Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 34



Elang pergi keluar setelah meninggalkan Caffe. Ia ingin sendiri rasanya, tapi keadaan nya tidak memungkinkan untuk mencari angin lagi. Elang terlalu mengantuk! Kedua matanya tidak kuat berlama lama lagi, akhirnya ia pun berjalan lunglai menuju kamarnya di hotel. Tapi matanya kembali membelalak kaget saat melihat seseorang terjatuh di depannya.


"Eh! Loe gak papa? Lah... Leon ternyata,"


"Haaaahh... Gua caaapeeee... Guaaa... Gak mau... Dipaksa... Teeeerruuusss..."


"Anjir! Lu mabuk berat! Coba tunjukkin mana kamar loe," Ucap Elang sambil membantu Leon berdiri.


"Guaaa... Siaapaaaa...? "


Elang memutar bola matanya malas. Ia pun tetap pergi mengantar Leon walaupun kadang terjatuh karena tidak kuat.


Elang dibuat pusing oleh kata kata Leon, entah apa yang ia ucapkan karena tidak jelas.


"Ugh!"


"Kenapa?! Lu mau muntah? Bentar! Jangan ke gua ah! "


Elang pun menundukkan kepala Leon dipinggir jalan agar Leon memuntahkan isi perutnya, barulah setelah itu ia pingsan tak sadarkan diri.


'kenapa gua mesti nolongin anak ini coba??? ' Batin Elang heran, namun ia kasihan pada Leon juga yang terus mengucapkan kata maaf.


Karena tidak tahu harus kemana, akhirnya ia diam di pinggir jalan. Lalu datanglah Clara sambil berlari ke arahnya.


"Maapin gue, gue gak tau Eon semabuk ini. " Ucap Clara sambil mengambil Leon dari tangan Elang.


"Iya, gak papa. Gua anterin loe pulang aja. Ada hawa hawa gak enak disini, " Jawab Elang sambil memincingkan matanya.


Clara mengangguk mengerti. Akhirnya mereka sampai di hotel dimana Leon tidur bersama teman temannya. Tak lupa ia juga menitipkan pancake pada temannya untuk Leon.


Elang pun mengantarkan Clara pulang ke hotelnya. Namun sayangnya, di perjalanan menuju pulang, ada sekelompok preman yang memang sedari tadi memperhatikan Clara. Tidak disangka ia akan berkelahi di gang sepi itu.


"Hooo... Lagi nganterin pacar pulang ya? "


"Hh! Pacar cenah, bukan kali. Dia itu temen (calon) pacar gua. " Jawab Elang tersenyum remeh.


"Okee... Berarti bisa dong ceweknya buat...


BUGH!!!


Tanpa elakkan lagi, Elang memukul salah satu dari mereka yang paling besar.


"Ini bukan film gelud, tapi ini realita! Gua gak suka sama basa basi busuk dari kalian. Gua ngantuk, gua mau cepet tidur, jadi... Cepet pergi atau gua abisin sekarang... " Ancam Elang dingin.


"Hh! Gua juga bukan preman sinetron ikan terbang, yang sekalinya dipukul pemeran utama langsung pingsan. Ini gua! "


Elang kembali berkelahi dengan mereka walaupun malas. Yang pada akhirnya mereka berlarian karena takut.


"Thanks ya lang, maapin gue. " Ucap Clara merasa bersalah.


"Gak papa Ra, loe cepet balik aja ke kamar, gua mau pulang. Gua ngantuk, banget. " Jawab Elang sambil tersenyum paksa.


"Lang!!! " Teriak seseorang memanggil namanya.


"Lah? Kenapa bulan cintah? Kok masih keluyuran malem malem gini? Gak baik lho, nanti diculik? Gua yang nanges, " tanya Elang sambil menutup hidungnya agar tak kelihatan bahwa ia mimisan.


"Gak penting! Loe kenapa? Loe sakit lagi? " tanya Bulan balik sambil memegang lengan Elang.


"Nggak... Mimisan doang kok... " Jawab Elang sambil memperlihatkan hidungnya yang masih bercucuran darah.


"Sumpah deh ya! Sini ke warung bentar, beli tisu. " Ajak bulan sambil menarik tangan Elang.


Setelah di elap, akhirnya mimisan berhenti. Ia ditraktir susu hangat lagi oleh bulan guna menghangatkan badannya.


"Loe demam lang? Badan loe anget lho... " Tanya Bulan mulai khawatir.


"Nggak kok. Gua sehat selalu, " Jawab Elang sambil tersenyum.


"Boong, mana yang sehat?! Anget anjir badan loe! " Seru Bulan yang menyentuh kening Elang.


"Eh? Hmm... Gua bilang gua gak papa. Kalo gua dingin... Gua mayat dong! Hahahaha, " Elang yang malah tertawa.


"Kalo loe ada masalah, setidaknya loe cerita ke orang yang menurut loe bisa dipercaya, jangan di pendem apalagi sampe sakit. " Ucap bulan menasehati.


"Kalo orang yang bisa dipercaya nya cuma loe? Loe siap jadi rumah kedua gua? " Tanya Elang sambil tersenyum tulus.


"Siap kok, gua siap jadi rumah kedua loe, " Jawab Bulan tanpa ragu. Entah dia tidak tahu atau memang polos.


Elang sempat terkejut mendengar jawaban bulan. Pada akhirnya, Elang tersenyum kembali dan berdiri lalu memeluk Bulan dengan erat.


"Makasih, makasih udah mau jadi rumah kedua gua. Gua bener bener berterimakasih karena loe udah mau nerima gua, " Ucap Elang memeluk erat, seperti tidak mau melepaskan Bulan.


Bulan pun ikut tersenyum dan memeluk Elang juga. Sepertinya keduanya salah paham. Maksud rumah kedua bagi bulan itu adalah, ia siap menjadi tempat penampungan curhat Elang. Sedangkan rumah kedua bagi Elang adalah, bulan menjadi pacarnya.


"Tapi loe yakin mau jadi rumah kedua gua? Kok cepet banget nerimanya? Loe tau artinya gak? " Tanya Elang kemudian.


"Tau, maksud loe tempat curhat kan? Ya gue siap jadi tempat curhat loe, " Jawab Bulan polos.


"Pht! Maksud rumah kedua itu, loe jadi PACAR gua,gua gak salah ya. Loe udah nerima gua, jadi... Malam ini kita jadian!!! " Ucap Elang bahagia. Ia berlari meninggalkan bulan yang terkejut mendengar jawaban Elang.


"Eh? "


"Eh? "


"Eeeeehhh?!!!! "


"Elang! B*bi!!! Sini balik loe! Gua gak mau sama loe!!! "


Bersambung...