Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 12 (Tentang Theo bag.2)



When Theo Said:


...Setiap anak punya orang tua tapi tidak setiap anak mendapatkan kasih sayang orang tua:)...


...~••••••••••••••••••••••••••••••••••~...


...Chiko pun datang dan menghampiri Elang sambil memperhatikan Theo....


..."Lagi apa Lang?" Tanya Chiko penasaran....


"Naklukkin macan, dari kutub utara," Jawab Elang lagi.


"Nih, Gua tau loe punya masalah. Loe boleh mukulin gua sepuas loe sampe loe tenang, tapi abis itu harus jadi temen gua, ya?" Tawar Elang lagi, ia benar benar berusaha keras mengajak Theo bersamanya.


Theo hanya menggertak giginya dan bingung. Daripada ia adu bacot dengan Elang, lebih baik dia pergi saja dari sana. Namun, Elang tidak menyerah, ia selalu membujuk Theo sampai rasanya mau mati. Di tengah lapang, ketika Elang sedang bermain basket dan Theo yang sedang melihat pertandingan di atas, Secara tidak sengaja, Elang melihat Theo sedang melihat pertandingannya.


"Theoooo!!! Gua tau loe lagi liat kesini!!! Buru jadi temen guaaaa!!! " Teriak Elang tak tau malu, malah membuat theo yang malu.


"Elang! Awas!!!"


DUNG!


Bola basket itu tepat mengenai Elang dan membuat Theo shock. Ia segera menuruni anak tangga dan menghampiri Elang. Hidungnya terus mengucurkan darah segar yang tak mau berhenti mengucur.


"Bawa Elang ke UKS," pinta Theo pada Kevin dan Chiko. Kevin menjadi agak canggung pada theo sejak bulan itu.


Elang berusaha Menghentikan mimisannya, namun tak berhenti juga. Sampai pada akhirnya theo datang dan memiringkan kepala Elang.


"Kayak gini, kalo loe mau berentiin mimisan loe, bego,"


"Theo, tau darimana loe?"


"Gua sering mimisan," Jawab Theo singkat.


Setelah selesai, sarah datang dan mengambil beberapa obat untuk Elang. Sarah juga adalah salah satu sahabat Elang yang duluan bertemu Elang sebelum Linda.


"Thanks theo," Ucap Elang senang.


"Gua mau jadi temen loe," Ujar Theo malu.


"Lah?! Beneran?!" Elang yang tidak percaya


"Hm,"


Theo pun pergi meninggalkan Elang. Tidak sia sia perjuangan Elang yang terus membujuknya selama tiga bulan. Sejak saat itu, Theo mulai menceritakan kehidupannya, kenapa ia bisa menjadi seperti itu.


Sampai pada akhirnya, Elang bersama chiko dan kevin pergi rumah Theo untuk membuktikannya.


"Assalamualaikum...!" Ucap Elang sambil menekan bel rumah Theo.


"Waalaikumussalam..." Jawab seorang pembantu lesu, ia menjawab dengan lirih.


"Eh?! Beneran ini rumahnya si Theo?" Bisik Elang pada Chiko.


"Iya, serem ya si pembantunya, mirip si Isah," Jawab Chiko balik berbisik.


"Isah? Isah Siapa?" Tanya Kevin dan Elang aneh.


"Isah lho... Yang di film The dodol, kalian pernah nonton bareng gue waktu itu," Jawab Chiko ngotot.


"The dodol? Hm! The doll anjir! Terus... Bukan Isah kali, itu Asih! Beda cerita, chio! Loe, jangan nyamain dua cerita dalam satu cerita, anjay teh aya aya wae ah!" Ucap Kevin sambil tertawa.


Dan si bibi yang menunggu mereka itu hanya menatap mereka dengan tatapan kosong. Seketika mereka pun terdiam.


"Jangan lupa, attitude nya," Bisik Kevin lagi.


Mereka pun masuk ke rumah Theo. Bau amis, itulah yang di pikirkan ketiga teman Theo saat itu. Saat sampai di ruang tamu, mereka terkejut melihat Theo didekat tangga yang bercucuran darah dari kepalanya dengan keadaan lemas. Di sampingnya terdapat stick golf yang sudah bersimbah darah dan tangan sang ayah yang juga bertetesan darah dari tangannya.


Tentu saja Elang dan teman temannya mematung setelah melihat hal itu, benar benar mengenaskan.


"Oh? Teman teman Theo kah?" Tanya paman Wildan yang merupakan ayah Theo.


"Aaah... Kalian dateng pas saya lagi kayak gini, jujur, ini bukan tanpa alasan saya seperti ini, ini adalah hukuman karena theo ngelawan saya, jadi gak enak, seolah olah saya pembunuh, hahaha." Ucap Wildan sambil membenarkan dasinya dengan tangan yang berdarah itu.


DEG! DEG!


Chiko dan Kevin tidak bisa berkata apa apa selain menunduk takut. Apa yang harus mereka lakukan? Seolah olah mereka terjebak di perangkap psikopath.


"Haha! Iya... Gak papa kok om, lagipun kami kesini mau ngajak theo buat main, tapi kayaknya theo sakit," Ucap Elang mencairkan suasana walaupun ia juga deg deg-an.


"Iya... Mungkin sekarang dia sakit, jadi harus istirahat. Theo ini anaknya nakal, suka gak nurut sama om, makannya om hukum,"


"Tiap hari? Masa?" Tanya Elang tidak percaya, membuat wildan agak tersentak.


" Tiap hari, tiap dateng ke sekolah, pasti aja wajahnya bonyok. Kirain teh, diserang preman jalanan, ah masa? Kan theo jago gelud, masa gak ngelawan sih? Gitu pikiran saya teh, ternyata ini toh..." Ucap Elang yang mengungkap seperti detektif


'Wanian ih si Elang, abis ini kayaknya kita juga bakal jadi korban,' batin Chiko malah semakin deg deg-an saat elang bilang gitu.


'Bunuh diri ini namanya, duh anak teh...' Batin Kevin juga.


"Kalo om bilang dikasih hukuman kayak gini biar theo nantinya mau jadi penerus om, dijamin deh, dia gak akan mau. Kenapa? Didikan om nya kayak gini, harusnya cara mendidiknya itu lembut om, jangan maksa theo ngelakuin ini itu, nanti mslsh kerjaannya malah gak bener karena theo nya enggan. Jadilah Ayah yang baik bagi anak...


Plak!!!


Tamparan keras yang dilayangkan wildan tepat mengenai pipi kanan Elang sampai elang membelalakkan matanya kaget.


Memang benar, sudah terlihat jelas bahwa Wildan akan marah besar pada Elang. Dengan gerakkan cepatnya, ia memukul perut Elang.


"Uhuk!"


BRUK!


Elang terjatuh karena lemas, tubuhnya gemetaran, sedangkan kevin dan Chiko bingung harus bagaimana.


"Kamu dengar baik baik! Jangan menasehati saya! Ini aturan saya! Dan theo harus taat karena dia adalah putra saya! Tidak ada yang lebih berhak menghukum dia daripada saya! Saya yang menyayanginya! Saya ayahnya! Saya tau mana yang benar dan yang salah! Dan karena theo nakal, makannya dia saya hukum supaya dia tau bahwa melanggar aturan keluarga ini akan menjadi seperti itu!!!" Ucap Wildan sambil menjambak rambut Elang.


'Sakit... Sakit banget...' Batin Elang merintih kesakitan.


"Papah....Udah pah... Temen temen Theo gak salah, Theo... Theo...


'Ayo ngomong ke dia theo! Loe gak boleh takut!' Batin Kevin geram.


Wildan memincingkam matanya guna mendengar perkataan Theo, anaknya.


"Theo... Theo gak mau kayak papah! Papah baik dan sopan didepan orang orang, dan ayah garang ke theo sama kak Zahra, Theo gak mau gitu pah, theo mau seadanya, karena ini Theo, Yang bebas ngejalanin hidupnya. Theo mau jadi penerus ayah, tapi dengan cara theo sendiri,"


Akhirnya Theo mengucapkan isi hatinya, membuat Wildan benar benar terdiam. Waah... Pasti di pukulin lagi abis ini, pikir Chiko. Namun ternyata tidak, Wildan pergi begitu saja.


"Obatin theo," titah Wildan pada pembantunya.


Membuat ketiga temannya senang, sepertinya Wildan agak luluh mendengar kata kata theo, apalagi dengan suara theo yang serak. Pas sekali untuk bilang begitu seolah olah menyedihkan.


Tapi tetap saja, walaupun sudah berteman dengan elang dan kedua temannya, Chiko dan Kevin, ia hanya menerima mereka karena kasihan. Perlu di garis bawahi, menerima Linda juga hanya karena KASIHAN.


Karena... Seperti yang sudah dikatakan tadi, Saraf perasanya sepertinya mati, sehingga ia tidak tahu bagaimana rasa kasih sayang dan dicintai.