
Malam Minggu ini terasa sangat menyedihkan. Karena biasanya Calista sering malam Mingguan dengan Reyhan, tetapi karena sekarang Calista sudah putus dengannya, jadi malam ini ia tidak pergi kemanapun.
Karena bosan hanya di kamar saja, akhirnya ia memutuskan untuk menemui Papah dan Mamah.
"Kamu kok tumben gak main sama sahabat kamu," ujar Papah.
Ya, dari dulu Calista selalu mengatakan bahwa dirinya pergi bersama sahabat-sahabatnya, padahal sebenarnya Calista sering malam Mingguan bersama Reyhan.
"Pah, Mah. Kita malam Mingguan bertiga yuk."
"Kamu pergi sama sahabat kamu aja sana! soalnya Papah malas keluar rumah," ujar Papah.
Trining! Trining!
Terdengar suara dering telepon dari kamar Calista. Lalu, ia buru-buru pergi ke kamar karena siapa tahu sahabatnya mengajak pergi keluar.
Ketika sampai di kamar, Calista buru-buru menjawab panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Ka."
"Ta, jadi ke klub gak?"
"Lo mau kesana?"
"Lo gimana sih! kan waktu itu lo yang ngajak."
Calista memang mengajak Friska ke klub. Namun pada waktu itu, Calista sudah berkata kepada Kevin bahwa Calista tidak akan jadi kesana. Jadi mungkin Friska dan Erick tidak tahu soal itu, karena Calista hanya berbicara kepada Kevin saja.
"Jadi gak? gue udah mau siap-siap nih."
"Jadi kok. Ini gue juga mau siap-siap." Setelah berkata seperti itu, Calista langsung mematikan teleponnya.
Calista buru-buru menelpon Kevin untuk memberitahu bahwa ia ingin pergi ke klub.
Tak butuh waktu lama, Kevin langsung menjawab panggilan telepon dari Calista.
"Ada apa, Ta?"
"Vin, ayo ke club."
"Katanya gak jadi."
"Jadi kok. Jadi lo sekarang jemput gue ya."
Kevin mengiyakan ucapan Calista, karena ia tidak bisa menolak keinginan perempuan yang ia sukai.
Karena Calista belum bersiap-siap, akhirnya ia mematikan teleponnya.
Skip
Selesai bersiap-siap, Calista segera menghampiri orang tuanya.
"Pah, Mah. Calista mau pergi boleh gak?"
"Pergi sama siapa?" tanya Papah.
"Sama sahabat Calista dong, Pah."
"Pasti sama Kevin ya?" tebak Mamah.
Calista mengiyakannya dan juga menambahkan bahwa dirinya juga pergi dengan Friska dan Erick.
"Pulangnya jangan malam-malam ya."
"Calista mau nginep di rumah Friska, Pah."
"Jangan!" tegas Papah.
Calista mendekati Mamahnya. "Mah, tolong bantuin," bisik Calista.
Mamah hanya tersenyum, ternyata Calista itu orangnya sangat lucu.
"Pah, gak apa-apa kali. Lagipula Calista udah besar, lagipula Calista kan menginap di rumah Friska, bukan di rumah Kevin ataupun Erick," ujar Mamah.
"Ya udah, tapi cuma kali ini doang."
Calista tersenyum. "Iya, cuma kali ini doang kok."
Kemudian, Calista pamit kepada orang tuanya.
****
Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya Kevin datang. Dengan cepat, Calista masuk kedalam mobilnya. Ia sedikit terkejut karena ternyata didalam mobil ada Erick.
"Pantas aja lama, ternyata lo bawa anjing."
"Kurang ajar lo! masa ganteng gini dibilang anjing," ujar Erick.
"Dia bukan anjing, tapi monyet," ujar Kevin sambil melajukan mobilnya.
"Gue menyesal ikut sama kalian, dibully mulu," ujar Erick.
Mereka memang terbiasa menghina satu sama lain. Maka dari itu, tidak akan ada yang sakit hati jikalau mereka dihina.
"Ta, lo mau ke klub atau mau belanja ke warung?" tanya Erick saat melihat pakaian yang dikenakan Calista.
"Nanti gue ganti baju kok."
"Ya udah ganti baju sekarang," suruh Erick.
Kevin tertawa mendengar percakapan antara Calista dan Kevin.
"Kenapa ketawa? oh pasti lo membayangkan gue ganti baju disini, kan?" tuduh Calista.
"Enggak kok," kata Kevin.
"Awas aja ya kalau lo membayangkan gue yang aneh-aneh."
"Ya ampun, Ta. Lo fitnah mulu jadi orang," kata Kevin.
Bukannya Calista memfitnah, tapi kebanyakan lelaki memang selalu membayangkan hal-hal yang jorok.
Daripada terus berdebat, Calista memutuskan untuk berdandan. Karena siapa tahu disana ia bertemu dengan seseorang yang sesuai dengan tipe idealnya.
"Ta, lo kesan pasti mau cari cowok ya?" tebak Erick, lalu Calista hanya mengangguk.
"Ngapain cari cowok disana, padahal disini juga ada," sindir Kevin.
Calista menoleh kearah Kevin. "Gue gak mau sama lo."
"Gak mau, tapi tadi di sekolah merayu gue," heran Kevin.
Calista menatap tajam kearah Kevin, karena sudah berkali-kali Calista menjelaskan bahwa dirinya hanya bercanda. Tetapi Kevin malah menganggap dengan serius.
Tiba-tiba tercium bau asap rokok dari arah belakang. Dan pada saat menengok kebelakang, Calista melihat Erick yang sedang merokok.
"Jangan merokok didalam mobil!"
"Ya terserah gue dong, lagipula Kevin gak marah," kata Erick.
"Vin, cepat marahin!" perintah Calista kepada Kevin.
"Udah biarkan aja," kata Kevin.
Calista cemberut, baru kali ini Kevin tidak membela dirinya.
"Tumben lo gak membela Calista," kata Erick.
"Ngapain juga membela dia, lagipula dia bukan pacar gue," kata Kevin.
Calista langsung terdiam setelah mendengar perkataan Kevin. Ya, Calista memang bukan pacar Kevin. Tetapi karena Kevin baru kali ini tidak membelanya, itu membuat Calista sedikit kecewa.
"Kayaknya ada yang sedih gara-gara gak dibela lagi," sindir Erick.
"Apaan sih lo!"
"Oh iya, Vin. Disana banyak cewek-cewek seumuran kita gak?" tanya Erick.
"Kalau seumuran kita ada sih kayaknya, tapi gak terlalu banyak."
Mendengar ucapan Erick, membuat Calista yakin bahwa Erick juga akan mencari perempuan disana.
Trining! Trining!
Calista melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Karena ia menduga bahwa itu dari Reyhan, akhirnya ia tidak menjawab panggilan teleponnya.
"Siapa?" tanya Kevin.
"Bukan urusan lo."
Kevin hanya tertawa, karena ia tahu bahwa Calista masih marah sebab Kevin tadi tidak membelanya.
"Vin, daripada lo harus mengejar Calista yang sikapnya kasar kayak gitu, lebih baik lo cari cewek lain aja," saran Erick.
"Iya bener kata Erick, lebih baik lo cari cewek lain aja."
"Ya udah kalau itu mau lo," kata Kevin.
Skip
Sesampainya di rumah Friska, Calista langsung turun karena ia ingin berganti pakaian. Maka dari itu, Friska mengantar Calista menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
Setelah ganti pakaian, Calista berjalan menghampiri Friska yang sedang duduk di sofa.
"Ka, mamah lo ada gak?"
"Gak ada, dia lagi pergi ke luar kota."
"Ya udah nanti gue nginep disini ya."
"Iya."
Tanpa berlama-lama, Calista dan Friska kembali menghampiri Kevin dan Erick yang menunggu di mobil.
Pada saat Calista dan Friska masuk, pandangan Kevin dan Erick fokus pada Calista yang memakai mini dress.
"Kenapa lihatin gue kayak gitu?"
"Lo ngapain pakai pakaian terlalu pendek kayak gitu?" tanya Kevin.
"Ya terserah gue dong."
Kevin membuka jaketnya dan ia meletakkan jaketnya di paha Calista.
"Ngapain?" bingung Calista karena Kevin meletakkan jaketnya diatas paha Calista.
"Biar gue fokus menyetirnya," ujar Kevin. Karena jika dibiarkan terlihat, nantinya Kevin akan terus salah fokus.