
Besoknya, Calista bersiap-siap karena ia akan pergi ke rumah Andini bersama Friska dan Kevin. Tadinya memang Calista akan berangkat berdua dengan Kevin, tapi karena Friska juga terlibat dalam aksi pembully-an, maka Calista mengajaknya untuk pergi. Friska juga mengetahui rumah Andini sebab saudaranya yang bernama Desi pernah sekelas dengan Andini, maka dari itu Calista mengajaknya.
Mungkin ini sangat telat, namun Calista benar-benar ingin meminta maaf kepada Andini. Dan mungkin sekarang Calista ingin merubah sikapnya agar tidak semena-mena terhadap orang lain.
10 menit kemudian...
Kevin mengirim pesan kepada Calista bahwa dia telah sampai. Dengan demikian, Calista buru-buru pergi keluar untuk menghampiri Kevin.
Saat keluar, Calista melihat Kevin bersama dengan Rania dan itu membuat Calista terheran mengapa Rania bersama Kevin.
"Ta, Rania katanya mau ikut ke rumah Andini. Makanya aku ajak dia juga," jelas Kevin.
"Oh gitu."
"Ta, lo gak marah kan kalau gue ikut?" tanya Rania memastikan.
"Gak kok."
Karena tak ingin berlama-lama, akhirnya Calista, Kevin dan Rania segera pergi ke rumah Friska dengan mengendarai mobil Kevin.
Entah kenapa rasanya Calista takut sekaligus cemburu. Calista takut jika Rania akan merebut pacarnya lagi. Namun karena sekarang sepertinya Rania benar-benar menyesal, jadi Calista akan berusaha mempercayainya.
"Ta, semalam gue udah buka kado dari lo. Gue suka banget sama dress nya," ujar Rania agar suasana didalam mobil tidak canggung.
"Syukur deh kalau lo suka."
"Kado dari gue suka gak?" tanya Kevin.
"Suka kok, bagus banget kalungnya," kata Rania.
Calista menatap kalung yang ia sedang pakai, ia pikir hanya dirinya yang mendapatkan kalung dari Kevin, tapi kenyataannya Kevin juga memberikan kalung kepada Rania.
"Oh iya! Erick gak diajak?" tanya Rania.
"Enggak. Soalnya gue lagi musuhan sama dia," jelas Kevin.
"Musuhan karena apa?" tanya Rania.
"Ada deh pokoknya," kata Kevin.
Calista hanya diam sambil mendengarkan pembicaraan antara Kevin dan Rania. Ia tidak ingin banyak bicara sekarang, sebab ia sangat cemburu melihat Kevin dan Rania yang sedang mengobrol seolah-olah hanya ada mereka berdua disini.
Kevin melirik sekilas kearah Calista. "Ta, tumben kamu diam aja. Kamu baik-baik aja, kan?"
"Aku baik-baik aja kok."
"Cie... perhatian banget," sahut Rania.
"Jelas dong, gue kan pacarnya," kata Kevin.
Mendengar perkataan Kevin membuat Calista sedikit tenang karena Kevin dengan bangganya mengatakan bahwa dia adalah pacar Calista. Dengan begitu, rasa kepercayaan Calista kepadanya sedikit bertambah karena Calista berpikir kalau firasat yang tadi hanyalah ketakutan Calista saja.
Mulai sekarang, Calista akan mempercayainya karena sepertinya Kevin berbeda dengan mantan pacar Calista.
"Ran, sekarang lo punya pacar gak?" tanya Calista karena ia ingin memastikan apakah Rania memang ada hubungan atau tidak dengan Erick.
"Gak punya, Ta. Emang kenapa?" tanya Rania.
"Gak apa-apa sih, gue cuma tanya doang."
Rania berpikir bahwa Calista sepertinya sangat ketakutan jika pacarnya direbut lagi oleh Calista, makanya Calista bertanya seperti itu.
"Ta, lo pasti mengira bahwa gue akan merebut pacar lo lagi ya?" tanya Rania memastikan.
"Oh enggak kok," ujar Calista, padahal sebenarnya ia sedikit cemas.
"Tenang aja, Ta. Gue gak akan rebut pacar orang kok," jelas Rania.
"Jangan khawatir, Ta. Lagipula kalau Rania goda aku, aku gak akan tergoda kok," sahut Kevin.
...****************...
Perasaan Calista tak karuan, ia merasa takut jika bertemu dengan kedua orang tua dari Andini. Pastinya kedua orang tua Andini akan marah apabila Calista dan sahabat-sahabatnya datang.
"Vin, aku takut."
Kevin menggenggam tangan Calista. "Gak usah takut. Kita disini kan niatnya untuk meminta maaf sama Andini."
Setelah pintu diketuk oleh Friska, tak lama seseorang membuka pintu.
"Ada perlu apa ya?" tanya seorang wanita paruh baya yang diyakini bahwa itu adalah ibunya Andini.
"Tante, kedatangan kami kesini itu karena kami mau minta maaf kepada Andini," ujar Friska.
Ibu Andini murka saat menyadari bahwa orang-orang yang datang adalah pelaku pembully-an terhadap anaknya. Saking murkanya, dia melempari barang-barang kearah Calista dan yang lainnya.
Mendengar suara keributan itu, membuat seseorang yang berada didalam rumah seketika langsung keluar.
"Bu, cukup!" teriak Andini dan itu membuat ibunya terdiam.
"Kalian ngapain kesini?" tanya Andini sambil menundukkan kepalanya.
"Kita mau minta maaf," jelas Calista sambil mendekati Andini dan spontan saja Andini mundur beberapa langkah.
Calista tahu bahwa Andini sangat ketakutan dengan Calista, makanya dia seperti takut menatap wajah Calista.
Calista mengambil sesuatu didalam tasnya. "Karena aku salah waktu itu, jadi aku ingin menembus kesalahan aku." Calista memberikan gunting kepada Andini dan menyuruh Andini untuk memotong rambut Calista.
Disisi lain, Kevin, Friska dan Rania terkejut dengan apa yang dilakukan Calista. Karena menurut mereka, tak semestinya Calista melakukan hal tersebut karena sekarang rambut Andini juga sudah memanjang.
Andini menatap kearah Calista. "Gak usah, Kak. Lagipula aku udah maafin kalian kok."
"Gak bisa gitu! kamu juga harus melakukan apa yang aku lakukan waktu itu supaya aku gak terus-menerus merasa bersalah."
Calista memberikan gunting itu kepada Andini. "Ayo gunting rambut aku."
Andini menatap kearah Kevin, Rania dan Friska yang terlihat cemas. Mereka seakan-akan tidak tega melihat rambut Calista digunting.
Andini mengembalikan gunting itu kepada Calista. "Gak usah, Kak. Aku udah memaafkan kalian kok, lagipula sekarang rambut aku udah mulai panjang lagi. Dan sebenarnya aku juga salah, seharusnya aku gak menjelek-jelekkan Kak Calista dan Kak Friska waktu itu."
"Bu, waktu itu aku juga salah. Aku udah menjelek-jelekkan mereka, makanya mereka sampai melakukan hal itu ke aku," jelas Andini kepada ibunya.
Skip
Calista menatap kesekitar dan ia jadi sedikit lebih bersyukur karena di rumahnya terdapat sofa.
"Ayo dimakan dulu," ujar ibu Andini sambil meletakkan makanan dan minuman di lantai. Lalu, Calista dan yang lainnya menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan.
"Maaf ya, Kak. Rumah aku gak bagus dan juga maaf kalau makanannya gak seenak makanan yang ada di rumah kalian," kata Andini.
"Ini enak kok," ujar Calista dan spontan Kevin menatap kearah Calista karena menurutnya makanan ini tidak enak.
Calista membicarakan kepada Andini tentang rumor yang mengatakan bahwa Andini ingin bunuh diri dan ternyata rumor itu tidaklah benar. Dengan begitu, Calista sedikit lega mendengarnya.
"Emang Kak Calista tahu hal itu dari siapa?" tanya Andini.
"Haura."
Kevin spontan menatap kearah Calista, ia jadi berpikir bahwa selama ini Haura telah membuat Calista menjadi overthinking. Maka dari itu, Kevin akan menegur Haura agar dia tidak mengganggu Calista lagi.
...****************...
Selama di mobil, Kevin sangat jengkel karena selama ini Calista selalu mendengarkan perkataan Haura yang sudah jelas-jelas hanya membuat Calista overthinking.
"Aku kan udah bilang sama kamu, kalau Haura itu ingin supaya kamu merasa bersalah. Maka dari itu harusnya kamu gak usah meladeni perkataan dia lagi," ujar Kevin dengan nada kesal.
"Ya aku pikir ucapan dia tentang Andini yang ingin bunuh diri itu memang benar, makanya aku jadi takut kalau sampai itu terjadi."
"Udahlah jangan diperpanjang, lagipula kita kan udah saling memaafkan sama Andini," sahut Friska.
Rania bersorak saat mendengar perkataan Kevin, lantaran ia seperti menyaksikan drama romantis.
"Lo kenapa?" bingung Friska, lalu Kevin yang dari tadi terus bicara mendadak terdiam saat mendengar sorakan Rania.
"Seru aja menyaksikan kekesalan Kevin karena sang pacar diganggu oleh sang mantan," jelas Rania.
"Dia bukan mantan gue!" ujar Kevin.
"Meskipun cuma beberapa hari, itu juga dianggap mantan," kata Rania.
Rasanya Calista sangat ingin keluar dari mobil, sebab keadaan didalam mobil saat ini semakin berisik. Karena jarak rumahnya masih sangat jauh, akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja sambil memakai earphone.
Skip
Kevin membangunkan Calista karena sekarang mereka telah sampai di rumah Calista. Namun karena Calista sedang memakai earphone, jadi ia tidak bisa mendengarkan suara Kevin.
Kevin melepaskan earphone yang terpasang ditelinga Calista. Niatnya ia memang ia membangunkan Calista, namun setelah diamati sepertinya ia akan membiarkan Calista tidur saja dikarenakan Calista sepertinya sangat kelelahan.
Tiba-tiba Calista menangis dengan mata yang masih tertutup dan itu membuat Kevin buru-buru membangunkannya karena sepertinya Calista sedang bermimpi buruk.
"Ta, bangun!" teriak Kevin dan itu membuat Calista terbangun dari tidurnya.
Calista terus menangis tersedu-sedu saat menatap tajam kearah Kevin. "Kami jahat banget."
Kevin mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
Calista terdiam sejenak karena ia tersadar bahwa kejadian yang tadi hanyalah mimpi.
"Kamu mimpi apa sih?" tanya Kevin.
"Mimpi kamu sama cewek lain."
Kevin tertawa terbahak-bahak, karena ia jadi tahu bahwa Calista akan menangis seperti tadi jika melihat Kevin bersama perempuan lain.
"Gak lucu tahu gak!" kesal Calista sambil keluar dari mobil Kevin.
Kevin buru-buru keluar dari mobil untuk mengejar Calista.
"Ta, maaf!" teriak Kevin sambil menggenggam pergelangan tangan Calista.
Calista menatap wajah Kevin. "Kamu beneran gak punya cewek lain, kan?"
"Gak punya, Ta."
"Awas aja kalau sampai selingkuh, aku gak akan maafin kamu," gumam Calista yang masih terdengar ditelinga Kevin.
Kevin memeluk Calista untuk menenangkannya, karena sepertinya Calista masih terbayang mimpi yang tadi.
"Lucu banget sih," ujar Kevin sambil mencubit pelan pipi Calista.
Calista menjaga jarak dari Kevin. "Ya udah sana pergi! aku mau istirahat di rumah."
"Ceritanya ngusir nih?"
Calista tertawa kecil, lalu meminta maaf karena sebenarnya ia hanya bercanda.
"Aku boleh istirahat sebentar gak di rumah kamu? soalnya aku capek banget."
"Ya udah ayo masuk." Kemudian, duanya masuk kedalam rumah.
Calista menyuruh Kevin untuk beristirahat di kamar tamu, namun Kevin menolaknya dan dia lebih memilih untuk tidur di sofa. Sedangkan Calista, ia hanya duduk sambil menonton televisi.
Selagi Kevin tidur, Calista mengambil ponsel milik Kevin untuk melihat-lihat kontak diponselnya. Dan ketika dilihat, lumayan banyak nomer perempuan yang dia save.
Trining! Trining!
Calista buru-buru pergi menjauh agar Kevin tidak terbangun. Setelah itu, ia segera menjawab panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Kak Kevin." Terdengar suara yang sudah tak asing lagi ditelinga Calista. Dan ya siapa lagi kalau bukan Haura.
"Kevin lagi tidur."
"Ini siapa?"
"Ini gue, Calista."
Tak lama, telepon dimatikan oleh Haura. Dan Calista yakin bahwa saat ini Haura semakin kesal kepada Calista.
Yang Calista heran, Haura seringkali berganti nomer telepon padahal sudah jelas ujung-ujungnya Kevin pasti akan memblokirnya. Padahal jika Calista berada diposisi Haura, Calista tak akan lagi mengejar-ngejar orang yang sudah jelas tidak mencintainya.
Calista kembali menghampiri Kevin dan ia meletakkan ponsel Kevin diposisi sebelumnya. Calista sadar bahwa ia tak seharusnya bersikap seperti ini karena hal itu merupakan privasi Kevin.
1 jam kemudian....
Kevin terbangun dari tidurnya dan otomatis Calista menoleh kearahnya. Lalu, Calista duduk disebelah Kevin sambil memakan es krim yang baru saja ia beli di pedagang es krim keliling.
"Mau gak?"
Kevin hanya melamun sambil mengumpulkan nyawanya. Dengan demikian, Calista mengusili Kevin dengan menempelkan es krim di bibir Kevin dan benar saja bahwa Kevin otomatis memakan es krimnya.
"Mau lagi?" tanya Calista, lalu Kevin hanya mengangguk. Kemudian, Calista memberikan es krim itu kepada Kevin. Karena sebenarnya Calista membeli 2 es krim, satu untuk Calista dan satu untuk Kevin.
"Kok kasih aku yang ini." Kevin menatap es krim yang kini ia pegang, yang mana es krim tersebut tinggal sedikit lagi.
"Katanya kamu mau yang itu."
"Enggak. Aku mau yang itu," tunjuk Kevin pada es krim yang baru saja dibuka oleh Calista.
Calista mengerucutkan bibirnya, lalu ia memberikan es krim itu kepada Kevin.
"Gak usah deh, aku yang ini aja. Soalnya kan itu rasa kesukaan kamu."
Kevin sebenarnya ingin, namun melihat raut wajah Calista yang seperti itu membuatnya menjadi tidak tega jika mengambil es krim miliknya.
Calista tersenyum dan ia segera mencicipi es krim tersebut. "Beneran gak mau?"
"Iya, gak mau."
"Ya udah kalau gitu aku pulang ya, soalnya udah sore."
Kemudian, Calista segera mengantarkan Kevin keluar rumah. Jujur saja, Calista sebenarnya tidak ingin Kevin pulang, karena Calista merasa bosan sendirian di rumah. Tetapi karena itu hak Kevin, jadi Calista tidak bisa mencegahnya.
"Oh iya, Vin. Maaf ya, tadi aku sempat jawab panggilan telepon di handphone kamu."
"Siapa yang telepon?"
"Haura."
Kevin menghela nafasnya, jujur ia sangat lelah dengan tingkah kekanak-kanakan Haura. Sudah tahu sekarang Kevin sudah memiliki pacar, namun Haura tetap saja mengejarnya. Dan juga meskipun Kevin mengeluarkan kata-kata kasar kepadanya agar menjauhi Kevin, tetap saja Haura terus mendekati Kevin.
"Dia kayaknya cinta banget sama kamu, Vin."
"Bukan cinta, tapi itu obsesi."
Karena tak ingin berbincang-bincang terlalu lama, akhirnya Kevin pamit dan buru-buru pergi dengan mengendarai mobilnya.
Saat Calista hendak masuk kedalam rumah, tiba-tiba seseorang menariknya hingga membuat Calista menghadap kearahnya.
"Ta, Kevin gak macam-macam kan sama lo?" tanya Bayu memastikan. Karena sebenarnya dari semenjak Calista dan Kevin berada didalam rumah, Bayu sempat khawatir jika Kevin akan macam-macam dengan Calista.
"Lo apaan sih! main nuduh-nuduh Kevin segala."
"Bukan bermaksud menuduh. Tapi lo berdua lama banget didalam, jadi gue khawatir."
"Tenang aja, gue sama Kevin gak macam-macam kok." Calista buru-buru masuk kedalam karena ia sangat kesal karena Bayu menuduhnya.