
Even in my own life, i dont wanna be the main character." _Kevin_
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
...π·...
...π·...
...π·...
Tidak terasa malam berganti menjadi pagi. Kini Elang lebih semangat dari biasanya, mungkin itu karena bulan yang menjenguknya semalam. Elang mulai menuruni anak tangganya sambil menyunggingkan senyum indahnya.
Mamah yang melihat Elang yang kembali ceria pasca patah tulang pun ikut tersenyum senang. Ia bersyukur anaknya baik baik saja.
"Pagi sayang," Sapa sang mamah dengan senyuman hangatnya.
"Yooo, pagi mah^^" Jawab Elang sambil tersenyum pula.
"Tumben jam segini udah bangun, biasanya abis sholat subuh kamu suka bobo lagi sampe jam enam, ada apa nih?" Tanya mamah penasaran.
"Hehehe... Nggak kok mah. Seneng aja kemaren, bangun bangun udah ada martabrak," Jawab Elang sambil menaruh tasnya kemudian jalan ke arah dapur untuk membantu sang mamah memasak.
"Eeeh... Kamu diem aja nak, biar mama aja yang masak. Duduk di sana gih, minum dulu susunya sebelum dingin," Ujar mamah saat melihat Elang mulai menyentuh sayurannya, namun dengan cepat Elang menggelengkan kepalanya.
"No, Elang mau bantu mamah," Kata Elang keras kepala. Membuat si mamah kembali tersenyum.
Namun senyum nya tiba tiba sirna saat mamah mengingat sesuatu tentang putra kesayangannya. Kesayangan, iya kesayangan. Bukan berarti mamahnya tidak menyayangi Zhao dan Adit, tapi mengingat kondisi Elang dulu, Elang begitu lemah dibandingkan putra putrinya yang lain. Makannya mamah lebih memperhatikan kesehatan Elang, Zhao dan Adit pun mengerti soal itu.
Elang pun ikut bengong tatkala mamanya bengong. Ia memiringkan kepalanya dan bertanya tanya.
"Hm? Kenapa mah?" Tanya Elang penasaran.
"Sayang, kamu gak papa kan?" pertanyaan yang dilontarkan mamahnya membuat Elang kaget.
"Eh?! Sehat dong... Emangnya Elang kenap...
Ucapannya terpotong saat mamah tiba tiba menyentuh dada kirinya dan memasang wajah memelas.
"Ini, kamu beneran baik baik aja sama ini?" Pertanyaan yang lagi lagi membuat Elang diam. Lah memang kenapa sama jantungnya? Pikir Elang.
Elang langsung tersenyum dan menggenggam tangan mamanya lalu mencium punggung tangan mamanya.
"Nggak, 100% Elang sehat wal'afiat." Jawab Elang agar mamahnya tidak khawatir.
Bukannya malah tersenyum kini mamahnya siap menangis dan menitikkan air matanya. Tentu saja Elang bingung dengan hal itu, agar tidak keterusan menangis, akhirnya ia memeluk sang mamah guna memenangkannya. Sambil memeluk dan menepuk nepuk pelan punggung mamahnya, Elang tak menyadari bahwa zhao juga baru saja bangun tidur dan melihat mereka.
"Jangan khawatir atuh mah, Elang mah gak akan kenapa napa. Lah elang juga bingung, emang Elang kenapa? Elang bakal sehat terus deh... Elang gak mau liat mama nangis kayak beginian. Padahal cuma patah tulang lho mam, kenapa nunjuk ke dada??? Hehehehe..." Ucap Elang malah cengengesan, pengucapannya sangat lembut di telinga mamanya.
Zhao yang mendengar pernyataan Elang pun ikut terdiam. Namun sebisa mungkin ia tidak akan menangis seperti mamahnya. Zhao mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Setelah selesai menangis, mereka berdua melanjutkan memasak dan melupakan kejadian tadi. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Jam menunjukkan pukul 06.25. Untungnya Zhao dan adit pun sudah bangun.
Mereka mulai makan bersama seperti biasanya. Saat hendak melangkahkan kaki menuju kamar motor, ia dikejutkan dengan suara klakson mobil milik tetangga sebelah.
"Erlangga!"
"Eh?! Weeh! Kekep! Gua sembuh kepala!" Seru Elang sambil melambaikan tangannya dengan semangat.
"Buruan naek! Bentar lagi telat woi!"
"Oke!" Jawab Elang sambil berlari walaupun masih terpincang pincang, membuat Kevin tertawa.
Kevin ikut senang melihat Elang yang akhirnya bisa sekolah lagi setelah hiatus selama dua minggu. Elang pun mulai menceritakan kejadian kemarin tentang bulan yang datang ke rumahnya dengan semangat. Kevin hanya menanggapi seolah tidak percaya, padahal memang semua sahabat Elang sengaja pura pura sibuk agar yang disuruh pergi ke rumah Elang itu Bulan bukan mereka. Dasar teman temannya Elang, memang begitu untuk membantu percintaan Elang.
Sampailah mereka di sekolah...
Pak satpam pun ikut senang melihat Elang bersekolah lagi, ia pun segera membukakan gerbang sekolah. 5 menit saja mereka terlambat, mungkin Elang sudah di hukum lagi.
Bel sudah berbunyi, namun Elang sempat kesulitan menaiki anak tangga menuju kelasnya. Yasudah, mau bagaimana lagi? Semuanya ia pasrahkan kepada tuhan yang maha kuasa atas nasibnya nanti.
"Eh... Bukan gitu masalahnya coy, kalo gua telat, loe juga kena hukum gegara bantuin gua," Jawab Elang kekeh.
"Gak papa. Biar gua omongin semuanya ke guru tentang loe yang masih sakit buat jalan,"
Sampailah mereka dikelas mereka dengan susah payah. Benar saja, Kevin langsung diinterogasi oleh bu mita, guru PKN yang killer. Kevin memang anak yang pandai dalam bertutur kata, makannya dengan lancarnya ia membicarakan kondisi Elang. Mereka pun di persilahkan duduk.
"Elang! Gimana loe kabarnya sekarang?"
"Lang masih sakit gak?"
"Ngilu gak sih dipukulin waktu itu?"
"Lang? Gak papa kan?"
Semua pertanyaan teman teman Elang membuat Elang pusing bagaimana menjawabnya. Dengan segera, bu mita menggertak mereka dengan rotan legend nya agar mereka diam.
'Kaget anjir... Gua deg deg-an.' Batin Elang sambil mengelus dadanya.
Elang mengikuti pelajaran seperti biasanya. Karena anak ini akan mengikuti kompetisi, makannya ia dipanggil ke ruang khusus di sekolahnya. Kembali bersama kevin dan Vino, mereka membantu Elang kesana.
Deg!
"Eh?! Ada bulan cantik... Ada apa nih?" Tanya Elang sumringah saat melihat bulan ada disana.
"G,gue..." Bulan kehilangan kata kata! Bagaimana ia menjelaskan pada Elang bahwa ia dipilih sebagai perwakilan sekolah juga. Ia malu jika harus mengikuti kompetisi ini padahal masih ada yang lebih pintar darinya. Terlebih Elang yang adalah inti dari semuanya.
Elang masih tersenyum menunggu jawaban Bulan.
"Dia dipilih sebagai perwakilan kelas IPS-2, dia ikut kompetisi IPS." Sahut seorang laki laki yang ternyata adalah abyral.
"Oooh... Haha. Kenapa malu att bulan? Kan ada Elang disini, nanti kita belajar bareng ya? Kalo ada yang gak paham tanya langsung kayak waktu itu, oke? Oke oke oke?" Ucap Elang dengan senang hati.
"Nggak mau! Loe galak waktu belajar," Ketus Bulan malu.
"Hahahahaha," tawaan Kevin dan Vino membuat Bulan semakin malu ingin masuk ke lubang tikus.
"Aduh aduh, maap. Walaupun Emang galak, cara belajarnya enak lho. Langsung paham karna Elang bikin rumus sendiri, percaya gak?" Tanya kevin meyakinkan Bulan.
"Ho-oh, gue aja yang bodo bisa ngerti kalo belajar sama Elang," Sahut Vino ikut tertawa.
'Bodo darimana loe anjir! Loe peringkat ketiga disekolah setelah Kevin dan Elang!' Batin Bulan ingin berteriak.
Apa yang membuat teman teman Elang begitu cerdas? Bulan saja ada di peringkat ke 8 setelah Chiko, theo, abyral dan angkasa. Dan 10 terbesar di sekolah itu menjadi perwakilan untuk ajang kompetisi antar sekolah.
"Yaudah gak papa kalo bulan gak mau, gua bakal nungguin sampe bulan mau minta tolong ke gua," Ucap elang yang menghancurkan lamunan Bulan.
Sesi belajar pun dimulai...
Elang hanya pelanga pelongo melihat mereka yang belajar. Sesekali ia menghampiri kevin saat ia kesulitan mengartikan ini itu. Namun ada yang mengganjal, ada satu orang yang membuatnya melupakan sesuatu.
"Oh iya, si Chio mana? Kok gua baru nyadar ya?" Tanya Elang memecah keheningan.
"Ck! Jangan berisik bisa gak sih?" Ketus Angkasa kesal.
"Nggak kok, gua baru buka suara sekarang, Chio mana?" Tanya Elang mengabaikan si Angkasa.
"Sakit," Jawab Bulan singkat.Chiko meminta Bulan agar tidak menjelaskan bahwa asma nya kumat parah. Hampir tiap 10 menit ia kumat.
"Sakit? Sakit apa?" Tanya Elang heran,Β ia mendapat kabar bahwa Chiko datang menjemput bulan di rumah Elang.
"Demam,"
Bersambung...
Jangan lupa vote