
Bulan terus mengusap punggungnya dengan lembut supaya elang berhenti menangis. Padahal jika Elang kambuh, ia tak pernah menangis, Mungkin karena faktor amnesia juga. Kevin buru buru datang menghampiri Elang sambil membawa obatnya.
"Loe lupa gak minum obat ya? Malem sama pagi ini?" Tanya Kevin tajam, Elang mengangguk pasrah saja. Ia pasti akan dimarahi Kevin lagi.
"Kalo gitu, Minum obatnya sekarang. Biar loe agak mendingan," Ucap Kevin lagi sambil menyodorkan obat dan segelas air.
Elang pun meminum obat dari Kevin dan mulai tenang. Elang malu saat ia dipeluk bulan tadi, ia meminta maaf karena sudah merepotkannya. Bulan hanya tertawa melihat Elang, ia seperti Elang versi polos yang selalu meminta maaf jika melakukan kesalahan.
"Gak usah minta maaf, udah jadi kewajiban gue bantuin orang." Jawab Bulan sambil tersenyum, dan ia merasa ia harus menjadi orang yang sangat lembut kepada orang yang lebih mirip dengan kucing ini.
"Masih ada waktu sampe loe lomba, loe mau istirahat lang?" Tanya Kevin padanya.
"Kalo diem di UKS gua bosen. gua mau liat aja ke lapangan," Jawab Elang, kevin tidak bisa menolaknya.
"Yaudah, kita ke lapang lagi. Si Chiko maen sekarang," Jawab Kevin juga.
"Oh iya? Okey,"
Akhirnya mereka pun kembali ke lapangan. Queen melihat kalau Bulan sudah bersama Elang, sehingga ia tidak bisa mendekatinya lagi. Ia menjadi takut pada Elang setelah ia sempat di ancam untuk tidak dekat dekat pada Bulan.
Queen menjadi kesal pada Bulan yang sudah kembali pada kekasihnya, padahal masih jauh peluangnya agar bisa mendapatkan memori Elang. Mereka sudah melewati beberapa perlombaan, sehingga saat mereka datang, nama Elang sudah di panggil dari tadi. Ia pun berlari ke tengah lapangan untuk mengikuti lomba catur. Tanpa butuh waktu yang lama, Elang langsung memenangkan catur itu. Kelas IPA bersorak gembira karena kemenangan nya, mereka mulai menang berkali kali sehingga bisa menjadi juara di hari ke tujuh.
Hari kedua sudah terlewati...
Hari ketiga...
Hari keempat...
Hari ke lima, Hanya ada tiga perlombaan, Yaitu Lomba memanah, cerdas cermat dan basket.
"Aaahhhhh!!! Itu kyle! Kyle keren bangetttt kalo pegang panah kek gitu!!!! aaahhh! Kyleeee!!!!"
Kyle yang sedang berada di lapangan itu terkejut dan menoleh pada mereka lalu tersenyum dan tersipu malu.
'Malu banget,' Gumam Kyle pelan.
Kyle pun di persilahkan memanah, mereka bersorak menyemangati Kyle, bagaimana pun juga, ia harus memenangkan lomba ini.
Tak!
Panahnya tepat sasaran, ia mendapatkan nilai sembilan. Walaupun agak kecewa, ia senang karena hanya Kyle yang mendapat nilai lebih besar.
Kyle pun dijadikan pemenang setelah beberapa kali kali memanahkan busurnya. IPS kembali bersorak, termasuk Elang yang senang karena Kyle pintar dalam memanah.
"Hebat, sejak kapan loe pinter manah?" puji Elang pada Kyle.
"Udah lama, walaupun mata saya rada minus, tapi ternyata masih bagus kalo manah kayak gitu," Jawab Kyle senang. "Nih, minum dulu, loe pasti capek," Ucap Elang menawarkan.
"Sanskyuu," Jawab Kyle kembali senang.
"Huhuhuhu, gua mau LCC, doain gua biar menang," Ucap Elang pada Kyle.
"Pasti lah, Tanpa saya doain pun kamu bakal menang lang, percaya aja." Jawab Kyle tertawa, apa apaan ucapan elang itu?
Sampai akhirnya, Elang bingung karena ia menduduki kursi paling atas, padahal ia belum menang sama sekali.
"Nah... di lomba cerdas cermat ini, kalian akan bersaing melawan Erlangga Aileen Satria yang merupakan Raja LCC beberapa bulan lalu, maka dari itu, terus semangat walaupun... yah... begitulah."
'Apa apaan MC nya? Kenapa jadi semuanya yang lawan gua?! Terus apa tadi katanya? Raja LCC? Kapan gua kayak gitu?!' Batin Elang kaget.
Sistem nya sama seperti saat Elang lomba. Semua jurusan akan bersaing terlebih dahulu, setelah mendapatkan satu pemenang, ia akan melawan Elang di babak final. Jadi elang tidak perlu berusaha lagi seperti mereka, tapi Elang bisa menjawab jika semua peserta tidak bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan para guru.
"Namanya juga Elang. Spesialis segalanya, mana ada yang bisa ngalahin dia kan?"
"Tapi kan... katanya dia amnesia ya gara gara kecelakaan waktu itu?"
"Emang bisa ngaruh ya?"
"Ya gak tau juga sih... Gue salah satu fangirl nya elang, jadi apapun tentang Elang, gue terimain. Cuma bisa menjadi fans dan tidak bisa memiliki... hiks,"
Bulan yang mendengarkan mereka daritadi merasa panas dan gerah. Ia hanya diam mendengarkan gosip anak anak di kelasnya. Tanpa terasa, pertandingan itu sangat sengit dan hanya menyisakan Abyral yang maju melawan Elang.
Abyral mendongakan kepalanya menatap Elang yang sedang memberikan semangat padanya. Abyral hanya tersenyum pasrah melihatnya, bagaimana pun juga, Elang bukanlah lawan yang sepadan dengannya.
'Tau gini gua kagak usah ikut LCC kalo lawannya Elang...' Batin Abyral pasrah.
"Semangat Abyrall!!! Bam!"
Perlombaan pun dimulai...
Pertanyaan pertama masih bisa di jawab keduanya, namun semakin naik, Abyral semakin pusing dengan pertanyaan yang di ajukan para guru. Ia melirik Elang yang dengan senang hati menjawab pertanyaan itu.
Walaupun Abyral harus berpikir, jawabannya tetap di terima karena mereka sudah memaklumi, lawan Elang bukanlah Abyral.
"Abyral, loe boleh jawab duluan." Ucap Elang padanya. "Oh?! I,iya..." Jawab Abyral ragu.
Elang memperhatikan Abyral yang mengejar poin yang tertinggal dari Elang. Elang juga di perbolehkan untuk mengajukan pertanyaan pada Abyral.
"Nggak akan banyak banyak kok. Cuma dua aja," Ucap Elang padanya.
"Pertanyaan pertama, sebuah pesawat akan terbang menuju jepang, tapi... di perjalanan ketika menyebrangi pulau sumatra, pesawat itu jatuh dan tidak ada korban jiwa. pertanyaannya, dimana korban jiwa itu di kuburkan?"
Deg!
Abyral bengong sekejap, pertanyaan macam apa itu? Kenapa pertanyaannya keluar dari pelajaran sekolahnya? Elang hanya tertawa melihat Abyral yang kebingungan.
"Ini Random by, harusnya loe bisa jawab ini." Ucap Elang lagi.
"Bentar..." Abyral mencoba mencerna pertanyaan elang tadi. Setelah sadar, ia pun memukul meja karena geram.
"Gak ada yang dikubur anjir! Kan kagak ada korban jiwa!" Seru Abyral menahan tawa.
"Jiahahahahaha! Bener! hahahaha, jawabannya bener...!" Jawab Elang sambil tertawa, membuat para guru dan murid yang menontonnya juga ikut tertawa.
"Pertanyaan kedua nih... bentar,"
"Berapa jumlah bangku yang ada di kelas loe? ditambah, berapa meja yang ada di kelas loe?" tanya Elang lagi. Abyral hanya tersenyum smirk.
"ada sekitar 34 murid di kelas dan ada 17 meja. cukup?" Jawab Abyral, elang hanya tertawa karena ia tak tahu benar apa tidaknya jawaban Abyral. Namun, pertanyaan elang itu menjadi bonus poin untuknya.
Setelah pertandingan selama satu jam setengah, mereka pun mendapatkan hasilnya, Elang yang menjadi pemenang di lomba ini. Abyral sudah menyangka, jadi ia tidak akan terlalu sakit hati.
"Selamat Lang, loe emang juaranya. Gak ada yang bisa ngalahin loe sih... Emang." ucap Abyral padanya.
"Aaahh... makasih. Loe juga hebat bisa maju sampe sini. Lain kali kita maen lagi oke?" Jawab Elang senang.
Abyral pun tersenyum senang. Perlombaan masih di lanjutkan hingga sore hari. Mereka beristirahat sejenak dan mempersiapkan lomba basket putri.
Bulan juga tengah bersiap di lapangan untuk berlatih sebelum akhirnya berlomba. Elang terus memperhatikannya sambil tersenyum, entah apa yang ada di pikirannya.
"Liatin siapa lagi wei?" Tanya Chiko yang mengejutkannya.
"Lah elu ngagetin eh..." Jawab Elang memukul Chiko pelan. Chiko pun ikut melihat siapa yang Elang perhatikan, ia lalu memandang Elang dengan perasaan terkejut.
"Loe...
"Lyli! Semangat latihannya!" Teriak Elang tiba tiba, membuat Chiko makin terkejut saja.
"Lyli?" tanya Chiko heran.
"Ya lyli, kenapa emang?"
'Lyli... Jelas jelas namanya Bul-- Hm! Lyliana! Gua lupa anjir,' Batin Chiko, benar juga. Ia lupa kalau Elang tak bisa mengingat nama Bulan.
Bulan pun tersenyum sampai tertawa melihat ekspresi Elang. Pertandingan pun dimulai... Ternyata jurusan bahasa memang pandai bermain basket dan kebanyakan orang nya memang mengikuti eskul basket. Hingga semangat bulan pun menurun.
Sudah berkali kali bulan mencoba untuk memasukan bola ke keranjang, namun lagi lagi ia terhalang lawannya. Ia pun melamun di tengah pertandingan itu, sampai bola basket itu hampir mengenainya. Elang buru buru lari ke lapangan dan memeluk bulan untuk menghindari bola itu, alhasil, ia terkena bola basket tepat mengenai kepalanya.
Pertandingan di hentikan sementara, mereka pun memanggil PMR cepat cepat.
"Lang...? Lang... Bangun lang..." Bulan mencoba membangunkan Elang dengan cara menepuk nepuk wajahnya, tidak tanggung tanggung, hidungnya mengeluarkan darah karena lemparan bola tadi.
Bersambung...