
Malam hari, tepatnya pukul tujuh malam, tiba-tiba Calista mendapatkan panggilan telepon dari Erick. Tadinya Calista ingin menolak, tetapi karena Calista khawatir jika ada sesuatu yang penting, akhirnya Calista menjawab panggilan telepon tersebut.
Pada saat Calista menjawabnya, Erick langsung berterus terang bahwa saat ini Kevin sedang berada di rumah Erick. Keadaan Kevin sangat buruk, bahkan katanya saat Kevin datang ke rumah Erick, matanya seperti seseorang yang baru saja menangis.
Kini Calista saat mengkhawatirkan keadaan Kevin, karena sepertinya Kevin habis bertengkar dengan papahnya gara-gara Calista.
Akhirnya Calista mengakhiri panggilannya dan ia buru-buru mengambil kunci mobilnya. Setelah itu, ia menemui orang tuanya untuk meminta ijin pergi ke rumah Erick.
"Mah, Calista ijin keluar sebentar ya," ujar Calista dengan nada pelan, karena ia takut jika papahnya datang.
"Emang kamu mau kemana?"
"Mau ke supermarket, soalnya ada barang yang pingin Calista beli," bohong Calista.
"Beli besok kan bisa."
"Masalahnya Calista pinginnya sekarang."
Mamah mengatakan bahwa Calista harus ijin terlebih dahulu ke papah. Tapi karena Calista takut untuk meminta ijin, akhirnya ia berlari keluar dan buru-buru pergi dengan mengendarai mobilnya.
...****************...
Kevin POV
Disaat Kevin sedang melamun memikirkan pertengkarannya dengan papah, tiba-tiba Erick mengagetkan ku sehingga pikiranku buyar.
"Lo kenapa sih dari tadi diam terus? lagi banyak masalah ya?" tanya Erick.
"Gue gak apa-apa dan gak lagi ada masalah kok."
"Oh iya, Calista katanya mau datang kesini. Soalnya tadi gue bilang ke dia kalau lo lagi sedih."
"Kenapa harus menyuruh dia kesini sih? lo kan tahu kalau Calista gak dibolehin pergi sama papahnya."
Erick mengirim pesan kepada Calista agar dia tidak datang ke rumah Erick.
"Gue udah kirim pesan ke dia supaya dia jangan datang," jelas Erick.
Sebab Kevin takut jika pesan Erick tidak dibaca, akhirnya Kevin segera menelpon Calista.
Tak lama, panggilan telepon dari Kevin dijawab oleh Calista. Kevin mendengar suara Isak tangis Calista dan sepertinya dia menangis karena tidak diperbolehkan untuk pergi oleh papahnya.
"Kamu kenapa?"
"Vin, mobil aku nabrak pohon. Gimana dong? aku takut, mana tempatnya sepi banget."
Kevin terkejut mendengarnya dan ia segera menanyakan keberadaan Calista sekarang.
"Kamu tunggu sebentar ya, sekarang aku akan segera kesana." Kevin mematikan teleponnya.
"Kenapa, Vin?" bingung Erick karena Kevin sepertinya terlihat khawatir.
"Calista kecelakaan."
Tanpa basa-basi, keduanya segera pergi dengan mengendarai mobil Kevin.
Skip
Sesampainya disana, Kevin dan Erick langsung berlari menghampiri Calista. Kevin memeluk Calista yang sedang menangis karena ia tahu bahwa Calista pastinya syok berat.
"Kamu tenang ya, jangan nangis."
"Vin, kalau papah marahin aku gimana?" khawatir Calista karena mobilnya rusak di bagian depan.
"Kamu tenang aja. Papah kamu gak akan marah sama kamu kok."
"Tapi bagian depan mobilnya rusak."
Kevin melepaskan pelukannya, lalu ia melihat kearah mobil Calista dan memang kerusakannya lumayan parah. Entah kenapa Kevin juga yakin bahwa nantinya papah Calista akan marah. Tetapi jika ia mengatakan seperti itu, pastinya Calista akan semakin takut untuk pulang.
Kevin melemparkan kunci mobil kepada Erick. "Rick, lo bawa mobil gue ya. Nanti gue biar bawa mobilnya Calista."
"Ya udah ayo naik!" perintah Kevin, lalu Calista segera mengikuti perintah Kevin. Akhirnya mereka segera pergi menuju rumah Calista.
...****************...
Sesampainya di rumah, Calista terus bersembunyi dibelakang Kevin. Tak lama, kedua orang tua Calista keluar rumah karena keduanya mendengar suara mobil.
"Ini kenapa mobilnya bisa rusak?" teriak papah.
"Om, maafin saya. Tadi saya gak sengaja nabrak pohon. Tapi saya janji, nanti saya akan ganti rugi kok."
Calista dan Erick menatap kearah Kevin karena keduanya terkejut mendengar perkataan Kevin.
"Ini bukan salah Kevin, tapi ini salah Calista. Maafin Calista, Pah."
Sebenarnya Papah Calista juga tahu bahwa ini adalah ulah Calista. Tetapi ia sedikit salut dengan Kevin, karena dia berpura-pura bahwa itu semua salahnya hanya untuk melindungi Calista agar tidak dimarahi.
"Om, jangan salahkan Calista. Ini semua gara-gara saya," ujar Erick, lalu ia menjelaskan semuanya kepada orang tuanya Calista.
Karena tidak enak didengar tetangga, akhirnya Papah menyuruh Kevin dan Erick untuk pulang dan akhirnya mereka menuruti perkataan papah Calista.
Setelah keduanya pulang, Calista dan orang tuanya masuk kedalam rumah. Ya, seperti dugaan Calista sebelumnya bahwa Papahnya pasti akan memarahinya.
Calista terus menangis karena Papah tidak mengijinkan Calista untuk pergi menggunakan mobil lagi, bahkan Papah juga berkata bahwa uang jajan Calista akan dipotong.
"Ya udah sana tidur!" perintah Papah.
"Sekali lagi maafin Calista ya, Pah."
Papah menghela nafasnya, meskipun Papah emosi karena Calista sangat ceroboh, namun sebenarnya ia masih bersyukur karena Calista tidak terluka.
Saat masuk kamar, Calista langsung mengirim pesan kepada Kevin untuk memberitahu bahwa Calista saat ini baik-baik saja dan juga Calista memberitahu bahwa papahnya sudah memaafkannya. Sesudah mengirim pesan, Calista segera tidur karena besok ia harus sekolah.
4 jam kemudian, Calista terbangun dikarenakan ia bermimpi buruk. Di mimpinya, Calista melihat Kevin kecelakaan dan tubuhnya dipenuhi darah.
Calista buru-buru mengecek ponselnya untuk memastikan apakah Kevin sudah membalas pesannya atau belum. Dan ternyata, Kevin sama sekali tidak membalas ataupun membaca pesannya.
Kekhawatiran Calista semakin bertambah, ia takut jika mimpi itu adalah sebuah pertanda. Untuk memastikannya, akhirnya Calista segera menelpon Kevin.
Beberapa detik kemudian, Kevin menjawab panggilan telepon dari Calista. "Ada apa?" tanya Kevin dengan suara beratnya.
"Kamu baik-baik aja, kan?"
"Aku baik-baik aja kok. Cuma tadi sore aku berantem sama papah, makanya sekarang aku menginap di rumah Erick."
"Maafin aku ya. Gara-gara aku, kamu jadi berantem sama papah kamu."
Kevin diam saja, tak lama Calista mendengar suara dengkuran dan sudah dipastikan bahwa Kevin tertidur. Karena merasa bersalah karena telah mengganggu waktu tidurnya, akhirnya Calista mematikan teleponnya dan ia juga kembali melanjutkan tidurnya.
...****************...
Pagi harinya, Calista merasa canggung sarapan dengan orang tuanya lantaran kejadian semalam. Meskipun ia tahu bahwa papahnya telah memaafkannya, tetapi tetap saja ia sangat merasa bersalah.
"Pacar kamu ada masalah apa?" tanya Papah karena semalam Erick mengatakan bahwa Kevin sedang sedih, makanya Erick menyuruh Calista untuk datang.
"Dia berantem sama papahnya gara-gara Calista."
"Gara-gara kamu?" bingung Papah.
"Iya, mereka berantem gara-gara Calista."
Calista memberitahu yang sebenarnya kepada orang tuanya tentang papah Kevin yang memarahinya karena dia menganggap Calista sering meminta Kevin untuk membelikan barang-barang.
"Ya ampun, masa cuma gara-gara itu doang dipermasalahkan. Padahal orang tua
Kevin kaya, tapi kok pelit banget," heran Papah.
"Masalahnya kalungnya mahal, Pah. Dan Papahnya Kevin pasti gak rela, soalnya uang Kevin kan pemberian dari Papahnya, jadi seharusnya uang itu dipakai untuk kebutuhan Kevin."
"Ya udah kalau gitu kamu kasih lagi aja barangnya ke Kevin, biar masalahnya selesai."
"Calista udah kasih kalungnya kok."
Papah menyuruh Calista untuk mencari lelaki lain yang orang tuanya dapat menerima Calista, tetapi Calista menolaknya karena ia juga pernah diterima oleh keluarganya lelaki, namun lelaki itu justru selingkuh darinya. Jadi kesimpulannya, Calista lebih baik memilih lelaki yang sudah jelas-jelas setia kepadanya, tak peduli jika orang tuanya tidak menyukainya.
"Oh iya, Pah. Masalah mobil gimana?"
"Nanti teman Papah yang akan urusi mobilnya."
"Syukur deh kalau gitu."
...****************...
Kevin dan Erick datang untuk menjemput Calista dan tadinya Calista menyuruh untuk langsung berangkat tanpa pamit kepada orang tua Calista. Namun karena Kevin dan Erick teringat kejadian semalam, akhirnya keduanya memutuskan untuk masuk kedalam rumah untuk meminta ijin untuk berangkat sekolah bersama Calista. Sesudah meminta ijin, mereka segera pergi ke sekolah bersama.
"Kamu mau sampai kapan di rumah Erick?" tanya Calista.
"Gak tahu. Mungkin sampai aku udah gak emosi lagi," jawab Kevin.
"Emang masalah lo dengan papah lo apa sih, Vin?" tanya Erick.
"Ta, kamu semalam gak luka, kan?" tanya Kevin memastikan, lalu Calista mengangguk seraya menjawab bahwa ia tidak apa-apa.
Erick menatap datar kearah Kevin. Erick menyesal naik mobil Kevin, karena dirinya merasa tak dianggap.
"Oh iya, gimana kalau pulang sekolah kita kerja kelompok di rumah kamu," saran Kevin.
"Oh ya udah, nanti aku bilang ke Bayu."
"Terus gue gimana pulangnya? gue kan mau pulang," sahut Erick.
"Lo pulang naik taksi aja, atau ikut bareng orang lain," kata Kevin.