Fearless

Fearless
Bab 19



Pagi ini, Calista dihebohkan dengan kabar jadiannya Kevin dengan adik kelas yang bernama Haura. Sebenarnya kabar itu telah disampaikan oleh Kevin sejak semalam, hanya saja karena semalam Calista tidak membuka ponselnya, jadi ia ketinggalan beritanya.


Calista sangat senang ketika mendengar kabar itu, karena akhirnya Kevin jadian juga dengan seorang perempuan. Tetapi sejujurnya, Calista sedikit merasa aneh karena hubungan Kevin dan Haura sangat mendadak. Karena sebelumnya, Kevin tidak menceritakan bahwa dia sedang dekat dengan Haura.


Tok! Tok!


Calista membuka pintu kamarnya. "Ada apa, Mah?"


"Ayo sarapan."


Calista mengambil tasnya. Kemudian, Calista mengikuti Mamahnya menuju ruang makan.


Calista dan orang tuanya menikmati sarapan pagi, lebih tepatnya hanya Papah dan Mamahnya saja yang menikmatinya. Sedangkan Calista, ia hanya memainkan ponselnya.


Ya, Calista sedang melihat-lihat sosial media Haura karena ia sangat penasaran dengan sosok pacar Kevin.


Jika dilihat dari postingannya, sepertinya Haura adalah orang yang sangat misterius. Karena foto instagram-nya hanya foto pemandangan saja.


"Calista, ayo makan. Nanti kamu terlambat loh," ujar Mamah.


"Iya, Mah." Calista memakan sarapannya.


Papah hanya tersenyum, dia bahagia melihat Calista yang sudah mulai nyaman dengan istrinya.


"Calista, emangnya kamu gak dimarahi guru kamu?" tanya Papah.


"Maksudnya?"


"Rambut kamu kan diwarnai."


"Gak dimarahi kok, Pah. Lagipula bukan Calista aja yang warnai rambut, tapi yang lainnya juga banyak kok yang warnai rambutnya."


Papah berkata bahwa Calista lebih cantik dengan rambut berwarna hitam dibanding berwarna pirang, karena katanya Calista lebih terlihat seperti perempuan yang anggun ketika rambutnya warna hitam.


Dengan mendengar saran dari Papahnya, membuat Calista ingin kembali mewarnai rambutnya dengan warna hitam. Mungkin nanti setelah pulang sekolah, Calista akan mewarnai rambutnya.


...****************...


Disaat Calista masuk kedalam kelas, ia fokus kepada seseorang yang sedang berbicara dengan Kevin. Karena Calista tahu bahwa itu adalah pacar Kevin, jadi Calista memutuskan untuk menghampirinya sekaligus ingin mengucapkan selamat kepada keduanya.


"Hai!" sapa Calista.


Haura menoleh dan dia tersenyum pada Calista. "Hai, Kak."


Ketika Calista ingin mengobrol dengan Haura, tiba-tiba Kevin mengajak Haura untuk pergi.


"Ta, gue mau bicara sesuatu lo," ujar Rania.


"Gue gak mau bicara sama orang yang udah menikung gue." Calista meletakkan tasnya, lalu segera keluar kelas.


Grep!


Tangan Calista dipegang erat oleh Rania. "Ta, tolongin gue." Rania memohon sambil menangis.


Calista menatap Rania dengan tatapan kasihan, padahal sebenarnya Calista tidak tahu tentang apa yang membuat Rania memohon dan meminta tolong.


"Lo kenapa?" tanya Calista dengan nada sinis.


Calista memang sangat marah kepada Rania, tetapi karena ia mengingat kebaikan Rania di masa lalu, jadi ia sedikit merasa kasihan ketika melihat Rania memohon seperti itu.


Rania menyuruh Calista untuk mengikutinya ke rooftop, karena menurutnya rooftop adalah tempat yang sangat sepi.


Setibanya di rooftop, Rania memberitahu bahwa tadinya dirinya ingin memutuskan hubungan dengan Reyhan. Tetapi Reyhan menolak dan ia mengancam akan menyebarkan foto-foto seksi Rania.


"Lagian lo bego banget jadi cewek, bisa-bisanya lo mengirim foto kayak gitu," ujar Calista dengan mata yang berkaca-kaca. Ya, tentu saja Calista ingin menangis, karena pastinya hal itu dilakukannya saat Reyhan masih berpacaran dengan Calista.


"Ta, sebenarnya waktu dua bulan yang lalu, gue pernah tidur bareng Reyhan dan disaat itu juga Reyhan foto gue," jelas Rania sambil menangis.


Dada Calista menjadi sesak saat mendengar perkataan Rania. Rasanya ia sangat sulit untuk berbicara sepatah katapun.


"Maafin gue ya, Ta."


Rania meminta Calista untuk kembali menjalin hubungan dengan Reyhan. Setelah itu, Rania ingin agar Calista menghapus semua foto Rania di ponsel milik Reyhan.


"Enak banget ya lo. Lo udah bikin gue sakit hati dan sekarang lo menyuruh gue untuk hapus foto-foto lo."


"Gue tahu kalau gue salah. Tapi cuma itu jalan satu-satunya agar aib gue gak disebar."


"Kenapa lo gak ambil aja handphone Reyhan?"


"Masalahnya dia selalu bawa handphone."


Rania juga menjelaskan bahwa dia tidak diperbolehkan untuk memainkan ponsel Reyhan. Maka dari itu, Rania meminta tolong kepada Calista, karena ia tahu bahwa Reyhan akan mengijinkan Calista untuk memainkan ponsel milik Reyhan.


"Kalian lagi ngapain disini?" tanga Erick yang baru saja datang. Otomatis Calista dan Rania menoleh kearahnya. Lalu, Rania bergegas pergi karena ia takut ditanya seputar obrolan tadi.


"Lo kenapa nangis?" tanya Erick, lalu Calista hanya menggelengkan kepalanya.


"Pasti tadi adu mulut lagi ya sama Rania?" tanya Erick dan lagi-lagi Calista menggelengkan kepalanya.


"Terus lo kenapa?"


"Gue gak kenapa-napa," jelas Calista.


...****************...


Selama pelajaran berlangsung, Calista terus memikirkan perkataan Rania. Ia merasa kecewa terhadap Rania dan juga Reyhan. Tetapi disisi lain, Calista juga merasa kasihan kepada Rania. Jika Calista diposisi Rania juga pasti ia akan melakukan hal apapun agar aibnya tidak tersebar.


"Calista!" panggil Pak Surya.


"Iya, Pak."


"Kamu lagi sakit?" tanya Pak Surya saat melihat wajah Calista yang begitu pucat.


"Iya, Pak. Saya sedikit pusing."


Pak Surya menyuruh agar Calista beristirahat di UKS. Dan tentu saja Calista menuruti perkataan Pak Surya, karena memang dirinya merasa tidak enak badan dan butuh istirahat.


"Pak, saya antar Calista ya. Soalnya takut dia pingsan," ujar Friska, padahal sebenarnya ia hanya ingin bolos pelajaran.


"Ya sudah," ujar Pak Surya.


Akhirnya Calista dan Friska pergi menuju UKS.


Tidak butuh waktu lama, keduanya telah sampai di UKS. Dan Calista langsung saja tidur di ranjang yang sudah disediakan. Sedangkan Friska, ia hanya duduk sambil memainkan ponselnya.


"Lo beneran sakit?" tanya Friska, lalu Calista hanya mengangguk.


"Kebanyakan memikirkan Reyhan sih," kata Friska.


"Bisa gak sih jangan sebut-sebut nama dia lagi?" kesal Calista.


Friska meminta maaf dan ia memutuskan untuk kembali ke kelas karena sepertinya Calista saat ini tidak bisa diajak bercanda.


Calista mengambil ponselnya dan ia membuka nomer yang diblokir. Ya, siapa lagi kalau bukan nomer telepon Reyhan.


Meskipun Rania sudah jahat kepada Calista, tetapi kali ini Calista ingin membantunya agar aib Rania tidak disebar oleh Reyhan.


Calista memang selalu berbuat jahat kepada orang, tetapi dia juga tetap manusia yang masih mempunyai sisi baik.


Dengan sedikit ragu ia menelpon Reyhan dan tak lama Reyhan menjawab panggilan telepon dari Calista.


"Hallo, Calista," ujar Reyhan.


Mata Calista mulai berkaca-kaca. "Hallo, Rey."


"Ta, aku minta maaf ya. Sekarang aku udah gak berhubungan lagi kok sama Rania."


"Iya, aku udah maafin kamu kok," bohong Calista.