin selalu menggunakan kata 'lo, gue' kepada orang. Tetapi jika dengan perempuan ini, dia menggunakan kata 'aku, kamu'.
"Oh iya, kenalin ini sahabat-sahabat aku," kata Kevin.
"Hai, aku Fita," ucap perempuan itu, lalu Erick mengenalkan diri kepada Fita.
"Oh iya nama kamu siapa?" tanya Fita kepada Calista.
Calista fokus makan tanpa menjawab perkataan Fita.
"Maaf ya, dia orangnya emang agak gitu," bisik Kevin dan dia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Calista.
"Guys, gue pulang duluan." Calista buru-buru pergi menuju kasir untuk membayar pesanannya.
Karena Erick tidak enak sebab dirinya tadi menawarkan diri untuk mengantarkan Calista, jadi ia segera menyusul Calista.
...****************...
Tiba di rumah, Calista berterima kasih kepada Erick karena telah mengantarkannya pulang ke rumah. Setelah itu, Calista masuk kedalam rumahnya.
Ketika hendak masuk, Calista berpapasan dengan Mamah tirinya.
"Mah, mau kemana?" tanya Calista saat Mamah tirinya membawa sebuah koper.
"Mamah mau pergi," ujar Mamah tanpa melihat kearah Calista.
Bisa dilihat oleh Calista, bahwa Mamah tirinya seperti sedang menahan tangis. Bahkan matanya juga terlihat sembab.
Karena teringat dengan perkataan Friska, Calista menjadi merasa bersalah kepada Mamah tirinya karena ia telah memperlakukannya dengan buruk.
"Mah, maafin Calista ya."
Mamah menatap kearah Calista, ia terdiam karena baru pertama kali dia mendengar Calista meminta maaf.
"Maafin Calista karena udah bersikap kasar sama Mamah. Calista janji, mulai sekarang Calista gak akan bersikap kasar lagi sama Mamah."
Mamah meneteskan air matanya karena mendengar perkataan Calista. Kemudian, Calista mendekatinya dan memeluknya dengan erat.
Calista ikut menangis. Mungkin juga karena ia teringat dengan mamah kandungnya, makanya ia merasa sangat sedih saat memeluk Mamah tirinya.
Entah kenapa Calista tenang saat memeluk mamah tirinya, andai saja dari dulu Calista bersikap baik kepadanya, mungkin papah tidak akan sering memarahi Calista.
"Mamah mau kan maafin Calista?" tanya Calista, lalu Mamah hanya mengangguk.
"Jangan pergi ya, Mah."
Karena melihat sikap Calista seperti itu, membuat Mamah tirinya mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah.
Akhirnya Calista dan Mamah masuk kedalam rumah. Tadinya Mamah berniat untuk memasak makanan untuk Calista. Namun Calista menolak, karena ia sudah makan di cafe bersama Kevin dan Erick.