Fearless

Fearless
Episode 42



3 hari kemudian...


Calista menghela nafasnya saat melihat pesan dari papahnya. Papahnya bilang katanya dia dan Mamah belum bisa pulang dikarenakan keduanya akan berlibur disana. Papah juga berkata bahwa alasan papah mengajak mamah liburan disana karena papah ingin menghibur mamah agar tidak sedih lagi.


Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang Calista sangat menyesal karena tak ikut dengan orang tuanya. Andai saja waktu itu Calista ikut dengan mereka, mungkin sekarang ia akan bersenang-senang.


Tetapi ada untungnya juga Calista tidak ikut, karena jika ikut pastinya Calista tidak akan menghadiri acara ulang tahun Rania.


Tingtong! Tingtong!


Calista bergegas pergi keluar untuk menemui Kevin. Calista bisa mengetahui bahwa itu Kevin karena sebelumnya Kevin mengirim pesan kepada Calista dan berkata bahwa dia ingin datang ke rumah Calista.


Tiba diluar, Calista langsung menyuruh Kevin untuk masuk kedalam rumah.


"Ta, aku bawa sesuatu buat kamu," kata Kevin.


"Apa?"


Kevin memberikan sebuah kotak berwarna hijau tosca kepada Calista. Dan tentu saja Calista menerima kotak tersebut yang mana isinya adalah sebuah kalung yang sangat ia inginkan dari lama.


"Makasih ya," ujar Calista sambil memakai kalung pemberian Kevin.


"Iya sama-sama." Kevin tersenyum karena sepertinya Calista sangat menyukai kalung tersebut.


"Kamu kok tahu kalau aku ingin kalung ini," heran Calista.


"Kamu waktu itu kan bilang sendiri sama aku, kalau kamu suka banget kalung itu," ujar Kevin.


Calista memang pernah berkata seperti itu kepada Kevin dan yang lainnya. Tetapi maksud Calista mengatakan bahwa ia menyukai kalung itu supaya sahabat-sahabatnya peka dan memberikan kalung itu sebagai kado ulang tahun untuk Calista.


"Vin, ini beneran buat aku?" tanya Calista memastikan, karena ia merasa tidak enak sebab harga kalung tersebut lumayan mahal.


"Iya, itu buat kamu."


Calista spontan memeluk Kevin. "Sekali lagi makasih ya."


Tubuh Kevin mematung saat dipeluk oleh Calista, lantaran baru kali ini Calista memeluknya. Mulai hari ini, Kevin jadi berpikir untuk terus memberikan hadiah-hadiah kecil agar Calista lebih sering memeluknya.


Beberapa detik kemudian, Calista sadar bahwa seharusnya ia tidak bersikap seperti ini. "Maaf, soalnya aku senang banget. Makanya jadi reflek peluk kamu," ujar Calista sambil melepaskan pelukannya.


"Gak apa-apa kok, lagian aku senang dipeluk kamu."


Calista mengalihkan pandangannya, jujur ia sangat salah tingkah apalagi ia mengingat bahwa tadi dirinya memeluk Kevin.


"Ta, kayaknya kamu udah mulai cinta ya sama aku?" tanya Kevin.


"Jangan kepedean! aku kan udah bilang kalau aku cuma suka, bukan cinta."


"Iya sih, soalnya pasti kamu cintanya sama Reyhan, kan?"


"Vin, please jangan bahas Reyhan terus. Aku bosan dengar kamu yang terus membanding-bandingkan diri kamu sama Reyhan."


Kevin langsung terdiam disaat Calista berkata seperti itu. Jujur saja Kevin juga merasa khawatir jika sebenarnya Calista ingin berpacaran dengannya hanya untuk pelampiasan supaya Calista bisa melupakan Reyhan.


"Maaf. Mulai sekarang aku gak akan bahas mantan kamu lagi," ujar Kevin.


Calista pergi menuju dapur untuk mengambil minuman dan camilan untuk dirinya dan Kevin, sekalian ia ingin menenangkan diri sejenak karena perkara tadi.


Kalau dipikir-pikir, semenjak berpacaran dengan Kevin, Calista jadi tidak berpikiran tentang Reyhan lagi. Biasanya setiap malam, pasti ada saja terlintas momen antara Calista dan Reyhan, tapi akhir-akhir momen itu tidak terlintas dipikiran Calista.


"Ta, kamu marah ya?" tanya Kevin sambil menghampiri Calista yang berada di dapur.


"Enggak kok."


Calista mengambil dua minuman kemasan. "Kamu mau yang mana?"


Kevin mengambil jus kemasan, lalu ia meminumnya karena ia sangat kehausan.


"Mau berangkatnya kapan?"


"Sekarang aja. Tapi tunggu dulu ya, soalnya aku mau siap-siap dulu," ujar Calista sambil berlari menuju kamarnya.


Skip


Sudah 15 menit Kevin fokus menatap Calista yang sedang berdandan. Bukannya mengejek, tapi rasa-rasanya muka Calista tetap sama meskipun berdandan. Entah karena Calista yang tak pandai berdandan ataupun Calista memang ingin terlihat natural.


"Bagus gak?"


"Bagus," jawab Kevin, karena tidak mungkin juga dia menyebut bahwa dandanan Calista sama saja, nanti yang ada Calista akan marah kepada Kevin.


Calista menatap datar saat melihat reaksi Kevin yang biasa saja. "Bohong ya?"


"Beneran bagus kok."


Setelah selesai berdandan, akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi menuju rumah Rania.


...****************...


Selama diperjalanan, Calista merasa gugup dikarenakan ia takut jika nanti sahabat-sahabatnya akan kembali membahas tentang masalah Calista dan Rania. Karena jika sampai mereka membicarakan hal itu, pastinya suasananya akan canggung.


Sekitar 30 menit, akhirnya keduanya telah sampai di rumah Rania. Dengan demikian, keduanya segera masuk kedalam rumah karena sahabat-sahabatnya telah menunggunya.


Sebenarnya jika Kevin langsung berangkat ke rumah Rania mungkin akan lebih cepat, dikarenakan rumahnya tidak terlalu jauh. Tetapi karena Kevin harus menjemput Calista, jadinya keduanya datang lebih akhir.


"Rania!" teriak Kevin yang berada didepan pintu rumah yang terbuka.


Tak lama, Rania datang menghampiri Kevin dan Calista. Kemudian, Kevin dan Calista segera memberikan kado untuk Rania, lalu Rania berterima kasih kepada keduanya.


"Ya udah ayo masuk, yang lain udah pada nunggu," kata Rania.


Akhirnya mereka segera masuk kedalam untuk menemui yang lainnya juga.


"Akhirnya kalian datang juga," kata Friska saat melihat Kevin dan Calista.


"Guys, gue ambil makanan sama minuman dulu ya di dapur," ujar Rania.


"Gue bantu ya," ucap Erick, lalu Rania hanya mengangguk.


Calista merasa malu, karena Friska dan Erick membantu mempersiapkan acaranya, sedangkan Calista hanya diam saja.


"Kursinya disini aja kali ya?" gumam Friska sambil menata kursi khusus untuk Rania.


"Ini yang buat hiasannya siapa?" tanya Kevin.


"Rania sama Erick kali. Soalnya saat gue datang, hiasannya udah terpajang," jelas Friska.


"Aku ke toilet dulu ya," bisik Calista, lalu Kevin hanya mengangguk.


Calista berjalan menuju dapur untuk meminta ijin kepada Rania. Sebenarnya jika keduanya tidak ada masalah, mungkin Calista akan langsung saja pergi ke toilet. Namun karena sekarang keduanya sangat canggung, jadi lebih baik Calista meminta ijin terlebih dahulu.


Ketika sampai di dapur, Calista terkejut saat melihat Rania dan Erick yang sedang berciuman. Ia mengucek matanya untuk memastikan apakah ini sungguhan atau tidak dan ternyata yang ia lihat memanglah sungguhan.


Calista berjalan perlahan menuju ruang tengah karena jika ia masih berada di dapur mungkin akan ketahuan oleh Rania dan Erick, bahkan sepertinya mereka akan canggung sebab Calista melihat kejadian yang baru saja terjadi.


"Kok balik lagi? bukannya tadi mau ke toilet?" heran Kevin.


Calista tidak menjawab perkataan Kevin karena ia masih syok melihat kejadian tadi. Yang membuat Calista bertanya-tanya, apakah mereka juga menutupi hubungan mereka sama seperti Calista dan Kevin?


Tak lama, Rania dan Erick kembali ke ruang tengah dan keduanya meletakkan semua makanan dan minuman di meja.


Bisa dilihat oleh Calista bahwa Rania dan Erick terlihat sangat canggung. Bahkan Rania sepertinya tidak ingin menatap kearah Erick. Berbeda dengan Erick, dia malah mencuri-curi pandang kearah Rania.


"Ya udah ayo kita mulai acaranya," ujar Friska.


"Erick, orang yang buat akun itu udah ketemu belum?" tanya Friska tiba-tiba.


"Kenapa lo tanya gue?" heran Erick.


"Lo kan anak pemilik sekolah, jadi pastinya lo tahu," kata Friska.


"Gue gak tahu," kata Erick.


Calista juga bingung, karena selain jadi anak pemilik sekolah dan juga murid di SMA Nusa Indah seharusnya Erick menanyakan tentang hal itu kepada papahnya. Tetapi dia seakan-akan enggan untuk mengetahui kabar terkait penyelesaian dalam kasus tersebut.


"Ran, lo kenapa?" tanya Kevin karena ia bingung dengan sikap Rania yang tiba-tiba menjadi pendiam.


"Gak apa-apa kok," ujar Rania sambil melirik sekilas kearah Erick.


Tebakan Calista sepertinya benar, Rania dan Erick sepertinya sedang menjalin suatu hubungan. Keduanya seakan-akan canggung setelah kejadian tadi.


"Guys, gue mau ambil handphone gue dulu ya," ujar Rania sambil pergi menuju kamarnya.


Calista memandang kearah Erick yang mana Erick memandang kearah Rania yang pergi menuju kamarnya.


"Erick!" panggil Calista dan otomatis Erick menoleh kearah Calista.


"Kenapa?" tanya Erick.


"Lo suka ya sama Rania?" tuduh Calista.


Kevin dan Friska yang tadinya sedang menikmati makanan, kini keduanya spontan menoleh kearah Calista.


Tentunya Kevin heran mengapa Calista tiba-tiba berbicara seperti itu, padahal dari gerak-gerik Erick tidak menunjukkan bahwa dia menyukai Rania.


"Lo ngomong apa sih, Ta?" ujar Erick dan diakhiri tawa.


"Kok lo bisa nuduh Erick suka sama Rania?" heran Friska.


Calista berpikir sejenak. "Soalnya gue lihat Erick curi-curi pandang terus ke Rania."


"Lo kali yang suka sama gue. Buktinya lo ngaku sendiri bahwa lo dari tadi lihat kearah gue," kata Erick.


Friska menutup mulut sambil melirik kearah Calista dan Erick secara bergantian. Ia sangat terkejut dengan fakta yang baru saja terungkap. Padahal yang ia tahu bahwa Kevin sangat menyukai Calista, tapi Calista sendiri malah menyukai Erick.


"Lo suka sama Erick, Ta?" tanya Kevin dengan tatapan mengintimidasi.


"Enggak kok."


Menyesal, itulah yang saat ini Calista rasakan. Seharusnya ia tidak membicarakan tentang itu dan sekarang pasti Friska dan Erick akan mengira bahwa Calista menyukai Erick.


...****************...


Semenjak kejadian tadi, Calista dan Kevin tidak berbicara satu sama lain. Bahkan saat ini Kevin menyalakan musik sambil fokus menyetir.


"Vin, aku gak suka sama Erick."


"Aku gak nanya."


Ucapan Kevin seakan-akan membuat Calista malu. Karena memang benar bahwa Kevin sama sekali tidak bertanya tentang kejadian tadi.


"Aku mau kasih tahu kamu sesuatu yang penting."


Kevin tidak menghiraukan perkataan Calista, ia malah bernyanyi mengikuti alunan lagu.


Calista menghela nafasnya karena ia cukup kesal dengan respon Kevin. "Tadi aku lihat Erick sama Rania lagi ciuman."


Kevin mengerem mobilnya secara mendadak dan itu membuat Calista sangat terkejut.


"Serius?" tanya Kevin sambil menatap kearah Calista.


"Iya, makanya tadi aku tanya ke Erick. Tapi Erick malah nuduh kalau aku suka sama dia."


Kevin mengambil ponselnya dan melihat pesannya bersama Erick. Dan ia baru ingat bahwa semalam Erick mengirimkan foto seorang perempuan kepada Kevin. Selain itu, Erick juga mengatakan bahwa dia menyukai orang itu.


"Ada apa sih?" tanya Calista penasaran karena Kevin malah memainkan ponselnya disaat Calista sedang bercerita kepadanya.


"Gak ada apa-apa kok." Kevin kembali menyimpan ponselnya.


Calista menatap sinis kearah Kevin, ia paling tidak suka jika orang yang ia ajak bicara malah fokus ke hal lain.


"Ta, kayaknya kamu salah lihat deh,"


"Terserah deh kalau kamu gak percaya."


Kevin menunjukkan pesannya bersama Erick. "Lihat deh! semalam baru aja Erick kasih tahu aku bahwa dia suka sama orang ini, masa iya dia tiba-tiba jadian sama Rania."


Calista mengambil ponsel Kevin sambil melihat-lihat pesan tersebut. Karena dipesan itu Erick berkata baru berkenalan dengan perempuan itu, pastinya keduanya belum berpacaran. Tetapi jika begitu, untuk apa Erick mendekati Rania juga?


Apakah sebenarnya Erick sudah berpacaran dengan Rania, tetapi dia ingin berselingkuh dengan perempuan itu?


Atau apakah Erick merupakan seorang playboy yang mendekati beberapa perempuan?


"Oh iya! karena besok libur, gimana kalau malam ini kita jalan-jalan sampai larut malam? lagipula kan orang tua kamu juga gak ada di rumah," kata Kevin.


"Tapi kalau Bayu mengadu ke orang tua aku gimana?"


"Tenang aja, dia gak akan bilang ke orang tua kamu kok."


Karena ini merupakan kesempatan Calista untuk bermain sepuasnya, jadi ia mengiyakan ajakan Kevin.


Trining! Trining!


Calista mengambil ponsel Kevin karena ia penasaran dengan siapa orang yang menelponnya malam-malam.


"Kenapa diambil handphone aku?" bingung Kevin.


"Oh papah kamu, aku kira cewek itu."


"Cewek siapa sih?"


"Dara."


Kevin hanya tertawa kecil saat Calista menyebut nama perempuan yang waktu itu.


"Yah! gimana dong?" khawatir Calista karena ia takut papah Kevin akan marah karena panggilannya belum dijawab.


"Ta, kita ke rumah aku dulu ya. Soalnya kunci rumah ada di aku."


Calista sangat khawatir jika nantinya papah Kevin akan memukul Kevin lagi. "Ya udah cepat bawa mobilnya, soalnya takut papah kamu marah."


Skip


Sesampainya di rumah Kevin, Calista buru-buru turun mengikuti Kevin dari belakang. Karena jika Calista tidka mengikutinya, ia takut nantinya Kevin akan dimarahi. Sebab jika ada Calista, papah Kevin pasti akan malu jika memarahi Kevin didepan Calista.


Saat menghampiri papah Kevin, entah kenapa Calista merasa takut sampai-sampai tangannya spontan memegang tangan Kevin.


"Pah, ini kuncinya." Kevin memberikan kunci rumah kepada papahnya.


"Habis dari mana?" tanya papah Kevin.


"Habis dari acara ulang tahun Rania."


Papah Kevin masuk begitu saja kedalam rumah. Tadinya Calista berniat untuk menyapanya, namun karena ia takut, akhirnya ia memutuskan untuk tidak menyapa papahnya Kevin.


Ngomong-ngomong soal papahnya Kevin, jujur Calista jarang bertemu dengannya jika sedang main ke rumah Kevin, karena memang papah Kevin super sibuk. Maka dari itu papah Kevin pastinya tidak mengenal Calista ataupun sahabat-sahabat Kevin yang lain kecuali Erick. Mungkin papah Kevin akan mengenal Erick, karena Erick beberapa kali pernah menginap di rumah Kevin.