Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 73



Elang mulai belajar tentang apa yang harus ia jawab di perlombaannya nanti. Ia mengernyitkan dahinya, sepertinya ia mengetahui tentang ini.


"Tulisan siapa ini...?" Gumam Elang sambil memperhatikan tulisan itu dengan seksama.



"Bulan...?" Gumam Elang, Ia mencoba mengingat nama itu.


"Bulan... Bulan..." Kembali lagi, ketika ia mengingat nama itu, kepalanya kembali sakit. Seperti tidak boleh jika mengingat nama itu.


Elang pun mengenyahkan pikirannya dan memilih keluar untuk mencari angin. Tidak lupa ia pamit pada mamahnya untuk keluar sendiri.


Elang terduduk di taman sendiri, tanpa ada seorang pun yang menemaninya. Ia melamun memikirkan Bulan lagi, lalu ia mengingat satu orang lagi. Kemana orang yang pernah ditolong olehnya? Ia melihat ponselnya, wanita itu tidak pernah mengiriminya pesan sekali pun. Padahal sudah mau satu bulan pasca bertemu.


Tepat sekali saat ia tengah melamun sendiri, seseorang menghampirinya dari belakang, mengejutkannya.


"Lang? Ngapain sendirian disini weh?" Tanya nya bingung.


"Eh?"


"Mmh! Apalagi loe yang gak pake jaket kek gini, loe bisa mimisan lho..." Lanjutnya lagi, elang kembali mengingat ingat wajahnya.


"Lyli! Iya gak sih?!" Tanya Elang senang.


"E,eh?! I,iya..." Jawab Bulan malu.


"Ahahaha, kebetulan kita ketemu. Duduk bentar sini," Ajak Elang padanya, bulan mengangguk senang.


Mereka mengobrol hal yang menyenangkan sampai Elang tertawa tawa, walaupun elang belum bisa mengingatnya, ia tetap senang melihat Elang yang sehat begini.


"Eh, loe udah makan belom?" Tanya Bulan padanya, Elang menggelengkan kepalanya cepat.


"Belum," Jawabnya simpel.


"Ngebakso yuk, deket disana." Ajak Bulan padanya.


"Boleh," Jawab Elang menerima ajakannya.


Mereka pun makan bakso bersama. Bulan mencoba mengingatkan Elang dengan hal hal yang pernah mereka lakukan dulu. Elang melihat ke sekelilingnya.


"Kenapa Lang?" Tanya Bulan padanya.


"Kayak Deja vu," jawab Elang tetap memandangi sekitar.


"Oh iya? Sama siapa?" Tanya Bulan senang, ia pasti mengingat nya kan?


"Entah, gua gak inget. Tapi bakso nya enak banget sih... langganan ya?" Tanya Elang padanya.


"Iya, ini langganan (Kita) banget, gue selalu kesini dulu," Jawab Bulan lagi, mencoba santai menghadapi Elang yang sekarang.


"Ngomong ngomong nih! Gua udah pernah ngasih nomor gua, tapi loe sama sekali gak pernah chat gua tau! " keluh Elang merajuk pada Bulan, bulan hanya hahah heheh saja mendengar keluhan Elang lagi.


"Gue sibuk sampe gak pernah chat elu, maafin ya...? Di maafin gak?"


"Tapi loe pernah chat orang lain selain gua?" Tanya Elang lagi, bulan segera menggelengkan kepalanya cepat.


"Nggak, sama sekali gak pernah. Gue kan bilang gue sibuk, kalo gue gak ngechat loe, berarti gue juga gak ngechat orang lain bege, gimane sih...?" Jawab Bulan cengengesan, membuat Elang terkekeh karenanya.


"Eh, loe itu uniq banget lho, sayang kalo belom punya pacar," Ucap Elang tiba tiba.


Deg!


Bulan yang sedang minum es jeruk itu tiba tiba tersedak karena ucapan Elang.


"Eh, eh eh?! Jangan mati! ini minum teh anget punya gua!" Tawar Elang pada Bulan, Elang tak diizinkan membeli minuman dingin karena kondisi jantungnya yang tidak boleh menerima sesuatu yang dingin dingin dulu.


"Apa loe bilang? Pacar?!" Tanya Bulan kaget.


"Iya, pacar... Emang nya kenapa? Salah ya?" tanya Elang polos.


"Kalo gitu... Loe mau jadi pacar gue?" Tanya Bulan bercanda, Elang hanya memalingkan wajahnya, menatap bakso yang belum habis.


"Ya mau mau aja... Tapi kan gua udah punya pacar, gak mungkin lah gua dua-in, gua kan bukan cowok brengsek yang mau sama cewek ini cewek itu," Jawab Elang tertunduk malu, padahal dulu ia adalah fakboy terkenal di bandoeng.


"Gitu... siapa pacarnya?" Tanya Bulan lagi, Elang kembali menggelengkan kepalanya dan menjawab bahwa ia tak ingat siapa wanita itu.


"Hmm... semoga loe bisa inget sama pacar loe ya?"


'Padahal jelas gue udah ada depan loe... dasar b*bi gemez.... ampun... dah!' Batin Bulan geram.


"Aamiin... makasih doanya Ly, gua jadi rada tenang kalo sama loe." Jawab Elang tersenyum.



"Loe kudu janji. Loe harus sempetin buat chattan sama gua, sampai gua ketemu sama pacar gua lagi. Gua udah bilang kalo gua nyaman banget sama loe, jadi... jangan pernah ninggalin gua ya, apapun keadaannya." Ucap Elang sambil terus mengeratkan pelukannya.


"Iya... gue bakal chat lu, malam ini juga deh. Jadi, loe juga janji harus bales chat gue, oke?" Jawab Bulan setuju, ia berusaha melepas pelukan Elang.


Mereka pun saling melambaikan tangan dan pergi ke rumah masing masing. Elang senang karena dapat berjumpa dengan Lyli lagi, terlebih lyli dapat menenangkan pikirannya yang sebelum nya stress.


"Mamah... Elang bawa martabak^^" Ucap Elang yang baru saja sampai di rumah.


"Kamu kemana aja nak? kenapa telpon mamah gak di angkat hm? kamu gak kenapa napa kan?" Keadaan Elang yang amnesia ini lebih mencemaskan daripada Elang yang biasanya. Elang terkadang lupa jalan dan arah sampai harus tersesat. beruntung jam dari bapak dapat melacaknya.


"Oooh... Abis jalan jalan bentaran mah, nih, martabrak nya dimakan ya...?" Jawab Elang yang membuat mamahnya terkejut.


"Bukannya ini kesukaan kamu?" Tanya Mamah lagi.


"Elang udah puas makan, jadi mamah jangan kuatir. udah banyak yang elang makan tadi," Jawab Elang lagi, setelah itu ia pamit untuk segera tidur.


Setelah itu, Elang kembali berbaring di kasur empuknya. Ia menutup wajahnya karena masih malu dengan perlakuan nya tadi kepada Lyli (Bulan).


"Bisa bisanya gua gitu... Maapin Elang ya...? elang refleks kayak gitu, ya allah," Ucap Elang lagi, tapi ia kembali tersenyum senang sampai rasanya akan bermimpi indah.


Akhirnya, acara ulang tahun sekolah pun tiba...


Mereka berkumpul di lapangan sesuai dengan kaos ciri khas per jurusan. Mereka melaksanakan upacara terlebih dahulu, lalu bersiap untuk lomba yang pertama.


"Maraton ya? Loe cepet siap siap,"


"Mana Bulan? Dia kan yang ikut maraton,"


"Yaa! Gue disini!" Teriak bulan menyahut kedua temannya dari kelas B.


"Kalo gitu, semangat lan! Gue terus dukung loe!"


"Okesip! Makasih banyak!!!" Jawab Bulan senang.


Bulan sedang bersiap siap di lapangan, ia melihat ada Elang yang menyemangatinya. Bulan tersenyum senang dan melambaikan tangannya pada Elang.


"Semangattttt!!! Loe harus semangat!" teriaknya kencang.


Dor!


Pistol tanda dimulainya lomba pun dinyalakan, Bulan berlari sekuat tenaga agar ia dapat memenangkan pelombaan itu, demi Elang. Kini seperti terbalik, Bulan yang lebih memperhatikan Elang, Elang yang sedikit tidak peka karena ingatannya.


Deg! Deg!


Entah kenapa jantung nya kembali berdebar dengan cepat, dan terkadang melambat. Ia sudah merasakan bahwa jantungnya akan kembali sakit, padahal ia sudah transplantasi jantung.


"Vin... Gua izin ke belakang." Ucap Elang lirih.


"Kenapa lang?" Tanya Kevin padanya.


"Nggak tau, jantung gua sakit..." Jawab Elang sambil memegang dada kirinya.


"Yaudah, gua anter ke UKS ya? Loe istirahat dulu disana," Ucap Kevin padanya, Elang mengangguk pasrah.


Setelah perlombaan, ia celingak celinguk mencari Elang. Kemana ia pergi? padahal baru saja ia menyemangatinya. Bulan akhirnya pergi ke kelas nya untuk mencari Elang.


"Elang... Elang loe dimana?" Bulan berteriak agar Elang menyahut panggilannya.


Ting!


Entah kenapa Bulan terpikirkan kalau Elang ada di UKS, Akhirnya ia berlari ke UKS untuk menemukannya.


"Elang?!" Bulan mematung melihat Elang yang menangis sambil memegang dadanya. Ia buru buru menghampirinya dan menenangkannya.


"Lang, loe kenapa lagi...?" Tanya Bulan khawatir.


"Jantung gua... Jantungnya..."


"Syuuut... udah udah. Dimana obatnya? biar gue bawain," Bulan menyela ucapannya, karena sudah tahu kondisi nya.


"Udah... sama kevin..."


"Yaudah... loe sekarang harus tenang... Jangan panik panik, nanti makin sesek, makin sakit... udah ya...? hm?"



Bersambung...