Fearless

Fearless
Episode 39



Bel istirahat baru saja berbunyi dan semua murid bergegas menuju kantin. Begitupun dengan Calista dan sahabat-sahabatnya, mereka pergi menuju kantin untuk makan siang.


Mendengar dari Erick, katanya setelah istirahat selesai, semua murid akan disuruh untuk bersih-bersih kelas. Setelah itu, semua murid akan dipulangkan karena guru-guru sedang mengadakan rapat.


"Kalau gini jadinya, gue lebih baik gak sekolah aja," keluh Friska.


"Lebih baik sekolah lah, lumayan kan dikasih uang jajan," sahut Erick.


"Guys, kalian duluan aja ke kantin. Soalnya gue lagi ada urusan," kata Kevin.


"Mau kemana?"


Kevin tidak menjawab, ia malah pergi begitu saja.


"Berantem lagi ya?" tanya Erick.


"Enggak sih. Cuma kayaknya Kevin sedikit kesal karena ucapan gue."


"Emang ada apa?" tanya Friska penasaran.


"Sorry, gue gak bisa jelasin."


Skip


Pandangan Calista terus melihat kesekitar untuk mencari Kevin. Sudah sekitar sepuluh menit, namun Kevin tidak kunjung datang.


"Kevin mana sih?" heran Erick.


Tak lama, akhirnya Kevin muncul dan ia berlari kearah Calista, Friska dan Erick.


"Vin, ini gue udah pesankan makanan sama minumannya."


"Makasih ya," kata Kevin sambil tersenyum.


Calista sangat heran, padahal tadi Kevin seperti sedang kesal kepada Calista.


"Aneh banget," batin Friska sambil menatap kearah Kevin, karena sebelumnya Calista memberitahu bahwa Kevin sedang kesal, namun kini Kevin seperti tidak kesal dengan Calista.


"Besok jangan lupa datang ya, soalnya biar gue semangat tandingannya," ujar Kevin.


"Iya, kita pasti datang kok," kata Erick.


"Vin, gue gak janji ya. Soalnya gue kan dilarang pergi sama papah."


Raut wajah Kevin menjadi murung ketika mendengar perkataan Calista.


"Bukannya papah kamu udah maafin kita semua ya?" tanya Kevin memastikan.


"Iya sih, tapi kan belum tentu juga aku diperbolehkan untuk pergi."


Friska dan Erick menatap satu sama lain, pasalnya keduanya bingung karena tiba-tiba Calista dan Kevin memanggil satu sama lain dengan sebutan 'aku, kamu'.


"Ya udah gak usah datang!" kesal Kevin.


"Ya udah nanti aku bujuk papah deh, siapa tahu dibolehin pergi."


"Gak usah!" bentak Kevin yang membuat Calista, Friska dan Erick menjadi terdiam.


Karena merasa Kevin sangat marah, akhirnya Calista memutuskan untuk pergi. Sebab Calista tahu jika ia tidak pergi, makan Kevin nantinya akan pergi.


...****************...


Kevin POV


Kevin menghela nafasnya disaat Calista pergi. Ia sebenarnya tak tega membentak Calista karena memang dalam hal ini Calista tidak salah. Hanya saja karena Kevin dari awal sedang kesal kepada Calista, jadi emosinya keluar begitu saja.


"Vin, gak ada Calista juga gak apa-apa kali. Yang penting kita berdua kan datang buat semangati lo," kata Erick.


"Masalahnya kalau gak ada dia, gue jadi kurang semangat."


Friska tertawa seraya meledek Kevin. "Dasar bucin. Padahal pacaran aja enggak."


Rasanya Kevin ingin sekali memberitahu mereka kalau sebenarnya Kevin dan Calista sedang berpacaran. Tetapi karena ingin menghargai keputusan Calista, maka dengan terpaksa Kevin harus merahasiakan hubungannya.


"Cari cewek lain aja, lagipula banyak loh yang mau sama lo," kata Erick.


"Gak minat!"


"Pacaran sama Desi aja," sahut Friska, karena memang saudaranya sangat menyukai Kevin.


"Ogah!"


Kevin buru-buru menghabiskan makanannya, setelah itu ia segera pergi menuju kelas untuk menemui Calista.


Skip


Setibanya di kelas, Kevin melihat Calista yang sedang mengobrol dengan Bayu. Dengan begitu, Kevin bergegas menghampiri keduanya.


Cemburu? ya tentu, Kevin sangat cemburu melihat kedekatan Calista dengan Bayu. Apalagi Calista pasti sering menghabiskan waktu berdua dengan Bayu, sebab rumah mereka sangat dekat.


"Ta, aku mau bicara sesuatu sama kamu," kata Kevin.


"Mau bicara apa?" tanya Calista tanpa menatap Kevin, karena ia masih merasa bersalah.


"Ya udah ayo keluar. Kita bicaranya diluar aja."


Akhirnya Calista dan Kevin pergi keluar kelas.


Seketika keduanya saling menatap satu sama lain. Disisi lain, Calista bingung karena Kevin hanya diam saja, padahal tadi Kevin menyuruhnya keluar karena ingin menyampaikan sesuatu.


"Kamu tadi ngobrol apa sama Bayu?"


Calista terdiam sejenak, ia merasa bahwa Kevin menyuruhnya keluar bukan karena Kevin ingin berbicara sesuatu, melainkan Kevin ingin menanyakan tentang obrolan apa yang dibahas oleh Calista dan Bayu.


Calista menjelaskan bahwa ia meminta agar besok Bayu mengajaknya pergi untuk menonton pertandingan basket, karena jika bersama Bayu pastinya papah Calista akan mengijinkan.


"Kenapa harus sama Bayu sih?"


"Kalau aku pergi sendiri, pastinya papah akan mengira bahwa aku pergi sama kamu atau yang lainnya."


"Ya udah gak apa-apa deh, yang penting kamu lihat aku tanding."


Disaat Calista hendak kembali ke kelas, Kevin dengan cepat mencegahnya agar tidak pergi.


"Ta, maafin aku ya. Tadi pasti kamu marah ya sama aku?"


"Yang marah itu kamu, bukan aku."


"Aku gak marah kok."


"Gak marah, tapi membentak," sindir Calista.


Tanpa aba-aba, Kevin langsung menarik Calista dan memeluknya dengan erat.


"Lepasin! nanti ketahuan sama orang lain."


"Gak akan ketahuan. Lagian kebanyakan orang lagi ada di kantin."


Uhuk!


Kevin dan Calista spontan menoleh ke lantai dua, yang mana ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Dengan begitu, keduanya langsung menjaga jarak satu sama lain. Bahkan sekarang Calista berlari ke kelas karena ia sangat malu.


Kevin mengikuti Calista ke kelas karena ia ingin melihat ekspresi wajah Calista yang sedang malu. Dan benar saja, saat Kevin melihatnya, wajah Calista begitu merona.


"Bayu, lo setiap istirahat kenapa sering di kelas sih?" tanya Kevin sambil duduk disebelah Calista.


"Gue bawa bekal, makanya gue jarang jajan di kantin."


Kevin merasa iri dengan Bayu, lantaran ia tidak pernah dibikinkan bekal oleh mamahnya. Jangankan bekal, sekarang saja ia tidak bisa merasakan masakan buatan mamahnya lagi.


"Oh iya, Friska katanya suka sama lo."


"Lo bohong ya?" tanya Bayu.


"Serius. Kalau gak percaya, tanya aja Calista."


Trining! Trining!


Bel masuk berbunyi dan tak lama speaker yang ada di kelas juga berbunyi untuk memberitahu supaya murid-murid segera masuk ke kelas untuk membersihkan kelasnya masing-masing.


"Malas banget," keluh Calista.


"Ya udah kita langsung pulang aja yuk."


"Kalau langsung pulang nanti dimarahin dan juga pastinya gerbang belum dibuka," kata Calista.


"Kalau gitu kita ke rooftop aja, biar gak disuruh bersih-bersih."


Disisi lain, Bayu menatap datar kearah Kevin. Sebagai lelaki, Bayu sangat tahu bahwa Kevin mengajak Calista ke rooftop bukan karena tidak mau bersih-bersih kelas, melainkan Kevin ingin berduaan dengan Calista.


"Bayu, mau ikut gak?" ajak Calista.


"Siapa tahu kan dia juga malas bersih-bersih, makanya aku ajak dia," jelas Calista.


"Lo berdua aja yang kesana, soalnya gue mau bersih-bersih kelas."


Calista dan Kevin buru-buru pergi menuju rooftop sebelum semua teman-temannya datang. Karena jika sampai mereka bertemu dengan ketua kelas, mungkin keduanya akan dimarahi.


Sebenarnya mereka tidak takut jika orang-orang memarahinya, tetapi yang mereka takuti jika ketua kelas melapor kepada wali kelas.


Setibanya di kelas, Calista dan Kevin melihat Friska dan Erick yang bermain game bersama.


"Benar kan tebakan gue, Calista sama Kevin pasti kesini," ujar Friska.


"Gue heran deh sama lo berdua akhir-akhir ini, kadang berantem terus baikan lagi," kata Erick.


"Namanya juga sahabatan, pastinya akan cepat baikan," kata Calista.


"Tapi kok sama Rania lama banget baikannya," canda Erick sambil tertawa kecil.


Calista terdiam sejenak saat mendengar perkataan Erick. Ia cukup kesal karena sepertinya Erick selalu membela Rania, padahal sudah jelas bahwa Rania bersalah.


"Coba lo pikir aja. Misalnya sahabat cowok lo selingkuh sama pacar lo, lo masih akan berteman gak sama sahabat lo," murka Calista.


"Santai dong, Ta. Perasaan gue cuma bercanda, tapi kok lo jadi marah-marah kayak gini," kata Erick.


Kevin dan Friska bingung dengan situasi ini. Keduanya tahu bahwa Erick hanya bercanda, tetapi karena mood Calista sepertinya tidak baik, jadi Calista menganggap bahwa perkataan Erick merupakan sindiran untuknya.


"Vin, gue ke kelas dulu," ujar Calista sambil pergi.


"Perasaan gue cuma bercanda, kok dia sensitif banget sih," heran Erick.


Tiba-tiba Friska mendekat dan duduk disebelah Kevin. Pandangannya menatap kearah gelang yang dipakai Kevin.


"Kok mirip sama gelang Calista," ucap Friska sambil mengangkat tangan Kevin.


"Emang iya?"


"Iya, tadi gue lihat Calista juga pakai gelang ini," jelas Friska.


"Mungkin gelangnya kebetulan sama kali."


Friska melepaskan gelang yang dipakai Kevin, lalu ia memakai gelang tersebut.


"Buat gue ya," mohon Friska.


"Gak boleh!" Kevin kembali mengambil gelang miliknya.


Friska mengerucutkan bibirnya, padahal biasanya jika ia meminta barang kepada Kevin, pastinya Kevin akan memberikan barang kepada Friska. Bukan hanya kepada Friska, tetapi Kevin juga sering memberikan hadiah-hadiah kecil kepada sahabat-sahabat yang lainnya.


"Minta yang lain aja, jangan yang ini."


"Mau mobil lo," pinta Friska.


"Gila lo!"


Friska hanya tertawa saat mendengar umpatan yang dilontarkan Kevin.


"Guys, gue ke kelas dulu ya. Soalnya mau minta maaf ke Calista," ujar Erick, karena meskipun tadi ia hanya bercanda tetapi ia merasa bersalah kepada Calista.


"Oh iya, tadi gue udah memberitahu Bayu tentang lo yang suka sama dia."


"Terus respon dia gimana?" tanya Friska.


Kevin tertawa meledek. "Biasa aja sih. Kayak orang yang gak tertarik."


Friska memukul tangan Kevin karena ia kesal sebab Kevin menertawakannya.


"Vin, sebenarnya gue itu cantik gak sih? kok kayaknya gak ada cowok yang tergila-gila sama gue," keluh Friska.


Kevin menatap wajah Friska. "Cantik. Tapi lebih cantikan pacar gue."


"Hah! lo udah punya pacar?"


"Punya, di imajinasi gue."


Friska menatap miris kearah Kevin, ia menganggap bahwa Kevin sangat gila sampai-sampai membayangkan kalau dirinya mempunyai seorang kekasih.


"Vin, gimana ya caranya agar Calista sama Rania baikan lagi? gue benar-benar kangen disaat kita semua kumpul bareng."


"Gue juga gak tahu caranya. Bahkan kalaupun gue menyuruh Calista buat maafin Rania, pastinya Calista akan kesal sama gue."


"Apa jangan-jangan Calista masih cinta ya sama Reyhan, makanya dia masih marah sama Rania."


Kevin menghela nafasnya. "Entahlah, tapi gue rasa ucapan lo ada benarnya."


Friska menyesal atas ucapannya tadi, karena ia baru mengingat bahwa Kevin menyukai Calista dan pastinya Kevin akan sedih bila tahu Calista masih mencintai mantannya.


"Friska, Kevin!" panggil Rania dan serentak Kevin dan Friska menoleh kebelakang.


"Kenapa, Ran?"


Rania berjalan menghampiri Kevin dan Friska. "Sebentar lagi gue ulang tahun. Lo berdua mau gak datang ke rumah gue?"


Kevin dan Friska menatap satu sama lain. "Berdua doang?" tanya Friska.


Rania menganggukkan kepalanya, karena tidak mungkin juga Calista datang merayakan ulang tahun Rania, secara Calista masih membenci Rania.


"Ya udah nanti gue ke rumah lo," ujar Friska, karena sejujurnya ia merasa kasihan kepada Rania.


"Kalau lo bisa gak, Vin?" tanya Rania.


Kevin mengangguk, padahal hatinya tak tenang karena takut Calista akan marah kepadanya. Tapi mau bagaimana lagi, Rania telah mengundangnya dan tentunya Kevin harus datang.


"Nanti gue ajak Erick juga ya," kata Friska.


"Iya boleh," kata Rania.


"Calista gak akan diajak?"


"Lo kan tahu kalau Calista masih marah sama gue dan pastinya dia gak akan datang," jelas Rania.


...****************...


Selesai bersih-bersih kelas, Calista segera pergi menghampiri Kevin dan Friska yang sedang berada di rooftop


Ketika sampai di rooftop, Calista melihat Friska yang sedang berfoto dengan Kevin dan itu membuat Calista sedikit khawatir, karena ia takut jika kejadian waktu itu terjadi lagi.


Uhuk! Uhuk!


Kevin dan Friska menoleh kebelakang, lalu keduanya berjalan menghampiri Calista.


"Udah selesai?" tanya Kevin sambil mengambil tasnya yang telah dibawakan oleh Calista.


"Makasih ya, Ta." Friska mengambil tas miliknya.


"Ya udah ayo pulang," ajak Kevin sambil merangkul pundak Calista.


Calista dengan cepat melepaskan rangkulan Kevin, karena ia tidak mau jika Friska sadar dengan hubungan Calista dan Kevin.


Kevin menatap wajah Calista, Kevin merasa bahwa Calista salah paham dengan apa yang tadi dilihatnya. Pasti Calista berpikir bahwa Kevin akan selingkuh dengan Friska.


Skip


Ketika masuk kedalam mobil, Kevin tidak langsung melajukan mobilnya. Ia malah mengklarifikasi bahwa tadi dirinya hanya berfoto saja dengan Friska.


"Ya udah ayo pulang."


"Tapi kamu gak marah kan, Ta?"


"Enggak kok."


Kevin tersenyum sambil mengelus pipi Calista. Setelah itu, Kevin segera melajukan mobilnya.


Calista membuka laci dashboard mobil Kevin untuk mencari cemilan, karena biasanya Kevin selalu menyimpan cemilan ataupun permen didalam laci dashboard. Tetapi ketika dibuka, ia melihat ada lipstik yang entah itu milik siapa.


"Ini yang siapa?"


Kevin melirik sekilas kearah benda yang dipegang Calista. "Itu punya Rania. Soalnya waktu itu kan dia suka ikut pulang bareng, makanya ada beberapa barang dia yang ketinggalan di mobil."


Kemudian, Calista kembali menaruh lipstik itu didalam laci dashboard.


"Jangan marah. Nanti setelah antar kamu pulang, aku bakal kembalikan barang-barang dia kok."


"Aku gak marah, aku cuma tanya doang."


Entah kenapa baru sekarang Calista merasa cemburu, padahal Calista tahu bahwa waktu itu Kevin sering mengantar Rania pulang karena rumahnya searah dengan rumah Kevin.


"Hmm... tapi kamu gak ada perasaan kan sama Rania?" tanya Calista karena jujur ia lebih baik mengakhiri hubungannya dari awal daripada mengetahui pacarnya berselingkuh.


"Gak ada," jelas Kevin.