
Setelah selesai acara parade, para murid sekolah lain mulai bergeming menyerukan yelling sekolah mereka. Namun Elang hanya diam sesaat karena lelah dan ruam. Sepertinya alergi sinar mataharinya kambuh lagi, karena ia berdiri dibawah terik matahari sekitar 35 menit. Bulan pun menghampirinya dan melempar botol air padanya dan duduk di sebelahnya.
"Makasih lan..." Ucap Elang menerima air mineral itu.
"Kenapa Lang? Kok lemes gitu?" Tanya Bulan saat melihat wajah Elang pucat.
"Nggak papa, cuma cape dikit aja kok. Gara gara matahari nih terlalu bersinar, jadinya gini deh... Doain aja ya? Moga gua gak tumbang," Jawab Elang sambil menepuk kepala bulan pelan.
"Oh,, alerginya kumat ya? Gimana dong? Yelling kita di cek abis ini, lu mau ikut apa nggak? Kalo nggak biar diganti Vino aja."
"Ikut dong... Kan gua primadona sekolah nya, haha." Jawab Elang sombong.
"Diiih... Yaudah, siap siap dulu gih," Ujar Bulan lagi, ia pun bangkit dan pergi.
"Oh iya! Kalung dari mamah! Pake aja lah, walaupun gue gak tau ini bakalan berguna apa nggak," Gumam elang yang merogoh saku celananya.
Ia pun memakainya dan segera mengganti bajunya untuk ikut yelling bersama teman temannya yang lain. Tampaknya Elang semakin bersemangat saat tadi di hampiri bulan. Begitulah, the power of calon ayank.
"SAMPURASUN! KAMI! SMA HARAPAN 1, AKAN MENAMPILKAN YELLING KAMI!"
Elang yang memberi instruksi, walaupun tidak banyak, namun kelakuan murid barbar itu bisa membuat para juri tertawa dan senang. Akhirnya, perlombaan pun dimulai...
Dimulai dari ajang olahraga terlebih dahulu, seperti maraton, estafet, Volly, basket, bulu tangkis, dan masih banyak lagi.
Disini Elang lumayan banyak berpartisipasi, seharusnya sih... Untuk orang yang mengikuti lomba cerdas cermat di puncak acara tidak harus mengikuti lomba lain, tapi kalian tau kan Elang? Ia tidak harus fokus pada lomba LCC itu, ia juga butuh waktu refreshing.
Ia mengikuti maraton, tapi ia tak cukup percaya diri. Mengingat masa kecilnya yang dulu pernah koma selama kurang lebih 2 bulan akibat terlalu kelelahan dan mengikuti aktifitas berat. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya karena mamanya tak memberi tahunya. Yang ia tahu hanyalah ia yang kelelahan. Ia pun memegang dada kirinya, berharap baik baik saja. Namun siapa lagi jika bukan Elang? Hanya dia dan kaki panjangnya yang menjadi harapan sekolahnya.
Zhao cukup menentang dan berdebat melihat Elang yang akan maraton. Zhao tahu betul elang tidak akan kuat berlari sejauh itu, bagaimana jika keadaannya drop? Elang terus melarang kakaknya menghentikannya, dan ia juga berusaha meyakinkan kakaknya untuk kali ini.
Akhirnya Zhao hanya diam dan dipenuhi ketakutan. Namun lagi lagi Langit berusaha meyakinkan pacarnya bahwa Elang akan baik baik saja. Diraihlah tangan Zhao dan digenggamnya. Benar benar dingin, tidak hangat seperti tadi.
"Emang elang kenapa? Sampe ada perdebatan gitu?" Tanya Bulan pada Kevin, karena hanya kevin yang menemani Elang dari kecil.
"Waktu kita kelas 4, dia divonis punya penyakit jantung bawaan. Bukan berarti itu bersifat keturunan, tapi mamanya baru nyadar pas dia udah gede. Jadi... Pantes aja kan, Kak Zhao khawatir?" Jawab Kevin sambil tersenyum.
"Alah?! Terus gimana dong Sekarang?! Gimana kalo dia ngedrop?! Mending ganti aja sama gue, gue gak mau Elang sakit lagi." Ucap Bulan memaksa pada Kevin.
"Ya tapi gimana lan?! Elang udah ada di arena, gak bisa diganti."
"Bisa! Selama gue maksa!" Jawab Bulan kekeh.
Akhirnya kevin juga tidak bisa melawan keyakinan bulan tentang keinginannya menggantikan Elang. Mereka betul betul menghampiri wasit dan segera meminta elang untuk berhenti mengikuti maraton dengan alasan penyakitnya.
"Mohon maaf untuk peserta bernama Erlangga, harap mundur dari posisi dikarenakan ada seseorang yang hendak menggantikannya."
Deg!!!
Elang membelalakkan matanya kaget. Siapa orang yang mau menggantikannya?! Bulan pun memanggil Elang sambil berlari, membiarkan Elang tetap beristirahat. Namun Elang menolak mentah mentah.
"Nggak lan... Gua gak papa, apa sih? Gua gak papa, suer deh." Jawab Elang cengengesan.
"Bukan gitu Lang! Dengerin coba! Gue udah denger semuanya dari Kevin, loe punya penyakit Jantung bawaan.
"Bulan!" Kevin menyela ucapan bulan.
"Dan gue tentu khawatir sama loe, gue gak mau loe pingsan atau ngedrop atau... Apalah yang ganggu kesehatan loe tuh gue gak mau, buat yang sekarang, coba loe dengerin... Ya? Gue bakal lawan semua omongan loe kali ini! Demi kesehatan loe. Gue khawatir, Jujur." Jelas Bulan dengan lembut agar ucapannya tak menyakiti Elang, namun sesaat, Elang terpaku, ia tak bisa membantah apa kata Bulan.
"Gua gak tau kalo gua punya penyakit jantung, dan gua yakin sama kemampuan gua. Harusnya loe percaya sama gua," Itulah ucapan terakhir dari Elang sebelum akhirnya dia pergi, sepertinya Elang marah.
Bulan juga ikut kaget mendengar pernyataan Elang. Kevin hanya menutup wajahnya dengan tangan kanannya.
"Kenapa lu gak bilang sama dia kalo dia punya penyakit parah?!" Kini Bulan yang marah pada kevin.
"Bukan gua yang gak ngasih tau! Tante sabil bilang jangan sampe elang tau, gini kan hasilnya? Gua kira loe gak akan bilang gitu, bisa bisa dia tambah stress abis ini. Cepet masuk ke arena, bentar lagi lombanya mulai,"
Elang pun pergi ke kamar mandi, ia memegang dada kirinya. Pantas saja waktu itu mamah bilang kalau takut ada apa apa sama jantungnya, ternyata emang ada masalah di jantungnya. Tapi kenapa ia tak pernah sakit jantung? Itulah yang pertama kali elang pikirkan.
Lamunannya terbuyarkan saat mereka bersorak gembira melihat kemenangan bulan. Elang hanya mendengarkan suara sorakan itu dari dalam kamar mandi. Elang pun mengingat kejadian saat mamahnya menyentuh dada kirinya dan memberikan kalung asyifa. Jadi itu alasannya...
Ia pun mulai berjalan menuju teman temannya yang masih memeluk bulan karena menang.
"Lang! Bulan menang lang!" Seru Vino senang juga.
"Hm, iya. Selamat," Hanya itu yang keluar dari mulut Elang, sebenarnya ada apa dengan sobat barbar nya ini?
Bulan pun berhenti tersenyum saat melihat Elang tak semangat. Yah... Sejujurnya bulan agak merasa bersalah karena merebut posisi Elang tadi. Tapi kan mau bagaimana lagi?
Dua kontak itu bertatapan sekejap dan Elang langsung pergi begitu saja. Bulan berlari mengejar Elang dan menarik bajunya.
"Tunggu! Gue tau loe marah. M,makannya maapin gue," Ucap Bulan menunduk bersalah.
Elang terdiam sejenak dan menghela napas panjang lalu berbalik pada sang Bulan dan tersenyum.
"Gak papa, tenang aja kok. Gua gak marah^^" Jawaban Elang tentu saja membuat Bulan semakin merasa bersalah.
"Boong banget ah... Keliatan kok loe marah gitu sama gue..."
"Nggak... Gua gak marah cinta.... Uuuhhh! Gemes deh pengen nyubit!" Seru Elang sambil mencubit pipi Bulan.
"Sakit bego!"
"Hahaha, makannya jangan minta maap terus. Gak papa kok, udah gue maapin da... Selamat ya, lain kali request ke pak ahmad deh... Loe aja yang maraton," Ucap Elang sambil tersenyum lagi padanya.
Bersambung....