Fearless

Fearless
Episode 72 (END)



2 tahun kemudian...


Calista menjalani kehidupan dengan sangat baik. Selain sedang kuliah, ia juga mendapatkan gaji yang lumayan besar dari bisnis onlinenya. Ya, semenjak lulus dari SMA, Calista mulai membuka bisnis kecil-kecilan berupa makanan dan minuman yang terbuat dari cokelat.


Awalnya ia memang mencoba-coba, namun ternyata banyak orang yang membeli. Akhirnya Papahnya memberi modal kepada Calista untuk membuka bisnis. Dari situlah Calista mulai membuka bisnisnya lewat media sosialnya dan sekarang bisnis itu mulai berkembang. Calista juga membuka tokonya didekat rumahnya dan pekerja di tokonya tidak lain adalah anak saudaranya mamah, tetapi terkadang mamah dan Calista juga membantu di toko.


"Ta, kamu mau ke toko?" tanya Mamah yang sedang menonton televisi bersama Acha.


"Iya, Mah."


"Emang gak capek? kamu kan baru pulang kuliah."


"Gak capek kok, Mah." Lalu, Calista segera pergi menuju tokonya yang berjarak sekitar lima belas menit dari rumah.


Calista pergi ke tokonya dengan mengendarai mobil. Ya, sekarang Calista sudah lancar membawa mobil, bahkan dirinya sekarang sudah mempunyai SIM.


Tiba-tiba suara alarm berbunyi dan sontak Calista melihat ke layar ponselnya. Itu merupakan alarm pengingat bahwa hari ini adalah ulang tahun Kevin yang ke 21.


Calista menghela nafasnya, ia sungguh merindukan kekasihnya itu. Sudah dua tahun, namun Kevin belum juga pulang ke Indonesia. Calista tahu bahwa Kevin disana sedang menempuh pendidikannya, tetapi ia kecewa karena selama dua tahun ini Kevin selalu berbohong tentang dirinya yang akan pulang ke Indonesia.


Tetapi meski begitu, Kevin kadang-kadang mengabarkan kondisinya disana. Katanya, dia sangat senang karena ada dua temannya juga yang merupakan orang Indonesia.


Calista memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. "Gue telepon Kevin jangan ya?" bingung Calista karena ia sering kecewa, sebab Kevin terkadang menolak panggilan telepon dari Calista.


Ya, semenjak dia pergi ke Australia, dirinya sangat sombong. Bahkan telepon dari pacarnya sendiri saja sering dia tolak. Padahal dulu dia yang mengemis-ngemis cinta kepada Calista, namun sekarang malah kebalikannya.


Sebelum menelponnya, Calista melihat media sosial Kevin untuk melihat story-nya. Karena siapa tahu sekarang dia sedang bersama teman-temannya.


Pada saat melihat story-nya, sepertinya Kevin sedang merayakan ulang tahun bersama teman-temannya dan itu membuat Calista memutuskan untuk tidak meneleponnya, karena ia tidak ingin mengganggu acaranya. Dengan begitu, Calista hanya mengucapkannya lewat pesan dan juga melalui postingan di instagram-nya.


Trining! Trining!


Setelah mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kevin, tiba-tiba Kevin menelpon Calista. Dengan Kevin menelpon Calista, membuat Calista merasa bahwa Kevin masih menganggapnya sebagai seorang kekasih.


"Hallo, sayang."


"Vin, selamat ulang tahun ya."


"Iya, makasih ya."


"Kamu kapan ke Indonesia? aku kangen banget sama kamu."


Kevin hanya diam saja dan itu membuat Calista yakin bahwa Kevin akan tetap berada disana sampai kuliahnya selesai.


"Gak kangen ya?" tanya Calista dengan nada kecewa.


"Aku juga kangen banget sama kamu. Cuma masalahnya aku gak bisa ke Indonesia sekarang."


"Emang gak ada liburnya ya?"


"Ada, cuma aku pakai waktu liburnya buat jalan-jalan disini."


Calista mengerti, jika Calista berada diposisi Kevin juga pastinya akan sering liburan, apalagi disana pastinya banyak tempat yang belum pernah dikunjungi Kevin.


"Ta, sekarang kamu dimana?"


"Aku lagi di jalan. Emang kenapa?"


"Aku boleh video call gak?"


"Boleh."


Kevin mengalihkan teleponnya menjadi video call. Dan ketika wajah Kevin muncul dilayar ponsel, Calista melihat bahwa Kevin sedang berada didalam mobil.


"Itu bukannya mobil kamu yang dipakai saat SMA ya?"


"Enggak kok," ujar Kevin dan dia sepertinya sedang menahan tawanya.


"Vin, kamu udah pulang ke Indonesia ya?" tanya Calista, lalu Kevin hanya tertawa kecil.


"Vin, jawab dong! kamu ada dimana sekarang?"


Kevin memberitahu Calista bahwa dirinya sedang berada di Australia. Kevin juga berkata bahwa dirinya sebentar lagi akan pergi. Tetapi Calista tetap tidak mempercayainya, sebab ia merasa bahwa Kevin saat ini sedang berbohong.


"Vin, aku ke rumah kamu ya."


"Jangan! aku mau pergi."


"Tuh, kan! kamu beneran ada disini."


Kevin tertawa kecil. "Kamu sekarang lagi dimana? soalnya aku mau ketemu kamu."


Calista memberitahu Kevin bahwa sekarang dirinya akan pergi ke toko.


"Ya udah sekarang aku kesana ya," ujar Kevin, lalu ia segera mematikan panggilan video call nya.


...****************...


Calista terus menunggu Kevin yang katanya akan datang ke tokonya dan katanya dia sebentar lagi akan sampai.


"Calista!" panggil Kevin yang baru saja turun dari mobil. Lalu, Kevin segera menghampiri Calista.


Pada saat Kevin datang menghampirinya, Calista malah memukul tangan Kevin karena ia sangat kesal kepadanya.


"Seharusnya kalau udah lama gak ketemu itu dipeluk, kalau bisa dicium. Ini kok malah dipukul," heran Kevin.


"Habisnya kamu sombong banget sekarang. Mana sering banget tolak panggilan telepon dari aku."


"Itu karena aku lagi sibuk, makanya aku tolak panggilannya."


Kevin mendekati Calista dan memeluknya dengan erat. Lalu dia membisikkan kalimat bahwa dia sangat merindukan Calista.


"Vin, lepasin! aku malu dilihat orang-orang."


Akhirnya Kevin segera melepaskan pelukannya. Setelah itu, Calista dan Kevin segera masuk kedalam. Lalu, Calista menyuruh asistennya untuk membuat makanan dan minuman best seller di tokonya.


"Udah sukses ya kamu. Aku jadi bangga sama kamu," kata Kevin dan itu membuat Calista jadi salah tingkah, karena selama keduanya berpacaran, baru kali ini Kevin memuji pencapaian Calista.


"Ya udah ayo duduk disana," ajak Calista.


Saat keduanya duduk, Kevin langsung meminta maaf kepada Calista, karena dia baru datang hari ini. Dan tentunya Calista memaafkannya, karena yang penting Kevin sekarang telah menepati janjinya untuk datang ke Indonesia.


"Ya, aku mau jujur sama kamu. Tapi kamu jangan marah."


"Mau jujur tentang apa?"


"Sebenarnya waktu disana, aku pacaran sama orang lain," bohong Kevin.


"Tega banget kamu. Padahal disini aku bela-belain menunggu kamu."


"Kamu mau lihat orangnya gak?"


"Ogah!"


Kevin membuka ponselnya dan ia menunjukkan foto kepada Calista. Seketika Calista tertawa sekaligus kesal karena foto itu adalah foto Calista saat SMP, yang mana pada waktu itu Calista sangat jelek.


"Kok masih disimpan sih!" kesal Calista.


"Soalnya ini foto langka."


"Perasaan aku udah hapus foto itu di handphone kamu."


"Iya, waktu itu kamu emang hapus foto itu. Tapi waktu itu, aku langsung minta lagi ke Bayu."


Tak lama seseorang datang dengan membawa kue-kue dan minuman untuk Kevin. Ya, semua itu sengaja Calista berikan kepada Kevin supaya dia bisa menilai rasanya.


"Ini gratis, kan?" canda Kevin.


"Karena kamu tamu spesial, jadi semuanya gratis untuk kamu."


Rencananya setelah dari toko, Kevin ingin sekali pergi ke rumah Calista, sebab ia ingin bersilaturahmi dengan keluarga Calista, karena dirinya sudah lama tidak mengunjungi rumah Calista.


Skip


Calista dan Kevin masuk kedalam rumah. Pada saat masuk, Kevin langsung menyapa kedua orang tua Calista. Dan Kevin juga tak lupa memberikan oleh-oleh kepada mereka.


"Kapan datang ke Indonesia, Vin?" tanya Papah Calista.


"Sebenarnya saya datang waktu kemarin, Om."


Ya, Kevin memang jahat. Dia sebenarnya datang ke Indonesia kemarin. Hanya saja karena ia kecapean, jadi ia tidak memberitahu Calista bahwa dia sudah tiba di Indonesia. Karena jika Kevin memberitahu Calista, mungkin kemarin Calista akan langsung mengajaknya jalan-jalan.


Dan untuk story Kevin yang merayakan ulang tahun sebenarnya acara itu diadakan dua hari yang lalu, tetapi Kevin dengan sengaja mengirim story itu supaya Calista percaya bahwa Kevin masih berada di Indonesia.


"Itu siapa, Kak?" bisik Acha.


"Itu kan pacar Kakak," jelas Calista.


Wajar saja, Acha pasti tidak ingat dengan Kevin, karena waktu itu usianya sekitar 3 tahun.


"Acha, ini buat Acha." Kevin memberikan beberapa snack untuk Acha, lalu Acha dengan cepat mengambil snack itu.


"Makasih," kata Acha.


"Iya sama-sama," ujar Kevin.


Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam bersama keluarga Calista, akhirnya Kevin meminta ijin kepada orang tua Calista untuk mengajak Calista jalan-jalan.


Setelah diperbolehkan, akhirnya Calista dan Kevin segera pergi dengan cara sembunyi-sembunyi, sebab keduanya takut jika Acha akan ikut.


"Sayang, dua hari lagi aku akan berangkat lagi kesana."


"Sebentar banget disini nya."


"Ya gimana lagi, aku harus kuliah."


Calista menghela nafasnya, ia merasa sedih jika Kevin pergi lagi. Tetapi ia tidak ingin egois, karena Kevin disana untuk mengejar cita-citanya.


...****************...


2 hari kemudian, Calista bersiap-siap karena ia sudah janji akan mengantarkan Kevin ke bandara. Sebelum pergi, Calista meminta ijin kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke bandara.


"Kamu yakin mau antar Kevin?" tanya Papah memastikan, karena ia tahu bahwa Calista pasti akan menangis jika melihat Kevin pergi lagi.


"Yakin, Pah. Soalnya Calista udah janji mau antar dia."


"Ya udah kalau gitu hati-hati ya."


"Iya, Pah." Calista segera pergi dengan mengendarai mobilnya.


20 menit kemudian, Calista sudah sampai di rumah Kevin. Dan tentunya Kevin sudah standby menunggu Calista.


Calista segera turun dan membuka bagasi mobilnya. Setelah itu, Kevin segera memasukkan kopernya kedalam bagasi.


Sesudah itu, keduanya masuk kedalam mobil. Tadinya Kevin ingin menyetir karena ia tidak enak dengan Calista. Tetapi Calista menolaknya, karena ia ingin menunjukkan kepada Kevin bahwa dirinya sudah lancar mengendarai mobil.


Selama diperjalanan, Calista tahu bahwa Kevin terus menatap kearahnya. "Nanti jaga kesehatan ya disana dan juga jangan bolos kuliahnya."


"Iya, siap."


"Ngomong-ngomong kamu kok kelihatannya gak sedih sih," heran Kevin.


"Ngapain juga aku sedih, lagipula nanti kamu kesini lagi."


Skip


Setelah menempuh perjalanan satu jam, akhirnya keduanya tiba di bandara. Jujur rasanya berat untuk melihat Kevin pergi. Namun bagaimana lagi, Kevin harus berangkat sekarang juga.


Calista dan Kevin segera turun. Lalu, Calista membantu Kevin mengeluarkan kopernya. "Aku antar kamu sampai sini aja ya."


"Ta, jangan pergi dulu. Aku punya sesuatu untuk kamu." Kevin mengambil sesuatu di saku jaketnya, lalu ia memberikannya kepada Calista.


Itu merupakan cincin berlian. Calista tahu bahwa itu sangat mahal harganya. "Ini buat aku?" tanya Calista, lalu Kevin hanya mengangguk.


Kevin segera memakaikan cincin itu pada jari manis Calista. "Tunggu aku ya. Nanti setelah aku selesai kuliah, aku akan langsung menikahi kamu."


Calista tersenyum dan ia langsung memeluk Kevin dengan erat. Begitupun Kevin, ia membalas pelukan Calista.


Beberapa detik kemudian, keduanya melepaskan pelukannya dikarenakan Kevin akan segera pergi.


"Kalau gitu aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti," ujar Kevin sambil tersenyum.


"Iya, sampai jumpa nanti."


Sambil berjalan pergi, Kevin terus memberikan finger heart kepada Calista dan itu membuat Calista tertawa dibuatnya.


"I love you!" teriak Kevin yang semakin menjauh


"I love you too," balas Calista.


...TAMAT...


...----------------...