
Akhirnya sampailah mereka di UKS, Kevin segera memanggilkan Dokter sekolah untuk Elang, namun sayangnya, Dokter sekolah itu sedang pergi keluar dan akhirnya digantikan oleh beberapa anggota PMR yang ada disana, yah... Salah satu dari mereka juga adalah penggemar Elang.
Elang tak sadarkan diri hampir 30 menit lamanya, dan timbullah kekhawatiran kevin, ia sangat takut Elang kenapa napa, karena kevin sudah menganggap Elang seperti adiknya sendiri.
"Kenapa Si El bisa pingsan gini?" Tanya Kevin penasaran, tidak lupa chiko dan theo yang juga datang ikut menghampiri.
"Hmm... Faktor utamanya sih, Alergi sinar matahari," Ungkap Abyral yang memeriksa Elang, Linda tidak mengizinkan wanita yang menyentuh Elang, jadi dia hanya bertugas mengambil beberapa obat dan suntikan.
"Lah? Emang ada ya alergi sinar matahari? Ngaco loe mah, dasar bebek," Ketus bulan tertawa, masa ada alergi matahari sih? Aneh.
"Hmm... Gua jelasin nih Lan,Alergi matahari adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan timbulnya ruam merah gatal pada kulit setelah terpapar sinar matahari. Sebagaimana alergi pada umumnya, kondisi ini dapat terjadi dalam tingkatan yang ringan hingga berat, dan Elang kayaknya belum nyadar kalo dia kena Alergi matahari, kasian, wajahnya jadi merah banget," Jelas Abyral yang membuat Bulan kagum, yah... Bulan sempat menyukai Dior karena menurutnya dia adalah cowok keren.
"Walah... Bahaya gak tuh?" Tanya Chiko kemudian.
"Nggak begitu bahaya, tapi parah," Jawab abyral sambil melepas sarung tangannya.
"Wah... Keren..." Gumaman Bulan yang terdengar jelas di telinga Chiko.
"Kenape? Lu suka sama si Sam?" Tanya Chiko julid.
"Nggak, keren doang kayak Oppa," Jawab Bulan memerah.
"Cih, iya sih... Gak salah juga,"
Abyral yang memang seorang anak PMR dan sekaligus anak kepala divisi rumah sakit yang memang jadi terkenal karena keramahan dan ketampanannya. Dia juga sudah mulai membantu urusan medis di rumah sakit bersama ayahnya.
Kevin yang tidak bisa tenang karena Elang belum sadarkan diri pun mulai mendekati Elang dan menepuk nepuk pipi lembutnya.
"Lang, bangun lang, Masa mau tidur terus?"
Tanya Kevin sambil terus menepuk nepuk pipinya.
Karena usahanya tidak membuahkan hasil, akhirnya Bulan maju untuk mencobanya juga. Ia mendekatkan mulut kecilnya ke telinga Elang.
"Woey, Mau sampe kapan tiduran? Loe gak kasian sama temen temen lu yang daritadi nungguin loe bangun? Ini gua, Bulan, Gua gak akan kasar lagi sama elu, Mungkin," Bisik Bulan tidak yakin, ia tidak bisa menghilangkan kata kata kasarnya.
Menunggu itu sakit gaes;)
Ditunggu beberapa menit pun ia masih tak sadarkan diri sampai pada akhirnya, ia mengernyitkan dahinya ketika mendengar suara gaduh. Elang mulai membuka kedua matanya pelan, sambil menempatkan situasi disana.
"Gerah..." Gumam Elang pelan.
"Oooh... Gerah, Gua nyalain ya AC nya," Jawab Chiko sambil mengambil remote dan menyalakan AC di ruangan itu.
Kevin pun tersenyum lega melihat Elang yang sudah terbangun. Elang pun bangun untuk duduk sambil memasang wajah bingung.
"Kenapa nih... Eh?
Kevin pun secara tidak sadar memeluk Elang dan berkaca kaca, sebegitu sayangnya Kevin pada Elang. Elang pun hanya tersenyum tipis dan hendak menerima pelukannya, namun... Saat ia menyadari bahwa di tangan kanannya terdapat jarum...
DEG!
"Huaaaaaaa!!! Apaan ini?! Kenapa ada jarum suntik di tangan guaaaa?!!!!" Teriak Elang kaget, kevin pun melepas pelukannya karena kaget.
Tangannya mulai bergetar dan berkeringat dingin. Iya, Elang sangat takut pada jarum suntik, mengingat dulunya selalu di suntik dan suntikannya pernah patah didalam menyebabkan trauma pada Elang.
"Lepasin..." Kata Elang dengan tatapan tajam, membuat hati Chiko berdebar.
"Ck, drama amat sih loe! Bada gede takut jarum suntik," Ketus Bulan, tapi ia merasa gemas saat melihat ekspresi Elang yang hampir menangis itu.
Abyral pun kembali setelah ia memeriksa obat yang cocok untuk Elang. Namun ia terkejut saat darah itu naik ke atas.
"Eh?! Itu, itu darahnya naek!" Seru Abyral kaget, ia pun berlari menghampiri Elang.
"Lah tuh kan?! Darahnya naek!" Seru Elang semakin panik.
Untungnya Elang sudah berenergik sehingga tubuhnya kembali baik baik saja. Semuanya menghela napas panjang karena lega. Bisa bisanya mereka dibuat panik oleh Elang.
"Haduuh ... Loe ngapain Lang? Bahaya tau gak?" Ucap Abyral marah
"Gua kan gak tau... Gua takut banget di cucuk jarum," Jawab Elang kembali tertunduk bersalah.
CLAK
"Eh?" Elang mengelap sedikit hidungnya, Iya, dia mimisan.
Dan terjadilah kepanikan lagi, kalau sudah mimisan Elang bakal susah diberhentiin.
"Ampuun... Anak orang kok nyusahin gini," Bulan yang menggelengkan kepalanya, pusing melihat Elang yang begini.
Setelah berhenti...
Abyral pun kembali menjelaskan bahwa pembuluh darah di hidung elang juga tipis dan mudah sekali untuk mimisan, mungkin ia mimisan karena udara dingin dari AC, dan wajahnya pucat bisa jadi karena ia belum makan.
Karena bel sudah berbunyi, terpaksa semua teman teman Elang pergi ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya dan hanya menyisakan Bulan.
"Nih, makan sendiri," Kata bulan sambil menyodorkan Bubur pada Elang.
"Suapin dong... Tangan gua lemes nih, gara gara tadi si cucuk jarum," Jawab Elang sambil melirik tangannya.
"Ck, manjah banget sih ah, aby! " Panggil Bulan dengan nada mengadu.
"Ooii... Aby disini," jawab Aby sambil menongolkan kepalanya dari balik gordeng.
"Suapin nih si ba*i, gue males," Keluh Bulan sambil melirik Elang manja.
"Eh? Sama elo aja lan, kan gak wajar kalo cowo nyuapin cowo, lagipun, abis ini gua kudu pergi ke labolatorium, buat mastiin alergi si Elang," Jawab Abyral ramah, dan senyuman itu membuat Bulan luluh dan menurut.
Kini tinggal tersisa Bulan dan Elang. Elang hanya terkekeh geli melihat Bulan yang memasang wajah masam gara gara harus merawatinya sebentar.
"Buka mulut loe," Titah Bulan sambil menyodorkan sesondok berisi bubur.
"Aaaa...~" Elang yang membuka mulutnya dengan manja itu membuat Bulan benar benar gemas ingin mencubitnya.
"Hehehe... Makasih ya Lan, Loe bener bener perhatian sama gua," Ucap Elang tiba tiba memerah.
'ih, Apa apaan beungetnya itu? Kayaknya emang demam sampe merah kayak gitu,' Batin Bulan agak gimana tuh.
"Iya, tanggung jawab gua juga sih, loe kelas mana?" Tanya Bulan memulai obrolan.
"Hahaha, Masa gak tau...? Padahal kelas kita sebelahan lho..." Jawab Elang pede, padahal ia sendiri tidak tahu dimana kelas bulan dan jurusannya.
"Wah beneran? Gua kelas IPS lho, tapi tiap kumpulan gua gak pernah liat loe," Ujar Bulan yang membuat Elang sedikit malu karena salah.
"O,oh... M,maksudnya sebelah sanaaa... Gua kelas IPA, hehehe, IPA-1A,"
"Pantesan gak pernah liat... Huuh! Kok kayak gitu? Bentar, loe anak kelas A?!" tanya Bulan kaget, ia baru sadar kalo Elang pintar.
"Hehehe, anak Emas ini, masa gak kenal?" Tanya Elang sombong, dan Bulan kembali memasang ekspresi kesal ingin menggetok kepala Elang.
'Bener juga, Ba*i ini kan sering di omongin papah, dibangga banggain lagi,' Batin Bulan berpikir.
Percakapan di antara mereka pun selesai, Elang akhirnya di suruh pulang dan beristirahat di rumahnya. Dan... Ia kembali diantar oleh Chiko dan Bulan. Disini Chiko mulai menjadi mak comblang di antara keduanya.
Abyral Aziel Biantara
Note: Abyral ini kedepannya akan selalu hadir dan dimasukkan kedalam cerita karena Bulan menyukainya;)