Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 65



Kini Bulan dan Chiko berada di luar rumah, mereka tidak diizinkan masuk kecuali sudah berbaikan dan berjanji tidak akan bertengkar lagi. Bulan terus mengetok pintu agar mamah mengizinkannya masuk lagi.


"Mamah... Bukain pintunya dong... Bulan mau bobo... Bulan ngantuk," Keluh Bulan sambil mengetok pintu rumahnya.


"Percuma, mamah udah ngamuk," Jawab Chiko mendelik kesal.


"Siapa yang disalahin coba sekarang? Elu sih, nyari nyari masalah mulu," Ucap Bulan ikut mendelik pada kakak laknatnya.


"Lah?! Kok jadi gua? yang teriak teriak sambil ngomong kasar siapa? Elo kan? hah?" Tanya Chiko lagi.


"Iya iya... gue minta ma~ap sama Chio, gue yang udah ngomong kasar ke elu, gue juga yang bikin loe ke usir dari rumah barengan sama gue," Jawab Bulan, ia tidak ingin mempermainkan Chiko lebih jauh dari ini.


"Uuuh... Hujan lagi," Gumam Chiko sambil merogoh sakunya. Bulan yang sadar kalau chiko mencari sesuatu segera memeriksa saku celananya juga.


"Asma loe kambuh bang? Loe kedinginan ya?" Tanya Bulan khawatir, ia melihat Chiko yang terus batuk batuk.


"Inhaler nya ketinggalan," Jawab Chiko pelan.


"Hayaelah bang... Kebiasaan lu mah, gimana dong? Kita gak bisa masuk sekarang," Ucap Bulan makin khawatir.


"Mamah... Mamah... Bulan sama Chio minta maaf. Bulan (Gak) Janji gak bakalan berantem lagi apalagi sampe ngomong kasar mah... Maapin bulan terutamanya mah... Mamah... Asma nya chio kambuh mah... Chio kedinginan makannya kambuh, Inhaler nya ada di dalem, kasian Chio mah... Dia udah bengek banget, wajahnya udah merah," Ucap Bulan panjang lebar agar mamahnya membukakan pintu untuk mereka.


Tak lama kemudian...


Mamah membukakan pintu untuk keduanya karena tidak bisa membiarkan Chiko kambuh lebih dari ini. Dengan wajah sangarnya, mamah menyuruh mereka masuk.


"Udah mah, abis ini mah sama bulan aja Chio nya, bulan yang bakal ngurusin Chio sebagai tanggung jawab bulan," Ucap Bulan pada Mamah, mamah hanya mengiyakannya.


Setelah pintu di tutup, Bulan kembali mengintip, memastikan mamahnya benar benar sudah pergi.


"Udah pergi belum?" Tanya Chiko pelan... sekali.


"Udah bang," Jawab Bulan oke.


Chiko bersyukur karena tidak ketahuan. Cara yang paling ampuh meluluhkan mamanya adalah dengan keadaan chiko yang kambuh. Hanya itu caranya, Chiko sengaja begitu agar mamahnya bisa membukakan pintunya.


"Hebat bang, tipu muslihat loe keren. " ucap Bulan yang berbaring di kasur Chiko.


"Gak ada cara lain selain kayak gitu, lagian emang bener, diluar hujan, gua cuma pake kaos. Bahaya kalo beneran bengek," Jawab Chiko lagi.


"Bobo bang, sekarang abang harus bobo, takutnya mamah meriksa lagi," Ucap Bulan sambil menepuk kepala abangnya pelan.


Chiko tersenyum dan menarik selimutnya. Bulan pun kembali ke kamarnya. Saat Elang koma, Ia benar benar di tindas, apalagi oleh putri kepala sekolah, yaitu Queenza. Bulan jijik sekali mendengar nama itu, Queenza adalah anak yang menjadi primadona sekolah dan selalu dijadikan model untuk poster pendaftaran di sekolahnya. Sedangkan Bulan yang adalah putri pemilik sekolah, tidak di perlakukan begitu, lagipula... Bulan tidak ingin hal seperti itu, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian, ia hanya ingin hidup normal dengan teman temannya.


"Haaah... Besok cobaan apalagi yang bakal nyapa gue??? Kalo boleh... gue mau bolos lah, ikut Vino. Gue gak mau kayak giti terus... Gue cape..." Keluh Bulan di kamarnya, ia kembali melihat foto fotonya bersama Elang.


"Kapan sih loe bangun El? Gue kangen, gue kangen banget sama loe,"


Bulan pun memejamkan matanya dan tertidur pulas. Tidak terasa hari sudah berganti dari rabu ke kamis. Itu adalah pelajaran olahraga, pelajaran yang paling disukainya.


"Kenapa gak mau naek motor?" Tanya Chiko padanya.


"Gak ah, school nya deket sama home kita. Jadi... lebih baik to walk aja." Jawab Bulan yang membuat Chiko keheranan.


"Apa apaan ngomong inggris campur gitu? Ngewa tau gak? Kalo mau full inggris, kayak bapaknya Elang,"


"English language gue gak se good bapak Elang yang memang made in china setengah amerika. Makannya masih ugly gini, gue don't like inggris, makannya gini," Jawab Bulan lagi.


"Lebih baik loe pulang dan istirahat, otak loe kayaknya sengklek lan, Pulang sana. Pulaanggggg," Ujar Chiko ngeri, Bulan hanya tertawa saja menanggapi kakaknya itu. Ia hanya coba coba saja seperti itu.


"Gue going crazy, gara gara stress mikirin si Queen itu. Gak tau apalagi yang bakal dia buat biar gue sengsara." Ucap Bulan kemudian.


"Gak usah di ladeni, apaan yang kayak gitu mah? Papah lebih berkuasa, loe ada di atas lan, masa gak nyadar juga? Nunjukkin kesombongan didepan orang sombong itu bagus. Sok aja," jawab Chiko menasehati.


"Hmm... karna jadwal gue sekarang olah raga, gak tau apa rencana dia sekarang. Dia mulai gerak ketika Elang gak ada pinggir gue, dia bahkan gak ada takut takutnya sama elu, Yang merupakan abang gue,"


"Dia belom tau siapa lawan dia sesungguhnya ya...? Gak papa, nanti gue bakal nolong loe, loe tenang aja lan. Tuh, sekolah udah mau nyampe," Jawab Chiko sambil menunjuk sekolah mereka.


"Yaudah, yu bang. Kita masuk," Ajak Bulan dan chiko mengiyakannya.


Kelas Chiko dan kelas Bulan cukup jauh, sehingga Chiko tidak akan menyadari apa yang terjadi pada Adiknya. Baru saja ia hendak membuka pintu kelasnya, tepung terigu hampir saja terjatuh dari atas, beruntung tidak mengenai Bulan.


'Halah... Ada b*ngsat yang nyari perhatian gue rupanya...' Batin Bulan geram, namun ia berusaha tenang dan masuk kelas.


Ia melihat meja nya terdapat banyak coretan hinaan dan ejekan untuknya. Bulan pun memandangi murid murid di kelasnya satu per satu, ia tahu ini kelakuan si Queen. Bulang menghela nafas kasar dan mengambil alat pel untuk membersihkan mejanya. Ia tidak akan berkata kata dulu untuk sekarang.


Bulan pun akhirnya duduk di tempatnya, teman teman sekelasnya membicarakannya, berarti ia tidak punya teman lagi di kelasnya, mungkin hanya Kyle.


"Kenapa nih? Murung murung gini?" Tanya Kyle yang menyapanya, hanya Kyle, yang lainnya tidak menyapanya.


"Ehe, Kyle... Biasa kyle... Ada orang sirik disini, makannya gini, dijauhin sekelas." Jawab Bulan tersenyum.


"Masa iya? Siapa yang berani jauhin Bulan? Bilang sama saya, biar saya omongin mereka baik baik," Tanya Kyle lagi.


"Gak tau, siapa dalang dibalik ini gue gak tau. Gak papa Kyle, gue oke kok. Sekarang pelajaran olah raga kan? Gue mau ganti baju dulu," Ucap Bulan sambil pergi meninggalkan Kyle. Kyle hanya tersenyum menanggapi Bulan.



Bulan pun pergi ke toilet, ia lebih baik ganti disana daripada di ruang ganti wanita yang dipenuhi mulut busuk mereka. Saat hendak mengganti baju, Ia mendengar celotehan seorang wanita yang tak lain adalah Queenza.


"Aaaaahhhhhh!!!! Kenapa gagal?! Kenapa dia gak kena jebakan gue?! Kenapa anjir!!!! Aaahhhh!!! Liat aja loe Bulan! Gua bakal bikin hidup loe sengsara dasar *****!!!!"


Bersambung.