
Aku menunggu kepastian mu, jangan membuatku kecewa,"
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
"Beneran demam doang? Masa Sih?" Tanya Elang tak percaya.
"Beneran... Kan gue adeknya! Jadi gue yang lebih tau lah!" Jawab Bulan membentak.
"Oooh... Yaudah. Kep, no, abis ini kita ke rumah si Chio ya," Tawar Elang sambil tersenyum.
"Lah?! Seolah olah gua babu lu!" Ketus Kevin yang membuat Elang tertawa. Elang pun membisikkan sesuatu ke telinga bulan yang membuatnya memerah.
"Gua tau kok. Loe gak mau bikin gua kuatir ya? Makasih lho, loe perhatian banget sih. Makin sayang neeh..." ucapan elang yang lembut itu sukses merobohkan dinding dingin bulan yang selama ini ia jaga agar tidak roboh oleh Elang.
Namun ia menyerah sekarang, Bulan terlanjur suka padanya walau hanya diam dan masih bersikap seolah tak suka pada Elang.
Ceklek...
Seseorang membuka pintu itu perlahan agar tak membunyikan suara bising.
"Sorry gua telat, tadi dihukum dulu," Rautan wajah yang datar itu menunjukkan ia sedih karena dihukum, elang tertawa melihat theo begitu. Walaupun datar, ia masih bisa membedakan ketika Theo sedih, senang, maupun sikap dingin yang selalu ia pasang.
"Ouuu! Baby Tetew kena hukuman! Kenapa tew?" Tanya Elang mulai menggoda Theo.
"Gua telat masuk sekolah, gua bangun kesiangan, gak ada motor. Kak zahra ninggalin gua, gua lari tapi malah engap di jalan, makannya gua berenti dulu. Gua gak kuat lari kenceng kenceng apalagi jarak rumah gua jauh, gua juga...
Penjelasannya terpotong saat melihat tangan Elang yang mencoba menghitung jumlah kata yang diucapkan oleh theo. Ia memincingkan matanya tajam.
"38 kata, tanggung dua kata lagi tew!" Seru Elang makin julid.
"Gua benci loe," Ketus Theo sambil mencari tempat duduk. Padahal tempat duduknya hanya tersisa didekat elang saja. Bagaimana ia duduk di dekat orang yang membuatnya kesal.
"Hehe, dendam lu masih ada ya...?" Elang yang malah cengengesan.
"Jauh jauh lu, orang pinter gak usah belajar," Ketus Theo lagi.
"Gitu ya?"
Sampai pada jam istirahat...
Mereka semua bersorak gembira karena bisa keluar dari tempat itu. Mereka segera keluar dari tempat itu. Sedangkan sekarang giliran Elang belajar, ia lebih suka sendiri ketika belajar. Bulan mengintip di celahan pintu, damage nya beda sekali bund! Bulan pertama kali melihat Elang serius begitu.
Kagum nya menjalar dari kaki sampe ubun ubun. Kemudian Theo datang dan ikut mengintip juga. Ooh... Ternyata si Elang, begitu pikir Theo.
"Heh, kalo loe mau masuk aja. Ngapain ngintipin? Bisulan mata loe nanti," Ketus Theo mendorong Bulan kedalam.
"Eeeh...?!"
'Bego anjir! Bolot banget! Ternyata si theo se- t*lol ini ya!!!' Batin Bulan kesal.
"Lan? Kenapa gak ke kantin?" Tanya Elang heran.
"Mmm... Gue..."
"Makan dulu gih, jangan sampe perut loe keroncongan ya? Gua gak mau loe kelaparan sampe sakit," Elang menyela pembicaraan bulan.
"Dia ngintipin loe tadi," Sahut Theo bermuka datar sambil melewati Bulan.
"Eh?! Ngomong apa loe?! Sial loe ya theo!" Seru Bulan, wajahnya mulai memerah karena malu.
"Ngintipin? Pht! Hahahaha, tuh kan... Loe mau belajar ya ama gue? Nanti ya, abis loe makan baru kita belajar," Ucap Elang dengan lembut, senyumannya benar benar tulus, tidak ada kebohongan dari wajah elang.
Bulan pun segera berdiri karena malu, sebelum beranjak pergi, ia mengatakan sesuatu yang membuat Elang bengong.
"Iya, gue pergi. Tapi... Loe kudu janji, loe juga jangan telat makan, kalo perlu, gue jadi babu lu juga gak papa, asal loe gak sakit lagi. Terus... Terus... Janji ya? Abis ini ajarin gue???" Bulan pun segera pergi dengan langkah kalem nya, namun saat benar benar keluar dari ruangan itu, ia menepuk nepuk kedua pipinya karena benar benar malu.
"Makan nih," Kata Theo tanpa melirik Elang.
"Mmm... Ternyata diem diem loe perhatian ya sama gue... Mmm..." Elang yang malah menggoda Theo.
"Diem atau gua ambil lagi," Ancam Theo dingin.
"Oke, gua diem." Jawab Elang sambil menerima kebab itu.
Elang pun melahap kebabnya sampai habis, tak ada yang tersisa termasuk es jeruk yang juga sudah habis. Akhirnya mereka pun kembali datang, bulan juga membawakan beberapa gorengan, seblak dan bakso. Untuk Elang. Kaget, namun ia juga senang bulan agak berubah, menjadi lebih manis daripada sebelum sebelumnya.
"Kenapa nih? Banyak banget yang perhatian sama gua hari ini, kayak yang gak bakal ketemu gua aja bes...
PLAK!
Ia mendapat pukulan kecil yang mendarat di lengannya dari Bulan.
"Gak usah ngomong kayak gitu lah! Cepet makan,"
"Aw! Sakit... Huhuhu... Dipukulin Ayank Bulan..." Rintih Elang sambil mengusap lengannya.
Bulan merasa gemas pada Elang, apalagi setelah melihat ekspresinya yang bak anak kecil yang tidak diberi jajan.
Elang kembali menyantap seblak dari bulan. Ya, hanya seblak dan es boba walaupun ia tak terlalu suka bobanya sih, namun apa daya jika yang memberikannya adalah Bulan? Wanita yang sangat di idamkannya.
Elang mulai mendekati Bulan dan mengajarkan banyak hal padanya. Jujur saja, ini terlalu dekat menurut Bulan, tapi mau bagaimana lagi kan? Tujuannya hanya untuk belajar, tidak lebih. Tanpa mereka sadari, angkasa mulai kesal melihat pemandangan itu, ia menggebrak meja dan memilih untuk keluar, mendinginkan kepalanya.
"Cemburu tanda cinta, marah tandanya sayang. Apalagi liat bebebnya di culik orang," Jika vino yang bernyanyi, maka semuanya akan tertawa.
"Maksudnya 'diculik' tuh ke gua ya???" Elang menajamkan matanya pada Vino.
"Iya, mau apa loe? Bener kan?"
"Huh! Bener sih... Selama belum diterima bulan kan belum jadi bebeb, jadi... Sampe saat ini gua yang berada di garda terdepan ini bakal berusaha lebih keras lagi! Semangatt!!!" Seru Elang kian semakin semangat.
Mereka lebih sepakat kalau elang menjelaskan semua mata pelajaran agar semua orang paham. Tentu saja Elang setuju, ia pun mulai menjelaskan satu per satu mata pelajaran yang sulit.
1 jam lebih 30 menit mulai berlalu, kini rasa kantuk mulai menyerang Bulan. Ia terus terusan menguap karena penjelasan yang diberikan elang, tapi bulan tak bisa tidur begitu saja, karena ia membutuhkan penjelasan Elang.
Namun, rasa kantuk nya hilang saat melihat cairan merah keluar dari hidung Elang.
"Lang! Idung loe berdarah!" Seru Bulan kaget.
Ia buru buru menghampiri Elang yang tengah berdiri itu. Tangannya bergetaran tatkala menyentuh kulit putih elang yang pucat bercucuran keringat.
"Wah gak bener ini! Suruh dia duduk!" Kata Kevin angkat suara.
Mereka pun membiarkan Elang duduk. Bulan mulai mengelap hidung Elang yang terus mengeluarkan darah. Entah kenapa bulan menjadi sakit juga tatkala melihat Elang begini. Ingin menangis rasanya, namun ia berusaha menahan agar tidak menangis. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Elang.
"Pusing?" Tanya Bulan dan diberi anggukkan pelan oleh Elang.
"Harus tetep sadar ya? Jangan tutup mata, loe gak kenapa napa," Ucap Bulan sambil tersenyum.
'Jadi gini kalo bulan udah khawatir ya...??? Mungkin allah sengaja bikin gua mimisan biar bisa nunjukkin bulan yang lagi khawatir dan peduli sama gua... Hmm... Manis sih...' Batin Elang mulai memejamkan matanya karena mengantuk.
Terdengar suara bulan dengan jelas memanggil namanya. Padahal elang hanya kelelahan, tapi bulan memanggil namanya seolah olah elang pingsan. Tidak kok... Elang hanya tidur, dia butuh istirahat yang cukup.
"Hmm... Tenang aja ya lan... Gue gak papa... Mau bobo bentar boleh kan???" Gumam Elang pelan, ia menaruh kepalanya di atas paha bulan lagi.
Membuat theo, kevin dan vino bengong. Lah ini ceritanya orang sakit apa gimana?
"Wei! Ganti skenarionya!" Teriak Vino.
Bersambung...