Fearless

Fearless
Episode 50



Sesampainya di kantin, Calista dan Kevin melihat Rania dan Erick yang sedang menikmati makanan. Tetapi Calista dan Kevin salah fokus saat melihat tatapan Erick kearah Rania. Maka dari itu, Calista dan Kevin mempunyai firasat bahwa Erick sepertinya menyukai Rania.


"Kita ganggu kalian gak?" tanya Kevin kepada Rania dan Erick.


"Ya enggak lah," ujar Rania dan Erick bersamaan.


"Ta, kamu mau makan apa? nanti biar aku pesankan," kata Kevin.


"Aku gak mau makan, soalnya aku lagi diet." Dengan begitu, Kevin segera pergi membeli makanan untuk dirinya.


Calista menatap tajam kearah Erick dan itu membuat Erick kebingungan.


"Kenapa lo?" tanya Erick.


"Gue kesal aja sama lo."


"Alasannya apa?" bingung Erick, namun Calista tidak menjawabnya.


"Aneh banget lo, tiba-tiba kesal tanpa alasan."


Sebenarnya Calista sangat kesal dengan sikap Erick, akhir-akhir ini dia sering mempermainkan perempuan.


"Ta, lo kayaknya tadi kesal sama Kevin ya? makanya sekarang lo jadi kesal sama orang lain juga," kata Rania sambil tertawa kecil.


"Iya sih, tadi gue sempat berantem sama Kevin. Tapi kalau soal Erick, gue emang kesal karena dia itu playboy."


"Gue bukan playboy. Kalau gue playboy, berarti gue banyak ceweknya dong."


"Ya emang banyak ceweknya. Buktinya waktu itu gue lihat lo sama cewek di cafe," ujar Calista, padahal sebenarnya Kevin yang melihat Erick yang sedang berada di cafe bersama perempuan.


Erick diam sejenak, ia tak mengira bahwa Calista akan melihat Erick bersama perempuan di cafe. Padahal biasanya Erick selalu mengecek sekitar agar ia tidak bertemu dengan orang-orang terdekatnya.


"Lo salah lihat kali. Sejak kapan gue ke cafe bareng cewek," kata Erick.


"Gak usah mengelak, udah tahu itu lo."


"Oh iya, gue lupa. Waktu itu gue emang ke cafe bareng saudara gue."


Calista sangat kesal karena Erick tidak mau mengaku bahwa dia pergi ke cafe bersama perempuan.


"Capek ya bicara sama cowok, ucapannya selalu aja bohong."


"Kalau gue bohong emang kenapa? lagipula gue mau jalan sama siapapun juga itu kan hak gue. Apa jangan-jangan lo cemburu ya gara-gara gue sama perempuan lain?" tanya Erick.


"Ih kepedean banget. Padahal gue kesal karena gue gak suka aja kalau lo mempermainkan Rania."


Seketika Erick dan Rania terdiam setelah mendengar perkataan Calista.


Tak lama, Kevin datang menghampiri Calista dan yang lainnya. Kevin merasa kebingungan dengan sikap Calista, Rania dan Erick yang menjadi diam.


"Ada apa nih? gue datang kok langsung diam," heran Kevin.


"Guys, gue ke kelas duluan ya," ujar Erick lalu ia pergi. Setelah Erick pergi, Rania juga ikut pergi.


"Ada apa sih?" tanya Kevin lagi, lalu Calista menjelaskan semuanya kepada Kevin.


Perkataan Calista memang tidak ada salahnya, karena dirinya berniat melindungi Rania dari Erick, lantaran Calista tahu bahwa Erick memiliki banyak gebetan.


"Kayaknya Erick jadi kesal deh sama aku."


"Ya enggak lah. Masa cuma gara-gara itu dia marah," ujar Kevin sambil menikmati makanannya.


"Aku boleh coba gak? kayaknya itu enak banget."


"Katanya diet," sindir Kevin, lalu Calista hanya tertawa kecil.


Ketika Calista mencicipi makanan Kevin, tiba-tiba matanya berkaca-kaca sebab makanan Kevin begitu pedas.


"Pedas ya?" tanya Kevin saat melihat keringat di kening Calista.


Kevin memberikan minuman miliknya dan otomatis Calista meminumnya karena ia sangat kepedasan.


"Vin, kamu jangan makan yang pedas-pedas, nanti kamu sakit perut."


"Gak enak kalau gak makan pedas."


"Setidaknya makanan pedasnya dikurangi. Perasaan tiap jajan di kantin, kamu selalu jajan makanan yang pedas terus."


"Iya, nanti aku kurangi makan pedas deh."


Tiba-tiba, langit mulai mendung dan itu menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Maka dari itu, Calista dan Kevin bergegas pergi menuju kelas karena jika tidak sekarang mungkin keduanya akan terjebak di kantin selama hujan.


...****************...


Setelah pelajaran terakhir selesai, semua murid diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Tetapi kali ini, sebagian murid masih berada di sekolah karena mereka takut kehujanan dikarenakan mereka mengendarai motor.


Tadinya Calista dan Kevin juga berniat untuk pulang, hanya saja ia ingat bahwa mereka akan kerja kelompok bersama Bayu, dengan begitu mereka harus menunggu Bayu.


"Gimana dong? apa mau kerja kelompok disini aja?"


"Kalau kerja kelompok disini gak enak, soalnya pasti berisik karena masih ada beberapa murid," kata Bayu.


"Ya udah kalau gitu ayo ke rumah Calista. Lagian cuma hujan ini, jadi ngapain takut," kata Kevin.


"Lo enak pakai mobil, sedangkan gue pakai motor," kata Bayu.


Selama di kelas, Calista hanya melamun sambil menunggu hujan reda. Sedangkan Kevin, dia malah asik bermain game online bersama teman-temannya.


Karena Calista satu-satunya perempuan yang berada di kelas, akhirnya ia memilih untuk keluar kelas dikarenakan ia tidak nyaman jika bersama beberapa lelaki. Selain itu, listrik juga mati dan itu membuat Calista sangat takut berada dengan beberapa lelaki.


Meskipun lelaki itu adalah pacar dan teman-temannya, tetap saja ia merasa takut.


Daripada bosan, akhir Calista memilih untuk berkeliling ke beberapa kelas. Tepat diujung tangga menuju rooftop, Calista melihat seorang perempuan dan lelaki yang sedang berjalan menuju gudang tempat penyimpanan alat-alat olahraga.


Entah kenapa Calista merasa penasaran dengan kedua orang itu, karena untuk apa mereka pergi menuju ke tempat itu disaat hujan seperti ini.


Calista pergi ke tempat itu dengan hati-hati, karena takutnya orang itu mengetahui bahwa ada Calista.


Saat pintu itu sedikit dibuka oleh Calista, ia terkejut setengah mati dikarenakan kedua orang itu sedang berciuman. Bahkan saat ini, lelaki itu berniat membuka pakaiannya.


Calista spontan membuka pintu. "Woy!"


Spontan kedua orang itu terkejut ketika Calista berteriak.


"Apaan sih lo!" bentak lelaki itu sambil mengancingkan kembali baju seragamnya.


"Gue akan laporkan hal ini ke guru."


"Anjing lo!" murka lelaki itu.


Ketika lelaki itu ingin menghampiri Calista, dengan cepat Calista berlari menuju kelasnya untuk meminta pertolongan.


Sebab lelaki itu berlari dengan cepat, alhasil Calista tertangkap olehnya.


"Tolong!" teriak Calista dan beberapa orang menatap kearah Calista. Bukannya membantu, tetapi mereka hanya diam saja karena pastinya mereka pikir Calista dan lelaki itu sedang bercanda.


"Aww! sakit!" Calista saat rambutnya dijambak oleh lelaki itu.


Calista menendang kaki orang itu dan ia berlari menuju kelasnya. Sesampainya di kelas, ia langsung menghampiri Kevin.


"Vin, tolongin aku."


"Tolongin apa?" tanya Kevin yang masih fokus dengan gamenya.


"Bangsat! sini lo!" Lelaki tadi masuk ke kelas dan otomatis Kevin dan anak-anak kelas yang lain menoleh kearah lelaki itu.