Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
chapter 46



Bulan di hadang beberapa preman yang memang sering mengganggu di dekat rumahnya. Ia menaruh kresek belanjaannya dan merenggangkan jari jarinya, bersiap untuk memukul.


"Ada apa nih...? Kenapa kudu make ngehadang hadang segala?"


"Kami mau bales kelakuan loe yang kemaren!"


"Haha, a*njing loe," Ketus Bulan dengan wajah datarnya.


Karena marah, mereka pun menyerang Bulan bersama sama. Memang, sekuat apapun Bulan, kalo keroyokan tidak akan menang. Ditambah... Entah kenapa tenaga mereka seperti lebih kuat dibanding sebelumnya.


"Ukh ... Huaaaa! Pipi gua! Jahat loe ya m*nyet! Sini lu!!!" Bulan semakin mengencangkan pukulannya, lagi lagi ia mendapatkan pukulan dari mereka.


Ingin menangis, Bulan tidak tahan jika mendapat pukulan seperti itu lagi. Malah mengingatkannya pada mantan pacarnya yang melakukan kekerasan padanya.


Ting!


Ia teringat, wajah preman preman bodoh ini mirip sekali dengan anak yang sewaktu itu pernah menyiksanya. Bulan tidak bisa apa apa lagi, apa yang harus dilakukan nya sekekarang? Apakah Gion kembali lagi?


Di saat ia terpuruk begitu, Seseorang menarik tangannya menjauh dari mereka. Kini bergantian, orang itu memukul para preman dengan mudahnya. Setelah selesai, barulah ia menghampiri Bulan yang ketakutan.


"Kamu gak papa?" Tanya nya dengan nada khawatir.


"Gak papa, makasih." Jawab Bulan sambil bangkit dan menyeka air matanya yang sempat keluar tadi.


"Itu luka lho... Mau di obatin dulu? Kita mampir ke apotik bentar,"


"Nggak usah, lagian rumah saya udah deket kok," Tolak Bulan mentah mentah, ia tidak suka ada orang asing yang mengajaknya mengobrol begitu saja, apalagi sok asik.


"Saya ditugasin sama Erlangga."


Deg!


Erlangga katanya? Erlangga yang mana? siapa?


"Bentar, yang namanya erlangga ada banyak lho mas, jangan gitu ah." Jawab Bulan ingin tertawa.


"Kamu Bulan kan? Pacarnya Erlangga?"


"Eh?! Tau nama saya juga?" Tanya Bulan balik.


"Saya kan udah bilang... Saya ditugasin Erlangga buat jaga kamu, erlangga gak bisa jaga kamu sekarang. Oh, nama saya Kyle, salam kenal."



"B,bentar! Kok--"


"Dunia sempit? Iya, kan banyak penghuni nya," Jawab Kyle yang ingin bercanda dengan Bulan.


"Sekarang, kamu ikut saya ke apotik, saya bakal obatin kamu. Saya udah dapet izin dari Elang segalanya tentang kamu, Jadi... Gak usah takut,"


Bulan pun akhirnya pergi berdua bersama Kyle menuju apotik. malu sebenarnya, tapi memang luka yang dibuat preman itu membuatnya sakit.


Kyle pun mulai mengobatinya pelan pelan dan dengan teliti. Matanya sangat jeli seperti kucing, walaupun wajahnya tidak terlihat karena tertutup masker, tapi bisa terlihat jelas kalau Kyle ini anak yang tampan.


"Nih, saya bakal ceritain dikit tentang Saya. Saya adalah adik terakhir dari ibu nya Elang. Ibunya Elang adalah anak tertua di keluarga saya, kami 6 bersaudara dan yang menetap di bandung cuma kami, makannya kenapa saya tau kalo kamu pacarnya Elang, karena elang yang suruh saya buat jagain kamu^^ Diem diem," Jelas Kyle yang menunjukkan cat eyes nya.


"Gitu...? umur kamu berapa?" Tanya Bulan yang menjadi lembut, karena pria ini sedari tadi mengatakan 'Saya,kamu', Membuat Bulan tidak enak jika ia berbicara santai.


"Besok umur saya 18 tahun," Jawabnya santai.


"Lah?! Lu seumuran dong sama gue?! Kalo gitu kenapa bilangnya saya, kamu? Buat gue gak enak aja kalo ngomong kayak gini,"


"Hehehehe, bukannya sama cewek harus sopan ya?"


"Nggak usah sopan ke gue mah, santai aja. Apalagi kalo hubungannya sama Elang. makasih ya, udah mau bantu gue, walaupun nantinya gak akan ketemu lagi," Ucap Bulan tertunduk.


"Kenapa? Bakal nyesel kalo gak ketemu saya? Jangan jangan kamu suka ya sama saya...?" Tanya Kyle yang membuat Bulan memerah.


"Hah?! Mana ada yang kayak gituan?! Jangan mancing gue bilang kasar, gue udah nahan neeeh... demi Elang." Jawab Bulan mulai naik pitam.


Kyle pun tertawa mendengar Bulan yang begitu. Ia pun mengantar Bulan ke rumahnya dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah kakaknya.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam..."


Krieeettt...


Mamah sabil membukakan pintu ketika seseorang mengucapkan salam. Saat dilihat, ia senang dan segera memeluk Kyle sambil menangis, ia tak akan kuat jika melihat kyle lagi.


"Teteh gak usah nangis, Kyle baik baik aja. Udah gak papa beneran," Jawab Kyle sambil membuka sedikit maskernya.


"Beneran? Terus luka kamu gimana? bukannya masih butuh perawatan?" tanya Sabil sambil melihat sekujur tubuh Kyle.


"Gak papa teh, sekarang kyle udah baik baik aja, jangan buat seolah Kyle menyedihkan ah," Jawab Kyle lagi sambil menyeka air mata kakaknya.


Sabil pun mengajak Kyle duduk, ia juga bertemu kakak iparnya disana. Kyle mulai menceritakan kenapa dirinya bisa begitu. Satu keluarganya dibantai pembunuh bayaran, beruntung keluarganya sedang pergi keluar kota. Namun kyle tidak ikut pergi karena harus sekolah. Ia sama sekali tidak sadar kalau pembunuh bayaran masuk ke rumahnya diam diam dan mengambil uang di brankas mereka. Kyle menyadari hal itu dan turun untuk untuk menyelamatkan diri, ia tak memikirkan apa apa kecuali keselamatannya.


Tapi sayangnya....


Ia dihadang beberapa pembunuh lainnya dan terpaksa melawan mereka sebelum akhirnya pergi, saat peluang sudah di depan mata, dan hendak berlari, sayangnya ia tertembak dan jatuh tersungkur. Tetangga tetangga nya yang menyadari adanya perampokan di rumah Kyle segera menelpon polisi dan mengepung mereka, sementara kyle harus dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan darurat, karena luka itu, ia tidak bisa kemana mana dan menetap di rumah sakit.


Kedua orang tua nya segera pulang dan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan putra bungsunya. Mereka juga tidak peduli berapa banyak hartanya yang terambil oleh para pembunuh bayaran, padahal niat awal mereka membunuh keluarga kyle, namun jadi berbelok tatkala melihat harta yang berlimpah di keluarga mereka.


Kenapa Kyle bisa tahu kalau itu bulan dan pacar elang? Karena setelah ia berpacaran dengan Bulan, Elang memberitahukan kepada seluruh keluarganya bahwa ia telah berhasil mendapatkan bulan. Sebenarnya Kyle juga tidak di suruh untuk menjaga Bulan, karena ia baru saja keluar dari rumah sakit, hanya kebetulan lewat yang melihat wanita yang dihadang preman.


Keesokan harinya...


Elang yang mood nya sudah membaik kini sedang menuruni anak tangga dengan wajah yang cerianya. Mamah, bapak, adit dan Do.wan menoleh heran padanya. Apakah setan yang merasuki nya sudah pergi?


"Selamat pagi semuanya...^^" Sapa Elang sambil mengembangkan senyumnya, membuatnya semakin tampan, seperti biasanya.


"Iya, pagi aa...^^" Jawab Adit senang.


Elang pun duduk di sebelah do.wan yang masih heran terhadapnya. Elang mengembangkan senyumnya kepada Do.wan juga, membuat do.wan tersenyum paksa saja.


"Kenapa nih, udah gak bete ceritanya?" Tanya Do.wan tetap aneh.


"Udah, gak, bete. Gua baik, baikkkk banget," Jawab Elang lagi.


"Ooh... haha... yaudah... bagus deh..."


"Kyle... Turun, ikut sarapan!" Teriak mamah sabil yang membuat Elang kaget.


"Ada kyle?! mana?!" seru elang mencari keberadaan Kyle.


Kyle pun keluar dari kamar dengan seragam sekolahnya yang dulu. Ia belum sempat membeli seragam dari sekolah Elang, termasuk Do.wan juga.


"Halo, erlangga." sapa Kyle sambil tersenyum.


"Ampun... udah sembuh nih? Wah, gimana dong?^^"


"Gimana apa nya?" tanya Do.wan dan Kyle bersamaan.


"Nggak papa sih, gua naek motor sendiri, kalian bawa motor yang ada di bagasi aja, gua mau jemput Bulan," Jawab Elang sambil melahap sarapan paginya.


"Yah, sip deh." Kata kyle yang duduk di sebelah Adit.


"Loe yang bawa motor yah, gua gak tau sekolahnya dimana," Ujar Do.wan pada Kyle.


"Siiip... gua udah kenal kok sama bandung," Jawab Kyle sambil tersenyum.


Tibalah mereka di sekolah...


Elang tidak menjemput bulan karena ternyata ia sudah pergi duluan bersama Chiko. Elang hanya sedikit kesal, tapi ia tetap tersenyum dan menyapa teman temannya di sekolah, diikuti Kyle dan Do.wan, mereka menjadi pusat perhatian saat ketiganya jalan bersama.


Do.wan masuk ke kelas Elang dan Kyle masuk ke kelas Bulan. Bulan terkejut karena kedatangan murid baru, ia memerhatikan matanya yang mirip sekali dengan orang yang kemarin menolongnya.


"Siape ya namanya?" Gumam Bulan bingung.