
...Kita mempunyai keinginan, Semesta punya kenyataan, dan tuhan punya keputusan,"...
Saat tiba di sekolah, Elang menyadari kalau dirinya terlambat 15 menit, dan tentunya pintu gerbang menuju sekolahnya telah ditutup rapat rapat. Elang berusaha membujuk pak satpam untuk membukakan pintu untuknya.
"Pak, ayolah pak... Kasian sama Elang, Elang pertama kali telat, jadi masih diizinin masuk," Ucap Elang membujuk.
"Aduh, bukannya saya gak mau El, tapi kata pak direktur gak boleh ada yang buka gerbang kalo ada yang telat sampe pak direktur dateng, kamu tenang aja El, pak Ahmad bentar lagi dateng kok," Jawab pak satpam yang aslinya gak tegaan.
'Bukan gitu masalahnya, aduh... Nanti mood gua malah amburadul gara gara liat pak DS, gua kan lagi musuhan,' Batin Elang panik.
Setelah sekian lamanya Elang membujuk dengan berbagai cara, pak satpam sama sekali tak membukakan pintu untuknya. Dan benar, Pak direktur pun datang dan menginterogasi Elang. Walaupun Elang sudah meminta maaf dan menjelaskan berkali kali, namun hukuman tetap di jalankan, Elang berdiri sambil hormat pada sang Bendera merah putih.
"Udah gua kira... Nyesel ah! Gua gak mau jadi anak nakal lagi," Gumam Elang kesal.
Sementara itu...
Theo, salah satu bestie Elang ini sedang bosan karena pelajarannya yang memang membosankan sekaligus tidak ada Elang yang selalu membuatnya bermain. Kedua matanya menangkap Elang yang sedang dipajang di lapangan. Lalu dengan wajah datarnya, ia menarik jaket kevin dan memberi tahu bahwa Elang dipajang.
"Si El telat," Kata theo sambil menunjuk Elang.
"Ampun... Pasti gara gara dia nginep di si Chio," Jawab Kevin sambil menggelengkan kepalanya.
"Nginep?"
"Oh? Gak tau ya...? Dia kabur dari rumah gara gara bawa pistol om Longwei ke sekolah, jadi dihukum," Jawab kevin dan dibalas anggukkan oleh Theo.
1 jam pun berlalu...
Hari ini keberuntungan tidak memihak pada Elang, matahari benar benar bersinar dan menembus kulit putih Elang, sehingga ia sangat berkeringat sampai bajunya ikut basah.
Elang pun menggelengkan kepalanya sambil sesekali mengelap keringatnya. Wajah putihnya itu mulai memerah dengan mata yang semakin sipit untuk menghindari tatapan langsung dengan matahari.
"Huuh... Panas banget ih," Keluh Elang, tangannya mulai pegal.
Tak lama kemudian, seorang wanita tiba tiba datang menghampirinya dan ikut hormat di sebelahnya.
"Eh... Bulan... Halo..." Sapa Elang terbata. "Diem bego," Ketus Bulan sinis.
"Kenapa nih? Kok elo kesini sih? Mmm... Co cweet banget... Maacih udah mau nemenin gua... Baper lho gue," Ucap Elang lagi yang terus bawel padanya.
"Berisik! Waktu istirahat masih lama, jangan ngebacot ah..."
"Kenapa? Loe pasti ada alesan kan kenapa kesini? Gak mungkin kalo murid teladan kayak loe ada disini," Kata elang penasaran.
"Gua tidur dikelas,"
"Wah? Oh iya? Kenapa?" Tanya elang semakin penasaran.
"Gara gara loe ba*i," Jawab Bulan menatap sinis pada Elang.
"Lah kok...
"Kita main game sampe subuh! Gue gak tidur makannya ngantuk, dan semua ini gara gara elo!!! Burung jelek," Ketus Bulan lagi, melihat bulan seperti itu, bukannya ia kesal malah semakin geram ingin mencubit pipi gemas bulan.
"Maapin deh... Eh, gua udah berentiin lho waktu jam 2, tapi loe keukeuh pengen maen lagi,"
*Flash back tengah malam...*
Setelah Elang dan Bulan makan bersama, Elang sedikit penasaran dengan bulan yang memainkan game Em El dengan seru dan serius, makannya ia mencoba mengajak Bulan berperang.
"Yang kalah harus patuh sama yang menang," Tantang Elang sambil tersenyum licik.
"Hh, kampungan tantangan kayak gitu mah, dan gue gak akan kalah lagi dari elu," Jawab Bulan yang setuju menerima tantangan itu.
Mulailah pertarungan itu, seperti biasa, Elang yang selalu meraih kemenangan, ia tak akan membiarkan lawannya menang darinya. Skor Elang adalah 3-0, yang berarti sudah tidaj diragukan lagi, Elang lah pemenangnya. Tangan bulan gemetaran tidak percaya.
'Gak mungkin... Kenapa burung ini Pro banget...? Gua gak boleh kalah,' Batin Bulan tak terima.
"Gimana lan? Lanjut? Apa udahan?" Tanya Elang meremehkan.
"Lagi," Jawab Bulan tajam.
"Oke..."
"Ha-ha gua menang elu kalah... Tepatin ya... Janji yang 'Kampungan' itu," Ucap Elang agak menyindir.
"Ck, apa mau elu?" Tanya Bulan setengah hati.
"Mudah kok, Jadi pacar gua," Jawab Elang sambil meraih tangan Bulan.
"Mana ada yang kayak gituan an*ing,"
"Hoo... Gak boleh ya? Yaudah beliin gua martabak aja," Jawab Elang lagi yang meringankan tantangan.
"Martabak mana ada jam tiga subuh! Ngaco lu mah, mending tidur gih!"
"Ada... Pesenin ya, martabak rasa kasih sayang yang tak tertandingi," Jawab Elang, Bucinnya lagi aktif.
"Gak ada, gak usah ngaco, besok aja napa,"
"Iya iya iya, ini aja deh, martabak rasa..." Tiba tiba omongannya terhenti.
"Rasa...?" Tanya Bulan penasaran.
"Rasa cin-ta-ku pa-da-mu," Jawab Elang sambil tertawa setelahnya.
Bulan terdiam karena menurutnya camdaan itu tidak menarik. Ia mengangkat jari tengahnya sambil memgatakan "Ba*i".
Dan ya... Elang pun kembali terdiam dan murung dari kemaren perasaan dipanggil babi, emang sejelek itu ya muka gua? Pikir Elang.
"Emang ya... Gegara kulit gua yang putih ke ping pingan ini makannya loe nyebut gua babi, Sad;(" Ucap elang sambil memainkan jarinya, membuat Bulan ini merasa bersalah.
"Bukan git... Aduh... Malah bikin anak orang sedih lagi. Udah dong, jangan baperan, gua ngomong kasar kayak gini karena emang kebiasaan dari kecil udah kayak gini, jadi tolong maklumin aja kalo loe sering kena omongan gua," Jawab Bulan sambil mengusap punggung Elang.
*Flashback selesai...*
Pada intinya bulan ketiduran gara gara Elang yang mengajaknya main sampe subuh.
"Ngapain loe?" Tanya Bulan yang heran saat tangan Elang menutupinya dari sesuatu.
"Ngelindungin loe biar mataharinya gak natap Bulan," Jawab Elang kembali tersenyum.
"Idih bego lu, yang ada tangan loe jadi gosong, udah biarin aja,"
20 menit pun berlalu dan bel istirahat pun berbunyi. Melihat Elang yang dipajang di lapangan, membuat para ciwi ciwi di sekolahnya berteriak memberinya semangat, dan Elang hanya tersenyum saja karena ia lelah jika harus bersuara.
"Wajah si El merah banget vin," Kata Linda mengkhawatirkan Elang.
"Eh iya! Gua beli minuman dulu, loe duluan aja," Jawab kevin sembari berlari meninggalkan Linda.
Dan ditengah keramaian itu, Seseorang dengan badan tinggi dan gagah datang menghampiri Bulan dan memberikannya sebotol air, membuat Elang menatap sinis padanya.
"Minum dulu Lan, kamu pasti haus,"
"Makasih," Jawab Bulan geli, ia tak terbiasa mendengar kata 'Kamu' Dari orang lain.
"Angkasa, Loe gak akan ngasih minum gitu buat gua?" Tanya Elang komplein.
"Bisa kali jalan sendiri ke kantin," Jawabnya sinis, ia memperhatikan Elang dari atas kepala sampai ke ujung kaki, tatapan yang sangat membuatnya tidak nyaman.
"Gua kan lagi dihukum, lagian sih... Gak sekalian aja, masa lu ngasih minum ke cewek yang udah punya cowok sih?" Tanya Elang julid, ia ingin memancing amarah angkasa ini, seketika bulan kaget dan mencubit tangan elang pelan.
"Ngawur loe ya!" Ketus Bulan malu.
"Hah! Pacar?! Mana mau Bulan pacaran sama loe, gak ada apa apanya, asal loe tau ya, gua Angkasa, Hanya gua yang bisa dapetin Bulan," Ucap angkasa sombong, ia pun pergi meninggalkan Bulan setelah mengelus kepalanya.
Elang pun kembali terdiam dan menghela napas panjang, sementara Bulan hanya diam saja tak peduli. Tapi setelah diteliti lagi, gerakan Elang mulai tidak seimbang, dan ia mendengar deru napas yang tidak beraturan sedari tadi.
"Woi, kenapa lu?"
BRUK...
Bulan terpaku setelah melihat Elang jatuh pingsan. Ia pun mencoba membangunkan Elang lagi, namun tak ada jawaban darinya, dan kebetulan Kevin datang dan membantu memapahkan Elang ke ruang kesehatan.
Penampakan Angkasa yang kedepannya akan menjadi Maru Elang. Cara apa yang akan digunakan Elang agar mendapatkan Bulan?