Fearless

Fearless
Episode 70



Hari Sabtu, tepatnya di sore hari, Calista mengajak Acha jalan-jalan disekitar perumahannya. Ia tahu bahwa Acha pasti merasa bosan jika terus di rumah, maka dari itu Calista mengajaknya keluar.


Disaat sedang menyuapi Acha, tiba-tiba Bayu datang sambil membawa lollipop untuk Acha. Dan tentunya Acha langsung mengambil lollipop itu sambil berterima kasih kepada Bayu.


"Dilihat-lihat Acha mirip deh sama lo," kata Bayu.


"Emang iya?"


"Iya, mirip. Kayak adik dan kakak."


"Bay, tolong foto gue sama Acha dong." Calista memberikan ponselnya kepada Bayu, kemudian Bayu segera memotretnya.


Tin! Tin!


Calista dan Bayu menoleh kearah mobil yang berhenti. Ya, itu adalah mobil Kevin dan sekarang dia sedang berjalan menghampiri Calista dan Bayu.


"Acha! panggil Kevin sambil menghampiri Acha.


Calista hanya menatap datar kearah Kevin lantaran pacarnya itu seperti tak melihat Calista ada disini. Entah karena dia cemburu karena melihat Calista dan Bayu atau juga karena dia kesini memang tujuannya untuk bertemu Acha, bukan untuk bertemu Calista.


"Itu apa?" tunjuk Acha pada kantong plastik yang dibawa oleh Kevin.


"Ini makanan sama minuman buat Calista," kata Kevin.


Calista mengintip isi kantong plastik itu, lalu ia mengambil susu kotak rasa cokelat. "Ini buat aku ya," ujar Calista kepada Kevin.


"Boleh," jawab Acha dan itu membuat Calista, Kevin dan Bayu menjadi gemas kepada Acha.


"Oh iya, Ta. Ini ponsel lo." Bayu mengembalikan ponsel milik Calista. Setelah itu, ia segera pamit pulang ke rumahnya.


Kevin mengajak Acha untuk jalan-jalan dan tentunya Acha mengiyakannya. Tetapi Calista melarangnya karena ia takut jika Acha akan rewel.


"Kamu tenang aja. Kalau dia rewel, nanti aku tinggal beli mainan buat dia."


"Ya udah kalau gitu aku bilang ke Mamah sama ke Papah dulu ya."


Disaat Calista hendak pergi ke rumah, Kevin mencegahnya dan menyuruh Calista untuk berbicara melalui telepon saja. Karena jika Calista pergi ke rumah, itu akan membuang-buang waktu.


Kemudian Calista segera menelpon Papahnya untuk meminta ijin mengajak Acha jalan-jalan.


"Gimana boleh gak?"


Calista mematikan teleponnya. "Boleh. Asal jangan jauh-jauh katanya."


Kevin menitipkan kantong plastik kepada Calista. Setelah itu, Kevin langsung menggendong Acha dan membawanya menuju mobil.


Melihat Kevin bersikap seperti itu kepada Acha, pastinya membuat semua orang yang melihatnya akan beranggapan bahwa Kevin adalah orang tua dari Calista. Belum lagi dari cara berpakaian Kevin yang terlihat dewasa membuat orang pasti berpikir bahwa dia merupakan seseorang papah muda.


"Acha biar aku sama aku aja, soalnya kamu kan harus menyetir." Akhirnya Kevin menaruh Acha dipangkuan Calista.


"Bawa mobilnya pelan-pelan aja," perintah Calista.


"Iya siap, istriku."


"Apaan sih, gak lucu."


Skip


Mereka tiba disebuah taman jaraknya tidak terlalu jauh dengan perumahan Calista. Setelah mereka turun, Kevin mengambil alih untuk menggendong Calista. Kemudian, mereka berjalan-jalan disekitar taman.


"Wah! lucu banget anaknya," ujar seorang wanita paruh baya.


"Iya, lucu. Soalnya mirip ibunya," ujar Kevin. Sedangkan Calista, ia hanya bisa menahan tawanya.


"Udah menikah berapa tahun? kok kelihatannya masih pada muda."


"Kita belum menikah, Bu."


Wanita paruh baya itu terkejut karena terlihat sekali dari raut wajahnya dan pastinya dia menduga bahwa Calista hamil diluar nikah.


"Ya sudah saja pergi dulu ya. Semoga anaknya sehat selalu ya," ucap wanita paruh baya itu, lalu dia segera pergi.


Calista dan Kevin tertawa terbahak-bahak setelah wanita itu sudah pergi jauh. Karena melihat Kevin dan Calista tertawa, Acha juga jadi ikut tertawa.


"Acha kenapa ketawa? emang Acha ngerti?" tanya Calista, lalu Acha hanya menggelengkan kepalanya.


"Acha mau turun," kata Acha. Akhirnya Kevin segera menurunkan Acha dari gendongannya.


"Mau balon," tunjuk Acha pada penjual balon.


"Ya udah Papah belikan ya," ujar Kevin sambil berlari menuju penjual balon.


Calista salah tingkah saat mendengar perkataan Kevin. Kevin menganggap bahwa dia adalah Papah dari Acha, berarti dia juga menganggap bahwa Calista adalah istrinya. Belum lagi tadi Kevin berkata bahwa Calista merupakan istrinya.


"Dia Papah Acha?" tanya Acha.


"Bukan, sayang. Papah Acha itu ada disana," tunjuk Calista pada langit.


"Kalau Mamah Acha mana?" tanya Acha lagi.


"Sama, dia juga ada di langit."


Tak lama, Kevin datang menghampiri Calista dan Acha. Lalu Kevin segera memakaikan karet gelang kepada Acha supaya balonnya tidak terbang.


"Acha, kita duduk disana yuk!" tunjuk Calista pada kursi yang ada di taman.


Akhirnya mereka bertiga duduk di kursi sambil menikmati makanan dan minuman yang tadi dibeli oleh Kevin. Lebih tepatnya yang menikmati makanan dan minuman adalah Calista dan Acha.


"Vin, kamu mau gak?"


"Enggak, buat kalian aja deh."


Calista mendekatkan minuman kemasan ke mulut Kevin, karena ia tahu pasti Kevin juga sangat kehausan.


"Ayo minum, sayang."


Kevin tersenyum dan ia akhirnya meminumnya. Beberapa detik kemudian, Calista kembali mengambil minuman itu lalu meminumnya.


Kevin mengambil ponselnya dan ia memotret Calista dan juga Acha. Dengan begitu, Calista langsung merebut ponsel milik Kevin untuk melihat hasil jepretannya.


"Bagus fotonya, nanti kirim ya."


"Bayarannya mana dulu?"


"Harusnya kamu yang bayar, karena kamu kan udah foto aku."


Kevin kembali mengambil ponselnya dan ia segera memposting foto itu ke instagram pribadinya.


Tak lama komentar-komentar bermunculan setelah foto itu di-posting. Ada yang bertanya tentang siapa anak itu, dan adapula yang mengira bahwa itu adalah adiknya Calista karena wajahnya sangat mirip dengan Calista.


Diantara beberapa komentar, ada satu komentar yang membuat Kevin tertawa. Komentar tersebut dikirim oleh Erick, dia berkata bahwa anak itu adalah anak dari Calista dan Kevin yang selama ini disembunyikan.


Mungkin untuk Kevin dan teman-teman dekat Kevin akan menganggap itu suatu hal yang sangat lucu. Tetapi jika yang membaca itu orang yang tidak tahu dan mungkin juga pembenci Kevin, mungkin dia akan mengira bahwa komentar dari Erick benar.


"Ta, lihat deh." Kevin menunjukkan komentar Erick kepada Calista.


"Erick kenapa sih komentar kayak gitu. Gimana coba kalau ada yang menganggap serius."


"Tenang aja. Lagipula orang-orang terdekat kan tahu kalau itu anaknya mendiang Tante kamu."


...****************...


Erick POV


Sudah sepuluh menit Erick menunggu Rania, tetapi Rania masih belum datang. Karena bosan menunggu, Erick memutuskan untuk membuka instagramnya. Tak lama, muncul satu postingan dari Kevin yang mana foto dalam postingan tersebut adalah foto Calista dan Acha. Lalu, Erick segera memberi komentar pada postingan tersebut.


"Rick, maaf ya lama." Rania segera duduk dihadapan Erick.


Seketika Erick terdiam saat melihat wajah Rania. Karena tak biasanya Rania memakai makeup disaat bertemu dengan Erick.


"Kenapa? makeup gue terlalu tebal ya?"


"Enggak kok. Lo tambah cantik kalau pakai makeup."


"Thank you."


Karena Rania sudah datang, akhirnya Erick segera memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.


Skip


Erick terus menatap Rania agar membuatnya salah tingkah. Ia sengaja melakukan itu karena biasanya itu adalah cara ampuh untuk menaklukkan hati wanita.


"Lo kenapa sih, Rick? perasaan dari tadi lihat gue mulu."


"Lo cantik banget, jadi sayang kalau gak dilihat."


"Udah berapa cewek yang lo perlakuan kayak gini?"


"Cuma lo doang kok."


Rania tak percaya ucapan Erick, karena ia pernah mendengar beberapa rumor yang mengatakan bahwa Erick mempunyai gebetan yang sangat banyak.


"Ran, lo gak ada rasa sedikitpun gitu ke gue?"


"Gak ada, karena gue cuma menganggap lo sebagai sahabat gue."


"Calista juga waktu dulu bicara kayak gitu. Tapi buktinya sekarang dia pacaran sama Kevin yang statusnya sebagai sahabatnya."


"Tapi lo kan tahu, kalau gue bukan perempuan baik-baik."


Erick menjelaskan bahwa ia tidak peduli dengan itu. Sebab, ia juga bukanlah lelaki yang baik. Bahkan perbuatan Erick lebih buruk dari perbuatan Rania.


"Ya udah gue terima lo, asalkan lo janji sama gue."


"Janji untuk apa?"


"Kalau misalnya kita berantem, lo jangan bahas tentang masa lalu gue."


"Iya, gue janji gak akan membahas hal itu."


...****************...


Waktu telah menunjukkan pukul 6 sore, dengan begitu Kevin harus mengantarkan Calista dan Acha pulang. Pada disisi lain, Kevin ingin sekali mengajak Acha jalan-jalan lebih lama. Tapi karena ia takut dimarahi Papah Calista, jadi ia memutuskan untuk pulang.


"Nanti setelah antar Acha, kita jalan-jalan yuk! soalnya sekarang kan malam Minggu, masa iya kita gak jalan-jalan."


"Emang dibolehin sama papah kamu?"


"Pasti dibolehin kalau kamu minta ijin."


"Ya udah nanti aku minta ijin ke papah kamu."


Skip


Sesampainya di rumah, Kevin meminta ijin untuk mengajak Calista jalan-jalan dan tentunya kedua orang tua Calista mengijinkannya karena ia sudah sangat mengenal Kevin.


"Acha ikut," ucap Acha saat melihat Calista dan Kevin yang hendak pergi.


Mamah buru-buru menggendong Acha agar tak ikut bersama Calista dan Kevin. "Jangan ikut, soalnya Kak Acha mau pergi."


Bukannya langsung pergi, Calista malah sengaja memeluk dan mencium pipi Acha. "Dadah!" Calista melambaikan tangannya.


"Ini anak ngeselin banget, bukannya buru-buru pergi," ujar Papah. Lalu, Calista berlari menghampiri Kevin dan keduanya buru-buru pergi keluar.


"Kamu usil banget, Ta."


"Habisnya seru banget ngerjain anak kecil."


Saat masuk kedalam mobil, Calista baru sadar bahwa di kursi belakangnya ada sebuah kotak dan ia jadi penasaran dengan paper bag itu.


"Itu apa, Vin?"


"Itu buat kamu, coba ambil deh."


Calista mengambil paper bag dan membukanya, ternyata isinya adalah dua piyama.


"Itu piyama couple."


"Kayak mau bulan madu aja pakai beli piyama segala."


"Ya siapa tahu nanti kita nikah, jadi kita gak perlu beli piyama lagi."


"Emang kamu mau nikah sama aku?"


Kevin berpikir sejenak, karena belum tentu juga Calista adalah jodohnya. Disamping itu, Calista merasa jika Kevin tidak ingin menikahinya sebab terlihat sekali bahwa dia ragu jika menikahi Calista.


Ya, Calista tahu diri. Pastinya Papah Kevin akan menjodohkan Kevin dengan anak rekan bisnisnya, yang mana terbayang oleh Calista bahwa perempuan itu sangatlah cantik, lemah lembut dan juga tentunya kaya raya.


"Lama banget mikirnya."


"Gini, Ta. Jodoh kan diatur sama yang diatas, jadi kalau aku bilang bahwa aku akan menikah sama kamu nantinya aku takut ingkar janji."


"Udah jangan dibahas. Lagipula kita masih kecil."


Sambil menunggu lampu merah, Kevin memutuskan untuk bernyanyi agar membuat Calista kembali tertawa lagi.


"Bisa diam gak? malu dilihat orang."


"Oke, aku diam." Kevin segera menutup kaca mobilnya.


Calista menoleh kearah Kevin. Dari raut wajah Kevin terlihat seakan dia sedang memikirkan cara untuk membuat Calista tertawa lagi. Dan menurut Calista itu sangat lucu, karena Kevin ada usaha untuk membuat Calista tersenyum kembali.


"Lagi mikirin apa sih? serius banget kelihatannya."


Kevin hanya cengengesan. "Aku pikir kamu tadi marah karena aku lihat kamu diam aja. Makanya aku cari cara supaya kamu ketawa lagi."


"Aku gak marah kok. Cuma tadi aku lagi memikirkan sesuatu."


Ting!


Tiba-tiba Erick mengirimkan foto di grup chat. Dan setelah mengirim foto, Erick juga memberitahu bahwa dirinya dan Rania resmi berpacaran.


"Rania sama Erick pacaran."


"Kata siapa?"


"Itu di grup Erick kasih tahu bahwa dia sama Rania udah pacaran. Katanya mereka jadiannya tadi sore."


Skip


"Aku menyesal pakai pakaian kayak gini."


"Emangnya kenapa? bagus kok pakaian kamu."


"Iya sih, cuma dibandingkan yang lain kayaknya penampilan aku paling gak niat."


Calista menunjuk pasangan yang sepertinya lebih muda darinya dan Kevin. "Vin, lihat deh! kayaknya itu anak SMP yang pacaran."


Kevin melihat kearah yang ditunjuk Calista dan memang benar bahwa kedua pasangan itu seperti anak berusia tiga belas sampai empat belas tahun.


"Keren ya, anak kecil udah makan di restoran."


"Mungkin orang tuanya yang punya restoran."


Setelah dilihat, ternyata bukan hanya Calista dan Kevin saja yang sedang memperhatikan kedua orang itu tetapi hampir semua orang memperhatikan mereka. Ya, bahkan security juga sedang memperhatikan kedua orang itu.


"Kenapa mereka semua fokus ke mereka ya?" heran Calista.


"Aku juga gak tahu."


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kedua orang itu. Orang itu meminta foto kepada kedua pasangan itu. Otomatis Calista dan Kevin terheran-heran karena sepertinya kedua orang itu terkenal.


"Mereka artis ya? atau selebgram?"


"Aku udah bilang kan dari tadi kalau aku gak tahu siapa mereka."


"Kak, itu siapa ya?" tanya Calista kepada pelayan restoran.


"Katanya sih selebgram, tapi saya juga kurang tahu sih."


Calista tak bisa berkata-kata, karena sudah dipastikan bahwa kedua orang tersebut sudah memiliki penghasilan sendiri.


"Mereka keren banget, masih kecil tapi udah bisa menghasilkan uang."


"Iya, keren banget. Beda sama kita yang selalu menghabiskan uang orang tua," kata Kevin sambil tertawa kecil.


"Vin, kita bikin channel YouTube berdua yuk! siapa tahu kita berdua jadi terkenal."


"Kamu aja deh yang bikin. Soalnya aku sama sekali gak mau terkenal."


Calista merasa aneh kepada Kevin, karena baru pertama kali Calista mengetahui ada orang yang tidak ingin terkenal.


"Kenapa gak mau terkenal?"


"Soalnya pernah merasakan jadi terkenal di sekolah, makanya sekarang aku gak mau dikenal karena nantinya banyak banget yang membenci aku."


"Emang ada yang benci kamu? perasaan cewek-cewek banyak loh yang suka sama kamu."


"Justru itu. Beberapa cewek yang suka sama aku, dia semua menyatakan cinta sama aku. Dan setelah aku tolak, beberapa orang itu jadi benci aku. Makanya dulu ada rumor yang mengatakan bahwa aku suka sama yang sejenis."


Calista jadi ingat kejadian waktu itu, bahkan Calista sempat percaya rumor itu. Tetapi setelah Kevin membuktikannya dengan cara mencium Calista, membuat Calista percaya bahwa Kevin masih normal.


"Dulu ingat gak waktu kamu menuduh aku suka sesama jenis?"


"Iya, aku ingat kok. Waktu itu kamu cium aku, kan?"


Kevin hanya tersenyum, karena itu ciuman pertamanya dengan Calista. Sejujurnya waktu itu Kevin sangat marah karena seseorang yang ia cintai menuduhnya sebagai lelaki tidak normal. Tetapi setelah Kevin membalaskan kekesalannya dengan cara mencium Calista, perlahan amarahnya mereda.


"Vin, mereka jalan kesini," bisik Calista.


Pada saat kedua pasangan selebgram itu lewat, Calista dan Kevin otomatis melirik kearah mereka. Selebgram perempuan itu merapihkan rambutnya dan tersenyum kepada Kevin.


"Hai," sapa Calista, namun perempuan itu sama sekali tidak tersenyum ataupun kembali menyapa.


"Giliran ke cowok aja sok manis," oceh Calista.


Skip


Sesudah dari restoran itu, suasana hati Calista menjadi sangat buruk. Ia seperti dipermalukan oleh perempuan tadi.


Kata-kata umpatan terus keluar dari mulut Calista karena baru kali ini dirinya dipermalukan oleh orang yang lebih muda darinya.


"Udah dong jangan marah mulu."


"Aku bukan marah ke kamu."


"Iya, aku tahu kalau kamu marah sama perempuan tadi. Cuma masalahnya sekarang kamu bicara kayak gitu didepan aku, jadi aku merasa kalau kamu bicara kasar sama aku."


Kevin menyuruh Calista untuk menarik nafas dalam-dalam agar tidak emosi lagi. Dengan begitu, Calista menuruti perkataan Kevin. Tetapi walaupun emosinya sudah mereda, tapi tetap saja dihatinya tersimpan dendam kepada perempuan itu.


"Ta, orang tua kamu suka apa? soalnya aku mau beli makanan buat orang tua kamu."


"Mereka suka seafood."


"Kalau Acha, aku harus belikan dia apa ya?"


"Beli susu buat anak usia tiga tahun aja, soalnya dia kan masih bayi."


Ucapan Calista memang tak ada salahnya, tapi entah kenapa Kevin ingin tertawa mendengar ucapannya itu.


"Kalau kamu mau apa?"


"Aku gak usah, soalnya aku kan udah dikasih piyama sama kamu."


"Yakin gak mau makanan sama minuman?"


Calista berpikir sejenak. "Yakin, soalnya ini lebih dari cukup. Aku gak mau kamu jadi bangkrut gara-gara traktir aku sama orang tua aku."


Kevin tak habis pikir dengan perkataan Calista. Perkataan Calista selalu saja membuat Kevin ingin menafkahinya. Calista sangat tahu diri, maka dari itu Kevin takjub karena dia tidak meminta barang-barang yang mahal.


Selama berpacaran dengan Kevin, sepertinya hanya kalung saja barang mahal yang telah diberikan Kevin kepada Calista dan itupun Calista tidak memintanya, hanya saja dia cuma menunjukkan kalau dia ingin sekali membeli kalung itu. Maka dari itu, Kevin langsung membelinya untuk Calista.


"Vin, gaji Papah kamu berapa sih? kok uangnya gak habis-habis."


"Sebenarnya selain punya restoran sama club, papah juga dapat warisan dari orang tuanya."


"Emang berapa sih warisannya?"


"Rahasia."


Jika Papah Kevin mendapatkan warisan, tentunya Kevin juga pasti mendapatkan warisan dari nenek dan kakeknya. Dan itu membuat Calista membayangkan jika nanti ia menjadi istri Kevin, mungkin ia dan anaknya kelak akan hidup bergelimang harta.


"Beruntung banget dong yang jadi istri kamu."


"Mungkin."


"Kok mungkin sih, kan pastinya istri kamu bahagia punya suami yang tampan dan kaya raya."


"Punya suami tampan dan kaya juga tidak bisa menjamin kebahagiaan."


Setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga ucapan Kevin. Jika seorang lelaki memiliki wajah rupawan dan juga banyak harta tentunya akan didekati oleh para wanita dan yang lebih parahnya lagi mungkin lelaki itu akan mencari wanita lain karena dia menganggap bahwa dia bisa mendapatkan apapun hanya karena dia tampan dan kaya.


...****************...


Pagar rumah Calista dikunci dan itu membuat Calista yakin bahwa orang tuanya dan juga Acha sedang pergi keluar. Sepertinya karena Acha menangis ingin jalan-jalan, makanya kedua orang tua Calista menuruti keinginan Acha.


"Mereka kayaknya jalan-jalan deh."


"Terus gimana? apa kita jalan-jalan lagi?"


"Gak usah. Soalnya aku ngantuk."


Akhirnya Kevin dan Calista kembali masuk kedalam mobil, sebab rumah Calista dikunci.


"Vin, aku tidur dulu ya. Nanti kalau orang tua aku datang, kamu tingkah kasih tahu aku."


Ketika Calista hendak menutup matanya, tiba-tiba Kevin mendekat dan itu membuat Calista terkejut.


"Kamu mau ngapain?"


"Aku mau mengatur posisi sandarannya, biar kamu nyaman tidurnya."


"Gak usah! kayak gini juga udah nyaman."


Kevin kembali ke posisi awalnya. Sedangkan Calista, ia hanya mematung karena masih terkejut dengan kejadian tadi. Meski Kevin memang berniat untuk mengatur posisi sandarannya, tetapi Calista merasa was-was terhadapnya.


"Katanya mau tidur."


Calista mengubah posisi tidurnya jadi membelakangi Kevin. Calista tidak mau jika Kevin melihat dirinya yang sedang tertidur.


15 menit kemudian, Kevin membangunkan Calista karena kedua orang tua Calista sudah pulang.


"Sayang, bangun!"


Calista membuka matanya, lalu ia kembali menutup matanya lagi.


Kevin mencubit pipi Calista agar pacarnya itu bangun. "Ayo bangun!"


Calista mengucek matanya dan ia melamun sebentar karena nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.


"Orang tua aku udah pulang?" tanya Calista, lalu Kevin mengiyakannya.


"Ya udah cepat turun."


Calista mengambil piyama dan makanan untuk kedua orang tuanya. "Makasih ya," ujar Calista sambil turun dari mobil.


"Iya sama-sama."


Calista dan Kevin sama-sama menunggu. Calista menunggu Kevin pergi, sedangkan Kevin menunggu Calista masuk kedalam rumah.


"Cepat masuk!" perintah Kevin.


"Ya udah aku masuk ya," ujar Calista, namun ia kembali lagi menghampiri Kevin.


"Ada yang ketinggalan?" tanya Kevin memastikan.


Calista tidak menjawabnya dan ia hanya memandang wajah Kevin. Ia sengaja menatap wajah Kevin. Karena siapa tahu jika menatapnya lebih lama, maka dia akan masuk kedalam mimpi Calista.


Sebab jika seseorang selalu terbayang wajah seseorang, maka nantinya orang itu akan muncul di mimpi kita.


"Hati-hati bawa mobilnya."


"Iya, siap."


Calista berpikir sejenak. "Besok mau main lagi gak?"


"Enggak. Soalnya besok mau main sama teman-teman aku."


Calista mengerucutkan bibirnya, lalu ia segera masuk kedalam rumah tanpa berpamitan dulu dengan Kevin.


"Mah, Pah! Acha mana?"


"Lagi tidur di kamar," jawab Papah.


"Oh iya, ini dari Kevin untuk kalian." Calista memberikan kantong plastik yang berisi lobster goreng.


"Kevin mana? kok gak diajak masuk," kata Papah, lalu Calista mengatakan jika Kevin sudah pulang.


Calista mengambil piyama di paper bag dan menunjukkan piyama itu kepada kedua orang tuanya.


"Bagus gak?"


"Pasti itu dari Kevin lagi ya?" tebak Mamah, lalu Calista hanya mengangguk.


"Nanti kapan-kapan kamu dong yang kasih sesuatu ke Kevin. Masa iya dia terus yang selalu memberi sesuatu ke kamu," kata Papah.


"Iya, nanti Calista akan kasih dia sesuatu yang lebih bermanfaat."


Sebelumnya Calista sudah memikirkan dari beberapa jam yang lalu bahwa ia akan memberikan sesuatu yang sangat bermanfaat untuk Kevin. Dan menurutnya sesuatu yang bermanfaat untuk Kevin adalah minyak urut.


Terkesan lucu tapi kenyataannya Kevin sangat membutuhkan minyak urut dikarenakan dia sering pegal sehabis latihan basket.


Mungkin selain minyak urut, Calista juga ingin memberikan obat-obatan untuknya.


Meskipun sesuatu yang Calista akan berikan terkesan murah, tetapi itu semua sangat bermanfaat untuk Kevin. Terkadang Calista seringkali khawatir setiap kali Kevin sakit, dia jarang sekali memakan obat. Dengan begitu, Calista akan membelikannya macam-macam obat mulai dari obat demam, flu, hingga obat diare.


"Kalau misalnya Calista kasih obat-obatan gimana?"


"Jangan itu juga. Belinya yang lebih mahal, karena Kevin juga selalu kasih kamu yang mahal-mahal."


"Yang mahal cuma kalung doang kok."


"Ya kamu pikir aja deh. Siapa coba yang suka dikasih hadiah obat-obatan."


Calista hanya cengengesan. Padahal ia berpikir bahwa Kevin akan terharu jika Calista memberikan obat-obatan untuknya. Tetapi kata Papah, tak ada satupun yang menyukai hadiah seperti itu.


"Menurut Papah, aku harus kasih apa ke Kevin?"


"Kesukaan Kevin apa?"


"Basket."


"Ya udah kamu belikan bola basket aja, tapi bolanya yang agak mahal."


Calista kurang setuju dengan saran dari Papahnya, karena Calista tahu jika Kevin memiliki beberapa bola basket di rumahnya.


"Kalau menurut Mamah, Calista harus kasi apa ke Kevin?"


"Menurut Mamah sih lebih baik kamu tanya langsung ke Kevin, supaya nanti barangnya bisa terpakai sama dia."


"Benar juga apa kata Mamah."


Sesudah mendapatkan saran terbaik, akhirnya Calista pergi menuju kamarnya. Entah kenapa ketika berada di kamar rasanya ia jadi tak mengantuk.


Ting!


Tiba-tiba Friska mengirim foto di grup dan foto itu adalah foto Friska dan Bayu yang sedang malam Mingguan. Dengan melihat sahabat-sahabatnya yang memotret kebersamaan di malam Minggu, membuat Calista sedikit iri karena tadi ia sama sekali tidak berfoto dengan Kevin.


Setiap kali Calista dan Kevin menikmati momen kebersamaan, selalu saja keduanya lupa untuk mengabadikan foto.


Seketika Calista mengingat perempuan selebgram itu dan Calista penasaran dengan media sosial kedua pasangan selebgram yang tadi berada di restoran.


Ia mencari di internet tentang siapa kedua pasangan muda itu dan ketika profilnya ditemukan, Calista langsung saja mengecek instagramnya.


Calista ingin tertawa melihat foto-foto perempuan itu. Sebab di foto dan aslinya sangatlah berbeda.


Disaat Calista mengecek kolom komentarnya, banyak sekali komentar-komentar negatif yang mengatakan bahwa perempuan itu sangatlah sombong dan tentunya Calista setuju dengan komentar dari orang itu.