
Sudah satu minggu Elang terbaring karena koma, Mamah selalu mengelap Elang agar selalu bersih dan rapi, orang kritis juga tidak boleh kotor kan?
"Nak, kapan kamu bangun? Udah seminggu kamu gak bangun bangun, gak liat mamah sama bapak. " Ucap Mamah tersenyum simpul, ia tak mendapatkan respon apapun dari Elang.
"Mamah... Sarapan dulu yuk? Udah 5 hari mamah gak makan. Kalo mamah sakit juga, siapa yang mau jagain Elang?" Sahut Zhao dari belakang, ia tak tega jika mamahnya terus sibuk memikirkan Elang tetapi tidak memikirkan soal kesehatannya juga.
"Gak papa teh... Mamah mau nungguin Elang bangun, kamu duluan aja sarapan yah? Kamu juga harus ke kampus kan?" tanya Mamah sambil tersenyum sayup pada Zhao.
"Bukan gitu mah, elang juga–"
'Gak tau kapan bangunnya,' Batin Zhao, tidak mungkin ia mengatakan hal itu pada mamahnya yang sangat berharap Elang terbangun.
"Kenapa?"
"Elang juga bakal sedih kalo tau mamah sakit, jadi mending kita sarapan dulu, yuk? Udah ada yang jaga kok disini," Jawab Zhao tenang.
Mamah pun menurut pada putri sulungnya dan pergi keluar untuk sarapan bersama keluarga kecilnya, tanpa Elang.
Dua minggu berlalu...
Hingga tidak terasa sudah satu bulan Elang koma. Bulan juga mulai sering menjenguknya dan mengelap Elang mulai dari tangan, ke wajah. Ia hanya bisa tersenyum, ia tidak boleh lagi menangis seperti yang Elang ucapkan waktu itu kepadanya.
"Lang, Loe tau gak? Kemaren udah anniv kita lho yang ke tujuh bulan. Padahal gue tuh masih pengennnn banget, gue pengen banget jalan jalan sama loe, belanja sama loe, ke caffe sama loe, gue pengen ngelakuin semuanya sama loe. Haha, loe mungkin aneh denger ini dari gue, tapi..." Bulan mengeratkan genggamannya di tangan Elang setelah mengelap Elang.
"Tapi... hiks, gue bener bener sayang sama loe. Gue cinta sama loe lang, gue gak mau liat loe kayak gini lagi, makannya bangun. Gue mau minta maaf kalo yang kemaren itu salah gue, gue janji gak akan cengeng dan manja lagi asalkan loe bangun..." Bulan yang kembali menangis menghadapi kenyataan:v
"Nih ya, gue mau ceritain nih. Pas pertama kali gue kenal sama loe, loe itu nyebelin banget, banget banget dari atas kepala sampe ujung kaki. loe berusaha deketin gue padahal gue gak suka, tapi... Disaat gue lagi kesusahan atau sedih, loe pasti dateng. Loe pasti ada buat nemenin gue, ini hari ke 12 gue jengukin loe. Maaf ya, kalo gue jarang jengukin loe, tugas di sekolah juga banyak, dikira abis semester dua ini gak ada kegiatan lain, ternyata masih aja ada tugas. Cepet sembuh ya, the most handsome yang selalu ngayal bisa ngalahin haruto, haha." Ucap Bulan setelah mengecup tangan Elang, ia harus segera pergi karena waktu besuk yang memang sedikit.
Setelah bulan pergi, tanpa ia sadari, Elang menggerakkan jarinya sedikit. Tapi ia tak kunjung membuka matanya juga.
Longwei hanya bisa menatap putranya yang tak kunjung sadar. Ia menerima laporan Kyle kemarin tentang terjadinya percobaan pembunuhan Elang, Longwei sempat marah dan merajuk pada Kyle karena baru memberitahunya sekarang.
"Listen to me son, you will be fine now. You just need to oper your eyes, You can do it? "
Masih tidak ada respon dari Elang.
Longwei sudah lelah karena terus memikirkan Elang dan pemberontak itu. Ia juga tidak tidur dengan nyenyak karena terlalu banyak pikiran hingga membuatnya sakit kepala.
Sudah lewat satu bulan lebih sepuluh hari. Kini Semua sahabatnya serta Bulan berkunjung bersama sama. Mereka masih menatap Elang yang masih saja belum terbangun.
"Nyenyak amat, gak ada keinginan buat bangun gituh?" Gumam Vino sedih.
"Mana mau dia liat wajah loe lagi," Jawab Theo dingin. "Eh?! Lu ngeselin banget ya?!" Ujar Vino kesal.
"Jangan berantem di sini woey! Rumah sakit, nanti Elang kebisingan," Jawab Chiko menenangkan mereka.
"Kevin tetep gak hadir nih?" Tanya Linda padanya.
"Kevin gak akan mau masuk sini, dia pasti ngerasa bersalah banget. Dia bahkan udah absen lama banget kan? Gak masuk kelas," Jawab Chiko lagi.
Di sisi lain...
Kevin ikut sakit karena sejak pertama Elang dirawat ia sama sekali tidak pergi kemana mana dan hanya diam di rumahnya. Ia juga mogok makan dalam waktu yang cukup lama, mengakibatkan maag nya kambuh dan akhirnya terbaring karena demam di rumahnya.
"Kevin sayang... Makan dulu yah? Kamu harus minum obat biar sakit maag nya gak kambuh lagi," Ucap Rani yang masuk ke kamar Kevin, ia sama sekali tidak menatap ibunya.
"Tinggalin aja disana, nanti Kevin makan bu, Uhuk uhuk," Jawab Kevin lemas.
"Kakak kevin, makan dulu bial gak cakit lagi... Nanti, nanti ciapa yang mau belmain lagi cama adnan.. ? cama Adnan di cuapin ya kak??? Kakak halus minum obat dan nulut sama ibu... kacian ibu... Ibu cayang banget cama kakak kevin," Sahut Adnan, si bungsu yang paling disayangi Kevin itu naik ke kasur dan memeluk kevin.
"Adnan, gak boleh naik, nanti kak Kevin sakit badan nak," Bujuk ibu lagi.
Kevin tertawa kecil dan membalikkan badannya lalu memeluk adnan, ia tersenyum padanya dan berterimakasih karena sudah menghiburnya.
"Maafin kevin ya bu, kevin udah nyusahin ibu," Ucap Kevin merasa bersalah.
"Gak papa sayang... Yang penting kamu sehat ibu udah seneng," Jawab Ibu sambil mengecup dahinya.
"Gimana Elang sekarang?" tanya Kevin lagi.
"Hmm... belum ada kemajuan nak, Elang masih koma," jawab Ibu hanya tersenyum tipis.
"Haaah..." Kevin kembali terpuruk.
"Nggak papa sayang, kalo kamu mau ngejenguk Elang ke rumah sakit, Mamah nya pasti seneng liat kamu lagi," Jawab Rani dengan lembut.
"Sekarang makan dulu ya?" Rani pun memberikan suapan nya pada Kevin.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
William masih terus mengontrol Elang sampai sekarang selama 24 jam.
Bulan hanya ditemani Chiko jika ingin pergi kemana mana. Do.wan harus segera kembali ke China karena sebentar lagi ia sekolah juga disana.
"Sekarang mau gimana?" tanya Chiko di kamar.
"Sekarang? Apa ya...? Otak gue nge lag mulu sekarang mah, " Jawab Bulan bingung.
"Dih! Tau gak?! Loe tadi malu maluin njir! Ngapain kayak gitu di sekolah?! Lu cari masalah sama putri kepala sekolah?!" Tanya Chiko kesal.
"Lah yang cari masalah duluan siapa anjir?! Dia yang sengaja numpahin jus itu ke baju gue!!! Gue gak terima, yaudah gue jambak aja rambut nya!" Jawab Bulan emosi juga.
"Ya tapi kan ada cara lain selain jambak! Bisa minta maaf kan?"
"hoo... jadi loe lebih bela dia daripada gue yang adalah adek kandung loe?! Gue gak sudi minta maaf ke setan itu, kelakuan nya aja kayak b*bi anjir," jawab Bulan, kembali kasar.
"Oooh... ngomong kasar lagi ya loe? Mau gua bilangin ke mamah biar lu di botak lagi kayak dulu?!" Ancam Chiko marah.
"Siapa yang mancing mancing emosi duluan hah?! Dasar laknat lu ye?!"
"Apa loe bilang?!"
"SACHIKO LANGIT SAMUDRA! LYLIANA BULAN PURMAMA! KELUAR KALIAN!!!" Teriak mamah yang kesabarannya sudah habis karena mendengar kedua anaknya bertengkar.
"Hah?! Mamah ngamuk!"
bersambung...