
Hari ini adalah hari ulang tahun Calista, namun belum ada satupun orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Calista.
Memang sekarang tepat pukul dua belas malam, jadi wajar saja jika tidak ada sebab orang-orang pastinya sedang tertidur.
Namun karena tahun lalu sahabat-sahabatnya mengucapkan di pukul dua belas malam, jadi sekarang Calista sangat menunggunya. Padahal kenyataannya, sahabat-sahabatnya tidak ada yang mengucapkan.
Calista terus memantau aplikasi WhatsApp-nya untuk melihat siapa orang yang pertama kali mengucapkan. Tetapi karena sudah memantau kurang lebih setengah jam, alhasil Calista ketiduran.
Skip
Calista terbangun dengan nafas yang tak beraturan. Bagaimana tidak, di mimpinya ia dikejar oleh Reyhan. Tubuhnya bersimbah darah hingga membuat Calista ketakutan. Bahkan di mimpi itu Reyhan membawa pisau dan dia seperti ingin membunuh Calista.
Tok! Tok!
Tubuh Calista bergetar dan ia spontan menutup tubuhnya dengan selimut.
Cklek!
Terdengar suara Mamah dan Papahnya yang sedang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan itu membuat Calista kembali membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
Tadi ia benar-benar ketakutan, sebab ia takut jika ini masih didalam mimpinya dan ia pikir bahwa yang mengetuk pintu adalah Reyhan.
"Selamat ulang tahun," ujar Mamah dan Papah bersamaan.
"Makasih Mah, Pah."
"Ya udah ayo berdoa dulu," kata Mamah.
Calista menutup matanya dan berdoa, setelah itu ia segera meniup lilin.
"Ya udah kamu tidur lagi aja, soalnya ini masih jam dua pagi," ujar Papah.
"Iya, Pah."
Papah dan Mamah kembali keluar dari kamar Calista karena mereka juga ingin kembali tidur. Sesudah keduanya pergi, Calista kembali membuka ponselnya untuk melihat apakah sahabat-sahabatnya sudah mengucapkan atau tidak.
"Nyebelin banget sih. Masa mereka gak ingat ulang tahun gue."
...****************...
Jam tujuh pagi, Calista kembali bangun dan ia langsung mengecek ponselnya dan ternyata ada beberapa pengikut instagramnya yang mengucapkan selamat kepada Calista.
Meskipun sudah ada yang mengucapkan, tetapi Calista merasa kurang puas karena itu bukan ucapan dari sahabat-sahabatnya.
Tadinya Calista ingin mengatakan di grup chat-nya bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun karena sepertinya sahabat-sahabatnya masih tidur, jadi Calista akan bersabar menunggu mereka mengucapkan selamat kepada Calista.
Ting!
Senyuman terukir diwajah Calista saat ada satu pesan dari grupnya. Ketika pesan itu dibuka, senyuman Calista perlahan hilang saat membaca isi pesan dari Erick.
Erick menyampaikan bahwa dia akan pindah sekolah ke luar negeri. Calista tahu pasti bahwa Erick pindah karena dia sangat ketakutan, dengan begitu Erick lebih memilih pergi.
Calista merasa bahwa hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya, kini menjadi hari terburuknya. Lantaran ia harus ditinggalkan sahabatnya pergi dan entah sampai kapan Erick akan tinggal disana.
Selain sedih karena Erick pergi, Calista juga sangat sedih karena sahabat-sahabatnya tidak mengingat hari ulang tahun Calista,
Calista bergegas pergi menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi. Sesudah itu, Calista bergegas keluar kamarnya.
"Mah, Calista mau olahraga dulu ya."
"Mau olahraga pakai baju tidur?" heran Mamah.
"Ya gak apa-apa dong, Mah."
Sesudah memberitahu mamah, Calista langsung pergi keluar rumah untuk berolahraga disekitar perumahan. Pada saat Calista keluar rumah, ia melihat Bayu yang sedang membuang sampah.
"Bayu, jogging yuk!" ajak Calista.
"Jogging kemana?" tanya Bayu.
"Ya muter-muter perumahan."
"Ya udah tunggu. Gue mau cuci tangan dulu." Bayu kembali masuk kedalam rumah.
Tidak butuh waktu lama, Bayu kembali menghampiri Calista. Lalu, mereka berdua jogging bersama mengelilingi perumahan.
"Selamat ulang tahun ya," ujar Bayu tiba-tiba dan itu membuat Calista jadi menoleh kearahnya.
"Makasih."
"Nanti sore kan acaranya?" tanya Bayu, lalu Calista hanya mengangguk.
"Habis olahraga, mau gue bantu mempersiapkan acaranya gak?"
Calista sangat senang bila Bayu membantu dalam acara ulang tahunnya. Tetapi disisi lain, ia juga tak enak karena takut merepotkan Bayu.
"Ngerepotin gak?"
"Ya enggak lah. Lagipula sekarang gue gak sibuk, makanya gue pingin bantu-bantu."
"Ya udah boleh deh. Nanti lo tolong urus dekorasinya ya."
"Oke siap."
...****************...
Rania POV
Sudah beberapa hari ini Rania tidak mengetahui kabar dari Erick. Dan tepatnya pagi ini, Erick akhirnya mengirim pesan di grup. Namun sayangnya, Erick memberi kabar tentang dirinya yang akan bersekolah di Malaysia.
Entah kenapa Rania merasa janggal dengan kepergian Erick yang begitu tiba-tiba. Apalagi semenjak beberapa hari sebelumnya Erick tidak sekolah dan itu membuat Rania begitu khawatir.
Untuk memastikannya, Rania memilih untuk menelponnya karena siapa tahu Erick hanya bercanda.
Tak lama, Erick menjawab telepon dari Rania. "Ada apa, Ran?"
"Lo serius mau pindah, Rick?"
"Iya, gue serius."
"Kenapa pindah?"
Erick tak menjawab pertanyaan dari Rania dan itu membuat Rania khawatir karena ia takut jika Erick pindah karena Rania. Sebab Rania merasa jika dirinya banyak salah terhadap Erick, bahkan Rania juga sempat menolak Erick.
"Ran, maafin gue ya kalau gue punya salah. Dan juga gue harap lo bahagia terus."
"Lo ngomong apa sih, Rick. Lo gak pernah salah kok sama gue."
"Ran, nanti tolong bilangin ke yang lain ya kalau gue sayang banget sama kalian. Jadi kalian jangan pernah lupakan gue."
Tanpa sadar, Rania meneteskan air matanya setelah mendengar perkataan Erick.
"Lo kapan kesananya? gue pingin antar lo ke bandara."
"Gak usah antar gue. Gue bisa pergi sendiri."
Rania menangis tersedu-sedu, karena ia sangat sedih jika Erick pergi.
"Jangan nangis," kata Erick.
"Tapi lo nanti akan kesini lagi gak?"
"Hmm... gue gak tahu."
"Jahat banget lo. Masa lo gak akan ketemu sama sahabat-sahabat lo lagi."
Seketika Erick diam saja dan itu membuat Rania kesal karena sepertinya Erick akan melupakan sahabat-sahabatnya.
"Ran, gue sayang banget sama lo," ujar Erick. Setelah berkata seperti itu, Erick langsung mematikan teleponnya.
...****************...
Calista POV
Selesai berolahraga, Calista dan Bayu mempersiapkan acara untuk ulang tahun Calista. Calista dan Bayu mendekorasi ruang tamu. Sedangkan Mamah dan Papah, mereka sibuk membuat makanan dan minuman untuk dihidangkan saat acara. Saudara-saudara Calista juga akan datang membantu dan mungkin mereka akan datang sebentar lagi.
"Bayu, gue mau ambil handphone dulu ya. Soalnya mau lihat chat, siapa tahu ada yang ngucapin."
"Wih! pasti banyak ya yang ngucapin."
"Gak terlalu sih."
Calista bergegas pergi menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya. Dan ketika dilihat, ada panggilan tak terjawab dari Erick.
Ting!
Tiba-tiba Erick mengirim pesan dan dia menuliskan kata-kata selamat ulang tahun kepada Calista beserta doa-doa untuk Calista. Tetapi saat membaca akhir pesan, Calista merasa kecewa karena Erick tidak bisa menghadiri acara ulang tahun Calista dikarenakan Erick akan pergi.
Sesudah membaca pesan dari Erick, Calista memutuskan untuk menelpon Kevin karena dia belum juga mengucapkan selamat kepada Calista.
Ya, Calista memang tak sabar orangnya, makanya ia ingin pacarnya cepat-cepat mengucapkan selamat ulang tahun kepada Calista meskipun harus diberitahu dulu oleh Calista.
"Hallo, Ta."
"Vin, aku ulang tahun. Masa kamu gak ngucapin selamat ke aku."
"Selamat ulang tahun ya, sayang."
Calista tersenyum meskipun sebenarnya ia kesal karena Kevin sepertinya tidak mengingatnya. Kalaupun dia ingat, pastinya setelah mengangkat telepon dari Calista, dia langsung mengucapkan selamat ulang tahun kepada Calista.
"Ta, udah dulu ya. Soalnya aku mau cari Erick. Katanya dari semalam dia gak pulang dan juga orang tuanya bilang kalau Erick gak akan pindah sekolah. Jadi sekarang aku khawatir banget sama dia."
"Aku boleh ikut cari Erick gak?"
"Gak usah. Sekarang kan kamu pasti sibuk menyiapkan acara ulang tahun kamu. Oh iya, mungkin nanti aku datang ke rumah kamu setelah Erick ketemu." Sesudah berkata seperti itu, Kevin langsung mematikan teleponnya.
Mata Calista berkaca-kaca setelah panggilan teleponnya diakhiri oleh Kevin. la merasa bahwa ulang tahunnya kali ini benar-benar ulang tahun terburuk. Bahkan saat ini sahabatnya pergi entah kemana, yang jelas pasti Erick pergi karena sangat ketakutan.
Calista tidak menyalahkan Erick, hanya saja ia sedikit kecewa karena sahabat-sahabatnya seperti tidak peduli dengan Calista.
Tiba-tiba Bayu memanggil Calista, lalu Calista buru-buru keluar dari kamarnya.
"Ini hiasannya mau ditaruh dimana?" tanya Bayu.
"Bayu, kayaknya gue batalkan aja deh acaranya."
"Loh! kok dibatalkan. Bukannya lo udah kasih tahu ke teman sekelas ya."
"Iya, tapi gue mau batalkan. Soalnya percuma aja merayakan hari ulang tahun tanpa sahabat-sahabat gue."
Calista menceritakan kepada Bayu bahwa Erick hilang dari semalam, bahkan Erick juga berbohong kepada Calista dan yang lainnya tentang dia yang akan pindah sekolah.
"Emang Erick ada masalah apa sih? kok sampai pergi dari rumah."
Calista diam saja, karena ia tak mungkin menceritakan tentang rahasia Erick kepada Bayu.
"Mah!" panggil Calista saat Mamahnya datang menghampiri Calista dan Bayu.
"Iya, kenapa?" tanya Mamah.
"Mah, acara ulang tahunnya gak jadi aja. Soalnya sahabat-sahabat Calista kayaknya gak akan datang."
"Mereka pasti datang kok," ujar Mamah.
Calista menjelaskan kepada Mamahnya bahwa saat ini Kevin sedang mencari Erick dan mungkin juga Rania dan Friska juga saat ini sedang mencarinya.
"Mereka cuma pura-pura gak datang kali supaya kamu jadi sedih, padahal nantinya mereka bakal kasih kejutan ke kamu," ujar Mamah.
"Benar juga apa kata Mamah lo," sahut Bayu.
"Oh gitu ya, gue pikir mereka benar-benar gak akan datang."
Acara dimulai, tetapi Calista masih tak melihat sosok sahabatnya, yang ada hanya saudara dan teman sekelasnya dan itupun baru sebagian yang datang.
Karena waktu terus berjalan, akhirnya Calista memulai acaranya dengan tiup lilin dan potong kue.
Potongan kue pertama ia kasih pada Papahnya selaku orang tua kandungnya dan potongan kue yang kedua ia berikan kepada Mamah tirinya. Sesudah itu, dilanjutkan dengan acara makan-makan bersama.
"Kevin, kamu dimana?" tanya Calista setelah Kevin menjawab panggilannya.
"Ta, maaf aku gak bisa datang. Soalnya aku lagi menunggu Erick di rumah sakit," ujar Kevin dan tentunya jantung Calista berdegup kencang karena suara Kevin bergetar seraya ingin menangis.
"Erick kenapa?"
"Erick melakukan percobaan bunuh diri. Dan sekarang aku, Friska sama Rania lagi ada di rumah sakit."
Kevin mengatakan bahwa dirinya ditelepon Erick dan ketika diangkat ternyata orang itu adalah orang yang menolong Erick. Dan orang itu mengatakan bahwa Erick sedang ada di rumah sakit Melati, makanya Kevin buru-buru pergi kesana.
Kevin sengaja hanya memberitahu Rania dan Friska. Sebab tidak mungkin ia menelpon Calista disaat Calista sedang sibuk dengan acara ulang tahunnya.
"Ta, kamu nikmati aja ya acaranya meskipun gak ada aku, Rania, Friska sama Erick."
"Aku kesana aja ya, Vin. Aku khawatir sama Erick."
"Gak usah, Ta. Ini kan hari ulang tahun kamu, jadi kamu harus tetap ada disana."
Calista segera menutup teleponnya dan ia bergegas pergi. Pada saat di ruang tengah semua mata tertuju pada Calista yang berjalan kearah luar.
"Calista, mau kemana?" teriak Papah.
Erick ada di rumah sakit, Pah. Jadi Calista harus kesana."
"Ta, gue antar ya," ujar Bayu. Lalu keduanya segera pergi. Begitupun teman-teman sekelas Calista, mereka bergegas pergi karena ingin tahu kondisi Erick.
Skip
Setelah sampai di rumah sakit, Calista dan yang lainnya segera menghampiri Kevin, Rania dan Friska yang sedang menunggu diluar ruangan.
"Vin, Erick baik-baik aja, kan?" tanya Calista memastikan.
Kevin mengangguk pelan. "Sekarang dia baik-baik aja kok, cuma dia masih lemas aja."
"Ta, maaf ya kita gak hadir di acara ulang tahun lo," ujar Friska.
"Iya gak apa-apa kok."
Tak lama teman-teman yang lain datang dan menanyakan kondisi Erick. Namun Kevin hanya menjelaskan bahwa Erick hanya demam, karena tak mungkin ia menjelaskan kepada mereka semua yang sebenarnya terjadi.
"Gue kira kecelakaan," gumam Ridho, karena tadi Calista buru-buru pergi seakan-akan Erick sakit parah.
"Vin, didalam ada siapa?"
"Ada Papah sama Mamahnya Erick."
"Aku boleh masuk gak?" tanya Calista, namun Kevin melarangnya karena yang masuk maksimal 2 orang.
Setelah teman-teman yang lain pergi, Friska dan Rania bertanya kepada Kevin tentang mengapa Erick melakukan percobaan bunuh diri. Namun Kevin mengatakan tidak tahu, padahal sebenarnya ia tahu bahwa Erick melakukan itu karena dia ketakutan dan merasa bersalah kepada Reyhan.
Jadi Erick berniat bunuh diri?" kaget Bayu dan itu membuat Calista dan yang lainnya terdiam.
"Guys, udah jangan bahas tentang itu."
"Kalau gitu gue pulang duluan ya, soalnya udah malam," ujar Bayu.
Kevin menyuruh Calista untuk pulang bersama Bayu, sebab Kevin tidak bisa mengantarkannya sebab ia akan menginap di rumah sakit.
"Aku nginep aja deh disini."
"Jangan. Lebih baik kamu pulang aja sama Bayu," kata Kevin.
"Bayu, lo antar Friska aja. Soalnya dia kasihan udah ngantuk," ujar Calista sambil melihat kearah Friska yang sedang menguap.
Akhirnya Bayu mengajak Friska untuk pulang dan tentunya Friska sangat senang karena diantar pulang oleh Bayu.
"Ya udah kita pulang dulu ya," ujar Bayu, lalu ia dan Friska segera pergi.
Kevin melihat Calista dari ujung rambut sampai ujung kaki dan ia khawatir jika nantinya Calista akan kedinginan karena Calista memakai dress.
"Ran, lo tunggu dulu disini ya. Soalnya gue mau antar Calista pulang," kata Kevin.
"Aku kan udah bilang kalau aku mau menginap disini."
"Iya, aku tahu. Cuma kamu harus bilang dulu sama orang tua kamu dan juga kamu harus ganti pakaian, karena kalau kamu tidur pakai dress nantinya kedinginan."
"Ya udah ayo pergi." Akhirnya Calista dan Kevin segera pergi.
Skip
Sepanjang perjalanan, Calista terus mengusap-usap kulitnya karena ia kedinginan. Untungnya saat ini Kevin membawa mobil, jadi tubuh Calista tidak terlalu kedinginan. Mungkin jika sekarang Calista naik motor, pastinya keesokannya ia akan masuk angin.
"Maaf, aku gak bisa datang."
Calista menoleh sekilas kearah Kevin. "Gak apa-apa kok."
"Kamu pasti kecewa ya karena aku, Erick, Rania dan Friska gak datang."
Mata Calista mulai berkaca-kaca karena perkataan Kevin benar. Calista kecewa, namun disisi lain ia juga tidak mau egois sebab saat ini situasinya memang sangat darurat.
"Nanti kalau Erick udah sehat lagi, kita rayakan ulang tahun kamu."
"Gak usah."
"Aku tahu kamu pasti kesal karena gara-gara kejadian ini. Tapi aku mohon, jangan marah sama Erick ya."
"Enggak kok. Aku gak kesal, cuma sedih aja karena kalian gak datang."
Kini Calista mulai menangis dan itu membuat Kevin langsung menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Lalu, Kevin segera memeluk Calista supaya tidak menangis lagi.
Kemudian, Kevin melepaskan pelukannya setelah Calista mulai tak menangis lagi. "Gimana kalau sekarang kita rayakan ulang tahun kamu di restoran papah. Mau gak?"
"Lain kali aja deh, aku udah gak mood."
"Oh iya, sebenarnya aku bawa kado buat kamu karena aku pikir akan kesana, tapi ternyata aku gak bisa datang," ujar Kevin sambil mengambil sebuah kado untuk Calista.
Kevin memberikan kado itu kepada Calista. Namun Calista ragu karena ia takut jika kado pemberian Kevin mahal seperti kalung yang waktu itu dan Calista takut jika papah Kevin akan kembali marah.
"Ayo buka!" perintah Kevin, lalu Calista segera membuka kado tersebut.
Isi kado itu adalah sebuah buku diary yang mana buku itu berisi tulisan dan foto-foto Calista yang bahkan Calista tidak tahu tentang foto itu.
Sepertinya memang benar bahwa Kevin sudah dari lama menyukai Calista, karena Calista tahu bahwa foto itu merupakan foto saat Calista masih kelas sepuluh.
"Jelek banget fotonya," gumam Calista.
"Cantik kok," puji Kevin.
Selain melihat fotonya, Calista juga membaca tulisan-tulisan disamping foto-fotonya. Calista sangat terharu karena Kevin sangat niat menuliskan keterangan seperti tanggal, bulan dan tahun. Menurut Calista itu sangat mengesankan, karena baru kali ini ia mendapatkan lelaki yang mengingat hal-hal kecil seperti itu.
"Makasih. Kadonya bagus banget."
"Ya jelas dong. Soalnya aku buatnya susah, tangan aku sampai pegal gara-gara menulis."
Calista tersenyum karena membayangkan bagaimana capeknya Kevin menempelkan foto dan menulis pesan di foto-foto tersebut.
"Oh iya, aku punya satu kado lagi."
"Mana?"
Chup!
Kevin mencium bibir Calista dan itu membuat Calista mematung. Semakin lama, ciuman tersebut semakin memanas sehingga membuat Calista mendorong tubuh Kevin karena la kehabisan nafasnya.
Keduanya mengalihkan pandangannya, lalu mereka mengatur nafas masing-masing karena ciuman tadi lumayan lama.
"Ayo pulang."
"Sebentar, aku mau foto sama kamu dulu." Kevin mengambil ponselnya, lalu ia mengambil foto berdua bersama Calista. Setelah itu, Kevin memposting foto tersebut di media sosialnya dan ia juga tak lupa menambahkan caption yang romantis.
Skip
Tiba di rumah, Calista dan Kevin turun dari mobil. Keduanya buru-buru masuk kedalam rumah untuk meminta ijin agar Calista diperbolehkan untuk menginap di rumah sakit.
"Papah bukannya melarang, tapi pastinya rumah sakit melarang jika banyak yang menunggu pasien," ujar Papah.
"Iya, benar kata Papah. Selain gak diperbolehkan, itu juga dapat mengganggu pasien," kata Mamah.
Calista dan Kevin memang tak tahu hal ini, makanya keduanya berpikir bahwa siapapun boleh menginap di rumah sakit.
Ting!
Tiba-tiba ada pesan dari grup dan orang yang mengirim pesan adalah Rania. Rania mengatakan bahwa rumah sakit melarang dia untuk menginap, lantaran Rania bukanlah keluarga dari pasien. Alhasil Rania akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Ya udah kalau gitu Kevin pulang dulu ya Om, Tante."
"Kamu menginap aja disini, lagipula ini udah larut malam dan takutnya kamu kenapa-napa," ujar Mamah.
"Iya, lebih baik menginap aja disini."
Kevin menatap kearah Papah Calista, karena ia takut Papah Calista tidak memperbolehkannya untuk menginap.
"Boleh gak, Om?" tanya Kevin memastikan.
"Boleh. Tapi jangan tidur di kamar Calista," canda Papah.
"Ya enggaklah, Om."
Calista menarik Kevin menuju ruang tengah, karena ia ingin memberikan kue ulang tahun kepada Kevin. Selain itu, ia ingin menikmati makanan dan minuman yang sebelumnya belum Calista cicipi karena tadi ia buru-buru pergi ke rumah sakit.
"Tadi yang datang banyak gak?"
"Gak terlalu. Tadi cuma sebagian anak-anak kelas sama saudara aku aja yang datang."
Calista memberikan kue ulang tahunnya kepada Kevin dan ia menyuruh Kevin untuk mencicipi kue itu.
Baru juga Kevin memakan kue, Calista langsung mengambil makanan dan minuman yang lain.
Kevin tak habis pikir melihat Calista membawa banyak makanan dan minuman. "Jangan banyak-banyak, takut gak habis."
"Ini buat aku, bukan buat kamu. Kalau mau, kamu ambil aja sendiri."
Calista tadi memang tak memakan atau meminum hidangan di acara pestanya, makanya sekarang ia begitu lapar.
"Biasanya kalau makan malam-malam suka gendut loh, Ta."
Tatapan Calista berubah menjadi menyeramkan saat Kevin berkata seperti itu. Mungkin bukan hanya Calista saja, tetapi perempuan lain pasti langsung badmood jika ada yang menyebut kata gendut.
Ngomong-ngomong soal kata gendut, dulu Calista pernah memanggil teman sekelasnya yang bernama Fira dengan kata tersebut. Dan sekarang, Calista benar-benar menyesal karena telah meledeknya.
Kalau dipikir-pikir, dulu Calista memang sangat jahat, bahkan ia sering melukai perasaan orang lain. Meskipun Calista sudah meminta maaf kepada orang-orang tersebut, tentunya Calista masih merasa bersalah.
"Ta, maaf. Aku gak bermaksud menyebut kamu gendut kok," kata Kevin.
Calista tak menghiraukan perkataan Kevin, ia hanya fokus menikmati makanan dan minumannya. Tak peduli jika berat badannya naik, yang penting malam ini Calista tidak kelaparan.
"Vin, kamu ada kado lain lagi gak buat aku?"
"Kamu mau ciuman lagi?" tanya Kevin dan spontan Calista membungkam mulut Kevin karena takut orang tuanya mendengar.
*Jangan keras-keras, nanti orang tua aku bisa marah kalau sampai tahu."
"Jadi kamu mau kado kayak tadi lagi?" tanya Kevin, lalu Calista langsung memukul lengan Kevin karena bukan itu yang Calista mau.
Calista mengatakan bahwa dirinya menginginkan Kevin untuk menyanyikan sebuah lagu apapun untuk Calista.
"Aku gak bisa nyanyi, Ta. Kamu aja deh yang nyanyi, soalnya kamu kan dulu pernah ikutan ekskul vocal meskipun ujung-ujungnya keluar."
"Aku maunya kamu yang nyanyi."
"Suara aku jelek, Ta'
"Gak apa-apa. Lagian aku gak peduli mau suara kamu jelek ataupun bagus, yang penting aku ingn mendengar suara kamu."
Karena hari ini merupakan hari ulang tahun Calista, akhirnya Kevin menuruti kemauannya meskipun suara Kevin tidak merdu.