Fearless

Fearless
Bab 10



Mereka menikmati makanan sambil menonton film yang direkomendasikan oleh Erick. Film yang ditonton mereka bergenre action dan juga terselip adegan romantis. Karena lebih banyak adegan pembunuhannya, Calista menjadi sedikit ngeri melihatnya.


Tak lama, tibalah adegan romantis yang mana pemeran utamanya sedang berciuman dengan lawan jenisnya.


Erick, Kevin dan Friska langsung heboh saat melihat adegan itu. Bahkan Friska langsung merekam adegan itu dengan ponsel miliknya.


Calista hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka. Namun kini, Calista fokus kepada Rania yang seperti tidak menyukai filmnya, karena dari tadi Rania hanya memainkan ponselnya.


Wajar saja Rania tidak tertarik, lantaran ini adalah film action. Dan kebanyakan wanita pasti tidak menyukainya.


"Guys, gue pulang dulu ya. Soalnya orang tua gue menyuruh gue pulang," ujar Rania.


"Lo gak asik banget sih. Baru juga sebentar mainnya," kata Friska.


"Ya gimana lagi, orang tua gue nanti marah kalau gue gak menuruti perkataannya," kata Rania.


"Ya udah pulang aja. Lagian nanti kan bisa main lagi."


Akhirnya Rania pamit kepada semuanya. Setelah Rania pergi, Calista pergi untuk menyimpan gelang pemberian orang tuanya.


Sejujurnya ia tidak suka jika ada orang yang mempunyai barang yang serupa dengan miliknya. Jadi, lebih baik Calista menyimpan barang itu.


Beda lagi jika gelang itu bukan pemberian orang tuanya, mungkin Calista akan langsung membuang gelang itu.


"Kok gelangnya dilepas, Ta," ujar Friska yang sedari tadi memperhatikan Calista.


"Soalnya gue kurang suka sama gelangnya," jelas Calista, lalu ia kembali duduk bersama sahabat-sahabatnya.


Satu jam kemudian, film yang ditonton oleh mereka telah berakhir. Dan kini saatnya mereka pamit untuk pulang.


"Sebelum pulang, kita foto dulu yuk!" ajak Friska.


"Kurang Rania dong," ujar Erick.


"Ya gak apa-apa lah," kata Friska.


Tanpa basa-basi, Friska langsung membuka kamera ponselnya. Lalu, mereka berfoto bersama.


Sesudah berfoto, sahabat-sahabatnya Calista pamit untuk pulang.


...****************...


Calista terus memikirkan perkataan Kevin terkait perempuan yang memeluk Reyhan. Entah Kevin benar atau salah, tetapi sepertinya dia serius mengatakan hal itu.


Karena Calista sangat kepikiran, akhirnya ia lebih memilih untuk menelpon Reyhan.


Tak butuh waktu lama, Reyhan menjawab panggilan telepon dari Calista. "Ada apa?"


"Nanti malam, kita makan diluar yuk."


"Maaf, sayang. Tapi aku lagi banyak tugas, jadi lain kali aja ya."


Tidak biasanya Reyhan menolak ajakan Calista. Biasanya sesibuk apapun, dia tidak akan menolak ajakan Calista. Tetapi kali ini, dia dengan mudah menolak ajakan dari Calista.


"Orang tua kamu ada di rumah gak?"


"Ada kok, tapi cuma mamah. Kalau papah, dia lagi kerja."


"Aku boleh main ke rumah kamu gak?"


"Kamu mau kesini? ya udah boleh deh."


Calista mematikan teleponnya dan ia bersiap-siap untuk pergi menuju rumah Reyhan.


Sesudah bersiap-siap, Calista menghampiri Mamah tirinya. "Nanti kalau ada Papah, bilangin kalau aku mau pergi ke rumah teman."


"Iya, nanti Mamah bilang ke Papah."


Mamah menawarkan agar Calista berangkat dengan diantar Mamah tirinya, namun Calista menolaknya.


Skip


Calista menekan bel rumah Reyhan dan tak lama Reyhan datang membukakan pagar rumahnya.


Setelah itu, Reyhan menyuruh Calista masuk kedalam rumahnya.


Ketika masuk, Calista langsung menyapa Mamah Reyhan yang sedang bersantai di ruang tengah.


"Mah, aku ajak Calista ke kamar ya. Soalnya kalau disini, pasti dia mengobrol mulu sama Mamah," kata Reyhan.


"Memangnya gak boleh ya ngobrol sama Mamah?" tanya Mamah Reyhan.


"Ya gak boleh lah, nanti Reyhan dicuekin," canda Reyhan.


"Ya udah sana! tapi jangan macam-macam ya," kata Mamah Reyhan.


Saat masuk kedalam kamar, Reyhan berniat untuk menutup pintu. Namun dengan cepat, Calista mencegahnya.


"Jangan ditutup, soalnya gerah."


"Di kamar kan ada AC."


"Pokoknya aku gak mau."


Karena Calista sangat keras kepala, akhirnya Reyhan menuruti perkataannya.


"Katanya kamu banyak tugas, tapi kok rapi banget. Biasanya kan kalau banyak tugas, buku-buku suka berserakan."


"Aku emang mau kerjakan tugasnya nanti malam."


"Coba aku lihat tugas-tugasnya."


Reyhan menatap Calista. "Kamu gak percaya ya sama aku?"


Calista terdiam sejenak, ia bingung harus menjawab apa. Jika ia mengatakan bahwa dirinya tidak percaya, nanti bisa-bisa Reyhan akan kesal karena telah menuduh Reyhan berbohong.


"Aku pingin lihat tugas-tugasnya kamu itu karena aku mau membantu kamu supaya tugasnya cepat selesai."


"Gak usah! aku gak mau merepotkan kamu."


Skip


Calista dan Reyhan duduk di sofa dan mereka menonton televisi bersama. Lebih tepatnya Calista yang menonton televisi, sedangkan Reyhan dari tadi hanya fokus memainkan ponselnya.


Calista sangat curiga, sepertinya memang benar yang diucapkan Kevin bahwa Reyhan mempunyai selingkuhan.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya," ujar Reyhan, lalu Calista hanya mengangguk.


Setelah Reyhan masuk toilet, Calista langsung melihat ke layar ponsel Reyhan.


Saat Calista melihat ponsel Reyhan, tiba-tiba ada pesan masuk dari seseorang. Otomatis pesan tersebut terbaca meskipun Calista tidak membukanya.


Sayang, malam ini jadi dinner gak?


Begitulah kira-kira pesan yang dilihat Calista.


Rasanya hati Calista hancur berkeping-keping. Ia berusaha menahan agar tidak menangis.


Calista kembali meletakkan ponsel Reyhan di meja. Tak lama setelah itu, Reyhan keluar dari kamar mandi dan ia kembali duduk bersama Calista.


"Rey, aku mau pulang ya."


"Kenapa? baru juga sebentar disini, kok kamu udah mau pulang lagi."


"Sebenarnya aku agak kurang enak badan," bohong Calista.


"Ya ampun, seharusnya kamu jangan kesini kalau lagi sakit. Nanti kalau sakitnya tambah parah gimana coba."


Reyhan berniat untuk mengantarkan Calista pulang, tetapi Calista menolaknya.


"Kalau gitu hati-hati ya." Reyhan hendak mencium kening Calista. Namun Calista dengan cepat mundur agar Reyhan tidak menciumnya.


"Ya udah aku pamit dulu." Calista segera pergi.


...****************...


Calista telah sampai rumah dan ia langsung menelpon Kevin untuk memberitahu bahwa ucapan Kevin itu benar.


Beberapa detik kemudian, Kevin menjawab panggilan telepon dari Calista.


"Ada apa, Ta?"


"Lo nanti malam sibuk gak?"


"Enggak sih. Emang kenapa?"


"Nanti malam lo mau gak antar gue buat memergoki pacar gue sama selingkuhannya?"


Kevin mengiyakannya, karena ia juga ingin tahu siapa selingkuhannya Reyhan.


"Jadi lo udah lihat bukti kalau pacar lo selingkuh?"


"Iya, gue udah lihat buktinya."


"Terus lo udah putusin dia?"


"Belum. Soalnya gue pingin cari tahu dulu siapa selingkuhannya. Setelah gue tahu, gue akan putusin dia."


Dengan memutuskan hubungan dengan Reyhan mungkin akan terasa sakit diawal. Tetapi lama-kelamaan, Calista pasti akan bisa melupakannya.