
Disaat jam pertama dimulai, Calista mulai tidak nyaman dengan mata pelajarannya karena guru tersebut seolah-olah menyindir Calista dan mungkin sebagian murid juga akan ada yang tersindir.
Guru tersebut membahas murid-murid yang tidak mematuhi aturan dan jelas saja Calista merasa tersindir dengan kata-katanya.
"Gue merasa tersindir," bisik Friska.
"Sama, gue juga."
Calista mempunyai inisiatif untuk menghindari mata pelajaran kali ini dengan cara bolos ke UKS.
Calista mengangkat tangan kanannya. "Bu, saya ijin ke UKS ya. Soalnya saya lagi kurang sehat."
"Ya sudah silahkan."
Akhirnya Calista segera pergi menuju UKS karena memang ia masih sedikit pusing.
Skip
Bukannya istirahat di UKS, Calista malah asik bermain game di ponselnya. Karena saking fokusnya terhadap ponsel, ia sampai tidak menyadari bahwa dari beberapa detik yang lalu ada orang yang sedang memperhatikannya.
"Seru banget kayaknya," ujar Kevin.
"Iya, seru banget," jawab Calista.
Tak lama setelah menjawab, Calista menoleh kearah kanan dan betapa terkejutnya ia saat melihat Kevin yang berada disampingnya.
"Lo ngapain kesini?" tanya Calista dengan nada jutek.
"Mau cari obat," jawab Kevin, lalu ia pura-pura mencari obat di lemari yang ada di UKS.
Calista menyudahi bermain game, lalu ia melirik kearah Kevin yang sedang mencari obat. Tak lama, Kevin melirik kearah Calista dan otomatis keduanya serentak mengalihkan pandangannya.
"Lama banget. Itu lagi cari obat atau lagi cari harta karun?" sindir Calista.
Kevin tak menjawabnya, lalu ia mengambil obat secara random, tak peduli itu obat apa yang penting ia tidak ketahuan oleh Calista bahwa tujuan ia kesini hanya untuk melihat Calista.
Setelah mengambil obat, Kevin mengambil air minum dan ia membelakangi Calista agar ia tidak ketahuan bahwa ia hanya pura-pura memakan obat itu. Selesai pura-pura minum obat, Kevin tidur di ranjang dekat ranjang yang ditempati Calista saat ini.
Trining! Trining!
Pada saat teleponnya berbunyi, Calista buru-buru menjawabnya.
"Hallo, Ran."
"Ta, nanti pulang sekolah sibuk gak?"
"Gue pulang sekolah mau makan-makan sama teman-teman kelas, Ran.
"Oh gitu, ya udah deh gak apa-apa. Tadinya sih gue mau ajak lo makan juga."
Calista meminta maaf karena tak bisa menerima ajakan Randy, tetapi Calista berjanji bahwa ia akan pergi dengannya di lain waktu.
Setelah berbincang-bincang, akhirnya Calista dan Kevin menyudahi panggilan teleponnya.
"Nanti pulang sekolah bareng sama gue," kata Kevin.
"Gak mau!" tolak Calista.
"Mau gak mau harus mau. Masalahnya lo mau sama siapa pergi kesananya?"
"Gue bisa naik taksi ataupun ojek online."
Kevin bingung harus bagaimana lagi untuk membuat Calista bersikap seperti dulu. Tetapi tak bisa dipungkiri bahwa Calista seperti itu memang karena ulah Kevin.
"Katanya sekarang banyak penculik yang menyamar jadi supir taksi loh. Emang kamu gak takut?"
"Ngapain takut, gue udah besar. Jadi gue bisa menjaga diri gue."
"Sama penculik gak takut, tapi sama cicak kok takut."
"Berisik deh, jangan banyak bacot."
Kevin berdiri dan duduk dipinggir ranjang yang ditiduri Calista. Otomatis Calista bangun karena ia takut jika Kevin akan menciumnya.
"Kemarin kamu terima makanan sama minuman dari Erick gak?"
"Aku terima kok. Tapi setelah Erick pulang, aku langsung buang makanan sama minumannya. Soalnya aku tahu kalau makanan dan minuman itu dari kamu," bohong Calista.
"Ta, kamu benci banget ya sama aku?"
"Iya, benci banget."
Kevin mendekat kearah Calista dan ia berlutut dihadapan Calista untuk meminta maaf, karena menurutnya itu jalan satu-satunya, sebab tak mungkin Calista tega membiarkan orang lain berlutut hanya untuk minta maaf.
"Aku minta maaf, Ta. Aku janji mulai dari sekarang aku akan selalu percaya sama kamu. Kalau perlu, aku akan turuti kemauan kamu apapun itu."
"Apapun itu?" tanya Calista memastikan, lalu Kevin hanya mengangguk.
"Aku pingin balikan."
"Hah?" kaget Kevin karena ia pikir dirinya salah mendengar.
Calista mengalihkan pandangannya, setelah itu ia berniat untuk pergi. Namun, Kevin dengan cepat mencegahnya.
"Aku gak salah mendengar, kan?"
"Gak tahu deh."
"Ya udah ayo balikan."
Calista menatap kearah Kevin, lalu ia menahan senyumannya.
"Aku kira kamu gak mau balikan lagi."
"Ya tadinya emang gak mau. Tapi karena sebentar lagi aku ulang tahun, jadi aku pingin punya pacar."
Kevin menahan tawanya, karena hanya gara-gara itu Calista ingin balikan lagi dengan Kevin.
"Ulang tahunnya hari Minggu, kan?" tanya Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.
"Mau kado apa?"
"Terserah."
Calista berpikir sejenak, sebenarnya ia menyesali perkataannya tadi. Karena ia takut jika Kevin menganggap bahwa Calista hanya memanfaatkannya hanya karena sebentar lagi ulang tahun.
"Eh! gak jadi balikan deh."
"Gak bisa kayak gitu! kita kan udah sepakat jadian."
"Ya udah deh terserah," ujar Calista, karena sepertinya Kevin menerima saja meskipun Calista memanfaatkannya.
Tanpa aba-aba, Kevin langsung memeluk Calista. "Makasih udah maafin aku. Mulai saat ini aku janji akan percaya sama kamu."
Cklek!
"Kenapa pada disini?" tanya guru yang biasanya suka jaga di UKS.
"Calista pusing, Bu. Makanya saya antar dia kesini," ujar Kevin.
"Udah sarapan belum Calista?" tanya guru itu.
"Udah kok, Bu."
Guru itu menyuruh Calista untuk beristirahat. Sedangkan untuk Kevin, guru itu menyuruhnya untuk kembali ke kelas.
...****************...
Bel istirahat berbunyi, Calista bergegas menuju kelas untuk mengambil dompetnya. Diperjalanan menuju kelas, ia bertemu dengan lelaki yang tak lain adalah orang yang dulu pernah Calista tolak.
"Untung aja waktu itu gue gak pacaran sama pelacur," ujar Andri disaat berpapasan dengan Calista.
"Maksud lo apa?" tanya Calista.
"Kenapa? lo tersindir?"
Calista buru-buru pergi karena ia ingin menangis sebab disebut sebagai pelacur oleh seseorang yang pernah ia tolak.
"Ayo ke kantin, kok malah mau masuk ke kelas," kata Erick.
"Gue mau ambil dompet dulu."
"Gak usah. Biar gue yang traktir lo," kata Erick.
Tak lama, Kevin, Rania dan Friska keluar dari kelas. Setelah itu, ketiganya segera pergi menuju kantin. Sebelumnya, Kevin sudah memberitahu kepada Rania, Friska dan Erick bahwa dirinya balikan lagi dengan Calista, maka dari itu ketiganya hanya bisa menahan tawa karena mereka juga tahu pasti bahwa Calista dan Kevin tidak akan bertengkar terlalu lama.
"Kenapa cemberut gitu?" tanya Kevin sambil menatap wajah Calista.
"Lagi kesal sama seseorang."
"Sama aku?"
Calista menggelengkan kepalanya, seraya mengatakan bahwa kekesalannya bukan karena Kevin.
"Guys, kita ke kantin duluan aja yuk! malas banget lihat orang yang bucin," ujar Friska, lalu Rania dan Erick juga menyetujui perkataan Friska. Kemudian ketiganya buru-buru pergi meninggalkan Calista dan Kevin.
"Ya udah ayo ke kantin," ajak Kevin. Lalu Kevin dan Calista buru-buru pergi menuju kantin.
Skip
Saat Calista sedang menikmati makanan, Kevin terus memperhatikannya dan itu membuat Calista sangat risih.
"Kenapa sih?" kesal Calista, sontak semuanya menoleh kearah Calista.
"Kenapa apanya, Ta?" bingung Rania.
"Itu Kevin lihatin gue mulu."
"Wajarlah lihatin lo. Kalau lihatin Erick, baru itu gak wajar," ujar Friska.
Calista menatap ke sekitar dan ia melihat Andri yang sedang tertawa sambil melihat kearah Calista. Dan Calista tahu bahwa Andri sedang menjelek-jelekkan Calista didepan teman-temannya.
Karena tak tahan lagi, Calista berjalan menghampirinya. "Untung aja dulu gue tolak, soalnya lo jelek dan gak punya akhlak," ujar Calista sambil berjalan perlahan agar Andri dan teman-teman Andri mendengar.
"Lah! kapan gue nembak lo, kepedean banget jadi cewek," ujar Andri sambil berdiri menghadap Calista.
Kevin datang menghampiri Calista karena sepertinya Calista mempunyai masalah dengan Andri.
"Kenapa, Ta?" tanya Kevin.
"Wah! ada pacarnya nih. Pasti lo juga pernah tidur bareng Calista, kan?" kata Andri.
"Jaga mulut lo!" murka Kevin, lalu ia memukul Andri.
Calista hanya diam sambil melihat Kevin yang memukuli Andri. Ia sengaja tidak memisahkannya karena jujur Calista senang jika Andri dipukul. Jahat memang, tetapi lebih jahat perkataan Andri yang terus menghina Calista.
Disaat Andri sudah tergeletak dengan lemah, Calista langsung menarik tangan Kevin karena Calista takut jika ada guru yang melihat.
"Makasih."
Kevin menoleh kearah Calista. "Makasih untuk apa?"
"Makasih karena udah pukul dia. Sejujurnya tadi aku juga ingin pukul dia karena aku benar-benar marah banget sebab dia udah menghina aku."
"Nanti kalau ada orang yang kayak gitu lagi, kamu tinggal lapor ke aku. Nanti biar aku kasih dia pelajaran."
...****************...
Semua anak-anak XII IPS 1 menunggu di parkiran dikarenakan mereka akan bersiap-siap untuk pergi menuju rumah Erick. Ya, semuanya sepakat untuk memasak di rumah Erick karena beberapa orang penasaran dengan rumah dari anak pemilik sekolah.
"Ta, ayo naik!" ajak Kevin.
"Kamu bawa motor?"
"Iya. Kamu takut kepanasan ya?"
"Bukan. Cuma masalahnya aku kan pakai rok."
Kevin meminjam jaket Erick, lalu Kevin mengikatkan jaket itu pada pinggang Calista.
"Ya udah ayo naik." Kevin segera naik ke motornya begitupun dengan Calista.
"Lihat tuh!" tunjuk Kevin pada dua orang yang sedang boncengan.
"Kenapa?"
"Romantis banget, beda sama kita. Bahkan aku belum pernah dipanggil sayang sama kamu."
Calista tidak menghiraukan perkataan Kevin dan ia malah menyuruh Kevin untuk cepat-cepat melajukan motornya dikarenakan beberapa temannya sudah ada yang berangkat.
"Panggil sayang dulu, habis itu baru kita berangkat."
"Aku pergi naik ojek online aja deh."
Ketika Calista berniat untuk turun, Kevin dengan cepat melajukan motornya sehingga membuat Calista memeluk tubuh Kevin.
"Ngeselin banget sih!"
"Maaf sayang."
Calista salah tingkah karena ini baru pertama kalinya Kevin memanggil Calista dengan sebutan itu.
"Ta, kita mau langsung ke rumah Erick atau mau pergi beli bahan makanan dulu?"
"Kalau Erick, Rania sama Friska kemana?"
"Kalau Erick beli bahan makanan. Sedangkan Rania sama Friska langsung ke rumah Erick."
"Ya udah kita langsung ke rumah Erick aja deh."