Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 49



Elang masih tertawa bersama bapaknya di luar ruangan. Masih membayangkan hal tadi saat melihat ibu ibu sewot itu mencela Elang.


"Haah... haah... aduh... ngakak... sampe jantung elang sakit... adduduh..." Lirih Elang sambil memegang dadanya.


"Come on, don't laugh anymore. I'm tired of seeing you laugh like that," Jawab Bapaknya masih tertawa juga.


"Aduuh... kalo gitu, Elang mau ke kelas lagi, bapak juga harus kerja lagi. Maapin udah ganggu waktunya ya pak, makasih juga udah liat Elang tadi,"


"It's okay, anything about yourself,"


Elang pun menyadari kalau sekarang adalah pelajaran olah raga. Ia pun segera mengganti bajunya dan pergi menuju lapangan.


"Halo semuanyaa...." Sapa Elang ceria.


"Darimana loe? Loe udah lewat jam nya pak Reza." Tanya Vino setelah membenarkan tali sepatunya.


"Gua kan ada sidang tadi, biasa... anak anak yang mau maen sama gua. Mereka pengen lebih deket makannya kek gitu," Jawab Elang santai.


"Loe beneran masuk sidang? Gimana hasilnya?" Tanya Vino yang menarik perhatian orang banyak, membuat mereka mengerumuni Elang juga.


"Eh?! Hasilnya baik kok... Gua yang menang dalam kasus ini, hahahah,"


"Dia kan Elang, Raja Bacot," Sahut Theo menarik Elang keluar dari kerumunan.


"Makasih Tetew, ngomong ngomong, anak laknat itu kemana?" Tanya Elang celingak celinguk.


"Do.wan? Dia pergi ke gudang olah raga," Jawab Theo dingin.


"Oooh...gitu—"


"Sama Bulan," Lanjutnya yang membuat Elang melirik padanya.


"Bulan?!"


"Hm, kelas kita di satuin karna mau ngadu basket, yang disuruhnya Bulan sama Do.wan, sekarang mereka disana dan belom balik lagi," Jelas Theo yang berbicara cukup panjang.


Tanpa berbicara lagi, Elang segera pergi ke gudang olah raga untuk mencari Bulan. Pantas saja mereka belum keluar, ternyata ada yang mengunci mereka berdua di dalam, Elang cepat cepat membukakan pintu itu.


Dilihatnya Bulan yang sedang mencoba membangunkan Do.wan yang tertidur di paha Bulan.


"Bulan, maksud loe apa?" Tanya Elang dengan tatapan tajam seperti hendak memaksanya.


"Elang?! Jangan salah paham dulu, gue bakal jelasin semuanya, sekarang tolong gue dulu, do.wan pingsan gara gara...


"Do.wan, bangun loe. Gak usah pura pura bengek kayak gitu, gua tau loe suka sama bulan kan??? Bangun sebelum gua nambah emosi sama loe do.wan!"


"Lang! Do.wan pingsan! Wajahnya udah pucet daritadi, denger penjelasan gue dulu coba...


"Gua tuh udah berusaha keras buat dapetin loe lan, tapi loe malah enak enakkan sama cowok lain?! Loe anggap gua apa lan...?" Sahut Elang lagi, wajahnya sudah sangat merah seperti akan menangis. Masa sih?


"Lang, denger dulu! Do.wan pingsan gara gara demam, badannya panas daritadi! Loe mau gue sentak hah?! Gue udah sabar buat sekarang! Jangan bikin gue nambah emosi anjir!"


Deg!


Entah kenapa sedari tadi detak jantungnya berdetak tidak normal, dadanya terasa lebih sakit dari sebelumnya. Apakah penyakitnya akan kambuh sekarang?


"Lang? Loe kenapa lang?" Tanya bulan khawatir juga.


"Huufftt..."


Elang menghampiri Bulan dan do.wan, ia menatap do.wan cukup lama. Ingin memastikan dulu, apakah do.wan benar benar pingsan atau tidak?


"Naekin dia ke punggung gua, gua bakal bawa dia ke UKS," Ucap Elang sambil membalikkan badannya.


"I,iya."


Bulan pun membantu Do.wan naik ke punggung Elang dan ikut bersama Elang ke UKS. Ternyata penyebab pingsannya do.wan karena ia terkena tipes. Dokter di sekolah Elang pun segera membawanya ke rumah sakit.


Bulan dan Elang masih canggung satu sama lain, entah darimana bulan harus memulainya agar elang mengerti.


"Gue minta maaf dulu, tadi gue udah nyentak loe kasar, gue gak akan gitu lagi," Ucap Bulan meminta maaf pada Elang.


"Haaah! Gua gak bisa lama lama marah sama loe, loe nya kemanisan sih... haha. Udah udah, gue juga salah karna gak denger penjelasan loe dulu," Jawab Elang sambil mengacak rambut Bulan kasar.


"Anj... Astaghfirullah! Gak boleh kasar!"


"Ehek, itu loe tau... Kalo sama elang, harus baik ya? Gak boleh jadi anjing galak," Ucap Elang menasehati.


"Eh?! Barusan loe bilang?" Tanya Bulan sambil menunjuk Elang.


"Anjing? Emang salah?"


"Masa gua harus bilang go-gok sih... kan gak etis ah," Jawab elang cemberut.


"Hiyahiya, hayu ke lapang, gak bisa lama lama di UKS, gue harus menang dari loe sekarang," Jawab Bulan sambil menarik tangan Elang.


"Okey dokey boss,"


Begitulah mereka, Mereka termasuk pasangan yang cukup humoris, walaupun elang atau bulan marah, mereka tidak akan pernah bisa marah lebih dari dua jam. Dan pasti salah satu dari mereka akan meminta maaf.


Setelah pulang ke rumah...


Elang melihat mamahnya terburu buru untuk pergi, ia kira ada apa, ternyata perihal do.wan yang masuk rumah sakit tadi.



"Elang ikut mam," Ucap Elang yang baru saja datang.


"Nggak usah, kamu istirahat dulu aja. Baru dateng kan? Pasti capek," Jawab Mamah sambil memakai jam tangannya.


"Mam, gak papa mam. Cape abis debat doang, cape mulut. Yah? Biarin Elang ikut, elang yang ambil kemudi deh," Ucap Elang menawarkan diri.


"Haaah... kamu ini emang keras kepala jadi anak, tuh ambil. Kuncinya di atas meja,"


"Siiiippp!"


Elang pun mengganti bajunya secepat kilat, bukan hanya santri saja yang bisa sat, sit, set, Elang pun mahir melakukannya.


"Yo, elang siap!"


Elang pun mengambil pedal dan melajukan mobilnya, sudah lama sekali ia tidak melakukannya.


" Do.wan tipes ya mam, " Kata Elang di mobil.


"Kamu udah tau?"


"Elang yang anter dia naek ambulan," Jawab Elang santai.


"Kok bisa gitu sih a..?"


"Aa gak tau mam, tau tau do.wan udah ada di paha Bulan, enak banget wajahnya." Jawab Elang, ia akan memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Aa' Kalau mamahnya memanggilnya demikian.


Setelah sampai di rumah sakit...


Mamah langsung menanyakan dimana Do.wan dirawat. Mereka pun segera pergi ke ruangan itu, nampak Zhao yang tengah menahan cairan merah dari hidung Do.wan yang sepertinya sedari tadi sudah mengucur deras.


"Teteh?! Kunaon eta?! " Tanya mamah kaget saat melihat putrinya menahan darah yang keluar dari hidung Do.wan.


"Mamah! Daritadi teteh udah mencet bell berkali kali tapi perawat gak ada yang dateng!" Seru Zhao panik.


"Gak usah panik teh, biar Elang panggilin," sahut Elang sambil hendak melangkahkan kakinya keluar.


"SUSTER!!! SUSTER CEPET DATENG ATUH HEI! GUA UDAH MANGGIL BERKALI KALI! MAU GUA SANTET?!" Zhao Yang tiba tiba kemasukan Reog berteriak sangat kencang.


"Uuuh... Takut anjir, maennya dukun," ketua Elang mengelus dadanya.


Zhao berjalan menuju keluar ruangan Do.wan, ia tidak peduli darah yang menetes dari tanganya dan mengotori bajunya. Rasa peduli nya sangat tinggi sampai sampai ia marah besar, padahal elang belum pernah melihat zhao marah bahkan mengamuk begitu.


Giliran Elang yang menampung darah yang memgucur dari hidung do.wan, napasnya mulai memberat disertai wajah yang sudah pucat sekali.


"Sesek... sakit..." Lirih Do.wan meringis kesakitan.


"Bentar ya Do, suster nya bakal dateng," Ucap Elang menenangkan Do.wan.


Tak berselang lama, akhirnya sekitar 5 suster dan 3 dokter memasuki kamar Do.wan bergantian, menggantikan semuanya, mulai dari baju, kasur, dan alat alat lainnya. Dokter juga memasangkan masker oksigen pada do.wan agar bisa bernapas dengan normal.



Elang hanya bisa melihatnya yang sekarang tidak berdaya.


"Kasian banget sih loe... dateng sini langsung sakit tipes, orang china mana betah ama cuaca di indonesia? Huuuh... cepet sembuh cintahnya mamah," Ucap Elang julid.


Keberadaan elang membuat do.wan tidak betah saja, ia ingin sekali membalas elang, namun keadaannya tidak memungkinkan membalasanya hari ini.


"Diem..." hanya segitu peringatan dari do.wan yang membuat elang tertawa lagi.


benar benar saudara laknat. Do.wan tidak akan pernah mematikan mode julidnya kecuali elang jauh darinya.


bersambung...