Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 19



Comfortable is trap,Jadi klo Loe udh kejebak sama kenyamanan, Loe gak bisa lepas dari gw, titik."


Akhirnya Elang juga dibawa ke rumah sakit. Benar saja, tulang kering kanannya patah, menyebabkan ia tak bisa berjalan untuk sementara.


Zhao menatap adik laknat nya dengan wajah masam dan jengkel, ia pun menjitak dahi Elang agak keras.


"Bangor tah! Bilangin ka mamah!" ketus Zhao kesal.


"Ya allah! Se-bangor apa sih Elang teh teteh? Jangan gitu ah, gak baik tau," Jawab Elang sambil mencolek tangan Zhao.


"Kebiasaan kamu gelud mulu jadi gini kan?"


"Eh?! Kapan Elang gelud? Gak pernah kali... Huh! Eh iya! Gimana keadaan Adit? Udah bangun belom?" Tanya Elang penasaran.


"Hmm... Udah. Tapi sampe sekarang belum bisa diajak ngobrol, masih Hulang huleung," Jawab Zhao sedih.


"Elang mau kesana ah,"


"Jangan! Kaki elu pincang!"


"Biarin, kan ada kamyu yang bakal dorongin Elang pake kursi roda," Jawab Elang lagi.


"Dih! Nitah?"


"Hayu hayu! Ambil kursi rodanya, Elang penasaran neh," Ucap Elang mengalihkan pembicaraan.


Akhirnya Zhao mengambil kursi roda dan mulai mendorong Elang menuju ruangan adit. Tentu saja disana ia bertemu mamanya dan dimarahi gara gara ia terluka. Elang meminta maaf dan minta izin untuk melihat Adit.


Sebelum masuk, justru adit sedang dipindahkan dari ruang operasi menuju ruangan VIP.



"Lho? Adit mau kemana?" Tanya Elang bingung.


"Karena keadaannya udah mulai membaik, Jadi dia bisa dipindahkan ke ruangannya," Jawab Dokter Will yang merupakan ayah Kevin.


"Ooh... Gitu ya? Dit, adit! Bangun wei! Elang disini," Ucap Elang sambil menekan nekan pipi Adit.


"Dia gak bakal bangun sampe obat tidurnya abis, kita baru ngasih obat tidur biar Adit gak terlalu kesakitan," Jawab Dokter Will lagi.


"Kaki kamu kenapa Lang?" Tanya dr. Will kemudian.


"Oh... Biasa om, tadi di serang cucunya Son goku. Tapi gak papa kok, gak akan lama," Jawab Elang terkekeh geli.


"Ada ada aja kamu, yaudah, om mau nganter adit dulu ke ruangannya. Waktu besuk nya mulai jam 14.00 siang ya. Adit juga harus banyak istirahat, gak boleh stress dulu."


Semua mengangguk setuju, Elang hanya menunggu diluar ruangan sambil memainkan ponselnya.


TING!


Sebuah pesan masuk dari seseorang untuk Elang.


Bulan cantekđź’•: Gimana kabar loe sekarang? [13.34]


"Hehehe... Perhatian banget,"


Anda: Gua baik kok, sini dong jengukin gua [13.34]


Ternyata bukan Bulan yang mengirim pesan pada Elang. Tapi Chiko yang menjailinya agar semakin dekat dengan Elang. Mereka saling membalas chat satu sama lain, bersikap seolah olah mesra. Tapi sayangnya, Chiko kena tampol Bulan setelah tahu Chiko mengirim pesan manis pada Elang.


"Anj*ng... Orang bego mana lagi yang mau berurusan sama aing?! Chiko! Chiko sini loe! G*blok lu ya ngirim ngirim yang kayak gini ke gua," Ucap Bulan marah marah.


"Hmm? Apaan? Dih gak jelas gitu jadi anak," Ketus Chiko cuek, ia berusaha agar tidak tertawa.


"Bukan gitu masalahnya... Iiih! Anjay teh!" Bulan pun segera pergi meninggalkan Chiko dengan wajah merahhya.


Bulan cantekđź’•: Bi, maapin gue. Tadi bukan gue yang kirim chat kayak gini, tapi si bego Chio [14.12]


Deg!


"Pantesan gak enak hati... Ternyata si Chiko... Wah... Nantang gitu ning," Guman Elang tertawa miris.


Anda: Tenang aja Lan, abis ini bakal gua bantai si Chiko. [14.15]


"Ey, mau gak jengukin adit?" Tanya Zhao dari belakang.


"Eeeh? Mau mau!" Jawab Elang.


Ia pun masuk kedalam dengan kursi rodanya itu. Sejujurnya untuk ukuran Elang yang memang tipe 'Nggak bisa cuek' ini, duduk lama lama itu sangatlah tidak nyaman. Membuat ****** nya ngilu.


"Adit!!! Bangun lu! Gua belum bales dendam sama orang yang nabrak lu," Ucap Elang sambil mencubit pipi Adit.


"Abang..." Panggil Adit lirih.


"Iya? Mau apa? Martabak? Bakso? Pecel lele? Chiken qolbi?" Seru Elang, sedangkan adit menggeleng dengan cepat.


"Kenapa...?"


"Sakit anjir! Lu nyubit pipi gua kenceng banget!" Jawab Adit ketus.


"Ooh... Hahahaha! Akhirnya lu bisa ngomong lagi, mamah, bapak sama Zhao khawatir tuh gara gara elu melong terus. Kirain jadi bisu," Ucap Elang senang, akhirnya Adit bisa kembali berbicara.


"Gitu ya? Adit gak papa da, kemarin cuma masih heran aja kenapa adit bisa masuk rumah sakit, kebetulan sakit tenggorokan juga, uhuk uhuk, tapi adit mau bakso," Jawab Adit manja, ia sekarang malah merengek minta bakso.


"Nggak boleh, baru sembuh ah." Tolak Elang mentah mentah.


"Dih, ari tadi ngapain nawarin hah?! Bikin sakit hati tau gak? Aw!"


"Eh?! Kenapa loe? Kaki Adit sakit... Uuuhh.... " Jawab Adit kesakitan.


"Kayaknya obatnya udah abis, Elang mintain dulu ke om will, tunggu bentar ya,"


Saat hendak berdiri, Zhao menahannya dan menyuruh Elang untuk pulang dan istirahat di rumahnya. Biarkan mamah dan bapaknya untuk menjaganya disini.


"Pak, gimana tuh kasus si Adit? Udah bilang ke polisi belom?" tanya Elang di mobil, sengaja bapaknya mau mengantarnya pulang.


"What you said yesterday was true there was Someone Who tried To kill Adit. He did that On purpose to make me angry. Well... Can't Stop thinking About Them," Jawab bapak sambil menarik napas panjang.


"Iya kan??? Elang juga udah mikir kayak gitu, semoga pelakunya cepet ketangkap ya pak." Ucap Elang yang diberi anggukkan oleh bapaknya.


Sudah 2 minggu berlalu Elang tidak bersekolah. Karena ia juga tidak bisa pergi ke sekolah untuk belajar. Adit pun ikut membaik dan sudah boleh dibawa pulang ke rumah.


Bulan hanya melongo sambil menatap jendela menuju lapangan. Selama Elang tidak ada, Bulan menjadi agak pendiam, entah rasa bersalahnya atau bagaimana.


"Hei! Loe kenapa? Gabut ya... Gak ada pabos El...?" Kata Anne julid, ia selalu memanggil Elang dengan sebutan 'PaBoss' alias panda Boss karena mata Elang yang lentik menurutnya.


"Dih! Apaan sih loe?! Apa hubungan gue sama si b*bi itu?!"


"Ey! Emangnya kita gak tau hubungan elu sama paboss? Udah kesebar dimana mana kalee!!! Hahahaha," Jawab Anne lagi makin julid.


Membuat Bulan memerah dan agak murka, ia mengangkat tangan kanannya sambil mengepalkannya.


"Ngomong sekali lagi gue siksa loe ya bego!!!" Ketus Bulan sambil beranjak dari tempatnya.


"Aaaahhh... Hahahaha! Chikoooo bantuin gueeeee!!! Adek lu mau jadi siluman beruang!!!" Teriak Anne tertawa tawa.


"Heh! Syut syut! Jangan berisik kalian tuh, Lan, dipanggil papah." Sahut Chiko sambil menepuk kepala Bulan.


"Loe... Haaah! Hampir aja gue ngamuk barusan," Jawab Bulan sambil memegang tangan Chiko.


"Hehehe... Co cweett... Babay! Gue mau ke kantin dulu," Ujar Anne sambil melambaikan tangannya.


"Kenapa papah manggil gue? Lu, lu gak bilang macem macem kan tentang kelakuan gue? Awas lu! Gue talapung abis ini," Ancam Bulan tajam.


"Hmm, cepetin kesana aja. Susah amat, Gua kan mau lanjut ngegame anjir,"


Chiko pun langsung pergi meninggalkan Bulan yang kini jantungnya tidak baik baik saja akibat panggilan dari sang papah.


Bersambung...


Kira kira bapaknya kenapa manggil bulan ya???



Sapaan terakhir dari Chiko;)