Fearless

Fearless
Episode 57



Anak-anak kelas XII IPS 1 sedang menikmati makanan yang telah dibuat oleh Ridho, Tesa dan Rini, karena memang mereka bertiga jago masak.


Disaat yang lain memakan makanan dengan begitu nikmat, Calista justru tidak nafsu dikarenakan lidahnya masih terasa pahit sebab ia masih sakit.


"Kenapa makannya sedikit?" tanya Kevin.


"Aku lagi gak nafsu makan, soalnya lidah aku agak pahit."


"Coba makannya sambil lihat wajah aku, pasti gak pahit lagi."


"Kalau lihat lo, malah makin pahit," sahut Erick, lalu semuanya tertawa setelah mendengar perkataan Erick.


Kevin merasa malu karena tadinya ia pikir bahwa teman-temannya tidak mendengarkan pembicaraan antara dirinya dan Calista.


"Waktu itu bukannya kalian putus ya?" tanya Sarah karena ia mendengar gosip itu dari beberapa orang.


"Kita gak putus kok. Cuma waktu itu emang lagi berantem aja," ujar Kevin, padahal sebenarnya ia dan Calista pernah putus sebentar.


Erick, Rania dan Friska yang mengetahuinya hanya bisa menahan tawanya, karena mereka tahu kalau Kevin dan Calista waktu itu pernah putus.


"Kemarin-kemarin kita emang putus kok."


Kevin merangkul pundak sambil menatap Calista. "Kita gak pernah putus. Kalau putus itu ketika dua pihak sepakat untuk putus, bukan cuma satu pihak aja."


"Calista!" panggil Rania, sontak membuat Calista menoleh kearahnya.


"Kenapa, Ran?"


Rania menarik Calista dan membawanya ke tempat yang jauh dari tempat keramaian. Setelah dirasa sepi, Rania akhirnya mengatakan kepada Calista bahwa dia diancam kembali oleh Reyhan dan katanya Reyhan akan menyebarkan info kepada anak-anak SMA Nusa Indah bahwa dia dan Rania pernah melakukan hubungan intim.


"Gimana dong, Ta? gue takut orang lain tahu tentang hal itu."


Calista berpikir sejenak karena ia juga tidak tahu harus melakukan apa.


"Apa gue bunuh dia aja ya," ujar Rania.


"Stres lo! nanti yang ada lo dipenjara."


"Habisnya gue takut banget."


"Bukti foto-fotonya kan udah dihapus, jadi sekarang lo tenang aja."


Tiba-tiba Erick muncul dan itu membuat Calista dan Rania sangat terkejut.


"Kenapa gak dilanjutkan obrolannya?" heran Erick.


"Rick, lo mendengar pembicaraan kita?" tanya Calista, lalu Erick hanya mengangguk mengiyakannya.


Rania menundukkan kepalanya karena pada akhirnya Erick tahu tentang alasan Rania menolaknya.


"Selain kita, ada orang lain lagi gak yang tahu?" tanya Erick.


"Kevin juga tahu tentang hal ini," jawab Calista.


"Ta, lo bisa pergi dulu gak? soalnya gue ingin bicara berdua sama Rania," kata Erick.


Calista mengangguk mengiyakan ucapan Erick, lalu ia kembali menghampiri teman-temannya yang lain.


Sejujurnya Calista penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Erick. Tetapi karena Calista ingin menghargai privasi mereka, jadi Calista memutuskan untuk pergi.


Jika dipikirkan, Calista yang dihina gara-gara rumor palsu saja sudah stres, apalagi dengan Rania yang benar-benar melakukan hal itu. Mungkin jika rumor itu tersebar, Rania akan pindah ke luar kota karena depresi.


"Rania mana?" tanya Friska.


"Dia ke toilet," bohong Calista.


"Ayam bakar punya gue mana?"


"Aku makan. Soalnya tadi kan kamu bilang kalau kamu gak nafsu makan," kata Kevin, lalu Calista menatapnya dengan tatapan datar.


Karena merasa bersalah, akhirnya Kevin menyuruh Ridho untuk kembali membakar ayam untuk Calista.


Namun Ridho menolaknya, karena saat ini Ridho sedang makan.


"Lo aja yang bakar ayamnya. Lagian siapa suruh makan punya orang lain," kata Ridho.


"Ya udah aku bakar ayam dulu ya," ujar Kevin.


"Ya ampun, masa cuma bakar ayam juga harus bilang," heran Ridho.


Kevin menatap datar kearah Ridho karena semakin lama, Ridho semakin menyebalkan.


"Loh! kenapa lo yang bakar ayamnya? kalau gosong gimana coba," ujar Erick yang baru datang bersama Rania.


"Gue juga punya pikiran kali, jadi gak mungkin gosong," kata Kevin.


Beberapa menit kemudian...


Kevin memberikan ayam goreng tersebut kepada Calista. Karena sekarang teman-temannya yang lain sudah selesai makan, jadi Calista memutuskan untuk menyuruh Kevin memakan ayam itu.


"Buat kamu aja deh."


"Jangan marah dong."


"Aku gak marah. Cuma aku mau kamu yang habiskan ayamnya."


"Ya udah kamu makan dulu sedikit, nanti baru aku yang habiskan."


Trining! Trining!


Calista mengambil ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Randy. Ketika Calista ingin menjawab panggilan tersebut, tiba-tiba Kevin langsung merebut ponselnya dan menolak panggilannya.


"Kok dimatikan," heran Calista.


"Ya harus dong. Kamu juga kan sering kayak gitu kalau ada cewek yang telepon aku."


Calista tersindir dengan ucapan Kevin, jadi ia membiarkan saja handphonenya digenggam oleh Kevin.


"Password ponsel kamu apa?" tanya Kevin.


"Kenapa tanya password handphone aku?" heran Calista.


"Emang gak boleh ya? padahal kan aku juga kasih tahu password ponsel aku ke kamu."


"Tapi kan aku gak minta. Lagian siapa suruh kasih tahu aku."


Kevin mengembalikan ponsel Calista dengan raut wajah yang kesal sebab ia gagal mengetahui siapa saja lelaki yang sering berkomunikasi dengan Calista melalui ponsel.


Melihat raut wajah Kevin, membuat Calista ingin tertawa sekaligus kasihan. Jadi, Calista akhirnya membuka password ponselnya dan ia berikan ponselnya kepada Kevin.


"Apa?" bingung Kevin.


"Kamu tadi pasti ingin lihat chat-chat di handphone aku, kan? makanya sekarang aku kasih handphone aku supaya kamu lihat."


Kevin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Gak usah deh. Ini kan privasi kamu."


Calista menatap datar kearah Kevin. Bagaimana tidak kesal, tadi Kevin ingin melihat-lihat isi ponsel Calista, tetapi sekarang Kevin justru menolaknya.


...****************...


Sehabis makan bersama, mereka semua pergi menuju suatu tempat untuk berfoto bersama, karena mereka sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama.


Karena perjalanannya jauh, jadi Calista meminta sunblock kepada Tesa. Sebab jika tidak memakai sunblock, mungkin kulit Calista akan terbakar.


Tadinya Kevin menyuruh Calista untuk pergi bersama Erick dan yang lainnya di mobil. Tetapi karena tak enak karena takut orang-orang yang berada di mobil jadi kesempitan karena ada Calista, jadi Calista memilih untuk pergi bersama Kevin.


"Panas gak?" tanya Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.


"Mau beli topi gak? biar gak terlalu panas kepalanya."


"Nanti kita ketinggalan dong."


"Ya gak apa-apa. Lagipula aku tahu kok tempatnya dan juga aku bawa motornya cepat, jadi pasti gak akan terlalu ketinggalan."


Sebab Calista masih sedikit pusing, jadi Calista mengiyakan saran dari Kevin untuk membeli topi. Lalu, Kevin memutar arah motornya untuk membeli topi yang tadi ia lihat dipinggir jalan. Setelah itu, Kevin dan Calista turun untuk membeli topi.


Tadinya Kevin hanya ingin membeli topi untuk Calista saja, tapi karena Calista menginginkan topi couple, jadi Kevin akhirnya membelinya.