
""Mereka mencoba membunuhku,tapi mereka tak menyadari bahwa aku adalah sebuah benih,"
Di sisi lain...
Elang pun sampai di rumah sakit dan melihat keluarganya menangis saat lampu operasi masih menyala. Jantungnya berdegup kencang, takut terjadi sesuatu pada adik kesayangannya.
"Mah..." Panggil Elang lirih, ia tak percaya adiknya masuk rumah sakit.
"Elang, hiks..." Mamah pun memeluk Elang agar bisa menenangkan Elang.
Elang melihat ada wanita di sebelah Zhao dan dua orang laki laki yang juga tengah menunggu sambil bengong. Salah satu di antara mereka gemetaran dan berkeringat dingin, sepertinya mereka orang yang membawa Adit ke rumah sakit.
Ia pun mulai mendekati salah satu teman Adit itu.
"Temen adit? Iya?" Tanya Elang menduga.
"E,eh?! I,iya..." Jawabnya tertunduk.
"Hm... Ikut kakak yuk," Ajak Elang sambil tersenyum.
"Eh?!"
Elang pun pergi duluan, tentu saja mereka mengikuti Elang karena mereka agak canggung pada Elang.
Sampailah mereka di caffe terdekat dari rumah sakit. Ketiganya menunduk takut, tidak berani menatap Elang secara langsung.
"Hei... Liat sini dong... Kenapa pada nunduk? Kak Elang kan gak nyulik kalian," Ucap Elang agar memecahkan keheningan, namun mereka tetap saja diam.
"Oooh... Kak Elang tau nih, kalian malu kan... Sama kak Elang, karena kak elang ganteng??? Hayo lho..." Elang yang mulai julid agar mereka tidak canggung padanya.
'Pede banget sih,'
' Bener kata si Adit, abangnya kang Julid,'
'Duh, emang kepedean tapi emang fakta...'
"Hahahaha, udah udah, aslinya kak elang ngajak kesini biar kalian gak terlalu tegang sama kondisi Adit. Yakin kok, Adit gak akan kenapa napa," Ucap Elang kemudian, mereka pun mengangguk mengerti.
"M,makasih kak... Maafin kami,"
"Jangan gitu ah, ngomong ngomong, nama kalian siapa? Wajar, artis kan jarang di rumah, hahaha,"
"Mmm... Saya Kenzo,"
"Saya Erica,"
"Saya Reyhand,"
"Oooh... Kenzo, Erica, Reyhand. Oke, sekarang kak Elang mau nanya, Gimana waktu adit kecelakaan? " Tanya Elang mode serius, kini wajah julidnya hilang.
Ketegangan kembali terjadi, namun Kenzo, yang menjadi saksi utama pun mulai menceritakan kejadian tadi.
"Sebenernya tadi kami rencana mau pulang bareng, sambil nunggu Erica dan Reyhand piket. Taunya adit keluar duluan, bilang katanya mau beli minuman, yaudah ken juga ikut sekalian, dijalan, Adit ngeliat nenek nenek yang ngambilin barang jatoh di tengah jalan raya, Adit yang ngeliat ada bis ngebut, langsung lari ke tengah sambil ngedorong nenek itu, makannya dia ketabrak... Supir nya malah kabur kak... Makannya kita bingung..." Jelas Kenzo tertunduk, membuat Elang kaget.
"Yaudah... Makasih ya penjelasannya, sok, kalian pesen makanan,"
Di sisi lain...
"Boss, anak bungsu Longwei berhasil dilumpuhkan,"
"Yakin, dia selamat?"
"Hm, saya gak yakin sih, karena tabrakannya cukup keras, diliat dari fisiknya, dia lemah, jadi saya juga udah menduga kalo dia terlempar sejauh 8 m. Gak mungkin badannya gak ancur,"
"Bagus, salah satu peluang buat hancurin longwei. Kita abisin anak anak nya satu per satu, Longwei bakal stress dan gila... Disaat itulah kita kembali membunuhnya,"
Seseorang memberikan uang sebesar 150 juta untuk penjual sopir truk yang sudah berani melakukan kecelakaan tabrak lari kemarin. Ya, kecelakaan kemarin bukanlah tidak sengaja, tapi di kesengajaan yang sengaja di sengajakan:v
Sesuai dugaan Elang tentang perasaannya yang agak beda. Tidak mungkin tiba tiba ada bis yang mengebut dari jarak dekat.
Elang pun kembali ke rumah sakit setelah mengantarkan teman teman Adit untuk pulang.
"Pak, tadi El denger dari temen temennya adit, kalo Adit ditabrak bis yang tiba tiba ngebut dari jarak deket," Ucap Elang ketika ia duduk di sebelah ayahnya yang saat itu baru datang ke rumah sakit.
"Really? You shouldn't accuse El, Adit himself, who helped the old woman, because he knew that the bus would crash into him if he was late," Jawab sang ayah agar Elang tidak salah paham.
"Nggak pak, ini mah aneh banget, asli. Dari ceritanya Ken, Bis itu tuh mulai ngebut pas si Adit lagi bantuin nenek nenek yang bawaannya jatoh. Otomatis dia kek, ngincer Adit kan?" Ucap Elang terus meyakinkan sang ayah agar ia percaya padanya.
"Haaah... who else wants to destroy me? really endless, I don't want to sin anymore," Gumam bapak bingung.
'Bener... Ini kayaknya lagi ngincer bapak sih, dulu waktu gue di culik, suruh tunduk, sekarang? Wah... Parah sih, mereka malah nunjukkin batang hidungnya, bloon.' Batin Elang ikut kesal, ia takut bapaknya stress dan kelelahan.
Ketika sedang melamun itu, datanglah Chiko dan Vino sambil menghampiri Elang.
"Chio? Kenapa loe tau?" Tanya Elang kaget.
"Gua denger dari Lyli kalo adek loe korban tabrak lari, sekarang gimana keadaannya?" Tanya Chiko penasaran.
"Hmm... Operasinya belom selesai, mamah pulang buat istirahat sama Zhao. Yang jaga sekarang Gua sama bapak," Jawab Elang menyayangkan hal itu.
"Gue turut berduka cita Lang," sahut Vino juga.
"Thanks ya no,Kevin mana?" Tanya Elang lagi.
"Seperti biasa, dinas di depan, nerima tamu, nemenin orang yang gak minum obat, gak mau suntik... Kata Kevin dia bakal nyusul kesini,"
"Ah iya, dokter Rion masih di dalem,"
Setelah beberapa menit menunggu lagi...
Akhirnya dokter Rion keluar, sehingga Longwei bangun untuk mendengar kabar putra bungsunya.
"doctor Rion, how is my son? is he okay?" Tanya Longwei panik.
Sebelum menjawab pertanyaan Longwei, Rion menghela napas panjang dahulu untuk mengatakan semuanya. Longwei yang khawatir itu berubah menjadi takut, apa yang terjadi pada putranya?