
Tidak terasa Sudah satu minggu Elang terbaring di rumah sakit. Akhirnya ia bisa pulang ke rumah nya. Kini sudah menjadi urusan masing masing, Elang tidak memikirkan Bulan, tapi Bulan masih sibuk memikirkan Elang. Setiap kali ia diam, pasti ia selalu teringat pada Elang.
"Mau istirahat di rumah dulu apa gimana?" Tawar mamah pada Elang.
"Nggak mah, soalnya Elang udah bosen istirahat di rumah sakit," Jawab Elang.
Elang dinyatakan mengalami Amnesia Retrogarade dimana ia kehilangan beberapa memorinya sebelum terjadinya kecelakaan. Jadi ia masih bisa mengingat keluarga bahkan teman temannya tapi tidak bisa mengingat bulan dan kejadian apa saja yang sudah pernah ia alami sebulan kebelakang.
William menyarankan agar Elang menjalani dua terapi agar mempermudah mengingat memori nya yang lampau. Namun Longwei belum membicarakan hal itu dengan Elang, biarlah Elang seperti ini dulu sampai batas waktu tertentu.
"Jadi besok mau langsung sekolah?" Tanya Mamah padanya, Elang hanya mengangguk setuju.
"Mmm... Kamar Elang yang mana mah?" Tanya Elang pada mamahnya.
"Abang gak inget?" Tanya Adit kaget, Elang hanya menggelengkan kepalanya.
"Nggak, soalnya beda sama rumah yang dulu," Jawab Elang, membuat Adit melongo. Rumah dulu yang mana maksudnya? Jadi ini rumah baru mereka? Ingatan Elang benar benar kacau.
"Rumah dulu yang mana dek...? Dari dulu ini rumah kita, kita gak pernah pindah rumah lho," Sahut Zhao lelah.
"Lah enggak, rumahnya gak kayak gini, beda banget asli." Jawab Elang yang membuat adit tertawa setengah sedih.
"Aneh... Bener bener aneh..." Gumam Adit ikut capek.
Adit pun menunjukkan kamar Elang dengan senang hati dan ikhlas. Elang terkejut melihat kamarnya yang sangat lega dan mewah, ia tak percaya apakah itu kamarnya atau bukan.
"Ini kamar abang?" Tanya Elang kagum.
"Lah iya... kenapa lagi emang bang? Kekecilan?" Tanya Adit balik.
"Kegedean ini mah, kayak kamar sulthan dong..." Jawab Elang, adit hanya tersenyum tipis saja.
"Abang yang minta kamarnya di gedein, biar nyatu sama ruang tamu," Ucap Adit pada Elang.
"Masa? Kapan abang bilang gitu?" Tanya Elang lagi.
Setelah mengantar Elang ke kamar, Adit duduk bersama orang tuanya dan Zhao di ruang tamu.
"Mamah.. Si aa amnesia nya maju mundur, adit bingung," Keluh Adit yang berbaring di sofa, kepalanya ia tidurkan di paha mamahnya
"Maju mundur gimana ini teh dek?" Tanya mamah nya lagi.
"Maju mundur, Dia gak inget Kak Bulan, dia juga gak inget ini rumahnya, terus dia juga gak inget kamarnya di rombak dan di satuin sama ruang tamu! parah gak sih mam?" Ucap Adit menjelaskan perihal kakak nya.
"Waah... parah ini mah mah, gimana dong," sahut Zhao ikut bingung.
"Gak papa, yang penting Elang masih inget sama kita dan temen temennya. Mamah juga kaget kenapa bisa gak inget sama neng bulan? Mamah tau gimana perasaan neng bulan, soalnya mamah juga pernah gitu," Ucap mamah melirik longwei tajam.
"Why?" Tanya Longwei yang sadar di tatap istrinya.
"Nggak, nostalgia aja. Bapak kalian juga pernah amnesia dulu," Jawab Mamah pada anak anaknya.
"Oh iya? Kenapa?" Tanya Adit penasaran.
"Kejadian nya udah lampau, jadi kalian gak perlu tahu," Jawab Mamah sambil tersenyum.
"Istirahat gih, Adek kamu udah ngantuk, bobo gih," Ucap Mamah sambil mengusap rambut Adit.
"Mmmhh... Nanti aja..." Jawab adit manja.
"Nah, nah, penyakit manja nya kambuh nah," Sahut Zhao, dan adit hanya haha-heheh saja.
Di kamar...
Elang juga ternyata tengah memikirkan sosok bulan, siapakah bulan? Kenapa ia bisa berapacaran dengannya? Apa yang terjadi di antara mereka? Janji apa yang sudah di buatnya? Semuanya ia pikirkan, namun, lagi lagi kepalanya sakit jika memikirkan hal itu.
"Siapa ya nama ceweknya... Kenapa gua jadi pelupa sih ah! Kesel banget!" Gumam Elang mengomel sendiri.
Ia pun bangun dan menyiapkan peralatan sekolahnya, ia lebih baik mengeyahkan pikirannya dulu daripada nanti ia tumbang lagi.
"Jangan kan nginget cewek itu, gua sendiri bahkan lupa pernah ikut lomba lomba kayak gini," Gumam Elang lagi yang memandangi banyaknya piagam dan penghargaan atas dirinya.
Keesokan harinya...
Elang nampak kebingungan di halaman rumahnya, tentu saja membuat Bapak bertanya ada apa.
"Have you forgetten where you own school is? Astaghfirullah... Elang... Elang... You are there..." Ucap Bapak yang tertawa setengah kasihan. Bisa bisa ia melupakan semua arah.
Alhasil, bapak harus mengantarkannya dulu ke sekolah dan memberi tahu jalan mana yang harus ia pilih ketika pulang nanti. Tidak lupa bapak juga menitipkan Elang pada Kevin yang kedepannya akan mengurus segala pengobatannya.
"Hei yoo, Vin! Ketemu lagi kita, dikira gak akan satu sekolah," Sapa Elang senang.
"Kemane aje lu??? Masa gak inget kalo gue ini dokter pribadi loe sih? Hayu masuk kelas," ajak kevin padanya.
Elang mendapat banyak sapaan dari teman temannya, padahal bulan lewat tepat di depannya, tapi ia tetap saja tak menyadarinya.
Ia pun akhirnya masuk kelas, ia juga tak ingat siapa saja nama teman temannya. Elang belajar seperti biasa, namun Bulan terus saja di bully. Ia sudah tidak punya harapan lagi kepada Elang. Sekarang ia tak berani melawan karena tidak ada keberanian. Kyle selalu membelanya, tapi ia tetap tidak diizinkan membantu oleh Bulan.
"Sekarang loe rasain sendiri! Semua temen temen loe gak akan ada yang ngebela loe! Sok sok-an banget loe kayak gitu ke gue! Loe kira loe siapa hah?! " Ucap Queenza di gudang belakang sekolah bersama teman temannya.
"Duh... tangan gue gatel pengen nabok, boleh gak siiih?"
"Hh, tabok aja padahal, gak usah segan segan," Jawab Queen mempersilahkan.
PLAK! PLAK! PLAK!
Mereka tertawa tawa saat tamparan melayang ke wajah bulan. Lama lama bukan hanya tamparan, tapi berubah menjadi tindak kekerasan, mereka memukul wajah Bulan menggunakan tenaga, Apa daya Bulan? ia benar benar sudah lelah, ia tidak mau melawan mereka lagi.
"EHEM!" Deheman seseorang itu membuat mereka kaget lantas meninggalkan Bulan.
"Haaaah..." Ia hanya bisa menghela nafas panjang.
"Makasih..." Gumamnya lalu pergi meninggalkan gudang itu.
Saat hendak mengganti baju, baju di lokernya bahkan sudah di robek dan banyak coretan ancaman menyuruhnya mati. Terpaksa ia meminta izin memakai baju olahraga pada pak guru.
"Bulan, kenapa sama wajah kamu?" Tanya Pak guru kaget melihat lebam di wajah Bulan.
"Gak papa pak, di cakar kucing(Br*ngsek) biasa," Jawab Bulan dengan senyuman.
"Ya ampun... buru buru di obatin ya? Jangan dibiarin gitu aja," Ucap bapak mengingatkan Bulan. Bulan hanya tersenyum mengiyakan.
Ia pun berjalan lunglai menuju kelasnya, namun ia ditabrak seseorang yang membuatnya terjatuh.
"Maaf! Gua gak sengaja," Ucapnya sambil berusaha menolong Bulan.
"Gue gak pa-- Elang?!" Kata Bulan kaget.
"Eh? Loe kenal gua?" Tanya Elang heran.
'Hmm... Udah gue duga dia gak kenal gue,' Batin Bulan sedih.
"Gak usah gak papa, gak usah dibantuin, Gue bisa kok--"
"Loe luka? Loe kenapa?!" Tanya Elang panik.
"Bukan apa apa, bukan urusan loe," Jawab Bulan ketus.
"Ck, ini jadi urusan gua karna gua yang liat loe kek gini, cepet ikut gua ke UKS," Titah Elang sambil menarik tangan Bulan.
"Ah apaan sih?! Loe maksa maksa gue! Gue bilang gue bukan urusan loe b*bi!" Bulan sengaja melontarkan kata kasar agar elang menjauhinya, Elang kan tidak suka cewek yang bermulut kotor.
"Gak peduli gua mau dibilang apa, yang penting ikut gua ke UKS titik." Si Elang yang keras kepala.
Terpaksa Bulan mengikuti Elang karena tangannya di genggam Elang agar tak kabur. Bulan duduk di bankar dan menunggu elang yang sedang pergi entah kemana.
"Haaah... disaat loe amnesia aja masih peduli sama gue? Loe itu apaan sih?" Gumam Bulan.
Tak lama kemudian, Elang datang sambil membawa es batu di tangannya, ia tersenyum sumringah pad Bulan.
"Buat apa itu anjir!"
Bersambung...