
Semuanya masih melongo tidak percaya Bulan mengeluarkan perkataan yang begitu kasar. Tapi laki laki di kelasnya sepertinya mendukungnya, Bulan hanya tersenyum lalu Chiko membawanya pergi meninggalkan Queenza yang lagi lagi menangis.
"Perkataan loe nyeremin beybih," Ucap Linda ngeri.
"Canda doang kok... Gak mungkin gue santet tu anak, kalo iya gue santet, Dosa gue nambah lagi," Jawab Bulan santai.
"Yah... siapa yang gak kenal bulan sih? Cewek cantik paling toxic yang pernah ada." Ujar Linda sambil memesan ojeg.
"Naek ojeg ya? Gue gak bis anter pulang nih, maafin gue." Lanjut Linda pada Bulan.
"Gak papa, makasih udah nemenin gue, ya lin? Bang? Gue pulang duluan," ucap Bulan pada keduanya. Chiko dan Linda melambaikan tangannya saat bulan pergi.
"Adek loe emang galak ya?" Tanya Linda yang jalan berdua dengan Chiko.
"Iya, cuma dia yang kasar di keluarga. Dia bahkan pernah gundul gara gara sering kasar, biar nyadar." Jawab Chiko yang membuat Linda tertawa.
"Kalo gitu, yuk masuk kelas. Kita udah telat banget," Ajak Linda padanya.
"Makasih udah mau nemenin Bulan yeh," Jawab Chiko lagi.
"Oya dong... Gue kan cewek paling baik disini, walaupun bukan primadona tapi gue cuma percaya sama bulan. Gue gak percaya sama rumor rumor yang ada," Jawaban mantap dari Linda membuatnya senang.
Beralih ke rumah sakit...
Longwei sudah bolos masuk kantor sejak seminggu yang lalu. Ia hanya ingin menemani Elang disini.
"Bapak udah bolos masuk kerja lho, udah seminggu." Ucap Mamah yang duduk di sebelah Longwei sambil menawarkan gorengan padanya.
"Its okay, no problem mam," Jawab longwei santai.
"No problem no problem, gak ada yang namanya no problem bapak... Bapak mah santuy amat dah," Keluh mamah cemberut.
"Eh? Since do you use slang like that? Cool, cool, hahahaha," Bapak yang tertawa saat mamah menggunakan bahasa gaul.
"Kul, kul. Harus dong. Kita gak boleh ketinggalan jaman pak, ini udah kids jaman now, Hahahahaaha," Mamah juga yang ikut tertawa.
Hanya mereka berdua yang setia menunggu Elang bangun, walaupun entah sampai kapan elang begitu.
"Nak, biasanya kamu yang kayak gini. Kamu suka ngelucu ngehibur mamah kalo sedih. Haaah... bangun yoo, bisa yuk nak?" Gumam Mamah kembali menatap Elang.
"Hmm... can he hear what you're saying?" Tanya longwei pada istrinya lagi.
"Nggak tau pak... " jawab Mamah nya sedih.
Tapi mamah bersyukur Elang dalam keadaan baik setelah sempat kejang kejang beberapa hari ke belakang. Entah pengaruh obat atau apa, Elang terus kejang kejang sejak kemarin.
Pada siang harinya...
Mamah dan bapak tertidur di sofa, mereka tampak kelelahan. Sabil dan Longwei tidak bisa membiarkan putra putrinya bolos sekolah demi menjaga Elang. Biar mereka saja yang bolos, begitu pikir Longwei.
Kevin berusaha membangunkan keduanya karena elang akan diperiksa. Mamah senang melihat Kevin yang sudah sembuh walaupun masih pucat.
"Mamah seneng liat kamu nak, kamu kemana aja hm? Jangan ngehindar yah? Mamah sedih kalo kamu kayak gini lagi apalagi sampe mogok makan dan sakit," Ucap Mamah yang membuat kevin terkejut.
'Kenapa mamah tau? Haaah... Ibu pasti aduin gua ke mamah,' Batin Kevin menduga.
"Iya mam, kevin gak akan gitu lagi." Jawab Kevin sambil tersenyum, mamah juga mengangguk mengerti.
Ketika sedang menjalani pemeriksaan, Teman temannya terkejut melihat kehadiran kevin. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan kevin setelah sekian lamanya, utamanya Vino.
"Lu kangen gua? Syulit di percayah..." Jawab Kevin ingin tertawa.
"Nggak! Nggak mungkin lah... Masa iya gua kangen lu? Gua cuma pengen tau keadaan loe sekarang, udah mendingan belum?" Tanya Vino malu.
"Ngaku aja vin, jangan boong. Lu ngeluh soal Kevin ke kita, ya Tew ya?" sahut Chiko yang mendapat tatapan tajam dari Vino.
"B,bukan gitu... Gak ada temen yang ngebacot aja... Berasa sepi, kek kuburan." Jawab vino memalingkan wajahnya dari Chiko. Kevin hanya tertawa saja menanggapi teman temannya.
"Gimana Elang sekarang?" Tanya Theo juga, nampak wajah dinginnya itu ikut khawatir.
"Baik baik aja. Belum ada tanda mau bangun," Jawab Kevin fokus.
"Nyaman banget kayaknya disana, sampe gak mau balik." Gumam Vino pelan.
Mamah dan bapak pergi keluar untuk mencari angin, mereka membiarkan Teman teman Elang berada disana dulu.
"Gitu ya? Lang! Bangun woi! Cewek lu kangen sama lu, masa loe gak mah bangun? Loe biasanya gak selemah ini, loe gak mungkin ninggalin kita kan?!" Ucap Vino di dekat Elang.
Tiba tiba saja, Alat EKG menunjukkan kondisi yang tidak normal. Detak jantungnya tidak berdetak normal dan kondisinya menurun drastis. Kevin buru buru memanggil ayahnya untuk segera datang ke ruangan Elang. Teman temannya di perintahkan untuk keluar dulu. William benar benar panik akan kondisi Elang sekarang. Ia membuka kancing bajunya dan menggunakan defibrilator, namun setelah berkali kali mencobanya, Elang tetap tidak bangun. Pada akhirnya William menekan nekan dadanya.
"Elang... saya mohon..." Gumam William terus berusaha menyadarkan Elang.
"Elang... tolong bertahan... Saya mohon..." gumam William lagi sambil terus melihat EKG.
Tiit... Tiit... Tiiit...
"dokter, kondisi pasien kembali normal," Ucap Perawat senang.
"Haaah... Alhamdulillah..." William yang bisa kembali tersenyum.
Setelah hal mengejutkan tadi terjadi, Dokter kembali memeriksa Elang. Apakah ada yang salah sehingga kondisi elang menurun drastis begitu.
"Hm... Di cek dari segi peralatannya semuanya bagus," Gumam William bingung. Ia pun memegang pergelangan tangan Elang guna mengecek nadinya.
Saat tengah memeriksa, jari jemari Elang mulai bergerak pelan, tentu saja membuat William terkejut. Ia pun menoleh pada Elang yang ternyata sudah membuka netra indahnya.
"Elang?!" Saking terkejutnya, William memanggilnya setengah teriak, membuat teman teman Elang yang menunggu di luar segera masuk karena penasaran.
Semuanya mematung melihat Elang yang sudah sadar. Sekian lamanya mereka menunggu, akhirnya hari ini tiba, hari dimana Elang tersadar dari komanya.
"Lang? Apa yang sakit? Bilang sama Om mana yang sakit nya?" Tanya William terharu sekaligus senang Elang sudah terbangun. Elang hanya menatap William sambil terus mengedip ngedipkan matanya.
"Kenapa Lang? Hm?" Tanya William lagi. Elang berlanjut menatap teman temannya yang ikut tersenyum melihatnya, ia menatap sekelilingnya dan juga tangannya yang diinfus.
"Haaah... Udah berapa lama Elang disini, om?" Tanya Elang pelan, hembusan nafasnya menyisakan uap di masker oksigennya.
"Eh? Mmm... Satu bulan lebih dua minggu," jawab William ragu, Elang membelalakkan matanya kaget, lama sekali ia tertidur.
Elang pun meraih masker oksigennya dan berusaha membukanya. Teman temannya mendekatinya, namun ia kembali melamun. Membuat Teman temannya aneh dan heran.
"Lang? Kenapa?" Tanya Chiko mewakili teman temannya. Elang menatap Chiko cukup lama, membuat chiko merinding saja.
"Eaaaa... Nungguin ya...?" Kata Elang sambil tersenyum lebar, membuat teman temannya kesal saja. Sekarang malah Elang tertawa karena melihat wajah teman temannya yang panik mengkhawatirkannya.
"Bego!" Ketus Vino kesal setengah tertawa.
Bersambung....