Fearless

Fearless
Bab 6



Kini Calista dan Kevin sedang menikmati makanan dan minuman di restoran milik orang tua Kevin. Keluarga Kevin memang sangat kaya raya. Selain mempunyai restoran, keluarganya juga mempunyai sebuah klub malam.


Sebenarnya orang tua Calista juga kaya raya, akan tetapi orang tua Kevin lebih kaya.


"Oh iya, kapan-kapan kita ke club punya orang tua lo yuk."


"Ke club? lo mau minum alkohol?"


Calista tersenyum sambil mengangguk.


"Gak boleh, Ta! lo itu masih sekolah." ujar Kevin.


"Gue kan udah umur 17 tahun dan udah punya KTP."


"Tetap aja gak boleh."


Calista mengerucutkan bibirnya karena ia merasa kecewa karena tidak diperbolehkan pergi ke club.


"Kalau kesana cuma diam doang boleh gak?"


"Kalau itu boleh."


"Ya udah nanti malam Minggu kesana yuk! sekalian ajak yang lainnya juga."


"Ya udah ayo deh."


Senyuman merekah terukir diwajah Calista saat Kevin memperbolehkan dirinya pergi ke club milik orang tua Kevin.


Trining! Trining!


Ponsel Calista berbunyi, lalu ia buru-buru menjawab teleponnya, karena panggilan telepon tersebut dari Reyhan.


"Hallo, sayang."


"Kamu dimana sekarang?"


"Aku di restoran. Emangnya kenapa?"


"Restoran mana?" tanya Reyhan, lalu Calista memberitahu nama restorannya.


Sesudah Calista memberitahu Reyhan, katanya Reyhan akan datang kesini untuk menemui Calista. Setelah itu, Reyhan langsung mematikan teleponnya.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Reyhan mau kesini katanya."


"Mau ngapain kesini?"


"Ya mau ketemu gue lah."


10 menit kemudian, Reyhan datang menghampiri Calista dan Kevin.


"Hai, Vin," sapa Reyhan, lalu dia duduk disebelah Calista.


"Ya udah gue pulang dulu ya. Oh iya, makanan sama minumannya gak usah dibayar," kata Kevin.


"Makasih ya, Vin."


"Iya sama-sama." Setelah itu, Kevin segera pergi.


Tak lama setelah Kevin pergi, Calista dan Reyhan juga ikut pergi karena katanya Reyhan ingin mengajak Calista jalan-jalan.


...****************...


Bukannya jalan-jalan, Reyhan justru membawa Calista ke rumahnya.


"Katanya mau jalan-jalan, tapi kok malah ajak aku ke rumah kamu."


"Setelah aku pikir-pikir, lebih baik kita menghabiskan waktu di rumah aku aja."


Kemudian, Reyhan mengajak Calista untuk masuk kedalam rumahnya.


Rumah Reyhan sangat sepi dan Calista yakin bahwa orang tua Reyhan sedang tidak ada di rumah.


"Kita mau ngapain?"


"Nonton film."


Reyhan mengajak Calista untuk masuk kedalam kamar.


Saat memasuki kamar, Calista sangat gugup dikarenakan disini hanya ada mereka berdua.


Reyhan mengambil laptopnya, lalu ia naik ke tempat tidur. "Sini duduk!"


"Rey, kita nonton di ruang tengah aja yuk!"


"Gak mau! aku pingin disini."


Dengan terpaksa, Calista duduk disebelah Reyhan. Setelah itu, keduanya menonton film.


Dipertengahan film, Calista mulai merasa tidak nyaman dikarenakan film itu sangat vulgar, yang mana pemeran utama wanita tersebut hanya menggunakan bikini.


Tiba-tiba, tangan Reyhan menyentuh dan mengelus paha Calista dan otomatis Calista menghempaskan tangan Reyhan karena ia sangat tidak nyaman.


"Rey, aku mau pulang."


"Aku lupa kalau hari ini aku punya janji sama Papah."


Reyhan menjadi bete saat Calista berkata bahwa dia ingin pulang ke rumah.


"Ya udah ayo," ujar Reyhan dengan nada kesal. Akhirnya Reyhan mengantarkan Calista pulang.


Skip


Sepanjang perjalanan, Calista terus memperhatikan wajah Reyhan yang terlihat kesal.


"Kamu marah ya sama aku?"


Reyhan sama sekali tidak menjawab perkataan Calista. Dia hanya fokus menyetir mobilnya.


Karena Reyhan sering mengabaikan Calista disaat dia sedang marah. Jadi, Calista lebih memilih untuk tidak berbicara dengannya. Sebab, Calista tahu bahwa nantinya Reyhan akan bersikap seperti biasa lagi.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai. Lalu, Calista langsung turun dari mobil Reyhan.


"Hati-hati di jalan ya," ujar Calista, namun Reyhan masih tidak menghiraukan Calista dan dia langsung melajukan mobilnya.


Calista menghela nafasnya. Ia semakin bingung dengan sikap Reyhan. Semakin hari sikapnya semakin berubah.


Dulu dia jarang sekali marah kepada Calista. Namun sekarang dia justru selalu marah hanya karena masalah sepele.


...****************...


Malam hari.


Tok! Tok!


Pintu kamar diketuk oleh seseorang. Tetapi Calista justru tidak menghiraukan suara ketukan itu, karena ia tahu bahwa yang mengetuk pintu itu adalah papahnya.


"Calista, buka pintunya!" teriak Papah yang berada diluar kamar.


"Ada apa?" teriak Calista.


"Papah mau bicara sesuatu sama kamu."


Calista berjalan kearah pintu, lalu ia segera membuka pintu kamarnya. Karena jika tidak, Papahnya akan semakin marah.


"Ada apa?" tanya Calista tanpa menatap wajah Papahnya.


"Maafkan Papah ya atas kejadian kemarin."


Calista kini menatap Papahnya. "Iya, Calista udah maafkan Papah kok."


Papah menjelaskan bahwa ternyata orang yang mencuri uangnya adalah pak Budi.


"Papah tahu darimana kalau pak Budi yang mencuri uang Papah?"


"Soalnya tadi pagi, Pak Budi pergi tanpa berpamitan langsung sama Papah dan dia hanya mengirim pesan bahwa katanya dia mau pergi ke kampung halamannya. Jadi Papah merasa kalau dia yang sudah mencuri uang Papah."


Calista terdiam, ia merasa bersalah karena telah menuduh mamah tirinya sebagai pencuri.


"Oh iya, sekarang kamu ikut Papah sama Mamah yuk!" ajak Papah.


"Mau kemana?"


"Ke restoran."


"Ya udah kalau gitu Calista siap-siap dulu." Calista menutup pintunya dan ia segera berganti pakaiannya.


Skip


Calista tidak menyangka kalau Papahnya mengajaknya makan malam di restoran milik orang tuanya Kevin.


Sambil menunggu hidangan makan malam, Calista memutuskan untuk memainkan ponselnya.


Ia mengirim foto dirinya kepada Kevin, karena untuk memberitahu Kevin bahwa sekarang Calista berada di restoran milik orang tua Kevin.


Tak butuh waktu lama, Kevin melihat foto yang dikirim Calista. Lalu, Kevin hanya membalasnya dengan stiker.


"Ini restoran milik orang tua teman kamu, kan?" tanya Papah memastikan, sebab waktu dulu Calista pernah menceritakannya kepada Papahnya.


"Kevin bukan temanku, Pah. Tapi dia itu sahabatku."


"Kamu sahabatan sama dia? tapi kok kamu gak pernah ajak dia ke rumah," heran Papah.


"Soalnya aku takut kalau Papah gak mengijinkan lelaki untuk main ke rumah."


Papah berkata bahwa dia tidak keberatan jika Calista mengajak sahabat-sahabatnya untuk main ke rumah. Tetapi jika Calista mengajak lelaki saat orang tuanya tidak berada di rumah, jelas saja Papah akan memarahi Calista.


"Jadi besok aku boleh ajak sahabat-sahabat aku main?"


"Boleh. Soalnya di rumah kan ada Mamah. Jadi nanti Mamah bisa mengawasi kamu dan sahabat-sahabat kamu."


"Kenapa aku dan sahabat-sahabat aku harus diawasi?"


"Soalnya Papah gak mau jika nanti terjadi hal yang enggak-enggak."


Calista mengerti maksud Papahnya. Ia merasa bahwa Papahnya khawatir jika sahabat-sahabat Calista mencuri. Sebab, Papah Calista pasti trauma gara-gara uangnya dicuri oleh supir yang telah dianggapnya seperti saudara sendiri.