
Calista yang kini berada di kamarnya terus-menerus menelpon Kevin. Meskipun keduanya kini berada di rumah yang sama, tetapi tetap saja Calista takut dimarahi oleh Papahnya jika terlihat masih berduaan.
Karena Kevin terus menolak panggilan telepon dari Calista, akhirnya Calista keluar kamar dengan perlahan agar orang tuanya tidak bangun. Memang jarak kamar kedua orang tuanya agak jauh, tetapi tetap saja Calista takut ketahuan.
Calista menghampiri Kevin karena ia sulit untuk tidur, makanya daripada bosan ia lebih memilih untuk menghampiri Kevin.
Cklek!
Calista perlahan masuk ke kamar yang ditempati Kevin dan itu membuat Kevin terkejut karena Kevin takut jika orang tua Calista marah dan bisa-bisanya keduanya menuduh Kevin dan Calista berbuat yang tidak-tidak.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Kevin dengan suara pelan.
"Bosan. Makanya aku kesini."
Kevin mendekati Calista, lalu dia mendorong pelan Calista agar pacarnya itu keluar dari kamar yang Kevin tempati. Begitupun dengan Kevin, ia sengaja keluar kamar, karena jikalau orang tua Calista melihat, pastinya mereka hanya akan menyuruh keduanya kembali masuk ke kamar masing-masing. Beda lagi jika keduanya berada di kamar, mungkin saat ini Kevin akan langsung diusir.
"Ta, udah malam. Jadi sebaiknya kamu tidur."
"Aku gak bisa tidur."
"Kalau kamu gak bisa tidur, lebih baik main handphone aja. Jangan ganggu aku, soalnya aku mau tidur."
"Ya udah deh," ujar Calista sambil cemberut.
Kevin mendekat dan dia mencium kening Calista sekilas.
"Good night." Sesudah berbicara seperti itu, Kevin langsung menutup dan mengunci pintu.
...****************...
Keesokan paginya, Calista disuruh orang tuanya untuk membangunkan Kevin, dikarenakan sekarang sudah pukul 7 pagi.
Setelah berada di depan kamar, Calista langsung mengetuk pintu kamar. Dan beberapa detik kemudian, Kevin membukakan pintunya.
"Vin, ayo sarapan dulu."
"Aku langsung pergi aja deh, Ta. Soalnya aku pingin lihat kondisi Erick."
"Makan dulu! baru setelah itu kamu boleh pergi."
Dengan terpaksa, Kevin menuruti perkataan Calista. Lalu, keduanya segera pergi menuju ruang makan. Sebenarnya Calista tadi sudah makan bersama kedua orang tuanya. Tetapi karena Kevin sepertinya akan malu jika makan sendirian, akhirnya Calista dengan terpaksa makan lagi.
"Makannya sedikit banget, Ta."
"Soalnya tadi aku udah makan."
"Terus kenapa makan lagi?"
"Kalau aku gak makan, nanti kamu malu gara-gara makan sendirian."
Kevin baru sadar bahwa hari ini adalah hari Senin. Ia sungguh menyesal, seharusnya tadi malam ia langsung saja pulang ke rumah.
"Ta, kamu mau sekolah gak?"
"Enggak. Tadi aku udah ijin kok ke grup kalau aku lagi ada acara keluarga."
"Acara apa?"
"Sebenarnya aku bohong. Aku gak sekolah karena aku mau ke rumah sakit buat jenguk Erick."
Kevin juga mengikuti ide Calista untuk ijin tidak sekolah. Karena memang pagi ini Kevin sama sekali belum siap-siap.
"Kamu juga mau ke rumah sakit?"
"Iya. Tapi aku mau pulang dulu ke rumah, soalnya aku mau mandi. Setelah mandi, baru aku pergi kesana."
"Aku ikut bareng kamu ya."
"Tapi aku mau ke rumah dulu. Gak apa-apa, kan?"
Calista mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, lagipula kalau ia berangkat duluan pastinya ia akan canggung saat bertemu dengan Erick dan orang tua Erick.
"Oh iya, Papah sama Mamah kamu mana?"
"Papah baru aja berangkat kerja. Kalau Mamah, kayaknya dia pergi belanja sayuran di warung deh."
Tingtong! Tingtong!
"Vin, aku keluar dulu ya." Calista pergi keluar rumah untuk menemui tamu yang datang.
Pada saat Calista keluar, ia melihat Randy yang sedang membawa sebuah kado dan Calista yakin bahwa kado itu untuk dirinya.
"Selamat ulang tahun," ujar Randy.
"Makasih."
Randy memberikan kado itu kepada Calista dan lagi-lagi Calista berterima kasih kepadanya. Sesudah memberikan kado, Randy pamit kepada Calista karena dia sudah sangat terlambat ke sekolah.
Disaat Randy pergi, Calista langsung masuk kedalam rumahnya. Ia tak sabar membuka kado dari Randy, maka dari itu ia melangkah lebih cepat kedalam rumah.
"Kado dari siapa, Ta?"
"Dari Randy."
"Cowok itu lagi," kesal Kevin.
"Kamu kenapa sih, padahal dia kan cuma kasih kado doang."
Calista membuka kado tersebut dan ternyata isi kado itu adalah sebuah boneka beruang berwarna pink.
"Lucu banget bonekanya."
Kevin menatap datar kearah Calista. "Aku juga bisa belikan kamu boneka kayak gitu."
"Wah! ada coklatnya juga."
"Apaan sih, reaksinya norak banget. Padahal cuma coklat doang."
Calista sangat kesal dengan perkataan Kevin. Karena meskipun hanya sebuah cokelat, tetapi Calista sangat menyukainya.
"Bonekanya cek dulu, takutnya ada cctv-nya."
"Kamu terlalu berlebihan, Vin. Mana mungkin Randy menaruh cctv di bonekanya."
"Siapa tahu aja, soalnya kan sekarang banyak orang jahat."
...****************...
Sekarang Calista berada di rumah Kevin. Sambil menunggu Kevin yang sedang mandi, Calista memutuskan untuk melihat-lihat album foto Kevin semasa kecil.
Kalau boleh jujur, Calista sangat beruntung karena memiliki pacar yang tampan dan juga kaya dari lahir. Tetapi dibalik itu semua, kekurangan Kevin hanya satu, yaitu tentang sikapnya.
Mungkin jika dengan Calista, Kevin akan bersikap layaknya boyfriend material. Tetapi jika dengan orang lain, sikapnya sangatlah tidak sopan, bahkan dia sering marah-marah tidak jelas. Ya, memang tak jauh berbeda dengan Calista, maka dari itu Calista merasa cocok dengan Kevin.
"Ta, tolong ambilkan handuk yang ada di meja," teriak Kevin yang masih berada di kamar mandi.
Calista mengambil handuk itu, lalu ia segera memberikan handuk itu kepada Kevin.
Tok! Tok!
"Ini handuknya!" teriak Calista.
Kevin membuka sedikit pintu kamar mandinya, lalu ia segera mengambil handuk itu dan langsung memakainya.
Setelah memakai handuk, Kevin keluar dari kamar mandi. Lalu, Kevin segera mencari pakaian untuk ia gunakan.
Calista mengalihkan pandangannya, ia merasa berdosa karena telah melihat perut sixpack Kevin. Yang Calista heran, seharusnya Kevin dari awal membawa pakaian dan handuknya agar nanti dia bisa berganti pakaian di kamar mandi. Tapi kalau seperti ini jadinya, Kevin seakan-akan sengaja memperlihatkan abs-nya kepada Calista.
"Ta, kamu jangan lihat kesini. Soalnya aku mau ganti pakaian."
"Kenapa gak ganti pakaian di kamar mandi aja sih," heran Calista.
Beberapa detik kemudian, Kevin menghampiri Calista dan bertanya apakah pakaian yang dia gunakan sangat cocok atau tidak. Dan tentunya Calista mengatakan bahwa Kevin sangat cocok mengenakan pakaian apapun.
"Berarti pakai dress juga cocok ya, Ta?"
Calista tertawa terbahak-bahak. "Iya, cocok."
Tanpa berlama-lama, Calista dan Kevin segera pergi menuju rumah sakit untuk menjenguk Erick.
Skip
Sesampainya di rumah sakit, ternyata Erick sudah pulang sekitar jam 7 pagi. Dengan begitu, Calista segera pergi menuju rumah Erick.
"Seharusnya tadi kamu telepon dulu sebelum ke rumah sakit."
"Ya habisnya aku pikir Erick masih ada di rumah sakit," ujar Kevin sambil menoleh kearah Calista.
"Kevin, awas!" teriak Calista dan otomatis Kevin langsung mengerem mobilnya. Kevin mengatur nafasnya karena ia hampir saja menabrak anak kecil.
"Ya ampun! orang tuanya mana sih! masa anak dibiarkan ke jalanan," ujar Calista sambil keluar dari mobil. Lalu, Kevin juga turun dari mobil untuk melihat anak kecil itu.
Calista dan Kevin melihat ke sekeliling, tetapi tidak ada satupun orang disini dan hanya ada pengendara yang berlalu lalang.
"Dek, orang tuanya mana?" tanya Kevin, namun anak itu malah menangis.
"Vin, kayaknya anak ini belum lancar bicara deh. Jadi percuma aja kalau ditanya."
"Ya udah kalau gitu kita bawa ke kantor polisi aja."
Calista hendak kembali masuk kedalam mobil dan tentunya Kevin langsung memanggilnya, karena tidak mungkin dirinya menyetir sambil menggendong anak kecil.
"Ta, gendong sama kamu. Aku kan mau menyetir."
Dengan terpaksa, Calista menggendong anak kecil itu. Sejujurnya ia sangat tidak menyukai anak kecil, karena menurutnya anak kecil seusia ini sangatlah berisik.
Selama diperjalanan menuju ke kantor polisi, anak kecil tersebut terus menangis sampai-sampai Calista ingin menurunkan anak kecil itu di jalanan.
"Ta, coba kasih susu deh. Siapa tahu dia berhenti menangis," perintah Kevin dan spontan saja Calista menyilangkan kedua tangannya di dadanya karena ia tidak menyangka bahwa Kevin sangatlah mesum.
Melihat Calista yang seperti itu, membuat Kevin menahan tawanya. "Maksud aku, susu yang ada di laci dashboard."
Calista membuka laci dashboard dan memang benar jika ada susu kotak didalam laci. Akhirnya Calista memberikan susu kotak itu kepada anak kecil. Setelah diberi susu, anak kecil itu langsung terdiam.
Kevin tersenyum sambil melihat Calista dan anak itu sekilas. "Kita kayak keluarga ya. Ada ibu, bapak sama anak."
"Enggak kok. Lebih mirip dua kakak yang lagi jaga adiknya."
"Kalau lihat kayak gini jadi pingin nikah muda."
"Ngaco banget pembicaraannya. Masih kecil udah membahas pernikahan segala."
Beberapa menit kemudian, anak kecil tersebut tertidur di pangkuan Calista. Entah kenapa hati Calista tenang saat melihatnya, padahal Calista tidak terlalu menyukai anak kecil.
Sebelumnya sampai, Calista memutuskan untuk mengambil foto bersama anak kecil itu. Tujuan Calista mengabadikan foto supaya dia ingat kejadian langka ini. Karena baru pertama kali Calista menemukan seorang anak kecil.
"Aku posting aja ya, siapa tahu ada orang yang kenal."
"Iya, boleh."
Calista memposting foto tersebut ke story instagram-nya dan ia juga meminta bantuan kepada pengikutnya karena siapa tahu ada yang mengenali anak kecil ini.
Ketika Calista mempostingnya, tak lama ada satu orang yang membalas story Calista. Tetapi saat Calista membaca pesan darinya, Calista merasa kesal karena orang itu menuduh bahwa itu adalah anak Calista dan Kevin.
"Vin, masa ada yang bilang ini anak kita."
"Dia bercanda kali, Ta."
Beberapa detik kemudian, orang yang sama kembali mengirim pesan kepada Calista dan dia berkata bahwa Calista dan Kevin pasti sering tidur bersama sehingga dapat disimpulkan olehnya bahwa anak itu adalah anak dari Calista dan Kevin.
"Apaan sih gak jelas banget ini orang." Calista langsung memblokir instagram orang itu dan ia juga menghapus story instragram-nya.
"Apanya yang gak jelas?"
Kevin memang sudah tidak heran dengan orang-orang yang membenci Calista. Karena menurut Kevin, orang-orang itu hanya iri dengan Calista, makanya banyak sekali yang memfitnah Calista.
"Vin, aku mau putus aja deh sama kamu. Kayaknya semenjak pacaran sama kamu, banyak banget yang benci aku."
"Bukannya sebelum sama aku juga udah banyak ya, Ta?" tanya Kevin sambil tertawa kecil.
"Iya sih. Cuma semenjak pacaran sama kamu, orang yang membenci aku jadi bertambah banyak."
"Bukan cuma kamu aja. Aku juga banyak yang benci kok semenjak pacaran sama kamu."
Calista hanya tertawa karena tak mungkin ada perempuan yang membenci Kevin, secara Kevin itu banyak sekali penggemarnya.
"Oh iya, saat kejadian waktu itu ada adik kelas dan dia marahin aku disaat ada rumor tentang kamu yang tidur bareng Reyhan. Adik kelas itu marahin aku dan bilang kalau aku cowok yang gak punya perasaan, sebab waktu itu aku malah diam aja tanpa bela kamu."
Mengingat kejadian waktu itu, Calista jadi sependapat dengan adik kelas itu. Sebab, Kevin waktu itu sama sekali tidak peduli saat ada yang menghina Calista.
"Siapa nama adik kelas itu?"
"Kalau gak salah namanya Ella, dia anak kelas X MIPA 2."
Calista mencari nama Ella di pengikut instagram-nya dan benar saja bahwa dia sudah mengikuti Calista. Dengan begitu Calista langsung mengikutinya di instagram.
Pada saat Calista ingin mengirim pesan, ternyata orang itu banyak mengirim pesan namun baru kali ini Calista membaca pesannya. Pesan-pesan yang dikirimkannya merupakan kalimat penyemangat dan itu dikirim pada saat rumor itu muncul.
Karena baru sempat membacanya sekarang, akhirnya Calista mengirimkan kata-kata terima kasih kepada orang itu karena telah mengirimkan kalimat-kalimat yang sangat indah untuk Calista. Bahkan kemarin juga dia mengirim ucapan selamat ulang tahun kepada Calista.
...****************...
Sesudah menyerahkan anak itu ke polisi, Calista dan Kevin segera pergi menuju rumah Erick. Dan katanya, sekarang Rania dan Friska juga sudah ada di rumah Erick.
"Vin, masa kita gak beli makanan buat Erick."
"Ya gak apa-apa. Lagipula di rumah Erick udah banyak makanan, jadi kita gak perlu repot-repot bawa."
"Ngomong-ngomong soal Erick, aku takut deh kalau dia melakukan percobaan bunuh diri lagi."
"Sebenarnya aku juga takut. Tapi untuk mencegah hal itu terjadi, sebaiknya kita beri nasehat untuk dia supaya gak melakukan hal itu."
Sejujurnya Calista tidak pandai memberikan nasehat kepada orang, justru dirinya sendirilah yang sering mendapatkan nasehat dari orang lain.
"Ta, aku sebenarnya merasa bersalah karena udah merahasiakan kasus pembunuhan."
"Sama, aku juga merasa bersalah. Bahkan semenjak tahu tentang hal itu, aku jadi selalu mimpi tentang Reyhan."
"Mimpinya apa?"
"Pokoknya di mimpi itu Reyhan pingin bunuh aku."
Berbeda dengan Calista, akhir-akhir ini Kevin selalu bermimpi indah karena di mimpinya ada mendiang mamahnya.
"Ta, aku boleh minta satu permintaan gak?"
"Permintaan apa?"
"Kalau misalnya aku meninggal, nanti kamu harus sering kunjungi makam aku ya."
"Jangan bicara kayak gitu, Vin."
Kevin mengatakan kepada Calista bahwa akhir-akhir ini kepalanya sering pusing setelah bermimpi tentang mendiang mamahnya. Maka dari itu, Kevin merasa bahwa ia sebentar lagi akan meninggal.
Calista mulai meneteskan air matanya saat mendengar perkataan Kevin. Meskipun Calista tahu bahwa itu hanya mimpi, namun tetap saja Calista merasa sedih jika Kevin membicarakan tentang kematian.
"Kenapa nangis? padahal kan semua manusia nantinya akan mati."
Calista mengusap air matanya. "Iya, aku tahu. Cuma aku takut aja kalau kamu benar-benar pergi."
"Kamu takut kehilangan aku gak?" tanya Kevin, lalu Calista mengangguk.
"Kalau kamu takut kehilangan aku, mulai sekarang kamu harus bersikap baik dan jangan marah-marah terus sama aku. Bersikap romantis, biar akunya bahagia."
Dibalik perkataan Kevin tadi memang sengaja terselip bahwa ia ingin diperlakukan romantis oleh Calista. Kevin ingin agar Calista seperti perempuan lain yang manja terhadap pasangannya.
"Emang aku orangnya gak romantis?"
"Kamu romantis disaat ada butuhnya doang."
Calista terdiam karena memang benar bahwa selama ini yang paling sering memberikan effort adalah Kevin.
"Terus aku harus gimana?"
"Pikir aja sendiri."
"Kamu mau dipanggil sayang?" tanya Calista dan itu membuat Kevin mengangguk sambil tersenyum.
Pada dasarnya Calista memang sangat romantis, tetapi karena Calista teringat dengan perselingkuhan, jadi semenjak itu Calista memutuskan untuk tidak terlalu romantis. Sebab jika ia terlalu romantis, nantinya saat putus ia akan merasa jijik dengan sikapnya pada saat itu.
"Tapi kalau aku panggil dengan sebutan itu, nantinya pasti canggung. Soalnya kita kan asalnya sahabatan dan pastinya aku pingin ketawa kalau panggil kamu dengan sebutan itu."
"Bilang aja gak mau, jangan pakai embel-embel canggung segala."
Calista menghela nafasnya. "Ya udah aku panggil kamu sayang deh."
"Waktu itu juga bilangnya kayak gitu, tapi tetap aja lupa."
...****************...
Kondisi Erick mulai membaik, terbukti dengan dia yang sekarang mulai tertawa. Namun tentunya raut wajahnya tidak bisa bohong, terlihat sekali bahwa dia sedang banyak pikiran.
"Ta, maafin gue ya. Gara-gara gue, acara ulang tahun lo jadi kacau," kata Erick.
"Gak usah minta maaf, itu bukan salah lo."
"Ta, mana anak yang ada di story lo?" tanya Friska.
"Udah gue serahkan ke polisi."
Calista melihat Kevin yang sedang menatap Rania. Entah apa yang Kevin pikirkan tentangnya, tetapi jujur Calista sangat cemburu dengan tatapan itu.
"Ran, lo gak apa-apa, kan?" tanya Kevin.
Lamunan Rania buyar saat Kevin bertanya kepadanya. "Gue gak apa-apa kok." Tak lama, Rania meneteskan air matanya. Ia teringat waktu itu saat dirinya berniat bunuh diri sama halnya dengan Erick. Ya, Rania berniat bunuh diri karena ia takut jika Reyhan menyebarkan foto dan videonya.
"Kenapa, Ran?" tanya Erick dengan tatapan khawatir.
"Gue gak apa-apa kok, Rick." Rania mengusap air matanya, lalu ia tersenyum. Lalu, Kevin mengelus rambut Rania seraya menenangkannya agar tidak menangis lagi.
Calista melangkahkan kakinya menuju keluar kamar karena cemburunya sudah tidak bisa ditahan.
Tak lama, Kevin dan Friska datang menghampiri Calista yang berada diluar kamar.
"Ta, kamu kenapa?" tanya Kevin.
"Dia cemburu, Vin. Lo gak peka banget jadi cowok. Lagian ngapain coba mengelus rambut Rania," kata Friska.
"Dia kan sahabat gue, jadi gue pikir Calista juga gak akan cemburu," kata Kevin.
Friska tak habis pikir dengan pemikiran Kevin. Padahal Kevin jelas-jelas tahu bahwa dulu Rania pernah jadi selingkuhan pacarnya Calista dan tentunya itu membuat Calista overthinking.
"Sayang, maafin aku." Kevin berusaha membuat Calista supaya tidak marah lagi.
"Jangan dimaafkan, Ta. Lebih baik putusin aja," sahut Friska karena ia sangat kesal kepada Kevin.
"Yang jomblo diam aja!" kata Kevin.
Karena merasa tersindir, akhirnya Friska memutuskan untuk kembali masuk karena percuma saja ia akan diabaikan jika bersama dengan kedua orang itu.
"Aku minta maaf ya. Aku janji gak akan kayak tadi lagi."
"Janji ya?"
"Iya, aku janji."
Kevin merangkul Calista dan mengajaknya kembali ke kamar. Dan tanpa Calista ketahui, Kevin dari tadi menahan senyumannya karena melihat Calista yang sedang cemburu.
"Ta, lo cemburu sama Rania?" tanya Erick.
"Iya, dia cemburu. Cuma gengsi aja kalau diungkapkan," sahut Kevin.
"Ta, gue gak akan merebut Kevin dari lo. Jadi lo jangan khawatir," kata Rania.
Seketika suasana mendadak canggung akibat insiden tersebut.
"Oh iya, Ta. Gue ada kado buat lo." Erick mengambil kado yang ia persiapkan untuk Calista.
"Terima kasih." Calista buru-buru mengambil kado tersebut karena ia memang senang jika ada yang memberinya kado. Bukan hanya Calista saja, tapi pastinya semua orang juga senang jika ada yang memberi kado.
Pada saat dibuka, Calista tersenyum kearah Erick. Sebab isi kado tersebut adalah sebuah laptop yang harganya lumayan mahal.
"Ini serius buat gue?"
"Iya, itu buat lo."
"Makasih." Calista memeluk Erick dengan erat karena ia sangat berterima kasih kepada Erick. Selain itu, Calista memeluk Erick supaya membalaskan dendam karena tadi Kevin mengelus rambut Rania.
Ketika Calista melihat sekilas kearah Kevin, tampaknya Kevin tidak menunjukkan rasa cemburu sedikitpun dan itu membuat Calista kebingungan. Padahal dulu saat Erick memeluk Calista, Kevin terang-terangan mengatakan bahwa dia cemburu. Tapi kali ini, Kevin bahkan tidak cemburu sama sekali.
Dengan melihatnya begitu, tentunya ada rasa ketakutan dalam diri Calista. Ia takut jika Kevin sudah tidak mencintainya lagi.
"Udah pelukannya, nanti Kevin cemburu," kata Friska, lalu Calista segera melepaskan pelukannya.
"Vin, lo cemburu gak lihat gue dipeluk Calista?" tanya Erick memastikan, karena ia takut Kevin akan marah kepadanya
"Tenang aja, sekarang gue gak akan cemburu," ujar Kevin.
"Kok gitu. Kamu udah gak sayang ya sama aku?"
Pertanyaan Calista membuat Kevin, Erick, Rania dan Friska tertawa. Karena menurut mereka, ekspresi Calista sangat lucu.
"Ta, kayaknya Kevin ada cewek baru deh. Makanya sekarang gak cemburu lihat lo pelukan sama cowok," ujar Erick.
"Jangan kayak gitu, Rick. Udah tahu Calista suka overthinking," ujar Rania.
Kevin merangkul pundak Calista dan ia menyuruh Calista untuk tidak mendengarkan ucapan Erick. Tetapi Calista justru melepaskan rangkulannya karena ia kesal sebab pertanyaannya tadi tidak dijawab oleh Kevin.
"Guys, gue pulang dulu ya. Soalnya sekarang gue ada janji sama seseorang," kata Friska.
"Janji sama siapa, Ka?" tanya Kevin.
"Gebetan baru," jelas Friska, setelah itu ia segera pergi.
Semuanya serentak menatap kepergian Friska. Mereka berempat bertanya-tanya tentang siapa gebetan Friska yang baru, namun tak ada satupun yang mengetahuinya.
"Gebetannya Bayu, kan?" tanya Rania memastikan.
"Waktu itu emang Bayu, tapi sekarang kayaknya dia udah ganti gebetan deh."
"Pasti dia udah ditolak ya sama Bayu? makanya dia ganti gebetan," tebak Rania, karena dari dulu Friska memang menjalani prinsip seperti itu.
"Ya jelas akan ditolak sama Bayu, kan Bayu sukanya sama Calista," sahut Kevin.
Calista memukul lengan Kevin karena ia tak mau jika orang lain tahu tentang hal itu. Dan karena Rania dan Erick tahu, jadi Calista memohon kepada keduanya agar tidak memberitahu Friska tentang hal ini. Karena jika Friska tahu, mungkin dia akan sedikit kesal kepada Calista karena tidak memberitahunya.
"Kita berdua gak akan memberitahu Friska tentang hal ini kok," ujar Rania.
"Emang kenapa kalau Friska tahu, Ta? emang dia akan marah ya sama lo?" tanya Erick.
"Pastinya. Soalnya gue mendukung dia sama Bayu, tapi Bayu malah sukanya ke gue. Dan pastinya Friska akan kecewa sama gue."
Tiba-tiba Friska kembali ke kamar dan tentunya ia sudah mendengar percakapan sahabat-sahabatnya. "Tas gue ketinggalan," ujarnya, lalu Friska buru-buru pergi.