
Calista merasa tak enak dengan Kevin, karena Kevin pastinya belum bisa menerima jika papahnya menikah lagi. Sama dengan Calista, dulu ia juga menentang papahnya untuk menikah lagi, tetapi seiring waktu Calista bisa menerima mamah tirinya.
"Vin, aku doakan semoga mamah tiri kamu bersikap baik sama kamu."
"Aku harap juga begitu."
"Oh iya, ini kalungnya." Kevin memakai kalung pada leher Calista.
"Makasih, sayang."
Calista tertawa kecil saat berkata seperti itu. Kata tersebut masih terdengar aneh bagi Calista. Ia sedikit malu setiap mengatakan kata tersebut kepada Kevin. Padahal jika dengan Reyhan, ia sama sekali tidak malu bahkan sepertinya Calista sering kali menggunakan kata itu.
"Kamu kenapa sih selalu ketawa setiap panggil aku dengan sebutan sayang," heran Kevin.
"Soalnya agak aneh."
"Ya udah mulai sekarang biasakan, biar nanti merasa gak aneh lagi."
"Oke siap," ucap Calista dengan logat yang seringkali dipakai Bayu.
Raut wajah Kevin berubah masam ketika mendengar ucapan Calista. Kalau boleh jujur, Kevin sangat kesal setiap mendengar Calista meniru logat Bayu.
"Ya udah ayo pulang, aku mau tidur."
"Tidur disini aja sama aku," canda Kevin.
"Dasar orang gila!" umpat Calista.
Kevin tertawa kecil. "Jaga ucapannya."
Calista merasa aneh, seharusnya Kevin yang menjaga ucapannya. Tetapi Kevin malah mengatakan bahwa Calista yang harus menjaga ucapannya.
"Kamu kebanyakan bergaul sama Erick sih, jadi pikirannya mesum."
"Aku tadi cuma bercanda kok. Kamu aja yang anggap serius."
"Erick pasti sering kasih link ya ke kamu?" tuduh Calista, karena biasanya kebanyakan lelaki suka berbagi link video delapan belas keatas.
"Jangan fitnah. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan."
Calista meraba saku celana Kevin untuk mengambil ponsel milik Kevin. Ia ingin memastikan chat-chat dari Erick.
"Kamu mau ngapain?"
"Mau lihat chat-chat Erick sama kamu."
Kevin dengan cepat mengambil ponselnya kembali karena banyak sekali rahasia di chat-nya dengan Erick.
"Gak boleh! ini udah melanggar privasi!" bentak Kevin.
"Ya udah biasa aja kali."
"Kamu boleh lihat chat aku sama yang lain, kalau chat aku sama Erick gak boleh."
"Bilang aja banyak link video yang dikirim Erick, makanya aku gak dibolehin lihat."
Kevin menghela nafasnya, lalu ia mengajak Calista untuk pulang karena tadi Calista mengatakan bahwa dia ingin tidur.
Skip
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Calista masih kesal karena tadi Kevin membentaknya. Bahkan sampai saat ini Kevin diam saja tanpa meminta maaf kepada Calista.
"Vin, aku turun disini aja."
"Kenapa turun disini?"
"Aku mau beli sesuatu dulu. Jadi kamu pulang langsung aja ke rumah."
"Enggak, aku tunggu disini aja sampai kamu udah beli barangnya."
Calista tetap menyuruh Kevin pergi karena Calista ingin membeli bunga dan setelah itu ia ingin mengunjungi makam mamahnya.
Makam mamahnya memang berada didekat daerah ini, maka dari itu Calista ingin mengunjunginya sebab ia sudah lama tak mengunjungi makam mamahnya.
"Mau beli apa sih?"
"Aku mau beli bunga buat mamah."
"Ya udah aku tungguin disini ya."
"Tapi aku pasti agak lama di makamnya."
Kevin terdiam, ia pikir Calista ingin membeli bunga untuk mamah tirinya, tapi ternyata ia kesini untuk membeli bunga buat mamahnya yang sudah meninggal.
"Jangan! aku pingin menghabiskan waktu berdua dulu sama mamah."
"Kalau gitu aku tunggunya disini, jadi nanti saat kamu udah selesai dari makam, aku langsung antar kamu pulang."
"Udah aku bilang jangan! keras kepala banget sih jadi orang," kesal Calista, lalu ia segera pergi.
Sebenarnya Calista bersikap seperti itu karena ia ingin membalaskan dendamnya karena tadi Kevin membentaknya.
Calista pergi dengan perasaan campur aduk. Ia kesal namun juga ia merasa bersalah. Karena jika dipikirkan kembali ucapan Kevin itu ada benarnya, sebab chat itu bersifat pribadi, jadi Kevin pastinya marah karena memang ada banyak rahasia didalam chat-nya.
...****************...
Kevin POV
Meskipun Calista menyuruh Kevin untuk pergi, namun Kevin tak tega meninggalkannya. Perjalanan dari daerah ini menuju rumah Calista agak jauh, makanya Kevin lebih baik menunggunya disini.
Jika meninggalkan sendirian, Kevin takut kalau Calista diculik orang. Meskipun terdengar lebay, tetapi yang namanya pacar pastinya akan khawatir.
Dari dalam mobil, Kevin melihat Calista yang baru saja keluar dari toko bunga. Lalu, ia buru-buru melajukan mobil untuk mengikuti Calista dari belakang.
Calista yang melihat Kevin masih disini langsung memberi aba-aba seraya menyuruh Kevin untuk pergi.
Kevin hanya tersenyum saat melihat Calista yang sepertinya kesal karena Kevin tidak mau menuruti perintah dari Calista.
Dan tiba-tiba, seorang pengendara motor mengambil tas miliknya Calista. Otomatis Kevin panik dan ia langsung membuka pintu sebelah kiri agar pengendara motor itu menabrak pintu mobilnya.
Bruk!
Pengendara motor itu terjatuh. Kevin dengan cepat keluar dari mobil untuk mengambil tas milik Calista.
Calista berlari dan mengambil tas miliknya. Sedangkan Kevin, tadinya ia berniat menelpon polisi. Namun Calista mencegahnya karena ia merasa kasihan.
"Kak, maafin saya. Saya terpaksa mencuri tas kakak, karena saya lagi butuh uang," ujar orang itu.
"Kalau butuh uang itu kerja! bukan malah mencuri," kesal Kevin.
Calista menghela nafasnya, lalu ia mengeluarkan beberapa uangnya untuk diberikan kepada orang itu. "Ini uang buat kamu. Tapi kamu jangan mencuri lagi."
"Ta, jangan! nanti dia malah keenakan."
Calista tetap memberikan uangnya kepada orang itu, lalu orang itu bersujud dan berterima kasih kepada Calista karena telah memberinya uang.
"Ya udah sana pergi!" usir Kevin, lalu orang itu pergi.
Kevin mengunci pintu mobilnya, lalu ia segera menghampiri Calista. "Aku ikut kesana!"
"Udah aku bilang kalau aku pingin sendiri."
"Jangan keras kepala!"
Kevin menggenggam pergelangan tangan Calista dan membawanya menuju tempat pemakaman umum yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat ini.
"Maaf tadi aku membentak kamu."
"Iya, gak apa-apa. Lagian aku yang salah."
"Enggak, kamu gak pernah salah."
Tatapan tajam Calista tertuju kepada Kevin, padahal Kevin berkata seperti itu bukan menyindir Calista, melainkan ia tidak ingin Calista merasa bersalah karena tadi Calista ingin melihat-lihat chat Kevin bersama Erick.
"Bunganya cantik deh, kayak kamu." Kevin mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas kejadian tadi.
"Gombalannya basi banget."
"Ya udah nanti aku cari gombalan yang lain."
"Jangan! aku gak suka sama lelaki yang jago gombal."
Kevin tidak percaya dengan ucapan Calista. Karena Kevin tahu bahwa semua perempuan akan suka dengan gombalan yang dilontarkan oleh lelaki yang dia cintai.
"Ta, udah lama?"
"Maksudnya?"
"Udah lama cantiknya?"
Calista tersenyum sambil memukul tangan Kevin karena ia sangat malu.
"Bukannya berterima kasih, ini malah mukul," batin Kevin.