
Malam ini Calista dikejutkan dengan kehadiran orang tuanya, pasalnya orang tuanya bilang bahwa mereka akan datang hari Senin. Dan siap-siap saja sekarang Calista akan dinasehati papahnya karena rumah sangat berantakan.
"Calista!" panggil Papah dan spontan Calista berlari kearahnya.
"Ada apa, Pah?"
"Papah kan udah bilang, kamu gak boleh main keluar. Tapi kok kamu malah pergi sama Kevin."
Calista diam saja dan ia sangat kecewa karena sepertinya Bayu telah mengadu kepada Papah.
"Papah sih gak melarang kalau Kevin atau sahabat-sahabat kamu datang untuk main ke rumah. Tapi Papah gak suka kalau kamu main ke tempat yang jauh ataupun ke club."
"Calista cuma pergi ke rumah Rania kok, Pah. Soalnya Rania kemarin ulang tahun dan juga tadi pagi Calista sama yang lainnya juga pergi ke rumah Andini buat minta maaf tentang kasus pembully-an."
"Pah, udahlah gak apa-apa. Biarkan Calista main kemanapun yang dia mau, lagipula sekarang dia kan udah dewasa," ujar Mamah.
"Ya sudah terserah! tapi kalau kamu berbuat onar lagi, Papah akan pindahkan kamu." Papah bergegas pergi menuju kamarnya.
Calista hanya bisa pasrah dan berdoa supaya ia tidak melakukan kesalahan lagi. Ia tidak bisa membayangkan jika nantinya ia dipindahkan, bisa-bisa dirinya tidak mempunyai teman sebaik sahabatnya yang sekarang.
"Kamu masak gak?" tanya Mamah, lalu Calista hanya menggelengkan kepalanya karena memang selama orang tuanya pergi, Calista selalu membeli makanan lewat online ataupun membelinya di rumah makan terdekat.
"Mamah lapar ya? ya udah kalau gitu aku beli makanan dulu ya."
"Gak usah deh, biar Mamah aja yang beli."
"Gak apa-apa, Mah. Biar Calista aja yang beli, soalnya Mamah kan pasti capek," ujar Calista sambil pergi.
...****************...
Diperjalanan menuju rumah makan, tiba-tiba Calista merasa bahwa dirinya diikuti oleh seseorang. Dan ketika melihat kebelakang, memang benar bahwa ada seorang lelaki yang memakai masker seperti sedang mengawasi Calista.
Dengan cepat, Calista berlari menuju rumah makan karena tak mungkin jika ia berbalik arah.
"Calista!" teriak lelaki itu. Lalu, Calista berhenti berlari dan menoleh kebelakang.
Calista mengamatinya disaat lelaki itu membuka maskernya. Dan ternyata itu adalah Randy, lelaki yang mengajaknya kenalan saat di club.
Randy menghampiri Calista sambil tertawa, karena menurutnya Calista sangat lucu. "Lo kenapa lari? takut sama gue?"
"Iya, gue pikir lo penjahat."
"Sorry ya udah bikin lo takut."
"Lo ngapain sih pakai masker malam-malam?" heran Calista.
Randy menjelaskan bahwa ia sedang kabur dari rumah, makanya ia memakai masker karena takut ketahuan oleh orang tuanya.
"Kenapa kabur?"
"Gak kenapa-napa, cuma gue gak betah aja di rumah."
"Ya udah kalau gitu gue beli makanan dulu ya."
"Gue ikut! soalnya gue juga mau beli makanan."
Akhirnya keduanya pergi menuju rumah makan yang jaraknya hanya beberapa langkah lagi dari hadapannya.
Skip
Selesai membeli makanan, Calista pamit kepada Randy. Karena tidak enak juga jika dirinya pergi begitu saja.
"Ta, gue antar ya?"
"Gak usah! rumah gue dekat kok."
"Gak ada penolakan! cepat naik!" perintah Randy.
Karena Calista takut orang tuanya menunggu lama, jadi ia terima saja tawaran untuk naik motor bersama Randy.
Kemudian, Calista memberi tahu arah rumahnya kepada Randy, lalu Randy mengikuti arahan dari Calista.
"Ran, jadi malam ini lo tidur dimana?"
"Di rumah teman."
"Rumah teman lo dekat sini ya?"
"Iya, dia tinggal di perumahan ini."
Saat Randy menghentikan kendaraan, Calista buru-buru turun dan berterima kasih kepadanya.
"Ta, ini rumah lo?" tanya Randy, lalu Calista hanya mengangguk.
"Berarti rumahnya berhadapan langsung sama rumah teman gue dong."
"Jadi teman lo itu Bayu?"
Randy mengangguk dan ia memberitahu bahwa Bayu adalah temannya.
Skip
Selesai memberikan makanan kepada orang tuanya, Calista pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.
Sebelum tidur, Calista selalu melakukan aktivitas yang sering ia lakukan, yaitu mengecek ponselnya untuk mengetahui apakah ada pesan masuk atau tidak.
Tepat saat Calista mengecek, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Kevin dan otomatis Calista menjawab telepon dari Kevin.
"Ini pacar Kevin?" tanya seseorang yang Calista yakin bahwa itu adalah suara Papahnya Kevin.
"Iya, Om. Ini pacarnya Kevin."
"Kamu bisa jauhi Kevin gak? soalnya gara-gara kamu, anak saya selalu menghambur-hamburkan uang untuk kamu. Kamu juga pasti tahu kalau orang tua itu bekerja untuk menafkahi anaknya dan sekarang anak saya justru menghamburkan uang untuk pacarnya yaitu kamu," ujar Papah Kevin.
"Apa jangan-jangan kamu yang minta ke Kevin untuk dibelikan kalung?" sambung Papah Kevin.
Calista meneteskan air matanya karena baru kali ini dirinya dituduh sebagai perempuan matre. Padahal ia sama sekali tidak memaksa Kevin untuk membelikan kalung.
"Kok malah diam? apa memang benar ya kalau kamu yang minta?" tanya Papah Kevin.
"Enggak, Om. Kevin sendiri yang niat belikan kalung itu buat Calista." Setelah berkata seperti itu, Calista langsung mematikan teleponnya.
Calista menangis sesenggukan dan tak lama kedua orang tuanya datang menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Papah.
Bukannya menjawab, Calista justru semakin menangis karena ia merasa sakit hati.
Mamah duduk disebelah Calista dan memeluk Calista. "Udah jangan nangis. Coba kamu jelaskan pelan-pelan tentang apa yang buat kamu menangis."
Calista menggelengkan kepalanya, ia tak mau jika nantinya Papah murka setelah tahu bahwa anaknya disebut matre. Dan juga Calista tidak menjawabnya karena ia khawatir jika nantinya Papah akan membenci Kevin.
...****************...
Keesokan paginya, Calista datang ke sekolah lebih awal. Sebelumnya, Calista juga telah memberitahu Kevin agar tidak datang ke rumahnya. Mungkin karena Calista sudah memberitahunya, pastinya Kevin juga akan datang ke sekolah lebih awal.
Karena bel masuk masih lama, jadi Calista memutuskan untuk pergi menuju rooftop untuk menenangkan diri disana. Jujur saja Calista masih teringat dengan perkataan Papah Kevin.
Selama di rooftop, Calista hanya duduk sambil menatap langit. Ketika melihat langit, ia merasa sedang melihat Kevin.
Ya benar, Kevin adalah langit dan Calista adalah bumi. Jadi sulit sekali untuk setara dengannya. Bahkan meskipun Calista terbilang dari keluarga berkecukupan, namun jika dibandingkan dengan Kevin pastinya sangat berbeda tingkat ekonominya.
"Calista!" panggil Bayu sambil berlari menghampiri Calista.
"Lo kenal sama Randy?" tanya Bayu, lalu Calista hanya mengangguk. Setelah itu, Calista kembali melamun.
Calista menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak sedang bertengkar dengan Kevin, melainkan ia ada masalah dengan Papahnya Kevin.
"Bayu, kayaknya gue mau putus deh sama Kevin."
"Katanya gak ada masalah, tapi kok tiba-tiba ingin putus."
"Iya, gue sama Kevin gak ada masalah. Cuma kayaknya gue lebih suka jadi sahabatnya Kevin."
Bruk!
Calista dan Bayu spontan menoleh kebelakang, yang mana dibelakangnya ada Kevin yang sedang mematung karena kecewa dengan perkataan Calista.
"Jadi selama ini kamu pura-pura cinta sama aku, Ta?" tanya Kevin dengan mata yang berkaca-kaca.
Calista mengangguk pelan, padahal sebenarnya ia benar-benar mencintai Kevin selama masa pacaran.
"Ini aku kembalikan kalung kamu." Calista mengembalikan kalung pemberian Kevin.
Kevin melempar kalung itu, lalu ia bergegas pergi.
Calista meneteskan air matanya sambil mengambil kalung yang tergeletak di tanah.
"Kevin selingkuh ya, Ta?" tuduh Bayu, karena tak mungkin jika Calista ingin putus tanpa sebab.
Calista buru-buru mengusap air matanya supaya Bayu tak melihat Calista menangis. "Dia gak selingkuh kok."
"Jadi selama pacaran, lo pura-pura suka sama dia?"
"Iya. Jahat banget kan gue?"
Bayu hanya terdiam, ia juga tidak bisa menyebut Calista sebagai orang yang jahat, karena pastinya Calista seperti itu karena dia tidak ingin menyakiti perasaan Bayu.
"Ta, ngomong-ngomong akun Facebook yang heboh waktu itu udah dihapus loh sama pemiliknya," ujar Bayu agar mengalihkan pembicaraan.
"Tapi udah ketahuan kan siapa orangnya?"
"Gak tahu. Tapi meskipun ketahuan, pihak sekolah pasti akan merahasiakannya dan gak lama beberapa murid akan sadar karena pastinya orang yang pindah atau dikeluarkan dari sekolah itu adalah pelakunya."
...****************...
Kevin POV
Semenjak kejadian tadi, Kevin jadi pendiam dan bahkan ketika Erick bertanya, Kevin malah mengabaikannya.
"Vin, lo masih marah sama gue ya?" tanya Erick dan lagi-lagi Kevin hanya diam.
Karena tak ingin ditanya-tanya, akhirnya Kevin bergegas pergi.
"Kevin, kamu mau kemana?" tanya guru.
"Mau ke toilet," ujar Kevin sambil pergi.
Beberapa menit setelah keluar dari kelas, tiba-tiba seorang perempuan mendekati Kevin. Ya, Kevin kenal dengan perempuan itu, karena memang perempuan itu dulu pernah menyatakan cinta kepada Kevin.
"Kevin, gue semalam lihat Calista sama cowok. Gue pikir cowok itu lo, tapi ternyata bukan," ujar Puspita.
"Serius lo?"
"Iya, gue serius. Gue juga sempat foto mereka."
Puspita menunjukkan foto itu kepada Kevin. Dan saat diperhatikan lebih jelas, ternyata lelaki yang ada didalam foto tersebut adalah kenalan Calista yang pada saat itu berada di club.
"Calista selingkuh ya, Vin?"
"Enggak. Calista gak mungkin selingkuh."
"Tapi cowok ini siapa?"
"Itu temannya Calista. Gue juga tahu dia kok."
Sesudah mengobrol, Kevin buru-buru pergi. Bukan ke kantin, melainkan ia pergi ke perpustakaan. Tadinya ia memang ia ke kantin, tapi karena takut ketahuan bolos, jadi lebih baik Kevin pergi ke perpustakaan. Sebab, pastinya penjaga perpustakaan mengira bahwa Kevin berada di perpustakaan karena gurunya sedang tidak masuk.
...****************...
Calista terus menatap kearah pintu kelas. Karena sudah lima belas menit, namun Kevin belum juga masuk ke kelas.
Pundak Calista ditepuk oleh Erick dan otomatis Calista menoleh kebelakang. "Ada apa?"
"Kevin masih marah ya sama gue?" tanya Erick.
"Gak tahu."
"Emang Kevin kenapa marah sama lo?" tanya Friska, lalu Erick menjelaskan bahwa dirinya mengajak Calista jalan-jalan. Padahal posisinya, Calista sedang menjalin hubungan dengan Kevin.
Calista merasa bahwa Kevin bolos mata pelajaran pertama bukan karena dia masih kesal dengan Erick, melainkan Kevin kesal dengan Calista akibat kejadian tadi pagi.
Dari lubuk hati terdalam, Calista merasa bersalah atas sikapnya terhadap Kevin. Meskipun ia berniat menjauh dari Kevin, tetapi seharusnya Calista tidak berkata bahwa dirinya pura-pura mencintai Kevin. Karena hal itu, Kevin pastinya akan menganggap Calista sangat jahat. Tapi apa boleh buat, Calista sudah terlanjur mengatakannya.
Sejujurnya, Calista tidak ingin menjauhi dari Kevin. Namun karena Papah Kevin sepertinya tidak suka jika Calista berhubungan dengan Kevin, jadi Calista terpaksa untuk menjaga jarak dari Kevin.
Calista tak ingin mengadu tentang Papah Kevin yang menyuruhnya untuk menjauhi Kevin, karena jika sampai Calista mengadu kepada Kevin mungkin dia akan sangat marah besar kepada Papahnya dan bisa-bisa keduanya akan bertengkar. Bahkan yang lebih parah, Calista takut Papahnya Kevin akan memukuli Kevin.
Skip
Bel istirahat berbunyi dan Calista buru-buru pergi mencari Kevin di rooftop, karena kalau bolos biasanya Kevin selalu ke rooftop. Tetapi saat Calista pergi ke rooftop, Kevin sama sekali tidak ada disana. Dengan begitu, Calista pergi menuju UKS karena siapa tahu Kevin ada disana. Namun setelah ke UKS, Kevin tidak ada juga disana.
Karena di rooftop maupun di UKS tidak ada, jadi Calista mencoba mencari Kevin di perpustakaan. Ia sengaja tidak pergi ke kantin terlebih dahulu karena biasanya Kevin kalau lagi gak mood pastinya dia tidak akan makan ke kantin. Maka dari itu Calista yakin bahwa sekarang Kevin berada di perpustakaan.
Tiba di perpustakaan, Calista melihat Kevin yang sedang tertidur. Lalu, Calista segera berjalan menghampirinya.
Calista duduk didepan Kevin sambil menatap kearah Kevin yang sedang tertidur. Ia sengaja tidak membangunkannya karena jika Kevin melihat Calista, mungkin Kevin akan menyuruh Calista untuk pergi.
"Maafin aku ya, Vin." Setelah berkata seperti itu, Calista berdiri dan berniat pergi. Namun, tiba-tiba tangannya dipegang oleh Kevin.
"Duduk dulu!" perintah Kevin. Sebenarnya tadi Kevin hanya pura-pura tidur disaat Calista masuk ke perpustakaan. Kevin hanya ingin tahu, perkataan apa yang Calista ucapkan disaat Kevin tertidur.
Calista kembali duduk. "Ada apa?"
"Jadi kamu mau putus sama aku?" tanya Kevin sambil menatap wajah Calista.
Calista diam saja, jujur saja ia sebenarnya tak ingin mengakhiri hubungannya yang baru beberapa Minggu.
"Jawab aja, Ta. Kalau kamu jawab, aku akan hargai keputusan kamu."
Air mata Calista tiba-tiba lolos begitu saja. Ia sangat bimbang untuk mengatakannya.
"Kenapa susah jawab? padahal kan tinggal jawab iya doang," heran Kevin.
"Iya, aku mau putus."
Calista mengambil kalung dan kembali memberikannya kepada Kevin.
"Ini aku kembalikan kalung dari kamu."
Kevin menatap kalung tersebut, ia heran mengapa Calista terus saja memberikan kalung itu kepada Kevin, padahal Kevin kan sudah memberikan kalung itu kepadanya dan tentunya kalung itu jadi milik Calista.
"Kamu kembalikan kalung itu karena kamu cemburu sama Rania ya?" tanya Kevin, karena ia pikir Calista merasa tidak suka jika hadiahnya sama dengan orang lain.
"Enggak kok."
"Kalung kamu sama Rania beda kok, Ta. Kalung kamu lebih bagus dibandingkan punya Rania."
"Bukan gitu. Cuma aku gak enak terima hadiah mahal dari kamu. Dan lebih baik kamu jual lagi aja kalung ini, nanti uangnya kamu bisa tabung lagi."