Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 62



William nampak khawatir menunggu ambulan datang disana. Ia gemetaran mendengar kabar dari putranya bahwa Elang kecelakaan. Ratna pun yang merupakan kakak sulung Kevin ikut khawatir mengetahui kondisi Elang yang kritis.


Setelah ambulan sampai...


William bahkan tak kuat melihat kondisi Elang yang mengenaskan seperti itu. Ia menyuruh Ratna untuk membawa Elang pergi ke ruang ICU.


Pemeriksaan langsung dilakukan padanya, semua alat dipasangkan padanya juga.


"Jantungnya rusak parah! Segera siapkan ruang operasi!" Teriak Ratna pada perawat yang lainnya.


"Ayah... Gimana sekarang ...? Elang bener bener gak sadar, Ratna takut..."


"Kamu gak usah mikir yang macem macem nak, kita berusaha semaksimal mungkin. Berdoa aja, kamu bantu ayah operasi ya nak?" Ucap William sambil tersenyum.


"Ayah, kalo ayah gak kuat, ayah gak usah ikut operasi," Jawab Ratna iba melihat ayahnya yang memerah karena menangis.


"Ayah harus bimbing kamu, ayah gak bisa biarin kamu kerja sendiri,"


"Kevin? Kevin dimana?" tanya Ratna dan William hanya menggelengkan kepalanya, ia tahu putra keduanya pasti sedang terpuruk dan dihantui rasa bersalah.


Bulan masih terus menangis di depan ruangan operasi yang baru saja menyala. Ia sungguh sungguh menyesal, kalau bisa, ia ingin memutar waktu dan mengembalikan semuanya.


Tidak lama setelah itu, Mamah dan bapak datang dengan tergesa gesa setelah mendapatkan kabar buruk dari William. Mamah langsung memeluk Bulan yang menangis semakin kencang karena rasa bersalahnya. Mamah berusaha menenangkannya dan berkata bahwa itu bukanlah salahnya.


"What hapenned to Elang? " Tanya Bapak juga.


"Elang... Elang kecelakaan pak... semuanya salah bulan pak... maafin Bulan... Bulan gak tau Elang kayak gitu... maafin Bulan... sikap bulan terlalu kekanak kanakan... maaf..." Jawab Bulan terbata bata.


"Hmm... Don't Cry my daughter, You can't blame Yourself for This, It's All Fate. Nothing to do with You," Jawab Longwei sambil menggerai rambut Bulan yang berantakan.


"Sit down first, calm down honey, don't think about things that don't matter. My son is a strong child, he will definitely not die in this fight." Ucap Longwei pada Sabil yang semakin menjadi jadi karena khawatir keadaan Elang.


Setelah duduk, Longwei menghubungi Zhao dan Adit yang masih di rumah untuk langsung menuju rumah sakit.


"Come here son, you must know the condition of your little brother, your little brother had an accident and is doing surgery." Ucap Longwei di dalam telpon. Zhao pun cepat cepat bergegas membawa kunci mobil dan menarik adit yang sedang asyik main game untuk segera pergi ke rumah sakit juga.


1 jam...


2 jam...


hingga 3 jam...


Operasi belum juga selesai, Bulan di suruh pulang terlebih dahulu agar bisa tenang dan tidak terlalu memikirkan kondisi Elang. Di antar Adit yang merupakan putra bungsu keluarga Aileen yang sangat sangat mempercayainya.


"Teteh, teteh bisa jelasin kenapa A elang bisa gitu?" tanya Adit tajam, entah kenapa nada nya menjadi seperti kesal padanya. Karena adit tahu kalau hari ini adalah hari jadi mereka dan Elang yang mau jalan jalan bersama Bulan.


"Maafin Kak bulan ya dit... Kak Bulan belum bisa nepatin janji Kak Bulan buat jaga kak Elang. Kak Bulan salah kok, Kamu boleh benci sama kak Bulan, Kak Bulan gak papa kok, karna kak bulan udah ngerusak kepercayaan kamu ke kak Bulan," Jawab Bulan di mobil, ia kembali menangis.


Akhirnya Bulan menceritakan semuanya kepada Adit walaupun sambil tersedu sedu. Adit paham karena ia tak bisa menyalahkan Bulan sepenuhnya. Setelah sampai, tak lupa adit memberi lambaian tangan sebagai perpisahan dan agar bulan tidak menangis lagi.


Bulan membuka pintu dengan sangat hati hati, ini baru saja jam 11 siang, dimana pasti keluarganya masih berkumpul. Saat ke ruang tamu, mamahnya terkejut melihat Bulan yang kotor dengan darah.


"Astaghfirullaj neng... Kamu abis ngapain nak? Kenapa darahan kitu baju cantiknya???" Tanya Mamah padanya.


"Elang nya mana?" Tanya Chiko juga, bulan tetap diam tak menjawab pertanyaan keduanya.


"Lan, Chio tanya, Elang man--" Tiba tiba ucapannya terpotong saat bulan menjawab kalau elang kecelakaan karenanya.


Tanpa pikir panjang, Chiko mengambil kunci motornya dan berniat pergi kesana. Namun mamahnya menahannya dan menyuruhnya untuk tenang. Chiko mengusap wajahnya kasar dan sempat marah pada Bulan.


"Udah Chio, udah... Kamu gak bisa nyalahin adik kamu, kamu harus tenang. Walaupun Elang dalam kondisi gawat, kamu gak boleh sampe kambuh gara gara Emosi, udah ya nak...? Tenang..." Ucap Mamah menenangkan Chiko yang mengucurkan air matanya, sedih karena hanya Elang yang bisa membuatnya tenang dan tertawa.


"Maafin Gue bang... maafin gue..."


"Udah udah, Loe ganti baju dulu, loe juga kudu tenang," Sahut Chiko pada Bulan.


Begitulah suasana riuh di rumah Bulan, sementara di rumah sakit, ada Kyle dan Do.wan yang ikut khawatir kondisi Elang.


Akhirnya william keluar setelah melakukan operasi selama kurang lebih 5 Jam.


"Gimana kondisi Elang Will? Elang gak apa apa?" Tanya Mamah khawatir, ia kembali khawatir setelah tadi sempat tenang, ia tidak mau kehilangan Elang, benar benar tidak mau kehilangan salah satu putranya.


"Transplantasi nya berjalan dengan lancar, namun... ada kondisi nya yang lebih parah, yaitu kondisi pembengkakan kaki kirinya karena Elang terlambat dibawa kemari, untungnya kami bisa ngeluarin darah yang tadinya susah dikeluarin dari dalem. Selain itu... Karna ada sedikit kerusakan di otaknya, memungkinkan... kalau... Elang bisa aja hilang ingatan," Jelas Dokter William pada kedua orang tuanya.


Deg!


Bagaimana ini? Bahkan kondisinya lebih buruk dari dugaan Sabil. Karena terlalu terkejut, sabil tidak sadarkan diri dan kebetulan Elang keluar dari ruang operasj untuk segera dipindahkan ke ruang Pacu.


Zhao tak percaya bahwa adiknya kembali berbaring tak sadarkan diri di rumah sakit, padahal baru beberapa jam tadi ia bercanda dengannya.


"Kondisi Elang sekarang kritis, mohon untuk semua keluarganya untuk membiarkan Elang beristirahat hari ini," Ucap ratna juga gemetaran. Ia bahkan tidak sanggup menatap wajah Elang yang malang.


"Mohon bantuannya ya, Ratna." Ucap Zhao memohon padanya.


"Iya... Aku bakal ngawasin elang," Jawab Ratna sambil tersenyum.


Elang pun dipindahkan kesana. Ada kemungkinan hidupnya hanya beberapa persen, tapi William bahkan tak bisa mengatakan hal itu pada keluarga Elang.


" Hello? Yes, it's me. I want to ask for some security in front of my son's room, don't let any stranger enter his room except my family, you know what I mean right?" Ucap Longwei di telponnya dengan wajah yang serius.


bersambung.