
Keesokan harinya...
Elang bangun subuh sekali karena ia tidur lebih cepat dibanding jam tidur malam biasanya. Seperti biasa ia melakukan aktifitasnya seperti shalat subuh, mandi, dan lain lain. Masih ada waktu sampai ia berkencan dengan bulan.
"Bang, sekarang mau kemana? " Tanya Adit yang ke dapur mengikuti Elang.
"Mau kencan dong... hahahaha, " Jawab Elang cengengesan.
"Dih, gak akan bisa. Bapak pasti nyuruh loe ngelakuin sesuatu sekarang, " Ucap Adit memberi peringatan agar Elang tak kemana mana.
"Lah? Emang kenapa? " Tanya Elang penasaran.
"Denger denger sih... Do wan mau kesini, katanya sih itu juga. Belom tentu pasti, " Jawab Adit sambil menuangkan susu hangat ke dalam gelas.
Deg!
Mendengar nama itu di sebutkan, membuat jantungnya berdebar kencang. kenapa manusia laknat itu mesti jauh jauh datang dari China kemari? Mulai dari sekarang Elang pasti tidak akan bisa tertidur.
"Kenapa mau kesini? "
"Gak tau. Kata bapak dia libur lama disana, makannya mau kesini. " Jawab Adit santai.
'Bodo amat lah, semoga aja dia gak liat bulan,' Satu kekhawatiran Elang, takut kalau bulan tahu ada do wan dan do wan menggodanya.
Elang dan Adit bekerja di dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Jangan salah, Adit juga pandai memasak. Sudah jadi turun temurun keluarga dari pihak mamanya memiliki chef rumahan, Yaitu adik adiknya sendiri.
Keluarganya mulai menikmati sarapan yang dibuatkan Elang dan Adit. Sampai sekarang Elang masih was was jika Do wan beneran datang ke rumahnya.
Tidak terasa jam menunjukkan pukul 9, Elang segera bergegas ke kamarnya dan bersiap siap untuk kencan dengan bulan.
Namun...
Bulan kembali menelpon Elang bahwa ia tak bisa berkencan dengan Elang dengan alasan Chiko kembali tumbang setelah perlombaan. Ia harus menjaga Chiko di rumah sakit. Mau tidak mau Elang harus membatalkan janjinya juga karena ia tidak ingin memaksa bulan. ia akan menurut pada semua perkataan Bulan.
"Tapi! Kalo loe mau jengukin gak papa kok, gue masih ada di rumah. Jadi... k, kita kesana bareng, "
"Eh? gak papa nih?" Tanya Elang senang, bulan pun mengatakan kalau ia tidak apa apa pergi bersama Elang ke rumah sakit.
Dengan segera ia mengganti pakaian nya dan membawa buah buahan untuk Leon dan Chiko sekalian. Tak tanggung tanggung si Elang, ia rela pergi ke pasar lagi untuk membeli buah dan mendapatkan diskon dari ibu ibu penjual buah karena menyukai Elang yang ramah.
Ia meminta izin pada mamah dan bapaknya untuk menjenguk teman di rumah sakit sekalian menjemput Bulan. Mamah sih sudah mantap dengan tujuan Elang, begitu juga bapak yang selalu mengingatkan Elang hal yang baik selama di jalan.
Setelah itu, Elang melaju menuju rumah Bulan dan menjemputnya. Bulan juga selalu tepat waktu, ia tidak akan pernah membuat seseorang menunggunya lebih lama.
"Langsung naek aja? " Tanya Bulan.
"Iya, hayu. Nih pake helm nya, "
Selama di perjalanan...
Bulan tak berani memeluk Elang karena masih canggung. Tapi Elang menyarankan agar memegang bajunya saja supaya Bulan tidak jatuh.
"Lang, loe tau darimana Leon masih disini? " Tanya Bulan penasaran.
"Soalnya kemarin papah kevin kasih tau gua ada pasien yang dateng abis acara sekolah, namanya Leon. Gitu katanya, " Jelas Elang dan bulan mengangguk paham.
"Kalo Chio gimana? Kenapa bisa tumbang lagi? " Tanya Elang penasaran, biasanya kalau Chiko tumbang dan sampai masuk rumah sakit itu terlalu parah.
"Nggak tau El, gue lagi mandi tiba tiba ambulan dateng bawa Chio ke rumah sakit. Katanya Emang pas disana juga dia udah sakit, cuma maksain aja karna gak mau kecewain papah. Inhaler udah gak mempan lagi kemaren, makannya cepet cepet dibawa ke rumah sakit. " Jawab Bulan kembali sedih.
"Mmm... Gitu ya? "
'Pantesan gak banyak omong dari kemaren. Apa jangan jangan tiap malem suka bengek? Angin malem disana kan kek nusuk kulit. Bodonya gua... kenapa bisa bisanya gua gak bangun pas denger suara mengi Chio?! ' Batin Elang merasa bersalah juga.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit...
Bulan langsung menunjukkan dimana ruangan Chiko di rawat. Mulai dari masker oksigen, infusan, alat alat yang menempel di tubuh Chio banyak, pikir Elang. Elang melihat kondisi Chiko yang mulai membaik, dadanya tampak naik turun sejalan dengan hembusan nafas yang teratur, membuat Elang tenang dan bersyukur melihatnya.
"Belom bangun bangun ya? " Tanya Elang pelan.
"Iya, mamah bilang dari semalem Chio kejang kejang El, makannya sering banget dokter ngontrol dia, sekarang mungkin udah gak apa apa, mungkin sih... gak tau juga, semoga aja nggak. " Jawab Bulan sambil menatap Chiko.
Elang mengangguk pelan dan mengajak Bulan duduk dulu untuk membicarakan perihal tempat yang ingin dituju mereka nanti malam. Bulan sih inginnya ke bioskop, ia tak mau mengajak Elang ke wahana lagi.
"Kalo ke taman bermain gimana? mau gak? " Tawar Elang padanya, aaaah! padahal itu adalah tempat yang ingin ia hindari.
"Gua emang punya jantung bawaan, gua janji deh, gak akan kesana lagi. Gua juga ngerti kondisi gua sekarang, jadi... mau ya? kesana? Kita naik sangkar aja, "
"Iya deh, semua yang loe mau aja. asal jangan ke tempat yang bikin gue jantungan, "
"Okee~"
Di saat mereka sibuk mengobrol, Elang mendapati Chiko yang tengah batuk, menandakan bahwa Chiko telah terbangun.
"Uhuk, uhuk, " Suara batuk Chiko memecahkan keheningan, membuat Elang dan Bulan yang sedang duduk di sofa beranjak menghampirinya.
"Bang Chio, udah sadar bang? Apanya yang sakit? " Tanya Bulan mengelap peluh Chiko di dahinya.
Chiko hanya diam, ia belum sepenuhnya tersadar, matanya pun masih sedikit tertutup, masih enggan untuk terbuka, namun ia berusaha membukanya. setelah terbuka sempurna, ia menatap sekelilingnya, mencoba mencerna sesuatu. Chiko tersadar kalau ia berada di rumah sakit. ia memandangi punggung tangan kirinya yang tertancap jarum infus.
Tak berselang lama, ia merasakan tenggorokannya kering.
"Lan... " Suara Chiko menyisakan uap napasnya di masker oksigen.
"Iya bang? kenapa? apa yang sakit? " Tanya Bulan lagi.
"H, haus... " Kata Chiko terbata. namun Bulan sedikit diam sejenak, ia pun melirik Elang dan mengisyaratkan apa kata Chiko barusan.
"Haus katanya beb, " Jawab Elang ingin tertawa, padahal Bulan jelas di dekat Chiko, tapi bisa bisanya tidak terdengar.
"Oooh... haus, bentar bang, Gue ambilin dulu, " Bulan segera mengambil segelas air dan sedotannya. Tak menunggu lama, ia segera menyodorkan sedotan itu pada Chiko.
"Bang, masker oksigennya dibuka dulu ya, " Titah Bulan lembut, namun Chiko tak berkomentar dan mengangguk pasrah.
Perlahan, Chiko menyeruput air yang langsung masuk membasahi tenggorokannya. Elang menatap Chiko iba, bisa bisanya ia benar benar sampai tak berdaya begini.
"Sekarang, apanya yang sakit? " Tanya Elang juga, mewakili bulan yang sedari tadi menanyakan hal itu padanya.
"gak... ada... " Lirihnya pelan, lagi lagi terlihat uap nafas Chiko yang menempel di masker oksigennya.
"Hmm... Jangan gini mulu dong bang... Gue sedih nih, " Ujar Bulan sambil memegang tangan kanan abangnya.
"Ma... af... " Hanya itu yang keluar dari mulut Chiko, ia nampak lelah sekali. Elang hanya tersenyum menanggapi Chiko dan Bulan.
Dokter pun datang untuk kembali memeriksa keadaan Chiko, ia bersyukur akhirnya Chiko terbangun dan tidak kejang lagi.
"Halo Chiko, gimana perasaan kamu sekarang? masih sesek? " Tanya Ayah Kevin yang memeriksa dadanya dengan stetoskop miliknya dan diberi anggukkan pelan oleh Chiko.
"Kalo gitu, kamu perlu istirahat yang cukup ya? Elang! awas di ajak maen maen, " Ucap Ayah kevin memperingatkan Elang sambil tersenyum.
"Hahaha, nggak kok. nggak akan dibawa terbang juga sama Elang mah om, santai... " Jawab Elang cengengesan.
"Hahaha iya ya, kondisi Chiko masih belum stabil, jadi jangan dulu di ajak ngobrol yang berat berat ya? " Ucap Ayah Kevin dan diberi anggukkan paham oleh keduanya, dan Chiko hanya memerhatikan apa yang di ucapkan oleh sang dokter.
"Lain kali, kalo udah ngerasa gak nyaman, atau sesek, langsung laporan ya? kata Rendy kamu kebiasaan kayak gini nih, jangan anggap asma itu hal sepele ya? Asma itu salah satu penyakit yang tingkat kematiannya itu terbanyak lho, " Jelas Ayah Kevin dengan lembut, berusaha menasehati Chiko yang katanya keras kepala soal penyakitnya. Chiko kembali mengangguk pelan.
Matanya kembali terpejam sesaat setelah Ayah Kevin menjelaskan hal tersebut padanya. Namun Ayah Kevin malah tersenyum karena ia memberikan efek obat tidur padanya tadi malam. jadi wajar saja masih ada pengaruh terhadapnya. Bulan memandangi tanganya yang digenggam Chiko. Terasa panas, begitu pikirnya.
"Bang, abang tidur? " Tanya Bulan yang tak mendapatkan respon dari Chiko.
"Baru kali ini gua liat Chiko yang bener bener tumbang, ngomong aja sepatah dua patah, " Jawab Elang dan diberi senyuman oleh Bulan. Ia bersyukur karena Elang teman baik Chiko yang selalu Chiko banggakan di rumahnya.
Setelah lepas dari genggaman Chiko, mereka beralih pergi untuk membesuk Leon di kamar VIP yang satunya lagi. Nampak pak kepala sekolah yang menjaga Leon diluar sedang tertidur. Mungkin ia juga lelah karena seharian menjaga Leon. tidak ada wali dari keluarganya yang datang menggantikan kepala sekolah.
Elang pun pelan pelan membangunkan pak kepala sekolah guna meminta izin menjenguk Leon di dalam. Pak kepala sekolah pun terbangun dan memberi izin Elang dan Bulan untuk menjenguk Leon.
"Dia gak mau makan seharian, orang tuanya juga gak ada yang mau besuk. " Ucap kepala sekolah itu sedih.
Drrrkkk....
Pintu geser itu terbuka oleh kepala sekolah dan terlihat Leon yang sedang tertidur menghadap lukisan bunga agar ia tak melihat siapa pun.
"Leon... ada temen kamu yang dateng, coba sapa, " Ucap Kepala sekolah sambil mengelus kepala Leon. ia sudah menganggap Leon seperti anaknya sendiri.
"Saya gak punya temen, suruh pulang aja, " Ketusnya membuat Elang agak kesal lagi.
"Loe masih inget gua? "
Deg!
Suara ini???