Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 51



Di malam hari...


Elang yang sedang berguling guling di atas kasur bersama adit yang sedang bercanda itu terus tertawa sampai tidak ada suaranya.


"Cape... cape... bentar, pht! Ahahahahahaha!" Keduanya tertawa kembali setelah sedetik tidak tertawa.


Drrrrtt...


Drrrttt!!!


Keduanya langsung terdiam saat mendengar suara telpon itu. Elang dan Adit saling bertatapan dan berlomba lomba meraih ponsel itu. Ternyata Elang menang taruhan, ia di telpon duluan oleh seseorang, membuat Adit kesal saja.


"Moshi moshi, Elang disini. Dengan siapa dan dimana?" Tanya Elang dengan ramah di telpon.


"Aaaahhhhh!!!! Elang! Tolong aku! Aku di culik sam!!!!


"Loe denger?! Kalo loe sekarang gak kesini, gue bakal habisin Bulan!"


Tut!


orang yang menelpon Elang itu segera menutup telponnya. Sementara Elang hanya terdiam dan melempar ponselnya kemana saja.


"Kenapa? Kok di abaikan begitu saja telpon dari mbebeb nya?" Tanya Adit heran.


"Iya nih, bebeb nya Lagi diculik," Jawab Elang santai sambil mengambil kembali ponselnya dan mengetik sebuah pesan.


Adit yang bersantai di atas kasur menjadi bingung dengan tingkah kakaknya yang tiba tiba serius. Apa mungkin ia marah karena Bulan di culik?



"Mau Adit bantu?" Tawar Adit pada Elang.


"Gak usah, urusan orang kok. Gak ada hubungannya sama gua," Jawab Elang yang beranjak dari tempatnya.


"Beneran nih?"


"Bener, kenapa boong?"


"Terus ngapain ngambil jaket?"


"Mau bantu," Jawab Elang yang membuat Adit cape dengan sikap kakak laknatnya ini.


"Aa... Yang bener dong... Adit ikut ya?"


"Gak usah cintahku, Gua bisa sendiri," Jawab Elang sambil tersenyum padanya. Adit pun menjatuhkan dirinya dan cemberut kecewa.



"Jahat ah," Ketus Adit yang membuat Elang terkekeh geli.


"Demi keselamatan Lu, gua gak tega liat kaki lu patah lagi dit," Jawab Elang sambil memakai kupluk jaketnya.


Ia pun pergi keluar rumah untuk menolong Bulan. Tapi ia sangat yakin kalau bulan tidak kenapa napa, bagaimana bisa? Ia tiba tiba di culik? Memang benar ini adalah hal yang janggal, tapi saat kaki nya hendak melangkah keluar, Ia tertahan Zhao di ambang pintu, membuatnya agar ia diam di rumah saja.


"Gak bisa teh, Bulan di culik!" Seru Elang pada Bulan.


"Bentar Lang! Itu orang lain bukan Bulan, tadi teten baru aja Vc an sama bulan," Jawab Zhao menahan Elang pergi.


"Elang tau Teh,"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Kalo tau kenapa tetep pergi?!"


"Elang kasian sama dia teh, masa mereka make cara kampungan buat jebak Elang? Biar Elang datengin langsung dan kasih paham sama mereka," Jelas Elang pada Zhao yang membuat Zhao terpaksa melepas Elang.


Elang pun tersenyum padanya dan membuka pintu untuk segera pergi. Ia berlari ke tempat dimana mereka memberi tahu lokasi mereka. Setelah sampai...


"Bulan..."


Dari belakang, muncul seseorang yang siap memukul Elang dengan kayu besar yang di pegangnya. Untungnya Elang segera menghindar dengan mudahnya dan menendang orang itu. Setelah berhasil, barulah mereka keluar, sekitar 5 sampai 8 orang yang hanya keluar dari persembunyiannya. Ia tahu masih ada lagi orang yang bersembunyi disana.


"Walah... Penipu kalian semuwah! " Ketus Elang sambil tertawa.


Tempat disana gelap dan kurang adanya cahaya, namun bagaimana pun juga, Elang pasti bisa melawan mereka karena penglihatan dan pendengarannya sangat tajam.


"Gua tau kok kalian mau nipu kayak gini, jelek iiiihh... mainnya keroyokan iiihh... Bilangin mamah lho ya..." Ucap Elang sambil terus melawan mereka.


"Gak usah banyak bacot loe!"


"Cuma ngomong bentar kok di bilang bacodd?! Yaudah... Gua gak akan banyak bacods deh,"


Elang pun melawan mereka dengan serius, tadinya ia ingin sekali bercanda bersama mereka. Benar saja, setelah beberapa orang tumbang, beberapa orang lainnya keluar dari persembunyiannya dengan beberapa senjata seperti tongkat bisbol, kayu besar, bahkan ada pisau disana.


"????"


"Weh! Curang loe pake begituan!" Elang yang panik karena gerakannya begitu cepat.


Ia agak panik, tapi tidak akan meruntuhkan gerakannya, ia terpaksa melawan dengan keras. Dengan tatapan dinginnya, ia memukul mereka begitu keras dan membuat mereka kewalahan. Jantungnya kembali berdetak tidak normal, ia sadar kalau ia tak boleh terlalu kelelahan.


"Hosh... hosh... hosh..."


Elang pun mengambil tongkat bisbol sebagai senjatanya dan memukul mereka dengan brutalnya. Setelah semuanya kelelahan melawan Elang... Elang segera berlari dan menghampiri yang jelas jelas juga komplotan mereka. Ia melepas talinya dan menggendongnya menuju pintu keluar.


Ketika sedang berlari, wanita itu mengeluarkan sapu tangan yang sudah dibasahi chloroform. Ia langsung membekap mulut elang dengan itu, seketika elang yang menghirupnya menghentikan langkahnya dan perlahan mulai hilang kesadarannya.


"Hah! Akhirnya dapet juga,"


Wanita itu mendekati Elang dan memegang wajahnya lalu mengusap peluh di dahinya. ia memandangi Elang dengan tatapan lembut dan tersenyum penuh kesenangan.


"Elang... kamu tau gak? Berapa lama aku nungguin kamu? Berapa lama aku suka sama kamu sampe harus kerja sama kayak gitu cuma buat dapetin kamu, hm?"


Elang tetap diam saja karena tidak sadarkan diri, wanita itu mengambil kesempatan baik itu dan mendudukkan Elang lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Elang.


"eits, jangan begityuh, gak baik lho sembarangan nyentuh nyentuh kayak gini," Wanita itu terkejut saat elang menutup mulutnya, menahannya untuk melakukan hal itu.


Elang lalu berdiri dan menatap wanita itu penuh dengan rasa kecewa. Ia mengepalkan tangannya karena kesal.


"Gua gak nyangka, gua gak nyangka lu kayak gini. Gini ya, cara loe buat dapetin gua? Harus pake cara kotor gitu? Kirain cintah tetep cintah yang gua kenal, nyatanya loe berubah. Gak kayak dulu, malah sekarang rela gabung gabung sama komplotan kek gitu. Dahlah, cintah yang gua kenal udah gak ada. Ini terakhir kali gua ngomong sama lu, selebihnya, jangan pernah manggil gua lagi. Gak ada yang namanya Elang lagi di hidup loe,"


Elang pun pergi meninggalkan Cintah yang kini hanya bisa menangis karena menyesal. Elang kembali memegang dadanya karena sakit, kepalanya yang memberat karena pusing, pandangannya mulai rabun, namun ia mengenyahkan pikiran jeleknya.


"Hosh... hosh... hosh... bentar lagi... nyampe... hosh... hosh... hosh..."


Elang terbatuk batuk dan juga mimisan. Sial sekali ia malam ini, ia sangat kelelahan di tambah detak jantungnya yang tiba tiba melambat dan juga tiba tiba berdetak lebih cepat. Ia sudah tidak mampu berjalan lagi dan akhirnya tak sadarkan diri di pinggir jalan.


"TETEH!!! Bang Elang pingsan!" Teriakan itu sudah pasti Adit.


"Bang elang, bang Elang bangun! Gak baik tiduran di pinggir jalan kayak gini ih! Jangan kayak gelandangan coba, buru bangun ih! Dingin," Ucap Adit sambil menggoyang goyangkan tubuhnya.


'Ni anak lama lama gua kasih pelajaran ya...? Gak tau kalo gua lemes banget hah?!' Batin Elang yang ternyata tidak pingsan sepenuhnya, ia hanya lemas sampai sulit membuka matanya.


Elang cepat cepat dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan pertolongan pertama dari ayah Kevin. Kevin yang memang selalu membantu ayahnya di rumah sakit ketika waktunya kosong merasa bersalah karena tidak tahu kejadiannya dan dimana.


Ia yang merawat Elang seperti memasangkan alat holter monitoring, oximeter, infusan, dan lain sebagainya.


"Elang terkena serangan jantung, hal itu di sebabkan karena jantungnya tidak menerima pasokan oksigen dengan baik. Kasih tau ke Elang ya teteh, jangan terlalu memaksakan diri dengan aktifitas berat. Om juga rasa, Elang lebih diam dari biasanya. Saya sempet bersalah juga karena gak ngasih tau dia di awal, mungkin karna hal itu juga dia jadi lebih pendiem," Ucap ayah Kevin pada Zhao. Zhao bingung apa yang harus di katakan pada mamanya perihal elang yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit.


"Teteh? Teteh sama anak anak pada kemana?kok mamah gak liat kalian di rumah? Bibi juga bilang kalian tadi pada keluar," Ucap mamah di telpon setelah zhao mengangkat telponnya.


Bersambung...