Fearless

Fearless
Episode 38



Calista merasa gugup ketika melihat Kevin yang sedang berbohong untuk menutupi kesalahan Calista. Belum lagi Calista sangat khawatir jika nantinya papah akan mengusir Kevin setelah Kevin selesai memberikan penjelasan.


Selesai memberikan penjelasan, ekspresi papah hanya datar. Bahkan Calista bingung jika papahnya sedang marah atau tidak.


"Serius kamu yang ajak Calista?" tanya Papah, lalu Kevin hanya mengangguk.


"Disana kita semua gak pada mabuk kok, Om. Lagipula kalau mabuk, aku bisa dimarahin sama Papah."


"Terus kamu ngapain ajak Calista kesana?" tanya Papah.


"Aku bosan, Om. Makanya aku ajak Calista dan yang lainnya ke club milik orang tua aku," jelas Kevin.


Setelah Kevin mengaku bahwa club itu milik orang tuanya, tiba-tiba raut wajah papah seketika tidak datar lagi.


"Jadi kalian ke club milik orang tua kamu?" tanya Papah memastikan.


"Iya, Om."


Calista menatap datar kearah Papahnya. Sudah ditebak bahwa Papahnya kini sudah tidak marah kepadanya bahkan kepada Kevin. Entah kenapa jika menyangkut soal kekayaan, papah akan jadi luluh.


"Om, sekali lagi maafin Kevin ya karena udah buat anak Om jadi perempuan yang bandel," ujar Kevin.


"Iya, gak apa-apa. Namanya juga manusia, jadi pasti sering melalukan kesalahan," kata Papah.


"Oh iya, Om. Sebenarnya aku pacaran sama Calista. Kalau Om melarang, aku bisa kok mengakhiri hubungan sama Calista."


"Jangan diakhiri. Om senang kok kalau kalian pacaran. Bahkan Om setuju banget kalau hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius."


Calista dan Kevin saling menatap satu sama lain. Keduanya ingin sekali tertawa saat mendengar perkataan dari Papah.


"Oh iya, nanti kapan-kapan ajak dong Papah kamu main kesini," ujar Papah.


"Iya, Om. Nanti kalau Papah gak sibuk, Kevin akan ajak kesini," kata Kevin.


Setelah semua masalah terselesaikan, Kevin berniat pulang. Namun, Papah Calista malah menyuruhnya untuk makan malam bersama.


Akhirnya mereka segera pergi menuju ruang makan untuk menikmati makan malam bersama.


Disaat sedang menikmati makan malam, Papah terus saja mengajak Kevin mengobrol hal yang random dan itu membuat Calista senang karena ternyata Papah sama sekali tidak marah kepada Kevin.


Skip


Setelah selesai makan malam, Kevin pamit dengan Calista beserta orang tua Calista. Sesudah itu, Calista segera mengantar Kevin keluar rumah sekalian ia ingin berbicara sesuatu kepada Kevin.


"Vin, besok berangkat bareng yuk."


Kevin sedikit kaget karena tak biasanya Calista mengajak berangkat bersama. Padahal Calista sendiri yang bilang bahwa dia ingin merahasiakan hubungannya dengan Kevin.


"Ya udah besok aku jemput kamu," kata Kevin.


"Oh iya, kalau misalnya kamu ingin cerita sesuatu, cerita sama aku aja ya. Dan kalau kamu lagi ada masalah, kamu kasih tahu aku karena siapa tahu aku bisa bantu."


Kevin memegang kedua pundak Calista. "Kamu bersikap kayak gini karena kasihan sama aku ya? makanya sekarang kamu jadi perhatian sama aku."


Calista diam saja, karena yang dibicarakan Kevin memang benar adanya. Calista sangat kasihan terhadapnya sebab sepertinya saat ini tidak ada orang yang perhatian kepada Kevin. Dengan demikian, Calista ingin memberikan perhatian kepadanya.


"Tapi gak apa-apa sih, aku jadi senang kalau diperhatikan sama kamu meskipun kamu menganggap aku menyedihkan."


"Enggak gitu. Aku perhatian bukan karena kasihan, tapi aku perhatian karena aku kan pacar kamu."


Kevin tertawa kecil. "Jangan bohong."


"Ya udah sana pulang!" usir Calista agar mengalihkan pembicaraan.


Chup!


Tanpa aba-aba, Kevin mencium pipi Calista sekilas. Setelah itu, ia berlari menuju motornya karena ia takut Calista akan memukulnya.


Senyuman terukir diwajah Calista, rasanya sungguh aneh melihat Kevin yang kini berstatus sebagai pacarnya. Padahal dulu Calista sudah menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah berpacaran dengan sahabatnya, namun akhirnya ia menelan ludahnya sendiri.


"Hati-hati bawa motornya!"


"Iya siap," ucap Kevin sambil melajukan motornya.


...****************...


Beberapa hari kemudian...


Dikarenakan besok Kevin akan lomba, jadi hari ini Calista ingin memberikan sebuah gelang couple agar Kevin bersemangat saat bertanding.


Terserah jika semua orang tahu hubungan antara Calista dan Kevin, karena mulai hari ini Calista tidak ingin lagi menutup-nutupi hubungannya.


Tin! Tin!


Mobil Kevin sudah tiba didepan rumah, maka dari itu Calista bergegas menghampirinya.


Hari-hari sebelumnya keduanya memang selalu berangkat bersama, tetapi tidak ada satupun orang yang mengira bahwa keduanya sedang berpacaran.


"Vin, aku punya sesuatu buat kamu."


"Sesuatu apa?"


Calista memberikan sebuah gelang kepada Kevin. "Gelang couple," ujarnya sambil memperlihatkan gelang yang sudah terpasang dipergelangan tangan Calista.


Kevin tersenyum sambil menggaruk kepalanya, sejujurnya ia kurang suka memakai aksesoris. Tetapi karena ia ingin menghargai Calista, jadi ia mengambil gelang tersebut.


"Suka gak?"


"Suka kok."


Melihat ekspresi Kevin, membuat Calista kecewa. Karena ekspresi Kevin menunjukkan bahwa dia tidak menyukai gelang pemberian Calista.


"Aku ambil lagi aja ya, soalnya kamu kayak gak suka sama gelangnya."


Dengan cepat, Kevin langsung memakai gelang itu. "Gak boleh diambil lagi. Ini udah jadi milik aku."


"Memangnya kamu beneran suka sama gelangnya?"


"Beneran suka kok, apalagi sama orang yang memberikan gelang ini."


Calista merasa lega setelah melihat respon Kevin kali ini. Karena responnya sesuai dengan yang ia harapkan.


Kevin terdiam sejenak. "Tapi kalau kita berdua pakai gelang ini, kemungkinan besar orang-orang akan tahu dong."


"Ya gak apa-apa."


"Serius gak apa-apa?"


"Iya serius. Kalau sekarang kamu mau kasih tahu ke Erick atau Friska juga gak apa-apa kok."


Terpampang jelas wajah bahagia Kevin saat Calista berkata seperti itu. Bahkan sekarang Kevin buru-buru mengambil ponselnya untuk memberitahu tentang hal ini kepada Erick.


"Yah! gak diangkat," keluh Kevin.


"Vin, ayo berangkat! nanti keburu telat."


Akhirnya Kevin menaruh ponselnya di saku celananya, setelah itu ia segera melajukan mobilnya.


Skip


Sampai di sekolah, Calista dan Kevin merasa heran karena ada beberapa guru yang berada di parkiran. Guru-guru itu pergi dengan mengendarai mobilnya dan itu membuat Calista dan Kevin jadi penasaran tentang alasan mengapa mereka pergi.


Karena penasaran, akhirnya Calista dan Kevin menghampiri satpam sekolah untuk menanyakan tentang alasannya.


Dan setelah ditanyakan, ternyata ada guru yang meninggal dunia. Jadi, saat ini beberapa guru sedang pergi melayat.


"Berarti gak akan belajar dong," kata Kevin.


"Kalian tetap belajar, tapi mungkin jam pelajaran pertama gak akan belajar," jelas satpam.


Setelah berbincang-bincang, Calista dan Kevin segera pergi menuju kelasnya.


"Sekarang gue gak mau lagi memaafkan lo," jelas Calista, karena sudah berkali-kali ia memaafkan Rania, namun Renia bersikap seperti itu kepada Calista.


"Ta, udah maafin aja," ujar Kevin, karena sejujurnya ia ingin geng Fearless utuh seperti dulu.


"Gak mau!" tolak Calista, lalu ia segera pergi. Bukan pergi ke kursinya, melainkan ia pergi keluar kelas.


Grep!


Kevin memegang tangan Calista dan tentu saja Calista otomatis menoleh kebelakang sambil melepaskan genggaman tangan Kevin.


"Ta, maafin aku ya," ujar Kevin karena ia berpikir bahwa Calista pergi karena ucapannya.


"Aku gak marah sama kamu."


"Kalau gak marah, kenapa harus pergi?"


Calista tidak bisa menjawab pertanyaan dari Kevin. Karena memang ia sedikit kesal karena Kevin sepertinya menginginkan agar Calista berdamai dengan Rania.


"Beneran marah ya?" tanya Kevin lagi karena Calista hanya diam saja.


"Enggak kok. Aku pergi karena aku mau ke toilet."


"Oh gitu. Aku pikir kamu marah."


...****************...


Saat masuk kedalam toilet, Calista dikejutkan dengan seorang lelaki yang berada didalam toilet. Dan itu membuat Calista curiga bahwa orang itu sedang mengintip murid perempuan.


"Lo ngapain di toilet cewek?"


"Gue salah masuk toilet."


"Lo mau ngintip ya?" tuduh Calista, karena tidak mungkin murid kelas 12 lupa dengan posisi toilet.


"Gak kok. Gue beneran salah masuk. Kalau lo gak percaya, lo bisa masuk kedalam buat memastikan apakah ada cewek atau enggak didalam," ujarnya, lalu lelaki itu buru-buru pergi menuju toilet lelaki.


Calista buru-buru masuk kedalam toilet untuk mengecek apakah didalam ada orang atau tidak. Dan ternyata didalam toilet tidak ada siapapun.


Saat hendak keluar, Calista dikejutkan dengan seseorang dan orang itu adalah Haura. Keduanya berpapasan dan itu membuat keduanya sangat canggung satu sama lain.


Ketika Haura hendak pergi, Calista dengan cepat memegang tangannya. "Lo marah ya sama gue?"


Haura melepaskan tangan Calista yang memegang tangannya. "Itu lo tahu."


Calista terkejut lantaran Haura yang dulunya memanggil Calista dengan sebutan 'Kak Calista' tapi kini tiba-tiba berubah dengan menyebut Calista dengan kata 'lo'.


"Lo bisa-bisanya menyebut Kak Rania sebagai perusak hubungan antara lo dan mantan pacar lo. Tapi lo sendiri gak menyadari bahwa lo juga udah merusak hubungan gue sama Kak Kevin," kata Haura.


"Gue gak merusak. Cuma dari awal Kevin memang suka sama gue dan sebenarnya dia terima lo karena kasihan sama lo. Kalau gue sih malu ya kalau nembak cowok duluan," ujar Calista tak kalah menyakitkan.


"Yang harusnya malu itu lo. Udah merebut cowok orang dan juga udah buat orang lain menderita akibat dibully sama lo. Bahkan ada yang sampai ingin bunuh diri gara-gara dibully sama lo."


Calista terdiam sejenak mendengar perkataan dari Haura. Ia tidak bisa lagi membalas perkataan Haura yang menyudutkan dirinya.


"Oh iya, lo mau tahu gak siapa orang yang ingin bunuh diri gara-gara lo?" tanya Haura.


"Siapa?"


"Andini. Gara-gara lo, dia jadi ketakutan kalau ketemu sama orang. Dan katanya, dia pernah mau bunuh diri."


Calista menunduk, ia tak tahu jika perbuatannya dapat membuat orang jadi seperti itu.


"Lo pasti bohong, kan?"


"Terserah mau percaya atau enggak," ujar Haura, lalu ia segera pergi meninggalkan Calista.


Skip


Calista masuk kedalam kelas dengan perasaan yang tak karuan. Calista takut jika ucapan Haura benar. Yang lebih menakutkan jika Andini kembali melakukan percobaan bunuh diri dan tentunya Calista akan menjadi pelaku utama yang membuatnya melakukan hal itu.


"Kenapa, Ra?" tanya Friska saat melihat Calista yang tampak gelisah.


"Ka, kita minta maaf ke Andini yuk."


"Ogah banget! lo kan tahu bahwa dia itu udah menjelek-jelekkan kita berdua, jadi untuk apa kita minta maaf ke dia," kata Friska.


"Ka, gara-gara perbuatan kita, Andini pernah mau bunuh diri. Dia ketakutan setiap harinya karena ulah kita."


Friska terkejut mendengar perkataan Calista. Friska memang tahu bahwa Andini pindah karena ulah geng Fearless, tetapi ia tidak menyangka bahwa Andini mencoba untuk bunuh diri.


"Lo tahu darimana, Ta?" tanya Friska.


"Haura."


"Tapi kalaupun kita berdua minta maaf, pastinya dia gak akan memaafkan kita."


"Tapi kan kita belum mencoba. Siapa tahu aja setelah kita bertemu dia, dia mau memaafkan kita."


Disaat Calista dan Friska sedang serius membicarakan tentang Andini, tiba-tiba Erick datang dan langsung duduk di meja Calista dan Friska.


"Lagi bicara apa sih? kayaknya serius banget," kata Erick.


Calista menceritakan tentang Andini kepada Erick. Dan reaksi Erick sama persis dengan Friska, bahkan meskipun saat itu Erick tidak ditempat kejadian, tetapi ia juga merasa bersalah karena bagaimanapun dia membantu Calista dan Friska untuk mematikan CCTV.


"Oh iya, kalian lihat Kevin gak?" tanya Erick.


"Gak tahu. Gue kan baru datang," kata Friska.


"Mungkin ke lapangan basket, soalnya besok kan dia lomba."


"Ya udah kita kesana yuk! sekalian kita beri semangat ke dia," kata Friska.


Akhirnya mereka bertiga segera pergi menuju lapangan basket untuk melihat Kevin yang sedang latihan.


Skip


Friska dan Erick berteriak sambil memberi semangat untuk Kevin yang sedang latihan bersama anak-anak basket yang lainnya. Sedangkan Calista, ia hanya melamun sambil memikirkan perkataan Haura.


Jika hubungannya dengan Kevin diketahui orang-orang, Calista takut nantinya orang-orang akan berpikir hal yang sama dengan Haura. Calista takut jika orang lain menganggapnya sebagai perusak hubungan antara Kevin dan Haura.


Bukan hanya itu yang Calista takuti, tapi juga ia takut jika orang lain akan membandingkan Calista dan Haura. Secara keseluruhan, pastinya orang lain menganggap bahwa Haura lebih baik dari Calista. Dan itu membuat Calista merasa insecure kepadanya, apalagi Haura merupakan murid yang berprestasi.


Saking fokusnya melamun, hingga Calista tidak sadar bahwa saat ini Kevin sedang berada dihadapannya.


"Udah latihannya?" tanya Friska.


"Belum sih. Cuma gue mau istirahat sebentar," kata Kevin.


Kevin menatap kearah Calista. "Kenapa?"


Calista menggelengkan kepalanya seraya mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa.


"Oh iya, gue pingin memberi tahu kalian sesuatu," ujar Kevin kepada Friska dan Erick.


"Apa?" tanya Friska dan Erick bersamaan.


Karena sepertinya Kevin akan memberitahu hubungannya dengan Calista, akhirnya Calista cepat-cepat menarik Kevin agar menjauh dari Friska dan Erick.


"Ta, ada apa?" bingung Kevin.


"Jangan kasih tahu mereka, soalnya aku belum siap."


"Bukannya tadi pagi kamu bilang boleh."


"Iya sih, cuma setelah aku pikir-pikir lagi kayaknya jangan dulu sekarang."


Kevin sangat kecewa dengan perkataan Calista. Lalu, ia kembali pergi menuju lapangan basket.