Fearless

Fearless
Episode 66



Akhirnya Teguh terperangkap oleh rayuan Calista. Teguh mengajak Calista ke cafe setelah pulang sekolah dan tentunya Calista menerima ajakannya.


"Teguh, gue ke kelas dulu ya. Soalnya sebentar lagi bel masuk bunyi."


"Ya udah. Oh iya, nanti istirahat bareng ya."


"Oke."


Calista merasa jijik dengan sikapnya, tetapi ini jalan satu-satunya agar ia bisa menghapus video Kevin di ponselnya Teguh.


Setibanya di kelas, Calista langsung memberitahu Kevin mengenai rencananya. Tetapi bukan setuju, Kevin malah kesal kepada Calista.


"Kamu ngapain sih melakukan hal ini?"


"Aku cuma mau bantu kamu."


"Kalau kamu beneran suka sama dia gimana coba?"


"Gak mungkin lah! ogah banget suka sama orang yang kayak gitu."


Kevin merasa senang karena Calista membantunya. Tapi disisi lain, Kevin merasa takut jika itu akan menjadi boomerang kepada Calista. Karena yang Kevin tahu, Teguh seringkali mengajak perempuan ke hotel. Maka dari itu Kevin sangat takut jika itu terjadi kepada Calista.


"Ta, kamu harus hati-hati ya sama dia. Kamu juga tahu kan rumor tentang dia?"


"Iya, aku tahu kok. Jadi aku akan jaga diri aku."


"Nanti kalau dia macam-macam sama kamu, kasih tahu aku."


Calista memberitahu Kevin bahwa tadi Teguh mengajak Calista untuk berpacaran, namun Calista masih menggantungnya karena akan aneh jika tiba-tiba Calista menerimanya.


"Vin, jadi sekarang kita jangan terlalu dekat dulu ya, soalnya takut Teguh curiga."


Kevin menghela nafasnya. "Ya udah deh terserah kamu aja."


...****************...


Bel istirahat telah berbunyi, Calista buru-buru pergi menuju kelas Ella terlebih dahulu, baru setelah itu ia pergi menuju kelasnya Teguh.


"Ella!" panggil Calista, lalu Ella keluar dari kelasnya untuk menghampiri Calista.


Terlihat sekali wajah bahagia Ella saat Calista mendatanginya.


"Ada apa, Kak?"


"Ini buat kamu." Calista memberikan satu kota cokelat kepada Ella. Lalu, Ella berterima kasih kepada Calista. Setelah memberikan cokelat itu, Calista langsung pergi menuju kelas Teguh.


Beberapa orang melihat kearah Calista, karena mungkin mereka heran mengapa Calista berada didepan kelas XII MIPA 4.


"Lagi cari siapa, Ta?" tanya Gina.


"Gin, ada Teguh gak?"


"Teguh! ada yang cari lo!" teriak Gina. Tak lama Teguh datang menghampiri Calista.


"Ya udah ayo ke kantin."


Teguh menggenggam tangan Calista dan itu membuat Calista sangat risih. Kalau bukan karena sedang menjalankan misi, mungkin Calista akan langsung menghajarnya.


"Teguh, gue pingin deh diajarin main basket sama lo."


"Ya udah kalau gitu pulang sekolah kita belajar basket aja di rumah aku."


"Kok di rumah kamu," heran Calista.


"Maksudnya didekat rumah aku. Soalnya disana ada lapangan basket."


Calista menolak ajakannya, ia lebih memilih pergi ke cafe saja karena jika ia pergi ke rumahnya, dikhawatirkan nantinya Teguh akan berbuat macam-macam dengan Calista.


"Selama pacaran sama Kevin, kalian ngapain aja?"


"Biasanya sih makan di restorannya Kevin atau nongkrong di cafe, terus kita pernah ke taman juga."


"Bukan itu maksud gue."


"Terus maksudnya gimana?"


Teguh menjelaskan apakah Calista pernah atau tidak melakukan ciuman atau hal yang lebih intim dengan Kevin.


"Itu privasi. Jadi lo gak berhak tahu."


"Oh pernah ya," ujar Teguh sambil tersenyum, karena dengan Calista mengalihkan pembicaraan seperti itu membuat Teguh semakin yakin bahwa Calista dan Kevin melakukannya.


Rasanya Calista ingin menangis karena perkataan Teguh yang seolah mengatakan bahwa Calista pernah melakukan hal yang lebih intim dengan Kevin, padahal Calista dan Kevin hanya pernah berciuman saja.


"Rumor lo yang sama mantan lo itu benar gak sih?"


"Itu gak benar."


Skip


Dari tadi Calista terus melirik kearah Kevin, Rania dan Friska yang sedang memantau dari kejauhan. Bisa Calista lihat dari raut Kevin bahwa dia sangat kesal melihat Calista yang begitu dekat dengan Teguh. Berbeda dengan Kevin, justru Rania dan Friska sedang menahan tawa melihat tingkah Calista.


Ya, mulai sekarang Calista harus bersikap genit kepada Teguh, karena jika ia jutek nantinya Teguh tidak akan menyukainya.


"Ta, lo kenapa unfollow gue?" tanya Teguh.


"Emang gue unfollow lo?"


Teguh mengangguk dan ia memperlihatkan layar ponselnya kepada Calista.


"Sebentar ya, gue follow lagi. Mungkin waktu itu gue gak sengaja unfollow lo." Calista membuka instagram-nya dan ia kembali mengikuti Teguh.


"Foto yuk!" ajak Teguh dan Calista hanya mengangguk.


Teguh merangkul pundak Calista, lalu Teguh segera memotret foto dengan menggunakan ponselnya.


"Ta, lo kenapa ada disini? kenapa gak bareng Kevin dan sahabat-sahabat lo yang lain, " heran Bayu yang tiba-tiba menghampiri Calista.


"Ya emang gue gak boleh kalau istirahat berdua sama Teguh?"


"Boleh sih, cuma gue aneh aja lihat lo gak bareng mereka," ujar Bayu, lalu setelah itu Bayu pergi karena ia ingin menikmati makanan.


...****************...


Kevin POV


Kevin merasa kasihan kepada Calista. Kevin tahu bahwa Calista sangat risih karena Teguh terus mencoba menyentuh Calista.


"Vin, lo gak marah lihat Calista sama Teguh?" tanya Rania.


"Enggak, justru gue kasihan sama Calista."


Tiba-tiba Bayu datang dan dia duduk disebelah Kevin. "Cewek lo kenapa makan sama cowok lain?" tanya Bayu.


"Calista lagi menjalankan misi, makanya dia deketin Teguh," jelas Rania.


Friska pergi begitu saja setelah Bayu duduk bersama mereka dan seketika suasana hening sejenak begitu Friska pergi.


"Bayu, lo tolak Friska ya?" tanya Kevin memastikan.


"Gue gak tolak dia, gue cuma butuh waktu untuk berpikir," kata Bayu.


"Kalau lo gantung dia, pastinya dia akan mengira kalau lo gak suka sama dia," kata Rania.


Ting!


Kevin mendapatkan pesan masuk dari Calista dan ia buru-buru membaca isi pesannya. Dipesan itu, Calista mengatakan maaf karena tadi ia tidak menolak dirangkul oleh Teguh.


Beberapa detik kemudian, Calista mengirim pesan dan Calista berkata bahwa dia ingin bertemu Kevin di rooftop.


"Guys, gue ke rooftop dulu." Kevin buru-buru pergi untuk menemui Calista di rooftop.


Skip


Setibanya Kevin di rooftop, Calista langsung memeluk Kevin dengan erat. Calista menangis dan itu membuat Kevin geram karena pastinya Teguh melakukan sesuatu pada Calista.


"Kenapa, sayang?"


"Aku kesal banget sama dia. Masa dia menuduh aku sering melakukan hal yang enggak-enggak sama kamu."


"Aku kan tadi udah bilang, kamu berhenti aja menjalankan misinya. Lagipula aku gak apa-apa kok kalau videonya tersebar."


Calista menggelengkan kepalanya. "Gak boleh tersebar. Pokoknya aku janji akan curi handphone dia supaya bisa hapus video kamu. Kalau perlu, aku akan bakar handphone-nya."


Trining! Trining!


Calista segera menolak panggilan teleponnya karena panggilan tersebut dari Teguh.


"Vin, aku ke kantin lagi ya, soalnya Teguh pasti lagi nunggu aku."


Ketika Calista hendak pergi, Kevin spontan memegang pergelangan tangan Calista.


"Kamu yakin mau melanjutkan misinya? kalau kamu gak nyaman, lebih baik jangan dilanjutkan."


Calista menghela nafasnya. "Meski aku gak nyaman, aku akan melanjutkan misinya. Karena aku gak mau kalau kamu dikeluarkan dari sekolah hanya karena video itu."


Kevin hanya terdiam sejenak. Kevin tahu bahwa di hati kecil Calista pasti ada rasa kecewa karena Kevin mencium perempuan lain. "Makasih banyak ya, sayang." Kemudian, Calista pergi setelah tersenyum kepada Kevin.


...****************...


Calista kembali menghampiri Teguh. Teguh tersenyum, dengan begitu Calista juga terpaksa harus tersenyum kepadanya.


"Ta, kayaknya gue setelah pulang sekolah gak bisa ke cafe deh. Soalnya aku baru ingat kalau aku udah janjian sama orang."


"Oh ya udah gak apa-apa."


"Tapi aku bisa antar kamu pulang dulu kok? nanti habis itu, aku baru pergi."


"Gak usah. Aku pulangnya mau sama Friska aku," bohong Calista, padahal sebenarnya ia akan pulang dengan Kevin.


Calista mendekat ke Teguh dan ia membenarkan dasi Teguh. Disaat Calista seperti itu, Teguh hanya tersenyum dan salah tingkah karena baru kali ini ada seorang perempuan yang merapihkan dasinya.


"Udah rapih."


"Makasih ya," ucap Teguh, lalu Calista hanya mengangguk.


Disaat itu pula, tangan Calista perlahan mengambil ponsel Teguh yang berada di meja. Saat ponsel sudah Calista genggam, kemudian ia buru-buru menyelipkan ponsel milik Teguh dibelakang roknya.


Kring! Kring!


"Ta, aku ke kelas dulu ya," ujar Teguh, lalu ia segera pergi.


Calista menghela nafasnya setelah Teguh pergi. "Akhirnya dapat juga," gumamnya.


Calista menyimpan ponsel milik Teguh di sakunya, tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri Calista.


"Lo ngapain mencuri handphone orang? bukannya lo orang kaya ya?" heran lelaki yang Heru.


"Gue terpaksa. Di ponsel ini ada aib seseorang, jadi gue harus hapus videonya."


"Video seseorang atau video lo?"


"Video pacar gue."


Heru menyuruh Calista untuk memberikan ponsel itu kepadanya, tentunya Calista menolaknya karena ia sudah capek-capek mendapatkan handphone itu.


"Gue bukan mau mengembalikan ponsel itu ke Teguh. Gue cuma mau bantu lo supaya hapus video yang ada di ponsel itu. Soalnya pasti ponsel Teguh pakai password."


Calista baru menyadari bahwa Heru mengikuti ekskul IT. Lalu, Calista buru-buru memberikan ponsel itu kepada Heru.


"Kita ke lab komputer aja yuk! soalnya kalau disini takutnya Teguh balik lagi," kata Heru. Akhirnya mereka berdua pergi menuju lab komputer.


...****************...


Selesai video itu dihapus, Heru menyarankan agar Calista menyerahkan handphone tersebut kepada guru piket. Karena jika ia kembalikan kepada Teguh pastinya Teguh akan menyadari bahwa tujuan Calista mendekati Teguh hanya karena ingin menghapus video Kevin.


"Makasih ya."


"Iya sama-sama. Nanti kalau butuh bantuan gue, lo tinggal ke kelas aja," kata Heru.


"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu ya," ujar Calista sambil buru-buru pergi untuk menyerahkan ponsel tersebut kepada guru piket.


Skip


Calista masuk kedalam kelas dan otomatis semuanya menoleh kearah Calista. Bagaimana tidak, disaat pelajaran hampir selesai, Calista justru masuk kedalam kelas.


"Dari mana aja kamu?" tanya guru.


"Maaf, Pak. Saya tadi sakit perut."


Guru tersebut menghela nafasnya, lalu pelajaran pun diakhiri karena memang sudah bel pulang. Setelah guru itu pergi, Calista segera berlari menghampiri Calista.


"Kevin!" teriak Calista dan otomatis Kevin berdiri. Lalu, Calista tanpa aba-aba memeluk tubuh Kevin. Dengan demikian, itu mengundang sorakan dari teman-temannya karena keduanya berpelukan tidak tahu tempat. Sebab di kelas kebanyakan jomblo, makanya teman-teman merasa iri.


"Berhasil, Ta?" tanya Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.


"Udah dihapus videonya. Oh iya, tadi ada yang bantu aku buat membobol password ponsel Teguh," bisik Calista.


"Siapa yang bantu kamu?" tanya Kevin, lalu Calista mengatakan bahwa yang membantunya adalah Heru, lelaki yang dulu pernah bertengkar dengan Kevin gara-gara masalah perempuan.


Ya, dulu saat kelas sepuluh, Kevin dan Heru pernah bertengkar gara-gara pacar Heru tergabung dalam grup pencinta Kevin. Dan gara-gara itu, Heru melabrak Kevin karena waktu itu kelas sepuluh Kevin selalu tebar pesona kepada pacarnya.


"Pulang woy!" teriak Friska.


"Iya, ini juga mau pulang kok," ujar Kevin.


"Vin, emang tadi gak olahraga ya?"


"Enggak, tadi pak Deni cuma ngasih materi doang. Oh iya, hari Minggu katanya ada tes renang, jadi semua harus ikut," jelas Kevin.


Karena tak ingin berlama-lama, akhirnya Kevin mengajak Calista pergi. Bukan mengantarkan Calista pulang, melainkan ia ingin mengajak Calista makan di restorannya. Kevin sangat berutang kepada Calista karena Calista telah rela membantu Kevin, maka dari itu Kevin memutuskan untuk mengajaknya makan.


...****************...


Karena sangat lapar, Calista memakan makanannya sampai habis. Bahkan setelah habis pun Calista masih lapar. Alhasil, Calista meminta makanan milik Kevin karena makanan Kevin masih ada.


"Lapar banget, Ta?"


"Iya, aku lapar banget."


"Ya udah makanan aku habiskan aja, lagipula aku udah gak lapar."


"Makasih." Calista mengambil makanan Kevin dan memakannya sampai habis.


Kevin yang melihat itu hanya tersenyum. Wajar saja pasti Calista sangat lelah karena tadi Calista berkata bahwa dia berlari saat pergi ke lab komputer, yang mana lab komputer lumayan jauh jaraknya dari kantin dan lab komputer juga berada di lantai 2.


"Kalau aku gendut gak apa-apa, kan?" tanya Calista memastikan.


"Kamu lihat aku dari fisiknya ya?"


"Iyalah, semua lelaki juga memandang perempuan dari fisiknya. Bohong kalau ada lelaki yang gak memandang fisik. Karena menurut lelaki, fisik itu nomer satu."


Calista agak syok mendengar penjelasan dari Kevin. Tetapi perkataan Kevin ada benarnya juga, karena fisik lebih utama. Mau perempuan itu nakal tetapi wajahnya cantik, pastinya lelaki akan tertarik kepada perempuan itu.


"Perempuan juga memandang lelaki dari kekayaannya, kan?" tanya Kevin.


"Enggak. Aku lebih memandang ke cara dia memperlakukan aku."


"Bukan karena kaya?"


"Bukan. Kalau aku memandang dari kekayaan, aku udah pacaran sama sugar daddy."


Kevin tertawa mendengar perkataan Calista. Ia jadi membayangkan Calista berpacaran dengan om-om yang sangat tua. Pastinya Calista sering mengumpat didalam hatinya, sebab Calista pasti akan sangat malu bila jalan dengan lelaki yang lebih tua darinya.


"Vin, gelang dari aku masih ada, kan?" tanya Calista memastikan. Karena setelah kejadian putus waktu itu, Kevin tidak terlihat memakai gelang pemberian dari Calista.


"Gelangnya ada kok di rumah, tapi aku gak ingat dimana aku simpan gelang itu."


"Ya udah kalau gitu gimana kalau kita beli barang-barang couple lagi?"


"Oke, nanti kita beli ya."


...****************...


Friska POV


Saat ini Friska sedang bersantai di teras rumahnya sambil menikmati jus dan cemilan. Disaat seperti ini, mood Friska seakan-akan membaik, padahal sebenarnya begitu banyak masalah yang dihadapi Friska. Mulai dari percintaan yang terus gagal dan juga mengenai mamahnya.


Friska sangat lelah menghadapi mamahnya yang selalu membawa lelaki yang berbeda ke rumah dan bisa dipastikan bahwa umur lelaki itu lebih muda dari mamah.


Trining! Trining!


Friska melihat ke layar ponselnya dan ternyata itu panggilan telepon dari Fajar. Friska menolak panggilan telepon tersebut bahkan ia memblokir nomernya. Friska melakukan hal itu karena menurutnya Fajar sangatlah menyebalkan.


Friska berpikir Fajar menyukainya, karena dia sering memberikan perhatian kepada Friska. Tapi kenyataannya Friska salah, sepertinya Friska terlalu terbawa perasaan sehingga menganggapnya suka dengan Friska.


Tak lama, telepon Friska berdering kembali dan kali ini telepon tersebut dari Bayu. Friska ragu untuk menjawab telepon, karena ia sangat malu sebab waktu itu Friska menyatakan perasaannya kepada Bayu.


Friska menghitung dari satu sampai sepuluh, karena ia tak mau dianggap masih mengejar-ngejar Bayu. Setelah itu, ia segera mengangkat telepon dari Bayu.


"Ada apa?"


"Ayo jalani dulu," ujar Bayu dan itu membuat Friska kebingungan.


"Jalani apa?"


"Lo kan waktu itu nembak gue, jadi ayo jalani dulu."


Friska mencubit pipinya untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan.


"Malam ini free gak? gue mau ajak lo makan malam."


"Gue free kok."


"Ya udah lo kirim ya alamat lo. Nanti malam gue jemput kesana."


"Oke." Friska langsung mematikan teleponnya dan ia berlari menuju kamarnya untuk mencari outfit untuk dipakai nanti malam.


Skip


Malam hari


Sambil menunggu Bayu datang, Friska menyiapkan banyak topik agar nantinya ia tidak kehabisan topik saat bersama Bayu.


Tingtong! Tingtong!


Jantung Friska berdetak kencang saat mendengar bunyi bel rumahnya. Friska buru-buru keluar karena ia tahu bahwa itu adalah Bayu.


"Hai," sapa Bayu saat Friska datang menghampirinya.


"Hai juga."


"Ya udah ayo berangkat."


Setelah Friska naik ke motor, Bayu langsung melajukan motornya dengan perlahan. Bukan karena modus ingin berlama-lama, tetapi Bayu khawatir jika dress yang dikenakan Friska tersingkap.


"Mau makan dimana?"


"Kita makan di pinggir jalan aja. Soalnya makanan-makanan dipinggir jalan suka enak banget, malah lebih enak daripada makan di restoran."


Friska melihat kearah dress-nya, ia merasa malu karena salah kostum. Dan Friska juga khawatir jika Bayu akan menganggap Friska berlebihan karena sekarang Friska mengenakan dress.


"Ka, gak apa-apa kan makan di pinggir jalan?" tanya Bayu memastikan.


"Gak apa-apa kok."


20 menit kemudian, keduanya telah sampai ditempat tujuan. Mereka duduk bersama orang yang mereka tidak kenal dan itu membuat Friska sangat canggung, karena ia tidak terbiasa makan di tempat seperti ini.


"Mau pesan apa?" tanya Bayu.


"Sama kayak lo aja."


Bayu segera pergi untuk memesan makanan dan minuman. Setelah selesai memesan, Bayu kembali menghampiri Friska.


"Lo sering makan disini?"


"Iya, gue sering makan disini sama teman-teman gue."


"Sama teman sekolah lo yang dulu?" tanya Friska, lalu Bayu hanya mengangguk.


Saat ditatap Bayu, seketika Friska lupa dengan topik-topik yang sebelumnya sudah ia pikirkan. Tiba-tiba ia sangat gugup bahkan ia tidak berani menatap mata Bayu.


"Lo kenapa sih? kok jadi pendiam kayak gini," heran Bayu.


"Gue malu."


Bayu tersenyum. "Lo beneran suka ya sama gue?" tanyanya, lalu Friska hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya udah mulai dari sekarang, lo jadi pacar gue."


Bibir Friska terangkat sempurna saat mendengar perkataan Bayu. Ia pikir Bayu akan berubah pikiran setelah kencan dengan Friska. Namun ternyata, baru beberapa menit saat kencan, Bayu mengatakan bahwa sekarang Friska adalah pacarnya.


"Ini bukan prank, kan?"


Bayu tertawa kecil, sebab baru pertama kali ada yang mengatakan seperti itu kepadanya. "Gue serius."


"Kalau gitu makasih karena udah membalas perasaan gue."


"Iya sama-sama."


Beberapa menit kemudian, makanan dan minuman yang keduanya pesan akhirnya datang. Friska sedikit bingung karena pelayan tadi tidak memberikannya sendok.


"Bay, kamu gak pakai sendok makannya?"


"Enggak. Kalau disini makannya emang pakai tangan, makanya disediakan air kobokan."


"Oh gitu ya." Friska sangat malu, ia pikir air tersebut hanya sebagai hiasan saja.


Friska melihat kearah Bayu, ia meniru bagaimana cara makan Bayu. Jujur ia sangat tidak bisa jika makan tanpa menggunakan sendok.


"Baru pertama kali makan ditempat kayak gini ya?" tanya Bayu, lalu Friska hanya mengangguk.


"Maaf ya, lo pasti gak suka ya sama tempatnya?"


"Gue suka kok. Tempatnya unik, soalnya banyak pengamen disini."


Bayu lagi-lagi tertawa mendengar perkataan Friska. Bayu tidak berekspektasi jika Friska akan mengatakan hal itu.


Melihat Bayu yang terus tertawa membuat Friska kebingungan. Friska terus memikirkan apa yang lucu dari perkataannya yang baru saja ia lontarkan.


"Ada yang salah ya dari ucapan gue?"


"Gak ada kok."


"Terus kenapa ketawa?"


"Gak kenapa-napa, gue cuma pingin ketawa aja."


Friska teringat tentang perkataan Kevin yang mengatakan bahwa Bayu menyukai Calista. Friska ingin bertanya tentang ini kepada Bayu supaya memastikan apakah ucapan Kevin benar apa tidak.


"Bay, lo pernah suka ya sama Calista?"


"Lo tahu dari mana?"


"Dari Kevin."


"Iya, waktu awal-awal masuk gue emang suka sama dia. Tapi setelah dia udah ada pacar, gue jadi gak suka lagi dan perasaan gue hilang begitu aja," jelas Bayu.


Mendengar penjelasan Bayu membuat rasa insecure Friska berkurang terhadap Calista. Awalnya Friska memang tak membenci Calista saat tahu kalau Bayu menyukai Calista. Friska hanya insecure sama terhadap Calista, sebab menurutnya Calista itu nyaris sempurna karena dia cantik, mempunyai pacar yang sayang kepada dia dan juga keluarga Calista sangat harmonis meskipun mamah Calista yang sekarang bukan mamah kandungnya.


"Tenang aja, gue udah gak suka kok sama Calista," jelas Bayu lagi karena sepertinya Friska mengira bahwa Bayu masih menyukai Calista.


"Kalau suka juga gak apa-apa. Lagian gue yang sebagai cewek juga suka sama dia, soalnya menurut gue dia keren banget. Makanya gue pingin banget berteman sama dia saat kita pertama kali masuk SMA dan kebetulan banget sekarang gue jadi sahabatnya."


"Kalian nakal banget ya waktu itu. Gue sampai syok lo ternyata kalian semua itu geng yang suka bully orang."


Friska terdiam, ia sangat malu karena ucapan Bayu. Ia takut jika nantinya Bayu akan selalu mengungkit masa lalu Friska.


"Bay, bisa gak jangan mengungkit tentang itu? soalnya gue malu kalau ada yang mengungkit masa lalu gue."


"Ya udah kalau gitu gue minta maaf. Mulai sekarang gue gak akan membahas masa lalu lo."


Disisi lain, Bayu merasa bersalah karena ia tidak bisa situasi. Ia pikir Friska tidak akan memasukkan perkataan Bayu kedalam hati, namun ternyata Friska sangat terbawa perasaan. Tetapi Bayu memakluminya, karena hal buruk memang tak seharusnya diingat.


Mulai dari sekarang juga, Bayu akan berusaha memikirkan lagi perkataannya, karena pacarnya yang sekarang sangat sensitif.


"Ngomong-ngomong lo punya mantan berapa?" tanya Bayu.


"Enam."


Bayu terkejut mendengar ucapan Friska, menurutnya mempunyai mantan enam sangatlah banyak dan itu membuat Bayu yakin bahwa dirinya pasti akan menjadi mantan Friska yang ke tujuh.


"Kalau lo punya mantan berapa?"


"Mantan gue cuma dua."


"Gue gak percaya, pasti mantan lo lebih banyak dari gue."


"Serius, mantan gue cuma dua."


Bayu hanya tersenyum lantaran seharusnya ia yang tidak percaya kepada Friska. Sebab, mana mungkin seseorang mempunyai mantan yang sangat banyak.


"Paling lama pacaran berapa lama tahun?" tanya Bayu.


"Gue paling lama pacaran cuma 5 bulan."


Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia seratus persen percaya bahwa hubungannya dengan Friska tidak akan lama.


"Lo sama ke enam mantan lo putusnya gara-gara apa?"


"Putusnya ada yang karena gue diselingkuhi dan juga karena bosan."


"Cuma gara-gara bosan, lo putusin mantan lo itu?"


"Enggak. Dia yang putusin gue."


...****************...


Rania POV


Saat ini Rania sedang menjenguk Erick karena ia ingin memastikan apakah kondisi Erick membaik atau tidak. Dan ternyata Erick sepertinya kondisinya sudah pulih, hanya saja dia terus melamun entah memikirkan apa.


"Erick, ini gue bawa makanan buat lo." Rania memberikan kotak makan kepada Erick.


"Ini buatan lo?"


"Iya, itu gue yang masak."


Erick berterima kasih dan menyantap makanan buatan Rania. Makanannya memang tak seenak makanan restoran, tetapi meskipun begitu, Erick sangat menghargai usaha Rania yang membuatkan makanan.


"Enak gak?"


"Enak banget. Nanti kapan-kapan buatkan makanan lagi ya buat gue."


"Iya, nanti gue buatkan kalau lo udah kembali ke sekolah."


"Ran, gue boleh peluk lo gak?" tanya Erick tiba-tiba dan tentunya Rania mengangguk karena ia tak ingin membuat Erick bersedih.


Rania mendekati Erick, lalu memeluknya dengan erat. Tak lama Rania menangis karena teringat bahwa Erick berniat melakukan percobaan bunuh diri.


Erick melepaskan pelukannya disaat mendengar tangisan Rania. "Ran, lo ada masalah ya?"


Rania menggelengkan kepalanya. "Gue gak ada masalah. Cuma gue takut kehilangan lo."


"Maafin gue ya, gue waktu itu sempat ingin meninggalkan lo."


"Awas aja kalau lo melakukan hal itu lagi. Pokoknya gue gak akan memaafkan lo kalau sampai hal itu terulang lagi."


Erick hanya tersenyum, karena ada untungnya juga ia melakukan hal itu. Keuntungannya Rania jadi perhatian kepadanya dan juga sahabat-sahabatnya yang lain jadi sering menanyakan kabar.


"Besok kayaknya gue sekolah deh."


"Serius?"


Erick mengangguk. "Iya, soalnya gue pingin dikasih bekal sama lo."


"Ya udah kalau gitu besok gue masak buat lo."


Tadinya Rania ingin sekali bertanya tentang masalah yang dihadapi Erick, namun setelah dipikir-pikir sebaiknya Rania tidak membahasnya karena dikhawatirkan Erick akan teringat dengan masalahnya.


"Oh iya, Rick. Lo tahu gak kalau Reyhan meninggal?"


Erick terdiam setelah mendengar pertanyaan Rania. Ia sangat takut jika mendengar nama itu lagi. Bahkan sekarang jantung Erick berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Sumpah, gue senang banget kalau tahu dia meninggal. Jadi dia gak bisa mengancam gue lagi."


Erick sangat terkejut mendengar perkataan Rania, ia pikir Rania akan bersedih saat mengetahui mantannya meninggal. Namun kenyataannya, Rania justru terlihat senang.


"Lo senang kalau dia meninggal?"


"Iya. Jahat banget ya gue? seharusnya gue sedih mendengar kabar duka orang lain, tapi entah kenapa kali ini gue senang banget mendengarnya."